بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Meniti Jalan Salaf

product

dzulqarnain.net

Detail | Pencari Ilmu

Tegar Di Atas Sunnah

product

Assunnah

Detail | My Way

Airmatakumengalir Blog

product

Dakwatuna

Detail | ilallaah

SAMPAI KAPAN TAKIYAH TAKFIRI AKAN BERAKHIR

saudaraku yang masih 354....bila kalian ingin mencari solusi...carilah jawaban dengan tabayun (tanya pada yang bersangkutan),kenapa tiada habisnya kalian menegluarkan jurus takfiri dan takiyah.....

  • Ryuzakhi Emte Orang ini pernah menjadi ajudan Nurhasan Al Ubaidah.
    Menurut orang2 jokam senior , bambang irawan sendirilah dahulu yang mendoktrin takfir dalam jokam. kalau ada ajaran khawarij dalam jokam, itu sebenarnya adalah ajaran bambang irawan.
    namun alhamdulillah, di jokam sudah tidak ada lagi takfir.
    bambang irawan mempunyai pengaruh dan kharisma yang sangat kuat. setidaknya bambang irawan sendiri merasa akan hal itu. bambang irawan tau bahwa orang2 jokam itu sangat giat dalam berinfak dan bersodaqoh.rupanya bambang jeli dalam melihat potensi ini.dan sangat berminat dengan infak2 jokam. ini salah satu faktor kenapa bambang irawan begitu berminat menjadi amir dalam jokam.
    memang bambang tangan kanan Nurhasan, tetapi secara strukturalis organisasional, bambang irawan tidak mempunyai wewenang apa2 dan tidak mempunyai dapukan apa2.
    bambang irawan bukanlah wakil Nurhasan.
    bambang irawan adalah tipe orator yang berapi2.ketika mengadakan tausiyah, dia berorasi secara berapi2.ini yang menstimuli militansi orang2 jokam.
    disaat yang bersamaan, ketika bambang irawan keluar dari jokam dan berbalik memusuhi, dia juga menggunakan orasi yang berapi2 di forum2 yang menghujat LDII (umumnya di forum2 yang berbau PKS, tarbiyyah dan salafy sururi-ddii).
    ketika di panggung bambang ini senang sekali memfitnah LDII, dengan kata2 yang bombatis dan hiperbolis sampe2 pake adegan menangis segala diatas panggung yang ditujukan supaya orang2 tau bahwa bambang irawan sangat menyesal pernah gabung dengan jokam.
    air mata buaya tentunya.
    waktu bambang masih jokam,bambang irawan sangat yakin 100% bahwa kelak kepemimpinan dalam jokam akan jatuh ke tangannya. sampe2 dia begitu percaya diri mencopot semua wakil2 Nurhasan tanpa sepengetahuan Nurhasan. yah, kala itu Nurhasan sedang berada di Tanah suci mekah. bukan di kediri.
    bambang irawan mengadakan kudeta pada Nurhasan secara sepihak.aksi bambang irawan ini akhirnya diketahui Nurhasan. akhirnya Nurhasan memblokir semua akses bambang irawan pada jokam.
    parahnya lagi ketika Nurhasan wafat, ternyata orang2 jokam memilih Abd Dhohir sebagai pengganti Nurhasan.
    jelas Bambang irawan kecewa beeeratz. misinya sudah 99% tercapai namun ketika mau menuju 100% Allah menolong orang jokam dengan menghindari bambang irawan menjadi pemimpin jokam.
    sejak itu bambang memendam kebencian yang teramat sangat pada LDII dan orang2 jokam.
    yang sebelumnya isbal ( memakai celana diatas mata kaki) setelah keluar dari jokam dia ngelembrehin celananya karena tidak mau sama dengan orang jokam.aneh ya….marah sama orang jokam tapi hukum Allah lah yang dikorbankan.
    sebelum masuk bui bambang irawan kerap hadir di darul hikmah di jalan bangka 3 mampang prapatan. entah mau apa dia disana.
    Hmmmm anda tau,darul hikmah ngga jauh dari DPP PKS.bambang irawan berada di kantong PKS.
    Pada tahun 1998 Indonesia mengalami gejolak politik. sekaligus mengalami euphoria demokrasi yang kebablasan.
    yang dahulu media takut pada rezim orde baru, setelah orde baru tumbang media2 juga ngga takut nulis berita2 fitnah.
    fenomena ini ditangkap oleh DDII.
    DDII menugaskan Amin Jamaluddin dan hartono ahmad jaiz untuk membuat buku yang isinya memfitnah dan memprovokasi umat islam untuk menyerang LDII baik secara teori maupun secara fisik.
    Amin Jamaluddin bersekongkol dengan bambang irawan untuk membuat buku yang berjudul “bahaya LDII”. buku itu kabarnya laku keras. sampe2 harus dicetak berkali2.
    bambang irawan dan amin jamaludiin mendapatkan royalti yang sangat besar dari penjualan buku tersebut . amin jamaluddin dan hartono ahmad jaiz memang mencari nafkah untuk anak istrinya dengan cara2 memfitnah.sungguh profesi yang sangat hina meskipun mereka berdalih atas nama dakwah.
    merebaknya buku “bahaya LDII” justru membuat masyarakat semakin penasarann,
    apa dan siapakah LDII?.
    buku itu yang ditujukan untuk menghancurkan LDII malah berdampak sebaliknya.
    banyak orang berbondong-bondong masuk LDII untuk membuktikan apakah benar isi buku tersebut.
    ternyata memang masyarakat tidak menemukan sedikitpun semua fitnah yang ditulis di buku “bahaya LDII”.
    Malahan masyarakat menemukan manhaj yang mulia yaitu kembali pada kemurnian Qur'an dan hadits secara berjamaah dengan cara manqul,musnad dan muttashil.
    manhaj yang jauh dari bidah,syirik, khurafat, ro’yi. manhaj yang setia pada tingkah laku Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dan salafusshalihin.
    bambang irawan , hartono ahmad jaiz dan amin jamaluddin secara finansial memang gembira karena bukunya laku keras, tapi mereka harus kecewa sebab LDII malah tetap tegar,aman dan lancar.
    ini semua adalah berkat doa , kesabaran dan ketawakalan orang2 jokam dalam mengahadapi badai fitnah, cacian, hujatan dan cobaan.
    tentunya yang pasti ini semua adalah berkat pertolongan ALLAH 'Azza Wa Jalla.
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Beni Setyawan No Comment :)
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Rifqi Oncom Imanto hmm..
    tapi rasanya tidak etis kalo kita menjelek2an si BI..
    mendingan gk usah diambil pusing.. :-)
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Debbi Fardiansyah emmmmh g juga mas rifki kita ambil petrsepektif dr ilmu pengetahuan aja mang g usa d pikirin tapi makin tau da perbandiannya " filsafat padi aja " OK.....
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Debbi Fardiansyah JM QHJ tu ibarat orang mau naik bus dgn tujuan bandung, bus da bener tapi ....!kita harus bawa perbekalan dari uang saku, tiket, kesehatan, emosi,n segala hal yang bs buat kita g jd n gak nyampek d tujuan. Da naik bus yang k bndung tuhh.......... tapi lupa bawa uang saku, atau emosi marah2 karna macet d jalan trus turun dr bus padahal g da angkutan lagi yang bs bawa kita ketempat tujuan kita itu. SO kesimpulannya jangan terpengaruh hidup sekali jalan surga da bener kita per saja sabar nanti ketemu mati yakin masuk surga karna QURAN HADIST JAMA'AH
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Agung Sujatmiko Good, dgn adanya penjelasan tsb insya Alloh keyakinan jokam semakin kuat..

    Terbukti dalam hadits Bukhori bhw raja Hirokla mengatakan bahwa org2 yg murtad adalah bukan krn membenci ajaran agamanya (QHJ), semua krn hawa nafsu, niat, dan bisa jd tersinggung dgn oknum2 yg ada sj....
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Arif Rusman Btol, saya sendiri memiliki keyakinan tersebut.

    Pernah dengar kejadian Hartono Ahmad Jaiz waktu ngadakan pengajian dengan tema "Aliran Sesat di Indonesia" (termasuk LDII) di Kabupaten karanganyar, Jawa Tengah beberapa tahun lalu. waktu Warga LDII sudah mengepung pertemuan itu dan mau mengamankan HAJ, dia lari kebingungan bersembunyi di bawah meja. Jelas sekali mukanya sangat ketakutan. Padahal para Bolo pendem disana itu sudah dikompakkan untuk tidak berbuat anarkis maupun aniaya, dan semua taat. Maksud kita cuma mau membawa HAJ ke Polres Karanganyar.

    Nha, yang jadi pertanyaanku sekaligus bikin aku ketawa, kenapa orang yang katanya mau meluruskan jalan Allooh malah takut ama beberapa orang manusia?!
    Kalau emang dia benar dan mantap di jalan Allooh, bukankah banyaknya maklhuk Allooh di depannya seharusnya tidak membuat dia gentar sehingga tidak lari terbirit-birit ke bawah meja sambil muka ketakutan?!
    Toh kalau mati jadi mati Syahid?!

    Dengan kejadian itu aja kesimpulan dalam benakku, ni Kiai ngomongnya aja seakan-akan benar. Mentalnya krupuk. Digertak saja dah lari tunggang langgang. Hehehe....
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Ciwan Papanya RafifAbyan Barçélonistas semoga hidayah yang ada sama sekarang ini, kita bisa kita tetapi sampai mati...biar anjing menggonggong kafilah tetap berlalu...
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Nouvre ZiaLandhe kita harus bersyukur dg bukunya bambang & friend..karena mereka lah, masyarakat kini percaya bahwa LDII itu bukan aliran seat,bahkan bnyak masyarakat yg mengaji bersama kita...alhamdulillah, ( mereka termasuk perantara agama juga ga yaaa???he2... )
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Agung Sujatmiko Yang perlu n harus diwaspadai adalah org2 yg msh ngaji n ngaku jokam tp diam2 mrk provokasi/gembosi akidah jokam ataupun blog2 jokam tanpa kita ketahui....

    Keliatannya ndalil pake dalil jokam tp ternyata provokasi krn dalil itu adalah bitonah, setelah diliat ternyata punya halaman salafi....

    Waspadalah...Waspadalah...
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Debbi Fardiansyah ok mas .............. kita percaya org munafik tu danya d dlm jama'ah so warning banget bagi mereka yg lg sok pintar dalil kuncinya cuma satu jaga niat dlm hti karna kita berjama'ah bukan karna exsistensi strata tau legalitas biar diliat orang tapi karna allah ciri nyata iklas dalah g mudah marah n emosi aja............... so jagalah hati.......
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Nouvre ZiaLandhe wuiiiihhh...serem abis tuh masss....dger2 di indo ada y mas..??pengikutnya pak mau***in..alhmdlilah di NZ ga ada mas,klo ada lsg disuh plg sama iKI nya ke indo...
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Agung Sujatmiko Oleh krn itu kita disini sama2 mengingatkan n hati2, krn hidayah milik Alloh semata....

    Zaman n cobaan terparah yg pernah ada kayanya, krn yg menyerang ga keliatan/diketahui dan langsung diserang pada akidahnya....

    Kalo ada yg ga seneng dgn oknum pengurus/mubaligh atau jokam, baiknya kita ingat bahwa wadahnya sudah pasti benarnya hanya oknum saja yg tdk benar...
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Debbi Fardiansyah nahhhhhhhhhh................. tu yg benar banget jamah da bener tapi maaf kadang sopir tau kernetnya ( mubalik pengurus n jama'ah)rodok gaple'i so jangan terpengaruh tebar kadamaian kita di kalangan jamah
    sekitar 9 bulan yang lalu · Laporkan
  • Aroy Suhud @ debby
    gaple'i????
    masalahnya, u/ mengatasinya ga segampang mengucapkan kalimat "gapleki".

dengan adanya kalian bertanya langsung sungguh ada solusi...di dalam 354 para pengurus mendoktrin jamaahnya dengan dusta...menuduh eks 354 adalah orang yang salah niat,ingin jadi amir,pengurus,atau sakit hati karna maryoso....

Comments
283 Comments

283 Response to "SAMPAI KAPAN TAKIYAH TAKFIRI AKAN BERAKHIR"

«Paling tua   ‹Lebih tua   1 – 200 dari 283   Lebih baru›   Terbaru»
mas eko mengatakan...

kalau ga takiyah dan takfiri bukan islam jamaah namanya...ajaran mereka kan kolaborasi dengan semua manhaj sampah...dari syiah khowarij nashoro yahudi dsb

restuMU mengatakan...

kasihan 354 di ganyang oleh eks354..ini mungkin jawaban dari Allah...selama ini mereka masih bisa berkelit dari non354 sekarang mereka 354 ga bisa kemana2...karna yang mengganyang mereka adalah mantan militansi mereka yang sudah bertobat...teruslah saudaraku,didalam masih banyak saudara saudari kita yang terjebak dalam ajaran sesat dan menyesatkan.

lihatlah...guru2 mereka yang baru belajar dari haromain...ingin mendirirkan tiang rapuh 354 tapi menghianati ilmu yang telah dia dapatkan dari haromain

Anonim mengatakan...

ryuzakhi emte dalam postingan:
"bambang irawan tau bahwa orang2 jokam itu sangat giat dalam berinfak dan bersodaqoh.rupanya bambang jeli dalam melihat potensi ini.dan sangat berminat dengan infak2 jokam. ini salah satu faktor kenapa bambang irawan begitu berminat menjadi amir dalam jokam."

---> Benar kan para pemirsa sekalian, nih orang jokam sendiri yang bilang bahwa infaq rejeki/IR yang tiap bulan ditarik dari para jamaahnya, dan itu sudah menjadi kewajiban bagi tiap-tiap jamaah tidak perduli walopun dia makan pake bata,nasinya pasir, yang penting kudu setor uang keIMAM nya, kalo gak setor tidak bisa masuk surganya IMAM (edan tho..??!!)

Anonim mengatakan...

Maaf , saya tidak setuju dengan istilah di ganyang mungkin tepatnya di kritisi , karena saya yakin masih ada kebaikan dalam ajaran madigoliyah.

Kita disini berusaha untuk share pengalaman dan pemahaman , khususnya terhadap penyimpangan aqidah islam jamaah yang menyimpang dari sunnah .

Tidak bosan saya ingatkan kepada antum semua untuk bersikap arif dan bijak menghadapi ke jahilan saudaranya.

Hanya Allah yang bisa membolak-balikan hati ini , maka bermohonlah kepada-Nya agar senantiasa di tunjukan dan di tetapkan hati dan amal ini sesuai sunnah.

Untuk yang mukim di Surabaya , sekali lagi saya undang nanti mengikuti kajian Ust. Yazid bin Jawwas jam 16.00 di masjid kami Jami' Makkah Jl. Bendul Merisi Tengah -Surabaya.

Semoga admin dan ikhwan semua mendapat kemudahan dan pahala dalam upayanya menyadarkan saudara kita yang masih buta dan tersesat di belantara madigoliyah.

Anonim mengatakan...

ryuzakhi emte dalam postingan:

"buku itu yang ditujukan untuk menghancurkan LDII malah berdampak sebaliknya.
banyak orang berbondong-bondong masuk LDII untuk membuktikan apakah benar isi buku tersebut.
ternyata memang masyarakat tidak menemukan sedikitpun semua fitnah yang ditulis di buku “bahaya LDII”.

---> buku itu dampaknya sekarang mas...sekarang petinggi2 jokam pada kebakaran rambuat ketek(soalnya mereka gak punya jenggot). Berusaha sekuat mungkin jamaahnya tidak keluar/murtad secara besar-besaran, kalo banyak yang keluar trus IMAMnya minta uang sama siapa???!!
Sekarang orang2 berbondong-bondong melihat internet untuk membuktikan kebejatan jokam..


"Malahan masyarakat menemukan manhaj yang mulia yaitu kembali pada kemurnian Qur'an dan hadits secara berjamaah dengan cara manqul,musnad dan muttashil.
manhaj yang jauh dari bidah,syirik, khurafat, ro’yi."

----> Anda lupa mas infaq rejeki/IR, surat tobat, surat sambung, 5 bab, tiap desa wajib ngirim kambing kepusat, tiap desa wajib ngirim bata merah ke pusat, wajib sepak bola, kiprah jadi ibadah (segala sesuatu hal menjadi wajib jika keluar dari mulut IMAM)

apakah ini akidah murni dari nabi???apakah ini murni secara Qur'an Hadits??? coba terangkan dengan sejelas jelasnya jika peraturan2 tersebut sesuai sunnah!!!

anda juga ngomong sesuai musnad,muttashil...---> mana isnadnya...????!! (katanya sih ketinggalan dibecak.)
eh..ternyata malah malsu isnad liat tuh kitabusholah halaman 124-125 (dasar pendusta!!)

"manhaj yang setia pada tingkah laku Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dan salafusshalihin."

----> sejak kapan orang jokam mengajarkan mengenai salafusshalihin..???!!! udah ganti ya materi pengajiannya..???!! bukannya pengajian hanya diisi 5 babbbb, dari lair ceprot sampe beruban cuma 5 babbbb terus, emang secetek itu ilmu ISLAM ..??!!

Anonim mengatakan...

HAHAHAHAHA, ITU YANG DI POSTING OLEH SDR RYUZAKI MT, ADALAH TULISAN SAYA !!!!, SAYA TIDAK TAU BAKALAN DIJADIKAN RUJUKAN OLEH JOKAM. SAYA MENULIS ITU KETIKA SAYA MASIH MENJADI 'JOKAM SEJATI' , SAYA MEMANG MENGADAKAN PENGINTAIAN TERUS PADA BAMBANGIRAWAN, NIATSAYA ADALAH MEMBELA 354.TAPISEIRING DENGANSAYA MENCARI KETERANGAN TERUS, AKHIRNYA SAYA MENGERTI BAHWA 354 ITU KELIRU.

SAYA YANG MENULIS ARTIKEL ITU SEKARANG SUDAH BARA'AH DAN MELEPAS DARI IKATAN 354 (NGGA DISANGKA, TERNYATA TULISAN SAYA YANG KELIRU ITU LAKU JUGA DIKALANGAN JOKAM)

Anonim mengatakan...

Kalau saja org2 354, paling tidak melalui 2 gurunya yang tampak tidak amanah ilmu itu, plus sumpah palsu ketuanya yang katanya Kyai Haji itu, telah mengakui bahwa mereka kini telah berjalan di atas paradiga baru, yakni paradigma non-takfiri, maka pertanyaan sy sebagai orang awam adalah....

"Apa alasan bagi 2 guru mereka yang baru sj pulang dari Makkah dan jajaran "ring satu" bahu membahu berkeliling Indonesia menyampaikan "nasihat"2 (baca: Syubhat) kepada anggota 354 terkait keberdaan mereka dalam tinjauan aqidah --yang katanya telah dipertnyakan kepada para guru mereka di sana, yang notabene mereka akui sebagai salafy-- dan mengajak tetaap menetapi 354 dan tidak meninggalkan 354? bukankah katanya mereka sudah tidak takfiri?

Perhatikan...!
Bukankah jika benar aradigma non-takfiri itu maka mereka seharusnya tidak perlu kebakaran kumis (maaf karena mereka tidak punya jenggot)dengan isue banyaknya para muballigh/anggota 354 berpengruh yang ruju' ilal haqq?
Bukankah seharusnya paradigma baru itu menggiring mereka pada satu titik pemikiran untuk membiarkan orang2 354 keluar, toh mereka tidak keluar pada kekafiran (sesuai dengan paradigma barunya, katanya tidak mengkafirkan selain ldii)?

Ada apa? Wahai guru2 yang "tidak khianat" pada donatur (jamaah 354)nya..? Coba jawab, mengapa?

Apa kalian takut dengan pemasukan "lumbung" kalian yang semakin menipis? Apakah karena kalian ternyata masih sangat bergantung pada "bandar" bank yang kalian sebut bank Isrun itu??

Biarkanlah anggota kalian yang telah menemukan kebenaran itu bebas memilih jalannya, mungkin mereka telah merasa terlalu kecewa pada ajaran pembodohan yang kalian sakralkan itu, mungkin mereka telah menyerah dari "penjatahan"2 itu, biarkanlah mereka... Cukuplah kalian yang khianat pada ilmu, jangan kalian ajak saudara2 kami ikut sesat bersama kalian dalam 354...

Setiap warga negara berhak menganut keyakinannya, dilindungi oleh undang2 negeri ini, kalian harus mematuhinya, hentikan ancaman2 kalian, teror2 murahan kalian, takutlah kepada Allah, senkom, asad, dll itu hanyalah makhluk, merekapun hendaknya berhenti dari perasaan 'ujubnya, mereka tidak memiliki sedikit daya dan upaya pun kecuali atas kehendak Allah, sang Maha pemilik al Haq.

Taatilah peraturan negara ini, wahai petekol 354..! Dengarkan nasihat imam kalian dalam teks bulanan, yakni mentaati pemerintah yang sah.. :)
Hendaknya kalian sadar bahwa Imam kalian di 354 pun mentaati imam yang sesungguhnya, yakni pemerintah muslim negeri ini, dialah sulthan yang seungguhnya.. Saking sungguhnya, Imam kalian di 354 pun taat padanya.. :))

saratmakna mengatakan...

Oktober 29, 2010
Anonim Anonim berkata...

HAHAHAHAHA, ITU YANG DI POSTING OLEH SDR RYUZAKI MT, ADALAH TULISAN SAYA !!!!, SAYA TIDAK TAU BAKALAN DIJADIKAN RUJUKAN OLEH JOKAM. SAYA MENULIS ITU KETIKA SAYA MASIH MENJADI 'JOKAM SEJATI' , SAYA MEMANG MENGADAKAN PENGINTAIAN TERUS PADA BAMBANGIRAWAN, NIATSAYA ADALAH MEMBELA 354.TAPISEIRING DENGANSAYA MENCARI KETERANGAN TERUS, AKHIRNYA SAYA MENGERTI BAHWA 354 ITU KELIRU.

SAYA YANG MENULIS ARTIKEL ITU SEKARANG SUDAH BARA'AH DAN MELEPAS DARI IKATAN 354 (NGGA DISANGKA, TERNYATA TULISAN SAYA YANG KELIRU ITU LAKU JUGA DIKALANGAN JOKAM)


>>>>>>>> wah, kalo itu memang tulisan situ postinganya pake nama aseli dong, ngapain pake anonim segala, wkwkwwkwkwk :D
sekalian nama lengkap ama nomor telpon ya, jangan lupa potonya.

Anonim mengatakan...

tadinya bambang irawan itu mau dikunutin sama jamaah 354, supaya bambang irawan lekas "musnah". tapi pak nurhasan dan pa dhohir (imam 354 sebelum pa aziz) kagak mau merintahin kunut pada jamaah 354 untuk pa bambang irawan. kenapa? karena adik dari bambang irawan itu adalah pa kus* ( imam daerah jakarta, waktu itu sak jakarta imam daerahnya pa kusno, belum ada daerah jaktim 1, jaktim 2, podomoro, jaksel 1, jaksel 2, jakpus dll), pa nurhasan dan pa dhohir ngga enak sama pa kus* klo sampe merintahin kunut ke bambang irawan nantinya pa kusn* bisa tersinggung dan memberontak pada "Khalifah" . itulah sebabnya, walaupun jamaah 354 itu benci pada bambang irawan, tapi pusat tidak sampe merintahin kunut pada bambang irawan

Anonim mengatakan...

saran saya pada jamaah 354, khususnya pada para dedengkotnya, segeralah ruju ilal haq sebelum semuanya makin terbongkar dan dibongkar..

Anonim mengatakan...

agung sudjatmiko dalam postingan :

"Zaman n cobaan terparah yg pernah ada kayanya, krn yg menyerang ga keliatan/diketahui dan langsung diserang pada akidahnya...."

---> emangnya yang nyerang bangsa jin kok ga keliatan??!! sebenarnya agung sudjatmiko sudah tau dan sadar kalo akidahnya diserang, dan dia tidak bisa memberi penjelasan mengenai dalil-dalil yang membenarkan akidahnya, Tapi kenapa dia masih melaksanakan akidahnya itu??? (mudah-mudahan dia sekarang sudah insyaf,taubat,baroah, seperti mas ryuzakhi mt)

"Kalo ada yg ga seneng dgn oknum pengurus/mubaligh atau jokam, baiknya kita ingat bahwa wadahnya sudah pasti benarnya hanya oknum saja yg tdk benar..."

---> memang benar mas wadahnya sudah benar yaitu ISLAM, tapi oknum dibalik Islam ini yang tidak benar, berani berdusta, berani memalsukan hadits, berani memalsukan isnad, berani memelintirkan keterangan Alqur'an dan Hadits untuk keperluan dirinya,..

Anonim mengatakan...

Sebagaimana mereka beristidlal dengan firman Allah 'Azza wa Jalla, melalui lisan Ibrahim Alaihis-Salam, artinya:
“Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sakit’,” [Ash-Shaffat: 88-89].
Ini tidak sama dengan kedustaan dan kebohongan model Syi’ah, tetapi ayat ini membolehkan “tawriyah” (penyamaran) dalam zhahir ucapan jika diharuskan dalam kondisi darurat.
Ucapan Ibrahim Alaihis-Salam “Sesungguhnya aku sakit.” maksudnya,“Dari amal kamu dan ibadah kamu kepada berhala-berhala itu.” Ini bukan dusta tetapi di dalamnya mengandung sindiran (ta’ridh) untuk maksud syar’i, yaitu menghancurkan tuhan-tuhan mereka setelah ditinggalkan oleh para penyembahnya. Bahkan taqiyah Syi’ah tidak hanya halal bagi manusia biasa, tetapi halal juga bagi para Nabi dan Rasul. Ini adalah sangat buruk dan keji serta kemungkaran yang nyata. Karena Allah Ta’ala mengutus para Nabi dan Rasul untuk tugas menyampaikan risalah Tuhan mereka, mengajar manusia dan menyucikan mereka. Jika tidak tentu tidak akan tersebar dakwah mereka, tidak akan muncul pertentangan antara mereka dan orang-orang yang mereka utus kepadanya, tentu tidak akan merasakan cobaan-cobaan, siksaan-siksaan dan mara-bahaya.
Al-Qur’an adalah sebaik-baik saksi dalam hal ini dan yang menepiskan ini adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah.” [AI-Ahzab: 39].
Diantara riwayat dusta Syi’ah adalah taqiyah yang dialamatkan kepada Rasulullah saw mereka menyebut dari Abu abdillah Alaihis-Salam.
Dia berkata: “Tatkala Abdullah bin Ubay bin Salul (pemimpin orang-orang munafik) mati, Rasulullah saw menghadiri jenazahnya.
Maka umar menegur Rasulullah saw, “Bukankah Allah telah melarang anda untuk berdiri di kuburannya ?”
Rasulullah terdiam.
Umar mengulagi lagi, “Bukankah Allah 'Azza wa Jalla telah melarang Anda untuk berdiri diatas kuburannya?”
Maka beliau menjawab, celaka kamu, tahukah kamu apa yang aku ucapkan ? Sesungguhnya aku mengatakan, “Ya Allah tutuplah mulutnya dengan api, penuhilah kuburannya dengan api, dan masukkanlah dia kedalam api neraka.”
Abu Abdillah Alahis-Salam berkata: “Maka jelaslah bahwa Rasulullah saw apa yang tadinya tidak dia sukai.” [Al-Kafi fi Al-furu’.Kitab Al-Janaiz 3/188]
Apakah seperti ini sifat dan karakter Rasul yang diutus sebagai rahmatan lil’alamin, yang datang sebagai pengajar dan pendidik bagi ummat manusia? Sungguh ini adalah kebohongan dan kecurangan dari orang-orang zindik untuk mendeskreditkan Rasulullah saw.
Allah 'Azza wa Jalla telah memuji nabi-Nya dengan berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.”
Tuduhan yang curang dan taqiyah yang didakwakan bertolak belakang dengan kandungan dan makna ayat ini. Kemudian bagi yang masih memiliki sisa akal, apakah rasululalh saw memerlukan sikap taqiyah dan nifaq sementara kedudukannya sangat kuat dan posisinya sangat tinggi saat itu?
Justru Ibnu-Salul lah yang memerlukan sikap dusta dan taqiyah ini karena kelemahnya di hadapan kekuatan islam.

Anonim mengatakan...

Latar Belakang Akidah Taqiyah
Posisi Syi’ah dahulu telah mengalami krisis ketika mereka membuka-buka lembaran kitab-kitab mereka, dalam kitab ini Al-Imam mengancam dan mengintimidasi, dan dalam kitab lain imam yang keempat menghalalkan dan dalam kitab yang sama imam keenam mengharamkan , imam yang ini mengatakan surya sementara imamnya yang lain mengtakan rembulan, maka mereka mendapati bahwa ucapakan orang yang mereka yakini sebagai imam yang ma’shum terbebas dari kesalahan dan ketergelinciran ternyata ucapan mereka dalam satu perkara saling bertentangan tanpa menemukan alasan pembenaran untuk itu. Sebgaimana mereka merasa terpukul ketika mendapatkan dalam sebagian riwayat mereka memuji dan mencintai para sahabat Rasulullah saw, dan mengakui baiyat terhadap mereka, berbalik dari apa yang mereka yakini. Maka kesulitan mereka semakin rumit, karena orang-orang bodoh dan hakham Rafidhah telah menghukumi sesat orang-orang sesat disekitar mereka, dan menjejali hati mereka dengan kebencian terhadap para sahabat dan ummahat Al-Mukminin –semoga Allah meridhai mereka- sepanjang zaman . maka mereka berlari menuju tipu muslihat , makar dan kesesatan. Mereka memandang bahwa tidak ada jalan selamat bagi mereka melainkan dengan taqiyah, mereka merancang konsep taqiyah dan melengkapinya dengan berbagai macam fadhilah, dengan begitu merreka telah mengelabui manusia.
Apabila orang yang mengerumuni mereka dan yang menganut agama mereka hanyalah orang-orang bododh –semoga Allah memberi hidayah kepada mereka- yang tidak ammpu memilah-milah didalam masalah akidah. Jika mereka mendengar dari satu imam yang berkata begini dan begitu, mereka langsung membenarkan sebelum orang yang menceritakan hadits itu menyempurnakan haditsnya. Mereka telah menjadikan para pengikut sebagi tawanan bagi ucapan para imam yang dipalsukan itu, karena mereka telah menanamkan ketaatan buta di hati mereka kepada imam, mereka telah menakut-nakuti pengikutnya dan telah memotivasi mereka dengan hadits-hadits yang tidak ada sangkut pautnya dengan islam.
Maka jika ucapan seorang imam bertentangan dengan imam itu sendiri, atau ucapan seorang imam berbenturan dengan imam yang lai, mereka mengatakan sesungguhnya itu terjadi dengan karena taqiyah. Mereka benar-benar telah menghiasi taqiyah ini dengan berbagai macam keutamaan dan keistimewaan sesuai dengan keinginan nafsu mereka.
Bagaimakah kesaksian ulama mereka?
Berikut ini adalah kesaksian ulama Syi’ah yang berakal tentang taqiyah yang dia sebutkan dalam kitabnya, “Sesungguhnya saya meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada satu ummat didunia yang menghinakan dirinya dengan menerima konsep taqiyah dan mengamalkannya. Inilah saya, saya memohon kepada Allah secara ikhlas dan saya mengetahui hari yang orang syi’ah tidak pernah berfikir, bahkan tidaka pernah berfikir tentang taqiyah apalagi tentang pengamalannya.”
Dan dia menambahkan, “Sesungguhnya yang menjadi kewajiban bagi Syi’ah adalah menjadikan perhatiannya terhadap kaidah akhlak yang telah diwajibkan oleh islam atau seluruh kaum muslimin, yaitu: seorang muslim tidak boleh menipu, tidak menjilat,tidak melakukan kecuali yang haq dan tidak berkata melainkan yang haq sekalipun atas dirinya. Dan sesungguhnya perbuatan baik itu adalah baik di segala tempat dan amal yang buruk adalah buruk di segala tempat.”
Sampai dia berkata, “Hendaklah mereka juga mengatahui bahwa apa yang mereka nasabkan kepada imam Ash-Shadiq dari ucapanya taqiyah adalah ‘agamamu dan agama bapak-bapakku’, sesungguhnya itu anyalah dusta, bohong dan fitnah atas imam yang sangat agung itu.”[ibid, hal.159]
Sebagimana dikatakan oleh seorang iran, Ahmad Al-Kisrawi, “Sesungguhnya taqiyah adalah satumacam dari dusta dan nifaq, apakah masih perlumenelti tentang keburukan dusta dan nifaq?”[Syi’ah wa At-Tasyayyu’, hal.87]
Sesungguhnya taqiyah itu hanya di bolehkan untuk orang-orang lemah yang ditindas yang khawatir tidak bisa tegar di atas kebenaran dan bagi orang-orang yang tidak menempati qudwah (teladan) bagi manusia, orang seperti merekalah yang boleh mengambil rukhsyah (taqiyah) ini.

Anonim mengatakan...

Adapun orang-orang yang memiliki semangat dan tekat dari para Imam yang menjadi petuntuk jalan maka mereka harus mengambil azimah (hukum yang kuat) menanggung derita , tetap tegar dijalan Allah apapun yang mereka hadapi. Dan adalah para sahabat Rasulullah saw orang yang mulia sebagaimana yang dipersaksikan Al-Qur’an. Allah berfirman :
“ Kekuatan, kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang mukmin, tetapi orang-orang yang munafik itu tidak mengetahui.” [Al-Munafiqun: 8].
Maka tidak boleh orang-orang yang mulia (kuat) itu hanya berasal dari para sahabat yang khusus, karena Ali dan Ibnu Abbas , bukan orang yang munafik juga bukan orang yang hina sehingga mengambil sikap taqiyah..

Anonim mengatakan...

Ibnu Taimiyah berkata “inilah sikap Rafidhah.” Syi’ar mereka adalah kehinaan, baju mereka adalah nifak dan taqiyah, modal mereka adalah dusta dan sumpah palsu mereka berdusta atas nama Ja’far As-Siddiq bahwa dia berkata taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapakku.Dan Allah telah membersihkan ahlul bait dari hal itu dan tidak menjadikan mereka butuh kepadanya , karena mereka adalah manusia paling jujur dan paling agung imannya. Agama mereka adalah takwa dan bukan taqiyah [Al-Muntaqa: 86].
Inilah hakikat taqiyah dalam agama syi’ah dia tidak lain hanyalah dusta, nifaq, dan penipuan; tidak ada amanah bagi mereka, tidak ada keikhlasan dan kejujuran dalam agama mereka . Mereka adalah para pendusta yang bangga dengan dustanya dan terang-terangan dengan maksiatnya dihadapan mata manusia.
Allah berfirman:“Diantara orang-orang Mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kapada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur dan diantara mereka (ada pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah-ubah janjinya, supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzab:23-24].
Tikaman Syi'ah Terhadap Sahabat
Apa kata mereka tentang sahabat ??
Ibnu taimiyah berkata : “Syi’ah rafidhah mengatakan : sesungguhnya kaum muhajirin dan anshor menyembuyikan nash-nash sehingga mereka kafir kecuali hanya sedikit saja, lebih dari 10 orang dan sesungguhnya Abu Bakar, Umar dan semisal keduanya adalah orang munafik , yang sebelumnya adalah iman kemudian kafir. [Majmu’ fatawa 3/356].
Mereka juga mengatakan sesunguhnya para sahabat, karena mereka telah membai’at Abu Bakar, maka semuanya menjadi kafir kecuali tiga atau empat orang ,(Kitab syiah Itsna ‘asyariyah) diantaranya dari Hinan bin Sadir (tokoh syi’ah) dari bapaknya dari Abu Ja’far, ia berkata : “semua manusia menjadi kafir setelah meninggalnya Nabi saw kecuali tiga orang yaitu : Miqdad bin Aswad, Abu Dzar al Ghifari dan salman al- Farisi.”[Al-Kafi 12/321,322]. Lebih dari itu mereka juga mengkafirkan sebagian dari ahli Bait Rasulullah saw , seperti Al-Abbas dan Abdulullah bin Abbas, mereka menganggapnya kerdil dan bodoh. [Ushul Kafi 1/247]. Maka lihatlah bagaimana mereka menganggap generasi termulia menjadi seperti iblis atau Abu Jahal. Padahal dengan celaan mereka terhadap sahabat saja sudah berarti mencela Nabi dan Islam. Cukuplah bagi kita untuk menepis kebatilan itu dengan Hadist: “Janganlah kalian mencela sahabatku, karena seandainya kalian berinfaq emas sebesar gunung uhud tidak akan menyamai kebaikan mereka (walaupun) satu mud atau setengahnya” [HR. Bukhari dari Abi Said Al- khudri]
Bukan hanya itu saja tetapi mereka juga mengkafiran khalifah, serta menghukumi pemerintahannya sebagai negara kafir.
Menurut syi’ah Itsna’asyariyah, bahwa semua pemerintahan selain pemerintahan itsna’asyariyah adalah bathil, dan penguasanya adalah thagut. Barangsiapa yang berbai’at kepadanya tak ubahnya seperti orang yang membai’at thagut. Mereka berpendapat bahwa semua khalifah selain Ali dan Hasan adalah thagut, sekalipun mereka menyeru kepada kebenaran. Al-majlisi mengatakan:”bahwa khulafa’urrosyidin adalah perampas yang murtad dari islam, semoga Allah melaknat mereka dan orang yang mengikuti mereka, karena mereka mendzalimi Ahlul bait dari awal hingga akhir.” [Ushul kafi: 1/427 dan rijal al-kusyi hal:35]. Dimasa ja’far bin shadiq, Syi’ah rafidhah juga mengatakan : penduduk syam lebih jelek dari pada penduduk romawi (Nasrani), dan penduduk Madinah tujuh puluh kali lebih jelek dari penduduk makkah, sedangkan penduduk makkah telah kafir dengan nyata. [Ushul kafi: 2/49]

Anonim mengatakan...

FBBL. BITHONAH ===================>
Taqiyah menurut kaum Muslimin adalah sebuah istilah yang pemahamannya hanya terarah kepada satu arti Yaitu “Dusta”. Adapun menurut Syi’ah taqiyah berarti perbuatan seseorang yang menampakkan sesuatu berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya, artinya nifaq dan menipu dalam usaha mengelabui atau mengecoh manusia. Taqiyah adalah satu prinsip dari prinsip-prinsip kesesatan mereka. Taqiyah memiliki kedudukan yang luar biasa, mereka telah menempatkannya dalam tempat pengagungan dan pengkultusan, hingga mereka menjadikannya sebagai asas dalam agama mereka, dengan taqiyah seorang hamba akan mendapatkan pahala dan ihsan dari Allah.
Taqiyah adalah satu rukun dari rukun-rukun agama mereka, seperti halnya shalat. Ibnu Babawaih mengatakan:“Keyakinan kami tentang taqiyah itu adalah dia itu wajib. Barangsiapa meninggalkannya maka sama dengan meninggalkan shalat.”[Al-I’tiqadat, hal.114].
Mereka menisbatkan kepada imam keenam Ja’far Ash-Shadiq, dia berkata: “seandainya saya mengatakan bahwa yang meninggalkan taqiyah sama dengan yang meninggalkan shalat tentu saya benar.” [Al-I’tiqadad, hal.114]
Sebagaimana mereka katakan juga bahwa: “Daulah Azh-zhalimin” mereka menegaskan, “Taqiyah adalah fardhu yang diwajibkan kepada kami dalam negara orang-orang yang zhalim. Karena itu barangsiapa meninggalkan taqiyah maka sungguh dia telah menyalahi agama imamiyah* dan telah berpisah dengannya.”[Bihar op. cit. 57/421]
mereka menipu kaum muslimin hanya karena mengikuti hawa nafsu iblis mereka, sekaligus propaganda kesesatan mereka. Mereka menganggap bahwa taqiyah lebih tinggi kedudukannya dibandingkan keimanan seseorang.
Imam Bukhari mereka, yaitu Muhammad Al-Kulaini berkata: “Bertaqwalah kalian kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam agama kalian dan lindungilah agama kalian dengan taqiyah, maka sesungguhnya tidaklah mempunyai keimanan orang yang tidak bertaqiyah. Dia juga mengatakan “Siapa yang menyebarkan rahasia berarti ia ragu dan siapa yang mengatakan kepada selain keluarganya berarti kafir.” .”[Al-KafiS 2/371,372 & 218].
Dan demikianlah firqoh Syi’ah menjadikan taqiyah, sebagai pilar agama dan menjadikan sebagai salah satu simbol mazhabnya. Keyakinan akan keharusan bertaqiyah mengandung konsekuensi membolehkan mereka berbohong. Sehingga perbuatan ini menjadi “trade mark” atau simbol Syi’ah. Umpamanya ada yang mengatakan, “Dia itu lebih pembohong dari orang rafidhah” [Tahqiq Mawaqif al-Sahabah fi al-Fitnah].

Anonim mengatakan...

Atas kebolehan taqiyah mereka berdalil dengan…
Firman Allah 'Azza wa Jalla, artinya :
“Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (kekasih, penolong, pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian niscaya, lepaslah ia dari pertolongon Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” [Ali Imran: 28].
Ini adalah istidlal (pengambilan dalil) yang salah, menyalahi pengertian ayat yang jelas yang tidak menerima ta’wil semacam di atas, memelihara diri yang dimaksud dalam ayat adalah memelihara diri dari orang-orang kafir.
Firman Allah 'Azza wa Jalla, artinya:
“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” [An-Nahl: 106].
Ini juga istidlal yang keliru jauh dari kebenaran karena ayat ini khusus bagi orang yang sudah tidak tahan siksaan, jika ia terpaksa mengucapkan kekufuran, maka ia boleh mengucapkannya tanpa diyakini dan diamalkan.

Anonim mengatakan...

mau tau yang lebih banyak ttg akidah syiah yang mirip JAMAAH 354?? buka www.syiah.blogspot.com
setali tiga uang
sebelas dua belas
buah jatuh gak jauh dari pohon

hafizah mengatakan...

saya mau bertanya pada pak bambang irawan. ada yg punya telp. pak bambang mas2 / mbak2 ?

jenggotpalsu mengatakan...

tulisan di atas bukan indeks dari kegiatan LDII,LDII adalah ormas yang obyektif dalam melaksanakan dan mengajak manusia kepada kebaikan...lihat saja..dari komentar ada yng mengaku bahwa itu adalah tulisannya..trs di joki oleh org lain,padahal aslinya LDII tidak pernah dendam atau marah pada bambang irawan,adapun fitnah yg di tuukan pada BI saya rasa itu hanyalah fitnah

Anonim mengatakan...

bagi saudara/i yg adil, tidak hanya mendengar sebelah pihak (dari pihak ldii saja), silahkan telp beliau bp.bambang irawan, apa betul beliau:
1. mau jadi imam
2. sakit hati
3. silahkan tanya apakah beliau pernah meninggal dunia dalam keadaan lidah menjulur?? dikatakan seperti sahabat saklabah (MANGKUL DI LDXX)??
Astargfirulloh Saklabah adalah pejuang BADAR 313.
mangkulan kediri, sukotirto, purworedjo, madiun dan pondok2 ldxx mengatakan Saklabah mati dlm keadaan kafir??!
Amsol tolong terangkan ttg Sahabat Saklabah ini ya admin...
bukankah feteran Badar 313, sudah di AMPUNI dosa2nya oleh ALLOH???

Anonim mengatakan...

LDII itu adalah topeng dari 354, jadi yang dibahas di blog ini memang bukan LDII, tapi islam jamaahnya. memang di islam jamaah, hampir semua warganya beranggapan bahwa keluarnya bambang irawan dari islam jamaah karena bambang irawan ingin jadi imam. sama halnya dengan p mauludin, oleh jamaah 354 keluarnya p mauluddin diisukan karena p mauluddin ingin jadi imam.jamaah 354 itu tipikal, setiap orang jamaah 354 yang keluar dari 354 umumnya dibilang, sakit hati, ingin jadi imam, ingin jadi pengurus dan ingin-ingin lainnya. padahal banyak sekali orang jamaah 354 yang keluar dari 354 bukan karena sakit hati atau ada keinginan yang tak terwujud, mereka keluar dari 354 karena memang tabir penyimpangan 354 sudah diketahui. dan setiap orang yang keluar jari islam jamaah dihukumi murtad

Anonim mengatakan...

Temen-temen , mari kita ikuti perkataan si jenglot palsu itu , kita fokuskan ke islam jamaah , karena LDII itu memang organisasi dan sampai hari ini di restui pemerintah.

Yang disesatkan pemerintah adalah AQIDAHNYA ORANG-ORANG LDII , sekali lagi ORANG-ORANG YANG BERNAUNG DI LDII , bukan LDII-nya.

Setuju ??????? apa komentar jenglot palsu

Anonim mengatakan...

"tulisan di atas bukan indeks dari kegiatan LDII,LDII adalah ormas yang obyektif dalam melaksanakan dan mengajak manusia kepada kebaikan...lihat saja..dari komentar ada yng mengaku bahwa itu adalah tulisannya..trs di joki oleh org lain,padahal aslinya LDII tidak pernah dendam atau marah pada bambang irawan,adapun fitnah yg di tuukan pada BI saya rasa itu hanyalah fitnah"

Ibnu Taimiyah berkata “inilah sikap Rafidhah.” Syi’ar mereka adalah kehinaan, baju mereka adalah nifak dan taqiyah, modal mereka adalah dusta dan sumpah palsu..."

Jenglot,jenglot....saya kira sudah berhenti jadi tukang bohong...semoga allah memberi hidayah..

Anonim mengatakan...

wahai saudara-saudaraku di 354, jamaah seperti apakah yang klaim sebagai al Jamaah itu? apakah jamaah yang menghancurkan dan memutuskan silsilah keluarga? jamaah yang memisahkan diri dari ummat islam seluruhnya?

Coba kalian renungkan, ketika seorang suami ruju' pada al haq, sebelumnya dia adalah sebagai warga 354, lebih dari itu dia adalah seorang muballigh, lihatlah apa yang dilakukan oleh pengurus-pengurus 354, mereka menfatwakan kepada pihak istri yang notabene fanatik pada 354 utk menceraikan suaminya. Lihatlah juga, bagaimana seorang ayah yang menganggap anaknya hilang ketika si anak telah ruju' pada al haq dan meninggalkan 354. Apakah semua ini yang kalian "jamaah"?

Ingatlah, jamaah menurut syari'at adalah keadaan bersatu seluruh kaum muslimin, dan meninggalkan kelompok-kelompok yang hanya memecah belah persatuan. Lihatlah dua kasus di atas, seorang suami harus bercerai dari istrinya, karena salah satunya bukan 354 lagi, atau seorang anak harus dianggap lepas tali warisnya karena dianggap keluar dari 354, apakah hal seperti itu yang kalian klaim sebagai keadaan bersatu? persatuan siapa? persatuan sesama golongan? mengapa? apa karena kalian menganggap bahwa selain golongan kalian adalah kafir? menurut siapa? pak NH? siapa dia dalam timbangan syari'at? mujaddid? nabi? atau bahkan di atas nabi?

Jangan marah, hal ini sy dasarkan pada pola tingkah orang2 354, yang ketika menemukan masalah dalam syari'ah, mereka lebih memilih kembali kepada "teks bulanan" dengan berusaha mengingat teks edisi bulan berapa, bab pembahasan apa, dll, dan tidak kembali kepada al Quran dan Sunnah yang tegak. Apa kalian akan mengatakan bahwa teks bulanan itu sudah merupakan representatif dari quran dan sunnah? jika demikian maka paling tidak kalian sudah bisa menghentikan hembusan fitnah dan tuduhan "membaca kitab karangan" pada orang2 yang berusaha menemukan kebenaran, toh kitab2 itu juga diambil dari quran dan sunnah yang tegak, apa bedanya dengan teks bulanan kalian itu?

jenggotpalsu mengatakan...

mereka menfatwakan kepada pihak istri yang notabene fanatik pada 354 utk menceraikan suaminya"

wah dengan begitu kan pengurs ngurusi jamaah agar ga kehilangan surganya...makanya ngaji yang benar..

Anonim mengatakan...

orang2 354, hendaknya kalian takut kepada Allah, berlapang dadalah menerima kebenaran. hentikan perdebatan2 kosong kalian. cobalah ambil manfaat dari setiap kritikan terhadap golongan kalian..

orang2 yang ruju' ilal haqq sudah begitu banyak. sebagian besar dari mereka adalah orang2 yang disaksikan baik keilmuan dan kezuhudannya sewaktu di 354.

lihatlah pula siapa yang tinggal di 354. lihat jajaran ring satunya, jajaran ulamanya, utamanya yang baru pulang dari makkah, siapakah mereka? waktu ujian maryoso melanda, bukankah mereka adalah pengepul? bukankah mereka ikut melegalkan bisnis itu? *kalau tidak tau, berarti posisi anda skalian di 354 hanya sbage "rakyat jelata", bukan org2 yang bergaul di tingkat atas sehingga tidak tau peta yang sebenarnya*

lalu sekarang, kalian mau mengambil ucapan2 dari orang2 yang tidak terbukti zuhud? tidak terbuti mutawwarik? dan membuang ucapan orang2 yang dulu di 354 disaksikan menjadi rujukan? terbukti zuhud? terbukti mutawwarik? terbukti tidak kena bisnis maryoso?

lihatlah dengan hati yang tenang, apakah kalian tidak memutar balikkan keadaan sekarang? menuduh yang keluar dari golongan kalian dengan tuduhan yang tidak2, mengatakan salah niat, gag sakdermo, dll... beginikah label yang kalian berikan pada sejumlah orang yang terbukti zuhud dan tekun ngajinya waktu di 354? apa kalian mau mengeneralisir, bahwa semua yang keluar pastilah ngajinya gag benar? bisa anda buktikan dengan data statistik? menggunakan indokator apa penghakiman anda2 itu? tau2 koq bilang ngajinya gag benar, salah niat, tidak sak dermo? apa indokatornya?

sebaiknya anda sedikit merenung, kalau anda sudah menerima doktrin begitu kuat, dan meninggalkan kaidah obyektif... maka bukankah hal ini menunjukkan bahwa anda2 skalian sudah tidak bisa berpikir sehat?

Anonim mengatakan...

wah dengan begitu kan pengurs ngurusi jamaah agar ga kehilangan surganya...makanya ngaji yang benar..
wah... sipenyelisih sunnah,si penolak fitrah manusia,si bodoh yang berada di ambang kehancuran krn BERKATA ATAS NAMA ALLAH TP ILMU,si celaka yang menghinakan syi'ar agama islam dah koment lg!!!!! NGOMONG SORGA LAGI...
dah kaya DAJJAL NGOMONGIN SORGA hkikatnya adalah neraka

Anonim mengatakan...

ring 1 ( begitulah 354 menamakan pembesar-pembesarnya)itu banyak sekali yang jadi bandar kelas kakap bisnis riba maryoso. klo mau diusut sama polisi, keluarga nuhasan mungkin udah banyak yang masuk penjara, termasuk sang imam SA dan sang patih kasmudmud

apabila uang riba sudah menjadi darah dan daging dalam tubuh, memang akan sulit menerima nasihat, yang ada hanyalah syahwat kekuasaan dan kegelapan

Anonim mengatakan...

"mereka menfatwakan kepada pihak istri yang notabene fanatik pada 354 utk menceraikan suaminya"

jengLOT ---> wah dengan begitu kan pengurs ngurusi jamaah agar ga kehilangan surganya...makanya ngaji yang benar..

bandingkan omongan jenglot palsu yang lain

jengLOT---> tulisan di atas bukan indeks dari kegiatan LDII,LDII adalah ormas yang obyektif dalam melaksanakan dan mengajak manusia kepada kebaikan...lihat saja..dari komentar ada yng mengaku bahwa itu adalah tulisannya..trs di joki oleh org lain,padahal aslinya LDII tidak pernah dendam atau marah pada bambang irawan,adapun fitnah yg di tuukan pada BI saya rasa itu hanyalah fitnah

Disatu sisi bahwa orang yg keluar dari jokam dia menganggap kafir, tapi giliran yang di bahas manhaj takfirnya dia ngomong itu tidak benar,fitnah.

namanya juga tukang bohong,manhaj madigob(blok), omongannya berubah ubah.

Ibnu Taimiyah berkata “inilah sikap Rafidhah.” Syi’ar mereka adalah kehinaan, baju mereka adalah nifak dan taqiyah, modal mereka adalah dusta dan sumpah palsu..."

Anonim mengatakan...

jenggotpalsu,
hatimu sepalsu akidahmu.

tiada rasa cinta pada Rasulullah dalam hatimu kecuali palsu.

jikalau asli, tentulah tidak akan berani kamu menggunakan jenggotpalsu.

hasan mengatakan...

Bagaimana Hukum Shalat Dipimpin Ahli Bid'ah ?
Ahad, 03 Januari 2010 - 05:29:57 :: kategori Aqidah
Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc
.: :.
بسم الله الرحمن الرحيم

Shalat di Belakang Imam Ahli Bid'ah

Al-Imam al Bukhari membuat sebuah bab berjudul:
"Keimaman Seorang yang Terlibat Fitnah dan Seorang Ahli Bid'ah"
Lalu beliau menyebutkan riwayat,
عَنْ عُبَيْدِاللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ خِيَارٍ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِي اللَّهم عَنْهم وَهُوَ مَحْصُورٌ فَقَالَ إِنَّكَ إِمَامُ عَامَّةٍ وَنَزَلَ بِكَ مَا نَرَى وَيُصَلِّي لَنَا إِمَامُ فِتْنَةٍ وَنَتَحَرَّجُ فَقَالَ الصَّلَاةُ أَحْسَنُ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ فَإِذَا أَحْسَنَ النَّاسُ فَأَحْسِنْ مَعَهُمْ وَإِذَا أَسَاءُوا فَاجْتَنِبْ إِسَاءَتَهُمْ
Dari 'Ubaidullah bin 'Adi bahwa beliau masuk menemui 'Utsman bin 'Affan saat beliau dikepung maka ia mengatakan: Sesungguhnya engkau adalah imam jama'ah, dan telah menimpamu apa yang kami lihat dan (sekarang yang) mengimami kami adalah imam fitnah , kami merasa takut berdosa. Maka 'Utsaman berkata: Shalat adalah sebaik-baik apa yang dilakukan oleh manusia, maka jika mereka berbuat baik, berbuat baiklah bersama mereka dan jika mereka berbuat jelek maka jauhilah kejelekan mereka. [Shahih, HR Al Bukhari. lihat fathul bari :2/188 no: 695]

Ibnu Abi Zamaniin meriwayatkan dari Syabib ia mengatakan: Bahwa Najdah Al Haruri (orang khowarij) bersama teman-temannya datang (ke Makkah) maka ia melakukan perjanjian damai dengan Ibnu Zubair (yang menguasai Makkah saat itu, pent) lalu ia (Najdah) mengimami orang-orang selama sehari semalam dan Ibnu Az-Zubair sehari semalam, maka Ibnu Umar shalat di belakang mereka berdua, Sehingga seseorang mengkritik Ibnu Umar lantas beliau menjawab: Kalau mereka menyeru, 'Mari kepada amal yang baik', maka kita menyambutnya, dan jika mereka menyeru, 'Mari kita bunuh jiwa', maka kami mengatakan: Tidak!!. Dan beliau mengeraskan suaranya ['Usulussunnah karya Ibnu Abi Zamanin :3/1003 dinukil dari Mauqif ahlissunah, dan Al-Baihaqi meriwayatkan yang semakna: 3/122 dalam As-Sunanul kubra]

hasan mengatakan...

Ibnu Hazm mengatakan: Kami tidak mengetahui seorangpun dari sahabat berhalangan untuk shalat dibelakan Al-Mukhtar, Ubaidullah bin Ziyad dan Al-Hajjaj dan tiada orang fasiq yang lebih fasiq dari mereka. Allah telah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"Dan tolong menolonglah kalian pada kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong pada perbuatan dosa dan permusuhan"
[Al Maidah:2] [Al Muhalla:4/302 dinukil dari dari Mauqif Ahlissunnah:1/351-352]

Ibnu Taimiyyah mengatakan: Adalah Abdullah Ibnu 'Umar dan selain beliau dari kalangan sahabat, shalat di belakang Najdah Al Haruri (seorang berpemahaman bid’ah khawarij) [Minhajussnnah:5/247 Mauqif:1/352]

'Umair bin Hani mengatakan: Aku melihat Ibnu 'Umar, Ibnu Zubair, Najdah, dan Al Hajjaj, maka Ibnu Umar mengatakan: Mereka (penduduk Makkah yang berperang) berjatuhan dalam neraka sebagaimana lalat jatuh ke dalam kuah. Tapi jika beliau mendengar seorang muadzin, beliau cepat-cepat menuju kepadanya -yakni muadzin mereka- lalu shalat bersama mereka [Al Mushonnaf karya Abdurrazzaq:2/387 As Sunanul Kubra, Al Baihaqi:3/122]

Abdul Karim Al Bakka': Saya mendapati sepuluh dari sahabat Nabi shallallahu'alaihi wa sallam semuanya shalat di belakang imam yang jahat [Sunan Al Kubra:3/122 dan Al Bukhari dalam tarikhnya, lihat Fathul Bari karya Ibnu rajab:4/183]

Nafi' mengatakan: Bahwa Ibnu 'Umar menyendiri ke Mina saat pertempuran antara Ibnu Zubair dengan Hajjaj di Mina, lalu ia shalat di belakang Hajjaj. [Sunan Al Kubra:3/121]

Ibnu 'Umar shalat di belakang Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi demikian pula Anas bin Malik shalat di belakangnya [Al Bukhari, lihat Syarah At Thahawiyah:374]

Demikian riwayat dari sebagian sahabat Nabi shallallahu'alaihi wa sallam yang membuktikan bahwa mereka shalat di belakang ahli bid'ah atau orang fasiq yang sekelas Hajjaj bin Yusuf selama mereka belum kafir.

hasan mengatakan...

Lanjutan shalat di belakang ahli bid'ah---->Riwayat dari Tabi'in
Ja'far bin Barqon mengatakan: Saya bertanya kepada Maimun bin Mihran tentang shalat di belakang seseorang yang disebut khawarij, ia menjawab: 'Sesungguhnya engkau shalat bukan karena orang itu tapi karena Allah, dulu kami shalat di belakang Al Hajjaj padahal dia haruri azraqi (orang khawarij)'. Lalu aku memandangnya. Maka beliaupun berkata: 'Dia adalah yang kamu selisihi pendapatnya ia menganggapmu kafir dan menghalalkan darahmu, dan Hajjaj dulu semacam itu' [Fathul Bari, Ibnu rajab:4/183]

Al Hasan Al Basri ditanya tentang shalat di belakang ahli bid'ah maka beliau menjawab: Shalatlah, dan bid'ahnya ditangung imam itu sendiri [HR. Al Bukhari secara mu'alaq dan Sa'id bin Manshur dinukil dalam Fathul Bari:4/182 karya Ibnu Rajab dan Fathul Bari, Ibnu Hajar :2/188]
Al A'masy mengatakan: Adalah murid-murid besar Ibnu Mas'ud shalat jum'at bersama Al Mukhtar dan mereka mengharap pahala dari perbuatan itu. [Usulussunah karya Ibnu Abi Zamanin:3/1004 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah]

Seseorang berkata kepada Al Hasan Al Bashri: Datang seseorang dari Khawarij mengimami kami, apakah kami shalat di belakangnya? Beliau menjawab: Ya, telah ada yang lebih jelek darinya mengimami orang-orang. [Usulussunah karya Ibnu Abi Zamanin:3/1005]
Qotadah mengatakan: Saya bertanya kepada Said Ibnu Al Musayyib: Apakah kita boleh shalat di belakang Al Hajjaj? Ia menjawab: Kami sungguh akan shalat di belakang orang yang lebih jelek darinya.
Inilah beberapa riwayat dari tabi'in yang sejalan dengan apa yang dilakukan para sahabat.
Selanjutnya dalam masalah ini kita perlu meninjau kepada dua keadaan:
Pertama: ketika tidak mungkin berjama'ah kecuali di belakang mereka, seperti pada shalat jum'at, khususnya jaman dulu yang sangat terbatas pelaksanaannya, atau shalat ied atau bahkan shalat lima waktu.
Kedua: ketika mungkin melaksanakan jama'ah di belakang selain mereka dari kalangan ahlussunnah dan tidak mengakibatkan makmum meninggalkan jama’ah.
Keadaan pertama, kondisi seperti itu justru harus shalat di belakang mereka, karena jika tidak berarti akan menimbulkan hilangnya shalat berjama'ah. Sebagaimana kita lihat pada sebagian riwayat-riwayat di atas dari para sahabat dan tabi'in yang menunjukkan demikian. Bahkan yang sengaja meninggalkannya justru dianggap oleh para ulama sebagai ahli bid'ah.

hasan mengatakan...

Lanjutan shalat di belakang ahli bid'ah----->Ibnu Taimiyyah mengatakan:
(…Seandainya makmum mengetahui bahwa imamnya seorang ahli bid'ah dan mengajak kepada bid'ahnya atau seorang fasiq yang menampakkan kefasikannya sedang dia adalah imam rawatib yang tidak mungkin shalat kecuali di belakangnya seperti imam shalat jum'at dan dua hari raya dan imam di shalat haji di Arafah dan semacamnya maka makmum hendaknya shalat di belakangnya, (demikian) menurut mayoritas ulama' salaf dan khalaf (belakangan) dan itu adalah madzhab Asy Syafi'i, Ahmad dan yang lainya …Dan barangsiapa meninggalkan shalat jum'at dan jama'ah di belakang imam yang fajir/jahat maka dia adalah ahli bid'ah menurut imam Ahmad dan yang lainya dari kalangan imam ahlussunnah… [Al Fatawa:23/352-354]
juga beliau mengatakan: (…Adapun shalat di belakang imam ahli bid'ah maka masalah ini ada perselisihan ulama di dalamnya dan ada perinciannya.

Jika tidak ia dapatkan imam selainnya seperti shalat jum'at yang tidak didirikan kecuali di satu tempat, dua hari raya dan shalat-shalat saat pelaksanaan haji di belakang imam musim haji maka yang semacam ini tetap dilakukan di belakang orang yang baik dan orang yang fajir/jahat dengan kesepakatan Ahlussunnah wal Jama'ah. Dan yang meninggalkan shalat semacam ini di belakang para imam hanyalah ahli bid'ah seperti orang-orang Rafidhah/Syi'ah dan yang sejenisnya…[Al Fatawa:23/355]
Katanya juga : (…Oleh karenanya orang-orang yang meninggalkan jum'at dan jama'ah di belakang para imam yang jahat secara mutlak terangap -menurut ulama salaf dan para imam- sebagai ahli bid'ah …..[Al Fatawa:23/343-344]

Tapi, Apakah Shalatnya Dianggap Sah dan Tidak Perlu Diulangi?

Ibnu Taimiyyah mengatakan:
(…Yang benar adalah hendaknya ia melakukan shalat itu dan tidak mengulanginya, karena para sahabat, mereka shalat jum'at dan jama'ah di belakang para pimpinan yang fajir/jahat dan mereka tidak mengulanginya sebagaimana Ibnu Umar shalat di belakang Al Hajjaj, demikian pula Ibnu Mas'ud dan yang lainya shalat di belakang Al Walid bin 'Uqbah padahal dia saat itu minum khamr…dan dalam shahih Al Bukhari bahwa Utsman saat beliau dikepung maka seseorang mengatakan: Sesungguhnya Engkau adalah Imam jama'ah dan telah menimpamu apa yang kami lihat dan (sekarang) mengimami kami imam (pimpinan) fitnah, kami merasa takut berdosa. Maka 'Utsman berkata: ‘Sholat adalah sebaik-baik apa yang dilakukan oleh manusia maka jika manusia berbuat baik, berbuat baiklah bersama mereka dan jika meraka berbuat jelek maka jauhilah kejelekan mereka’.
Dan yang semacam ini banyak.
Dan orang yang fasiq dan mubtadi' shalatnya itu sendiri sah …[Al Fatawa:23/352-354]
Adapun jika tidak mungkin shalat kecuali di belakangnya seperti jum'at maka shalatnya (tentu juga) tidak perlu diulangi, dan mengulanginya adalah termasuk perbuatan ahli bid'ah) [Al Fatawa:23/343-344]

hasan mengatakan...

Lanjutan shalat di belakang ahli bid'ah---->Ibnu Qudamah juga mengatakan: Wajib sholat jum'at dan menuju kepadanya, sama saja apakah yang mendirikannya itu seorang ahlussunnah atau ahli bid'ah, atau seorang yang adil/sholih maupun fasiq, imam Ahmad telah menyebutkan demikian…dan saya tidak ketahui dalam masalah ini ada khilaf (beda pendapat) antara para ulama. Dalilnya dalam masalah ini adalah keumuman firman Allah ta'ala:
إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
"Jika kalian diseru untuk shalat dari hari jum'at maka menujulah kepada dzikrullah dan tinggalkan jual beli" [Al Jumu'ah ayat:9]….Dan juga ijma' para shahabat, karena sesungguhnya Abdullah bin Umar dan yang lainnya dari para sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam mengikuti shalat jum'at di belakang Al Hajjaj dan yang sejenisnya, dan tidak terdengar dari para sahabat seorangpun dari mereka yang tidak mengikutinya. Abdulah bin Hudzail mengatakan: Kami saling mengingatkan tentang jum'at di masa Al Mukhtar, maka mereka bersepakat untuk mendatanginya, adapun perbuatan dustanya itu dia tanggung sendiri, dan karena jum'at itu adalah termasuk syi'ar agama yang tampak jelas serta yang mengurusinya adalah para penguasa atau yang diwakilkannya, maka tidak melakukan shalat jum'at di belakang orang yang semacam ini sifatnya akan berakibat lenyapnya shalat jum'at [Al-Mughni:3/169-170]

Ibnu Abil 'Izz Al Hanafi mengatakan: Barangsiapa yang meninggakan shalat jum'at dan jama'ah di belakang Imam yang fajir/jahat maka dia mubtadi' (ahli bid'ah) menurut mayoritas para ulama. Yang benar ia tetap shalat dan tidak mengulanginya [Syarah Ath Thahawiyah:374]


Adapun keadaan kedua, yaitu saat mungkinnya shalat di belakang selain mereka yaitu di belakang imam yang adil/shalih dari ahlussunnah maka para imam bersepakat tetang kemakruhan shalat di belakang mubtadi'/ahli bid'ah. [Mauqif Ahlissunnah 1/360]

hasan mengatakan...

Lanjutan shlat di belakang ahli bia'ah---->Pendapat Empat Madzhab
Madzhab Hanafi:
Dalam kitab Badai'ushona-i' disebutkan: Keimamam ahli bid'ah makruh hal itu telah disebutkan oleh Abu Yusuf, dalam 'al Amali' beliau katakan: Saya tidak suka kalau imam itu pelaku bid'ah karena manusia tidak suka shalat di belakangnya.
Tapi apakah boleh shalat di belakangnya? Sebagian guru kami mengatakan tidak boleh. Dalam kitab Al Muntaqa disebutkan sebuah riwayat dari Abu Hanifah bahwa beliau bependapat tidak boleh shalat dibelakan ahli bid'ah.
Yang benar bahwa jika bid'ahnya membuatnya kafir maka tidak boleh. Kalau tidak membuatnya kafir maka boleh namun tetap makruh. [Bada'iushana'i', Al Kasani:1/387]

Madzhab Maliki
Dalam salah satu riwayat dari Imam Malik disebutkan: …Imam Malik mengatakan: Kalau dia shalat maka tidak perlu mengulangi.
[Al Mi'yarul Mu'rib:2/338 dinukil dari Mauqif ahlissunnah:1/362]

Madzhab Asy Syafi'i:
Imam Nawawi mengatakan: Orang-orang yang semadzhab dengan kami mengatakan shalat di belakang orang yang fasiq sah tidak haram akan tetapi makruh demikian pula dimakruhkan di belakang ahli bid'ah yang belum dikafirkan dengan bid'ahnya dan tetap sah …Dan nash ucapan Asy Syafi'i dalam 'al mukhtashor' menunjukan kemakruhan shalat di belakang fasiq dan mubtadi' tapi kalau melakukannya tetap sah. [Al Majmu':4/150]
Ibnu Qudamah mengatakan: Al Hasan Abu Ja'far dan Asy Syafi'i membolehkan shalat dibelakan ahli bid'ah…dan karena dia (ahli bid'ah) adalah seseorang yang shalatnya sah maka bermakmum di belakangnyapun sah seperti yang lainnya [Al Mughni:3/18 lihat pula Mughni Al Labib:1/242 ]

Madzhab Hanbali:
Ibnu Qudamah mengatakan: Adapun shalat jum'at dan 'ied maka boleh shalat di belakang mereka. Dulu imam Ahmad shalat di belakang mu'tazilah demikian pula para imam semasa beliau. [Al Mughni:3/22]
Dari imam Ahmad ada sebuah riwayat yaitu bahwa shalat di belakang orang fasiq boleh [Al Mughni:3/20]

hasan mengatakan...

Lanjutan shalat di belakang ahli bid'ah---->Sandainya Tetap Sholat di Belakangnya, Apakah Shalatnya Sah atau Tidak?
Dalam hal ini ada dua pendapat, Ibnu Taimiyyah menerangkan:
(… Adapun jika mungkin melakukan jum'at atau jama'ah di belakang imam yang baik maka itu lebih baik dari pada melakukannya di belakang orang yang fajir/jahat. Saat itu jika ia (tetap) shalat di belakang orang fajir/jahat tanpa ada udzur, maka masalah ini adalah lahan berijtihadnya para ulama.
Diantara mereka ada yang mengatakan: Ia harus mengulangi karena ia telah melakukan sesuatu yang tidak disyari'atkan, dimana ia tidak melakukan pengingkaran yang wajib ia lakukan, yaitu ketika ia shalat di belakangnya. Maka shalatnya di belakangnya itu terlarang sehingga ia mesti mengulanginya.
Diantara mereka ada yang mengatakan: Tidak perlu mengulanginya karena shalatnya itu sendiri sah …) [Al Fatawa:23/343-344]
(…Dan seandainya ia shalat di belakang orang yang diketahui bahwa ia fasiq atau ahli bid'ah/mubtadi' maka dalam hal sahnya shalat, ada dua pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad dan Malik sedang madzhab Asy Syaafi'i dan Abu Hanifah sah [Al Fatawa:23/351]
(…Adapun jika memungkinkannya di belakang selain mubtadi' ini, maka itu lebih baik dan lebih utama tanpa ada keraguan akan tetapi jika ia shalat di belakangnya maka dalam (hal sahnya) shalat ada pertentangan diantara ulama, madzhab Syafi'i dan Abu Hanifah sah shalatnya adapun madzhab Malik dan Ahmad maka dalam madzhab mereka ada perselisihan dan perincian) [Al Fatawa:23/355]

Jadi, kesimpulannya sebagai berikut:
Pendapat pertama, shalatnya sah dan tidak perlu mengulangi dan ini adalah pendapat Asy Syafi'i dan Abu Hanifah.
Abdullah bin Ahmad An Nasafi (dari ulama madzhab Hanafi) mengatakan: Dimakruhkan keimaman seorang budak hamba sahaya, Arab badui, fasiq dan ahli bid’ah [Kanzud Daqa'iq:1/369 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/360]
Nasr Al Maqdisi menukilkan dari Al Imam As Syafi'i ucapannya: Saya tidak suka keimaman seorang fasiq dan yang menampakkan bid'ah [Mukhtashor kitab al hujjah 'la tarikil mahajjah:570. Dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/360]

hasan mengatakan...

Lanjutan shalat di belakang ahli bid'ah---->Dan ini ternyata juga pendapat Imam Malik dalam salah satu riwayat dari beliau (…Imam Malik mengatakan: Kalau dia shalat maka tidak perlu mengulang.. dan Suhnun mengatakan: Kalau mengulangi itu baik dan kalau tidak mangulangi maka tidak mengapa, dan beliau menganggap lemah pendapat yang mengatakan mengulangi, beliau berpendapat untuk tidak mengulangi baik masih dalam waktu shalat atau di luar waktu, dan seluruh murid-murid Malik yaitu Ayshab, Mughirah …dan lainnya mengatakan: Tidak diulangi (sholatnya) di belakang mereka.[Al Mi'yarul Mu'rib:2/338 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah, karya Asy-Syakih Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili:1/362]
Ini juga salah satu pendapat Imam Ahmad, beliau mengatakan: Dilakukan shalat di belakang orang yang baik dan yang fajir/jahat, tidak seorangpun dikafirkan dengan sebab dosa (selain dosa kekafiran besar-pent). [Ar Riwayataini wal wajhaini:1/172 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/362. Riwayat Harb.]

Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan bahwa yang mengulangi adalah termasuk ahli bid’ah (mubtadi'). [lihat, Al Mughni:3/20-22]
Dengan demikian pendapat ini telah disepakati oleh empat madzhab.

Pendapat yang kedua, shalatnya tidak sah dan harus mengulangi. Ini adalah pendapat Maliki dan Hambali dalam salah satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad.

Imam Malik ditanya tentang seseorang yang shalat di belakang orang yang bermadzhab Qodari (ingkar taqdir): Maka beliau berpendapat untuk tidak shalat di belakangnya dan beliau mengatakan dalam hal shalat jum'at saya berpendapat kalau kamu takut dan khawatir terhadapnya maka shalatlah bersamanya, lalu kamu ulangi dengan shalat dhuhur [Al Mudawwanah:345 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/361]

Imam Ahmad mengatakan: Tidak perlu shalat di belakang (ahli bid’ah) Murji'ah, (ahli bid’ah) Rafidahah, dan fasiq kecuali jika takut dari mereka maka shalat di belakang mereka lalu mengulangi [Riwayat Abul Harits, Ar Riwayataini wal wajhaini:1/172 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/362]

Imam Malik mengatakan tidak sah di belakang orang yang fasiq tanpa di dasari takwil, seperti peminum khamr dan pezina. Sementara jumhur ulama berpendapat sahnya. Demikian kata An Nawawi [Al Majmu':4/150]

Nash-nash imam Ahmad yang lain menunjukan tidak boleh [lihat, Al Mughni:3/20-22]… dalam sebuah ucapan beliau menyuruh untuk mengulangi shalatnya . [lihat Al Mughni:3/20-22].

hasan mengatakan...

Lanjutan hukum shalat di belakang ahli bid'ah selesai----->Demikian dua pendapat yang ada, namun pendapat yang pertama lebih kuat dan itu merupakan pendapat mayoritas para ulama, Imam An-Nawawi mengatakan: Imam Malik mengatakan tidak sah di belakang fasiq tanpa takwil seperti peminum, khamr dan pezina. Sementara jumhur ulama berpendapat sahnya. [Al Majmu':4/150]

Ibnu Taimiyyah mengatakan: …(Saat) memungkinkan shalat di belakang orang yang ia ketahui bahwa ia mubtadi' atau fasiq tapi memungkinkan pula shalat di belakang selainnya maka mayoritas para ulama' menganggap sahnya shalat makmum, [Majmu' Fatawa:3/280]
Adapun di antara alasannya adalah apa yang telah tersebut dari sela-sela nukilan ucapan para ulama' diatas.

Dari sini kita mengetahui salahnya sebagian kelompok atau individu yang meninggalkan shalat berjama'ah di masjid -dimana itu hukumnya wajib menurut pendapat yang kuat- dengan alasan imamnya adalah ahli bid'ah. Yang lebih unik adalah ketika ternyata dia sendiri ahli bid'ah, seperti terjadi pada sebagian lembaga dan jama'ah-jama'ah dakwah Islam di Indonesia ini.

Hanya kepada Allah aku mengadu.
Wallahua'lam bish showab
Disusun oleh Qomar Su'aidi ZA, 23 september 2004 M

Footnote :
1. Maksudnya masuk dalam fitnah sehingga memberontak penguasa. [Fathul Bari]
2. Ibnu hajar mengatakan: Ahli bid'ah adalah yang meyakini sesuatu yang bertentangan dengan ahlussunnah wal jama'ah. Fahul bari: 2/188
3. Ibnu Hajar mengatakan: Yakni pimpinan fitnah [Fathul Bari:2/189]

(Dikirim oleh al ustadz Qomar ZA, Lc melalui email)

NB:I.Kalau Jamaah LDII betul2 Mankul Musnad Mutashil pastilah Mereka mengetahui penjelasan2/keterangan2 dari para ulama SALAF (Generasi zaman sahabat,Tabi'in wat tabi'uttabi'in)hingga ulama2 kholaf zaman ini dari berbagai kitab yang mereka tulis.
II.mohon maaf ini hanya 'copas' tapi tujuan saya agar akal sehatnya saudara2 kami LDII berfikir obyektif,mata hatinya terbuka tidak terus menerus tertutup oleh kabut subhat MANKUL MUSNAD MUTASHIL yang ternyata pemahaman mereka (LDII) jauh menyimpang dari pemahaman ULAMA2 SALAF.

restuMU mengatakan...

tarkul imamul mubtadi fal mubtadi'...meninggalkan imam hanya karna imam berbuat bid'ah maka dia juga membuat bid'ah...sadarlah wahai 354.sudah banyak yang ruju kembali kepada kebenarn...mereka bukan orang2 yang dongo...mereka yang keluar adalah orang yang mempunyai kredibilitas dan capabilitas yang mumpuni..

Anonim mengatakan...

subhanallah...begitu luasnya ilmu AlQur'an dan Sunah ini, selama berpuluh puluh tahun di jokam 354 tidak ada penjelasan yang sedetil ini, adanya cuma satu "POKOKE MANGKULE NGENE YO NGENE.."

Anonim mengatakan...

"Nasehat Untuk Para Penjual Rokok"
Apabila telah jelas bahwasanya merokok itu adalah haram dengan dalil-dalil yang telah diterangkan di atas, maka sesungguhnya menjualnya juga haram, karena jika Allah mengharamkan sesuatu, maka haram juga harganya (penjualannya), karena penjualannya merupakan saling membantu dalam perbuatan dosa. Allah Ta;ala berfirman yang artinya :
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Ma’idah:2)

Ketahuilah bahwasanya harta yang halal walaupun sedikit itu lebih baik daripada harta yang banyak tetapi didapat dengan cara yang haram (spt menjual rokok). Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
“Katakanlah: tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu“. (QS. Al-Maidah:100)

Fatwa Syaikh Bin Bazz Rahimahullah Tentang Hukum Rokok dan Hukum Penjualan-nya

Pertanyaan:
Hukum merokok apakah haram atau makruh? Dan bagaimana hukum penjualan-nya?

Jawaban:
Rokok haram, karena rokok sesuatu yang buruk yang mengandung bahaya-bahaya yang banyak sekali, dan sesungguhnya Allah Ta’ala memubahkan untuk hamba-Nya sesuatu yang baik-baik dari makanan dan minuman-minuman dan yang lainnya, dan mengharamkan kepada mereka yang buruk-buruk, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Artinya:
“Mereka menanyakan kepadamu apa yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah: dihalalkan bagi kalian yang baik-baik“. (QS. Al-Maidah:4)

Dan Allah Ta’ala berfirman tentang sifat Nabi-Nya Muhammad - Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam - di dalam surat Al-A’raaf yang artinya:
“Yang memerintahkan mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk“. (QS. Al-A’raaf:157)

Anonim mengatakan...

bener itu adanya cuma 5 bab, 4 tali keimanan...dan semua ilmu dibungkusi dengan "POKOE MANGKULE NGENE YO NGENE.."
TAPI SOMBONGNYA MINTA AMPUN.....(SOALNYA SAYA SENDIRI WAKTU ITU JUGA MERASA POL SENDIRI, AKIBAT DARI ILMU MANGKULNYA MADIGOL,DADIO GURUNE DAJJAL)

jenggotpalsu mengatakan...

setelah zaman berzaman jauh dari kenabian,maka kita hanya melihat ijtihad imam yang di keluarkan.karna imam itu adalah pengganti nabi,imam mengatur dan menasehat jamaah agar jauh dari pelanggaran.

Anonim mengatakan...

@jenggotpalsu: Imam yang mana? Imamnya HTI? NII? IM? Tablighy? JI? yang mana??
mungkin anda akan menjawab, imamnya ldii dong? :)) kalau sy taat imam ldii gimana tuuh?? ke luar negeri eeeh si imam ldii gag punya perjanjian damai dengan negeri kafir, atau misalnya ada teman sy dari luar negeri, org kafir, ke indo, eeeehhh si imam juga tidak bisa kasi jaminan keamanan, utk memenuhi hak kafir dzimmii juga gag bisa.. waduuh.. padahal pembahasan ini sudah di jelaskan di dalam hadist. penjelasan tentang kewajiban imam.

tapi kalau si imam ldii membuat aturan zakat diuangkan, batu merah diuangkan, kafaroh diuangkan, pinjaman pusat dimark up, ngirim muballigh2 ke luar negeri hanya dari keluarga pusat sj (padahal kualitas kagak ada), dll siiih si imam ldii ini ahli..

pernahkah kalian berpikir, wahai 354.. ada apa dengan ijtihad batu merah? apa pasal (kata orang malaysia) harus diuangkan?? apa perhitungan efisiensi?? lalu kenapa pake judul "pengadaan batu merah"? kenapa bukan yang lain?? ini khaan hanya alasan saja, supaya jadi media pengumpulan dana.. eeehhh tunggu...! di 354 khaan suka ada nasihat "pengurus yang sukses adalah yang bisa kumpulkan uang dari rukyahnya sebanyak2nya" :) hal2 seperti ini anda tidak usah pungkiri laah, kami juga ini mantan petekol2 di dalam 354, bahkan mungkin kami (yang ex354) masih lebih banyak andil di 354 daripada kalian itu.

jangan2 sijenggot palsu ini mau jadi imda yaah? (skali2 nuduh balik, biar mereka tau gimana rasanya dituduh yang nggak2 he he he). mas, di 354 jumlah persenan daerah menentukan merek mobil imam daerahnya loooh... mau panter biasa, atau touring... itu smua tergantung berapa besar upeti daerahnya.. :))

sadarlah kalian.. tidak ada aibnya koq keluar dari 354.. bahkan kalian akan kembali kepada jamiatul muslimiin yang sesungguhnya. kalian tidak usah capek2 ngaku jamaah, kenyataannya kalian itu firqoh, memacah belah ummat.. mau bukti.. nantikan pada tayangan berikutnya.. :))

Anonim mengatakan...

"setelah zaman berzaman jauh dari kenabian,maka kita hanya melihat ijtihad imam yang di keluarkan.karna imam itu adalah pengganti nabi,imam mengatur dan menasehat jamaah agar jauh dari pelanggaran."

Begitu terlihat sekali kebathilan,kebodohan si Jenglot palsu, dia sudah menyamakan IMAM dengan Nabi...na'udzubillah

Ada sebuah kejadian di zaman Nabi yang barang kali dari situ kita bisa mengambil ibrah. Saat terjadi perjanjian Hudaibiyyah yang menghasilkan kesepakatan-kesepakatan antara kaum muslimin dengan orang-orang musyrikin Quraisy diantaranya kaum muslimin harus menangguhkan keinginan umrah pada tahun itu, tidak sedikit dari shahabat merasa keberatan dengan perjanjian itu dan menampakkan ketidaksetujuannya. Padahal Rasulullah sendiri telah menyepakati perjanjian tersebut.

Para shahabat itu menilai ada diskriminasi dari pihak musuh sehingga merasa keberatan meski akhirnya mau menerima. Diantara shahabat itu adalah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu, orang terbaik setelah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Dan ternyata keputusan Nabi itu membawa manfaat sangat banyak di kemudian hari dan membawa kerugian besar bagi musyrikin, sehingga mereka sendirilah yang mengkhianatinya.

Kenyataan itu menyampaikan Umar bin Khatab - setelah taufiq dari Allah- untuk menyesali perbuatanya dan mengatakan:
“Wahai manusia, ragulah terhadap pendapat akal dalam masalah agama , sungguh aku telah melihat diriku pernah membantah keputusan Nabi dengan pendapatku karena IJTIHAD. Demi Allah saya tidak akan pergi dari kebenaran, dan kejadian itu pada pagi hari Abi jandal, yakni perjanjian Hudaibiyyah”. (Marwiyah Ghazwah Hudaibiyyah hal. 301).

Perhatikan kisah ini, bagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mesti menundukkan penilaian-penilaian pribadi di hadapan keputusan agama. Tidak heran bila seorang ulama bernama Abu Bakar Turthusyi setelah menyebutkan hadist:
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan dicabut dari hati-hati manusia akan tetapi Allah mencabutnya dengan meninggalnya para ulama sehingga tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh, maka mereka akan ditanya sehingga berfatwa tanpa ilmu akhirnya sesat dan menyesatkan.

Menyatakan: “Perhatian hadits ini! hadits ini menunjukkan bahwa manusia tidak akan tertimpa musibah disebabkan ulama mereka sama sekali, akan tetapi sebabnya jika ulama mereka meninggal, akhirnya yang bukan ulama berfatwa. Dari situlah musibah. (Al-Ba’its:179 lewat Madarikun- Nadhar :160).

Rabi’ah bin Abdurrahman, guru Imam Malik, ketika melihat tanda-tanda itu di masanya beliau menangis tersedu-sedu. Maka Imam Malik bertanya: “Apa yang menjadikanmu menangis. Apakah ada musibah yang menimpamu?” Beliau menjawab: “Tidak. Tapi karena orang-orang yang tidak berilmu telah dimintai fatwa dan muncullah perkara besar dalam Islam”. (Al-Ba’its:179 lewat Madarik Nadhar :160).

Beginilah kalo si JengLOT palsu berkomen, gak mutu blass, penuh hawa nafsu (tidak didasari dalil-dalil yang membenarkannya) dan parahnya lagi, karena nabi sudah tidak ada maka gantinya IMAM, (apalagi menurut dia imamnya madigol ck...ck...ck....) semakin dia menolak kebenaran semakin tampak ke tolol lannya.

jenggotpalsu mengatakan...

menyikapi khilafiyah ini maka kembalikan kepda quran dan hadits...bukan pada manusia yg kita belum tau ke ilmuannya..skrg ini ada yahudi di susupkan menghancurkan islam

Anonim mengatakan...

Dasar jenggotpalsu betul2 sangat kerdil pemikirannya, semua yg dijelaskan disini sdh berdasarkan Quran dan Hadits serta fatwa ulama2 yg menjadi tempat bergurunya seluruh ummat (termasuk guru2 anda yg tdk ada manfaat keilmuannya krn telah khianat menyembuyikan ilmu). Ulama seperti itukah yg kalian katakan berilmu? Menurut informasi, katanya takut menyampaikan al-haq krn keimaman akan bubar, tdk ada lg persenan, meresahkan jamaah, takut diceraikan istrinya, takut anak2nya mau makan apa, dll
Ini bukan lagi masalah khilafiyah dongo, ini masalah penyimpangan aqidah dan PENIPUAN Ummat!

Anonim mengatakan...

"menyikapi khilafiyah ini maka kembalikan kepda quran dan hadits...bukan pada manusia yg kita belum tau ke ilmuannya.."

walaupun hadits doif,palsu kembali kesana..???!!
masalahnya si JENGLOT ini taunya hanya nur hasan, si tukang dukun, tukang dusta, tukang malsu hadits, wajarlah dia ngomong itu..

dasar jenglot KOPLAKK...

Anonim mengatakan...

@jenggotpalsu: kalimat anda di atas itu tampaknya kena racun syubhatnya Aziz Ridwan. apa alasannya anda mengatakan "ulama yang belum kita tau keilmuannya"? lalu kemana sj selama ini anda2 skalian di 354? masalah ulama sj masih belum tau menau.. apa kalian kira hanya 2 guru kalian itu yang diketahui keilmuannya? diketahui oleh siapa? mana bukti pujian ulama kepada mereka? apa karya mereka?

masalah "mengembalikan kepada quran hadist" yang anda sampaikan di atas, sy tanyakan kepada anda, atas kepahaman dan pengertian siapa? Guru anda? siapa guru anda dalam jajaran silsilah ulama? siapa yang mengenal mereka?...
apa anda ini merasa sebagai juru bicara Tuhan? yang mau memakna2i ayat secara langsung, dan meninggalkan melihat pada bagaimana para salafussoolih memaknai dan memahami ayat2 tersebut?

inilah doktrin 354. selalu berapi2 mengatakan kita kembalikan kepada QH, tapi nyatanya ketika ditanyakan kepada mereka, atas tafsir siapa? pemahaman siapa? mereka tidak ngerti blas.. bahkan jawabannya "penjelasan itu sudah dari gabungan tafsir2" :)) kasihhaaaann...

Anonim mengatakan...

Buat temen2 ....sabar dan hikmah ya ...

mungkin Allah mulai memberi hidayah kepada saudara kita dengan anonim yang menyelisihi sunnah ( jenglot...) untuk menerima kebenaran dakwah ini

Teruslah berdakwah dengan hujjah , hindari caci maki yang nggak berguna , semoga Allah memberkahi dakwah ini bagi antum eks 354 maupun bagi antum saudaraku yang mau hijrah.

Anonim mengatakan...

Penelusuran Jalan-Jalan Hadits Khawarij

Hadits Khawarij mencapai derajat mutawatir, dikeluarkan oleh kurang lebih dari 30 sahabat dengan jalan-jalan yang banyak.
Kami akan sebutkan diantaranya yang marfu:

1. Hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu

Meriwayatkan dari beliau sekelompok orang Tabi’in :

1. Suwaid bin Ghaflah, didalamnya ada lafazh: “Akan datang diakhir zaman….”

2. Zaid bin Wahab Al-Juhaini, didalamnya ada lafazh : “Mereka membaca Al-Qur’an, lalu menyangka itu untuk mereka padahal atas mereka…”.

3. Ashim bin Kulaib, didalamnya ada lafazh: “Suatu kaum yang keluar dari arah timur..“

4. Abu Katsir Maula Al-Anshori, didalamnya ada lafazh: “Mereka tidak akan ruju (kembali) selamanya sebagaimana tidak akan kembalinya panah pada busurnya”. Maksudnya sulit sekali bertaubat, bukan tidak mungkin bertaubat.

5. Thariq bin Ziyad

6. Abu Maryam

7. Abu Wail Syaqiq bin Salamah,

8. Abdullah bin Syadad, didalamnya ada lafazh: “Ibnu Abbas mendebat mereka tiga hari, maka ruju dari mereka 4000 orang”.

9. Ubaidullah bin Abi Rafi’, didalamnya ada perkataan Ali, “Kalimat mereka benar tapi dimaksudkan untuk kebatilan”,

10. Ubaidah,

11. Abi Al-Wadhi’i

12. Abu Mu’min

13. Abi Juhaifah

14. Muhammad bin Qais dari Abu Musa seorang laki-laki tidak dikenal

15. Abu Ja’far Maula Ali,

16. Katsir bin Namr

17. Ashim bin Dhamrah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (12/316).

2. Hadits Abu Said Al-Khudrii radhiyallahu’anhu

Meriwayatkan dari beliau sekelompok orang Tabi’in :

1. Abu Salamah bin Abdurrahman didalamnya ada perkataan Umar, “Ya Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya !!”.

2. Abdurrahman bin Abi Na’m,

3. Adh-Dhahak bin Syarahil,

4. Atho’ bin Yasar, didalamnya ada lafazh: “Mereka melihat pada bulu panahnya, pada batangnya, dan pada mata panahnya tapi mereka tidak melihat darah sedikit pun”. Yakni mereka tidak akan melihat hasil baik dari apa yang mereka perbuat.

5. Ma’bad bin Sirin

6. Qotadah, didalamnya ada lafazh: “Akan ada pada umatku perselisihan dan perpecahan…”.

7. Abi Nadhroh

8. Syadad bin ‘Imron Al-Qaisi

9. ‘Ashim bin Syamikh

10. Muhammad bin Sirin

11. Abu Shodiq An-Naji

12. Ubaidullah bin Abdullah bin Uthbah bin Mas’ud

13. Yazid Al-Faqir.

3. Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu.

4. Hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, didalamanya ada perkataan Umar: “Izinkan saya membunuh munafik ini”.

5. Hadits Abu Dzar radhiyallahu’anhu

6. Hadits Sahl bin Hanif radhiyallahu’anhu.

7. Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, didalamnya terdapat lafazh: “Mereka akan terus keluar sehingga bersama mereka Dajjal”.

8. Hadits Anas bin Malik radhiyallahu’anhu

Diriwayatkan dari beliau oleh :

1. Qotadah

2. Hafsh

3. Sulaiman At-Taimi

4. Abdul Aziz bin Shuhaib

9. Hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu

10. Hadits Abdullah bin Abi Auf radhiyallahu’anhu, didalamnya terdapat lafazh, “Mereka itu anjing-anjing neraka”.

11. Hadits Uqbah bin Ammar radhiyallahu’anhu, didalamnya terdapat ucapan beliau, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya !!!”.

12. Hadits Abu Barzah radhiyallahu’anhu

13. Hadits Abu Bakrah radhiyallahu’anhu

14. Hadits Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu’anhu

15. Hadits Tholaq bin Ali radhiyallahu’anhu,

16. Hadits Abdurrahman bin Udais radhiyallahu’anhu

17. Hadits Sa’d bin Abi Waqas radhiyallahu’anhu

18. Hadits Aisyah radhiyallahu’anha

19. Hadits Abdullah bin Zubair radhiyallahu’anhu

20. Hadits Ammar bin Watsilah radhiyallahu’anhu

21. Hadits Abu Ummammah radhiyallahu’anhu

22. Hadits Abdullah bin Khabab radhiyallahu’anhuma

23. Hadits Jundub bin Abdullah radhiyallahu’anhu

24. Hadits Salman Al-Farisi radhiyallahu’anhu

Anonim mengatakan...

---->
25. Hadits Abu Hurairoh radhiyallahu’anhu

26. Hadits Rafi’ bin Amru radhiyallahu’anhu

27. Hadits Hudzaifah radhiyallahu’anhu

28. Hadits Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhu

29. Hadits Abu Zaid Al-Anshori radhiyallahu’anhu

30. Hadits Seorang laki-laki dari sahabat radhiyallahu’anhu

Banyaknya riwayat hadits ini, menandakan seringnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengulang-ngulang perkataan beliau tentang Khawarij dan seringnya beliau memperingatkan para sahabatnya dari kejahatan Khawarij, sebagaimana kata Ali dan Abu Ummamah radhiyallahu’anhuma.

Kejahatan Khawarij memang sangat membahayakan umat terutama bagi orang-orang yang awam, diantaranya apa yang digambarkan oleh hadits-hadits:

1. Kesungguhan dan banyaknya Khawarij dalam beribadah

2. Kebagusan dan seringnya Khawarij dalam membaca Al-Qur’an

3. Perkataan mereka seolah-olah menggunakan Kitabullah dan Hadits-Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam

4. Mereka seolah-olah mengkampanyekan pembelaan (solusi) terhadap penindasan dan kejahatan penguasa

5. Oleh sebab kehebatan amal mereka ini, mereka dikagumi orang-orang awam bahkan mereka sendiri kagum terhadap diri-diri mereka sendiri.

Padahal perlu kita waspadai sesungguhnya:

1. Kesungguhan dan banyaknya Khawarij beribadah bukan berarti pasti ibadahnya itu diterima sebab ibadah itu harus menggabungkan dua hal: sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ikhlas karena Allah Ta’ala. Oleh sebab itu Seorang Sahabat berkata, “Sedikit dalam Sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah”.

2. Sering dan bagusnya membaca Al-Qur’an tidak menjadi jaminan pemahaman yang benar atas Al-Qur’an, sebab Khawarij itu membaca Al-Qur’an tapi tidak melebihi kerongkongannya, artinya mereka tidak mentadaburinya, tidak memahaminya dan tidak mendapatkan faidah darinya.

3. Perkataan mereka sering mengutip Al-Qur’an atau Hadits, bukanlah jaminan kebenaran perkataannya, sebab kata Ali radhiyallahu’anhu, “Perkataan mereka benar tapi dimaksudkan untuk keburukan”, atau seperti kata Abu Bakar radhiyallahu’anhu, “Mereka menempatkan Kitabullah dan sunnah itu bukan pada tempatnya”. Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mereka membaca Al-Qur’an lalu menyangka atas mereka padahal bagi mereka”.

4. Penentangan mereka kepada penguasa yang dianggap dzolim yang dianggap tidak menggunakan sunnah seakan-akan mereka itu pahlawan sunnah dan pembela sunnah padahal dengan perbuatan mereka itu justru menyelisihi sunnah, walaupun akal mereka tidak memahaminya.

5. Kekaguman orang awam atas mereka, bahkan kekaguman mereka atas diri-diri mereka sendiri, memunculkan sikap ujub, sombong, dan gampang memvonis. Lalu melahirkan sikap sulit menerima kebenaran dan kembali kepada kebenaran akhirnya menghalalkan segala macam cara untuk menutupi kesalahan dan kekurangan mereka.
(rumahku-indah.blogspot.com)

jenggotpalsu mengatakan...

kamatsalil himar" sebagimana himar berada di tumpukan kitab..dia ga ngerti tentang qur an dan hadits seolah tau ttg qur an dan hadits..menetapi jamaah itu sesuai yang telah kita yakini selama ini."alaikum bi jmaah

Anonim mengatakan...

menetapi jamaah, tapi koq menganggap orang islam diluar golongannya kafir?

khatamin hadits ini itu, asrama hadits ini-itu, sambung ini-itu, tapi koq ngga mengerti konsep berjamaah yang benar, outputnya koq sifat ujub ( merasa golongannya sendiri yang islamnya sah?)

apa artinya semua itu? apa faidahnya 354 mengaji berjilid-jilid hadits? bahkan mereka sama sekali tidak tau pondasi islam. ya mereka mengkajinya, tapi mereka tidak memahaminya.

andai mereka mau meninggalkan taklidnya pada nurjasan dan pusat

Anonim mengatakan...

dalam alam nalar 354, mereka percaya bahwa golongannyalah yang mengerti dan mempraktekan al jamaah. padahal mereka tidak sadar praktek berjamaah mereka sudah menyimpang, bahkan yang mereka tetapi bukanlah ber-jamaah tapi berfirqoh :)

Anonim mengatakan...

sesholeh-sholehnya sebuah kelompok, tetap kelompok tersebut tidak punya hak untuk memproklamirkan diri bahwa golongannyalah yang islamnya sah, golongannyalah yang ahlu surga. kelompok tsb tidak boleh menilai orang islam diluar golongannya adalah kafir( tanpa ilmu dan bashirah), islamnya tidak sah.

kesholehan seperti itu hanyalah bentuk kesombongan. setan menghias-hiasi kelompok itu, seolah kelompok itulah kesayangannya Allah, padahal yang dihembuskan setan adalah impian,mimpi-mimpi,fatamorgana dan ilusi

jenggot palsu mengatakan...

sadarlah kalain wahai mantan354,bahwa jamaah itu adalah yang pertama kita baiati...jangan melepas tali baiatmu maka mati jahiliyah akan menimpamu

jenggot palsu mengatakan...

fuw bi baiatil awwal fal awwal...ayo jangan sampai otak kalian kena wedus gembel...sesuai hadits hudaifah ibn yaman

Anonim mengatakan...

kalau anda mengklaim bahwa beat andalah yang pertama...dengan landasan itukah golongan anda menilai orang islam diluar golongan anda adalah kafir dan islamnya tidak sah?

wahai umat islam mari kita ikuti terus cara berpikir mereka dan kronologis bagaimana cara mereka berkesimpulan umat islam diluar golongannya adalah kafir, jahiliyyah dan ahlu neraka

jenggot palsu mengatakan...

bagaimana kalau tidak ada jamaah dan imamnya..fa'tazil tilka firoqoh kullah" nah kita sudah ada jamaah dan im** buat apa lagi mau uzlah,jadi begini saja saudaraku eks354,kembalilah...kembalilah ke QHJ..famadza ba'dal haqqi illa dholal

jenggot palsu mengatakan...

jangan beragama dengan hawa nafsu...saya lihat komentar2 klian malah jadi boomerang<"hujjah itu bagimu dan atasmu" kalau tidak bisa berhujjah biasanya akan dalil itu akan menghujjah dia

Anonim mengatakan...

kalau 354 menilai beat mereka tahun 62 ( beat umum di lapangan gading mangu) bukankah wali al fattah sudah mengadakan pembeatan tahun 1953? bukankah kartosuwiryo juga lebih dahulu mengadakan beat?

kalau anda mengklaim beatnya golongan anda tahun 1941, apa ada bukti otentiknya? kan tidak ada . selama ini dalam 354 semua hanya dikemas dalam bentuk mitos,dongeng dan cerita.

benar, kita harus menetapi beat yang awal ( inipun sebenarnya meruju pada khalifah, cek hadits muslim). tapi yang awal dan......yang sah !!!

beat dan imamah adalah perkara umat, tidak boleh itu sembunyi-sembunyi.

354 bukanlah jamaah yang dimaksud dalam syariat. bahkan kalau dalam syariat, bentuk jamaah-golongan 354 positif terdeteksi firqoh. kembalikanlah ke sabda rasulullah supaya kita menjauhi firqoh sekalipun harus mengunyah akar-akaran

Anonim mengatakan...

imamah itu bersinonim dengan penguasa. baik secara etimologis maupun terminologis. umat islam indonesia itu punya penguasa yang sah. diakui kekuasaannya oleh segenap mayoritas umat islam indonesia. sedangkan imamah anda? apa diakui oleh umat islam? jangan diakui, dikenal saja tidak.umat islam indonesia itu yo berjamaah juga. apalagi sudah banyak yang menetapi dalil maa ana alaihi wa ashabi al yaum

klaim al jamaah yang dianut 354 itu adalah bentuk kondisi egomaniak

Anonim mengatakan...

jangan beragama dengan hawa nafsu...saya lihat komentar2 klian malah jadi boomerang<"hujjah itu bagimu dan atasmu" kalau tidak bisa berhujjah biasanya akan dalil itu akan menghujjah dia

wuih wuih......
AHLI TAQLID berbicara ttg hujjah dan konsekwensinya....
sedangkan agama kaum LDII hanya berasal dari LISAN IMAM-IMAM mereka
mereka tidak mengenal SUNNAH, bahkan bukan SUNNAH NABI KECUALI YANG KELUAR DARI LISAN2 IMAM MEREKA, karena hakikat mereka adalah kaum yang bodoh...
tidak dikatakan berilmu seorang MUQQALID

Anonim mengatakan...

Bismillahirahmaanirrahiim,

Alhamdulillah. Asyhadu anlaa ilaahaillallah wah dahu laa syarikalahu wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasululloh. Allahumma shali ‘alaa muhammad wa ‘alaa ‘alihi wa ash habihi ajma’in waman tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Setiap orang siapapun dia harus faham bahwa Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam telah menunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalan yang mana siapapun yang berjalan di atasnya akan selamat dan Allah telah memberikan janji-Nya siapapun yang ada di atas jalan tersebut baginya surga yang mana di bawahnya mengalir sungai-sungai. Untuk itulah sebagai seorang muslim, baik dia berada di ujung dunia manapun apabila dia kembali kepada jalan yang benar, maka kebenaran itu yang akan menyelamatkannya, meskipun seluruh manusia memusuhinya. Sebab apabila seseorang telah diberi hidayah oleh Allah, maka tiada suatu makhluk-pun yang mampu menyesatkannya, dan siapa yang telah disesatkan oleh Allah, maka tiada satu makhluk-pun yang mampu menolongnya.

Rasululloh shallallhu’alaihi wa salam bersabda, “Suatu saat nanti umat Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan dan seluruhnya masuk neraka. Kemudian umat Nasrani akan terpecah menjadi 72 golongan dan seluruhnya masuk neraka. Dan umat Islam akan terpecah mejadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu.” Para shahabat bertanya, “Bagaimana ciri-ciri mereka ya rasululloh?” Rasululloh shallallahu’alaihi wa salam bersabda, “Yang aku dan para shahabatku ada di atasnya”. [Abu Dawud 4586, Tirmidzi 2640, Ibnu Majah 3991 Ahmad 2/332]

Para shahabat tidaklah bertanya tentang siapa golongan yang selamat tersebut, dikarenakan golongan yang selamat itu bisa jadi dinamai bermacam-macam oleh manusia. Antara lain karena sifat manusia yang iri, dengki, bahkan punya sifat hasud. Kita bisa lihat ketika seseorang berdakwah kepada Allah, sebutan mereka kepada para pendakwah ini sangat jelek. Ketika rasululloh shallallahu’alaihi wa salam berdakwah saja dikatakan gila, maka apalagi pengikutnya, pasti dikatkaan yang lebih jelek daripada itu. Seperti teroris, pedofilia, agama yang anarkis, dan macam-macam. Hal ini akan selalu ditemui disetiap kita yang benar-benar berdakwah di atas jalan yang benar.

Allah berfirman yang artinya, “Orang-orang yang beriman dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan yang mengikuti mereka dengan baik, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya” [Q.S At Taubah:100]

Rasululloh shallallahu’alaihi wasalam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian yang datang sesudahnya, kemudian yang datang sesudahnya”. [Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim]

Anonim mengatakan...

Penamaan ahlussunnah, penamaan salafiyah adalah untuk membedakan diri daripada hizbiyun, membedakan diri dengan ahlu bid’ah. Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari hafizhahulloh dalam Mukadimah Kitab Ru’yah Waqi’iyah menjelaskan “Sesungguhnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah muncul ketika timbul bid’ah-bid’ah yang meyesatkan sebagian manusia. Maka perlu nama untuk membedakan umat islam yang komitmen dengan sunnah. Nama itu adalah Ahlus Sunnah sebagai lawan Ahlu Bid’ah. Ahlus Sunnah juga disebut Al-Jama’ah, karena mereka adalah kelompok asal (asli). Sedangkan orang-orang yang terpecah dari ahlus sunnah dikarenakan bid’ah dan hawa nafsu adalah orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Sedangkan saat ini, istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah menjadi rebutan berbagai kaum dan jama’ah yang beraneka ragam. Bisa kita saksikan sendiri, banyak kaum hizbi yang menyebut jama’ah dan organisasi mereka dengan istilah ini. Bahkan beberapa tharekat Sufi melakukan tindakan yang sama. Sampai-sampai Asy’ariyah, Maturidiyah, Barilawiyah dan lain-lainnya mengatakan ‘Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah’.

Namun mereka semua menolak untuk menamakan diri mereka dengan Salafiyah. Mereka menjauhkan diri untuk menisbatkan kepada manhaj salaf, terlebih lagi kenyataan dan hakikat mereka (yakni mereka jauh dari mengikuti Salafush Shalih).

Ini adalah suatu yang biasa bagi kita, karena termasuk perkara yang sudah maklum di kalangan para dai yang mengajak kepada Al Quran dan as Sunnah dengan pemahaman ulama salaf, bahwa slogan/prinsip para ahli bid’ah adalah tidak menganut prinsip mengikuti salaf. Karena ittiba’ (mengikuti) sesungguhnya mengikuti pemahaman salaf merupakan kata pemutus terhadap perselisihan pemahaman-pemahaman orang-orang di masa kini. Karena sebagian orang menghukumi dengan akalnya, yang lain menghukumi dengan dasar pengalamannya, yang lain lagi menghukumi dengan emosi.

Demikianlah pemahaman mereka, tanpa memperhatikan jalan orang-orang yang beriman (yaitu jalan para sahabat) yang wajib diikuti dan didakwahkan. Jalan orang-orang yang beriman itu pada hakikatnya adalah jalan Salafush Shalih, yang kita menisbatkan diri kepadanya dan kita mengambil petnjuk cahayanya. Karena itu slogan Ahlus sunnah adalah mengikuti salafush shalih dan meninggalkan segala sesuatu yang bid’ah dan baru dalam agama.

Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar [Majmu Fatawa 4/149]

Pada zaman ini banyak pengakuan-pengakuan sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah (memang pada hakekatnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan sifat di antara sifat-sifat salafiyah), Maka ada keharusan untuk membedakan diri dari orang-orang yang mengaku-aku Ahlus Sunnah wal Jama’ah (namun mereka menyelisihi sunnah, baik dalam aspek aqidah maupun manhaj) dengan menisbatkan diri dengan manhaj yang mereka ketakutan untuk terang-terangan menyatakannya dan tidak merasa terhormat dengan bernisbat kepadanya. Karena hal itu akan mengadili mereka apakah mereka mencocoki atau menyelisihi manhaj itu yaitu manhaj salaf dalam metode dan tujuan dakwah, atau dalam aqidah, fiqih, persepsi tentang Islam dan perilaku.

Anonim mengatakan...

Juga perlu dikatakan kepada orang yang mengikngkari penisbatan kepada Salafiyah. Sesungguhnya menisbatkan diri kepada salaf dan terus terang berbangga terhadap setiap orang yang menyelisihi kebenaran, baik menyelisihi dalam perilaku maupun pembuatan teori-teori, dan terang-terangan menyatakan bahwa satu-satunya dakwah yang benar adalah dakwah salafiyah, itu semua bukanlah aib. Tidak ada bahaya bagi pelakunya. Karena salafiyah adalah nisbat kepada salaf. Penisbatan ini tidak pernah terpisah meski dalam sekejap mata dari umat Islam sejak terbentuknya minhaj kenabian. Salafiyah itu mencakup semua umat Islam yang menempuh metode generasi pertama dan orang-orang yang mengikuti mereka, dalam metode mendapatkan ilmu, memahami ilmu dan mendakwahkannya. Jadi Salafiyah tidak lagi terbatas pada fase sejarah tertentu, bahkan harus dipahami bahwa makna salaf terus berjalan sepanjang kehidupan dunia.

Hal ini makin dikuatkan bahwa Salafiyah mencakup setiap bagian dari Islam yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi Salafiyah bukanlah suatu corak beragama yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, baik dengan menambah ataupun dengan menguranginya.

Termasuk perkara yang perlu diperhatikan, seandainya umat ini telah berada di dalam bentuk Islam yang benar, tanpa tercampur dengan bid’ah dan hawa nafsu, sebagaimana yang terjadi di masa awal Islam terutama masa salafus shalih, niscaya lenyaplah berbagai sebutan yang berfungsi sebagai pembeda karena tidak adanya penentang.

Karena hal itu maka ikatan wala’ (kecintaan) dan bara’(berlepas diri), pembelaan dan permusuhan menurut orang-orang yang menisbatkan diri kepada salaf adalah berdasarkan Islam. Bukan yang lain. Tidak dengan corak tertentu selain Islam. Wala’ dan bara’ itu hanyalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah saja.

Dengan ini semua, benar-benar jelas bahwa makna Salafiyah dan hakikat penisbatan kepada salaf adalah nisbat kepada salaf shalih, yaitu semua sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bukan orang-orang setelah sahabat yang dibelokkan oleh hawa nafsu, yang mereka adalah generasi yang buruk. Generasi yang menyimpang dari salaf shaleh dengan nama atau corak tertentu. Dari sinilah mereka dinamai khalaf (orang yang datang kemudian) dan penisbatannya adalah khalafi.

Jadi Salafiyah tidak memiliki corak yang keluar dari Kitab dan Sunnah. Salafiyah adalah nisbat yang tidak pernah terpisah sekejappun dari generasi pertama. Bahkan Salafiyah adalah bagian dari mereka dan merujuk kepada mereka.

Sedangkan orang-orang yang menyelisihi salaf shalih dengan nama atau corak tertentu, bukanlah bagian dari mereka, meski hidup di tengah-tengah mereka atau senantiasa dengan mereka. Karena itulah para sahabat berlepas diri dari Qadariyah, Murjiah dan lain-lain.

Anonim mengatakan...

Jika demikian maka asas-asas dan kaedah-kaedah untuk mengikuti salaf harus nampak jelas dan tegar. Sehingga tidak merancukan orang-orang yang ingin mengikuti salafus shaleh.

Karena itulah harus ada pembeda antara Ahlus Sunnah dengan para pengaku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Yaitu dengan sebuah nisbat yang mereka tidak berani menggunakannya. Karena penisbatan itu akan membongkar penyimpangan dan cacat jika dicek/dibandingkan dengan jalan orang-orang yang beriman (yaitu sahabat) dan metode salafus shalih. Pembeda itu adalah Salafiyah. Jalan salaf shalih itulah jalan yang jelas tanpa perlu diragukan. Yakni jalan para sahabat dan tabi’in. Inilah jalan petunjuk dan jalan untuk mendapatkan petunjuk.

“Artinya : Maka janganlah orang-orang yang tidak mau beriman dan mengikuti hawanya menghalangimu darinya sehingga engkau akan binasa” [Thaha :16]

Selesai kutipan.

Jadi justru, mereka yang menyelisihi sunnah, enggan menggunakan kata-kata salaf pada diri mereka. Sebab mereka tahu siapa para salaf ini. Dan syubhat-syubhat sering dimunculkan oleh mereka yang berada di thoriqot-thoriqot dan di kalangan kaum hizbiyun. Dan para ulama tidaklah asing terhadap penamaan salaf, mereka tidaklah asing dalam memakai kata salafiyah, salafi ataupun salaful ummah. Justru hal itu tidak pernah dipakai oleh thoriqoh-thoriqoh dan juga oleh mereka yang tidak sejalan dengan jalan ini.

Saya akan berikan catatan atau syubhat-syubhat yang sering muncul di kalangan para pendakwah, yang mana mereka membisikkan syubhat-syubhat ini di kalangan para pemuda agar goyah imannya, manhajnya sehingga mereka tidak berani memakai kata salaf pada dirinya.

Syubhat pertama adalah, “Kita adalah umat yang kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, penamaan ahlussunnah saja sudah cukup”.

Bisa kita jawab: Tidaklah cukup memakai Al Qur’an dan As Sunnah saja sebagai pedoman. Sebab setiap hizbiyun, setiap thoriqoh, mereka juga punya rujukan yang sama, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Bedanya adalah, mereka sama sekali tidak mempunyai pemahaman tentang Al Qur’an dan As Sunnah secara benar, yaitu dengan mengembalikannya kepada pemahaman sebagaimana yang telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabatnya, yaitu pemahaman salaful ummah. Inilah yang membedakan.

Kita bahkan sering dengar mereka, kaum thoriqoh, kaum hizbiyun, menggunakan Al Qur’an dan As Sunnah, tapi dengan pemahaman yang bathil. Kita bisa lihat bagaimana Syi’ah Rofidhoh, mereka menggunakan Al Qur’an dan As Sunnah untuk memusuhi kita, juga kaum zindiq yang mereka menggunakan Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman mereka sendiri, menduga-duga, prasangka, sehingga apabila cocok dengan hati mereka, maka mereka akan memakai pemahaman itu. Tidak demikian. Sesungguhnya Allah telah melindungi Al Qur’an dan As Sunnah ini dalam satu paket perlindungan.

Anonim mengatakan...

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an dan (sesuatu) yang serupa dengannya.” -yakni As-Sunnah-, (H.R. Abu Dawud no.4604 dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad IV/130)

Syubhat kedua, “Penisbatan kata SALAF ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang khususnya wahabi untuk memecah belah umat ini”

Kita jawab: Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani rahimahulloh, seorang muhaddits abad ini telah menjelaskan

“Namun ada sebagian orang yang mengaku berilmu, mengingkari nisbat (penyandaran diri) pada istillah SALAF karena mereka menyangka bahwa hal tersebut tidak ada asalnya. Mereka berkata : “Seorang muslim tidak boleh mengatakan “saya seorang Salafi”. Secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti Salafus Shalih baik dalam hal aqidah, ibadah ataupun ahlaq”.

Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran mereka ini, (kalau begitu maksudnya) membawa konsekwensi untuk berlepas diri dari Islam yang benar yang dipegang para Salafus Shalih yang dipimpin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).

Maka tidak boleh seorang muslim berlepas diri (bara’) dari penyandaran kepada Salafus Shalih. Sedangkan kalau seorang muslim melepaskan diri dari penyandaran apapun selain Salafus Shalih, tidak akan mungkin seorang ahli ilmupun menisbatkannya kepada kekafiran atau kefasikan.

Orang yang mengingkari istilah ini, bukankah dia juga menyandarkan diri pada suatu madzhab, baik secara akidah atau fikih ..?. Bisa jadi ia seorang Asy’ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi’i, Maliki atau Hambali semata yang masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Padahal orang-orang yang bersandar kepada madzhab Asy’ari dan pengikut madzhab yang empat adalah bersandar kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum. Walau ada juga ulama di kalangan mereka yang benar. Mengapa penisbatan-penisbatan kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum ini tidak diingkari ..?

Adapun orang yang berintisab kepada Salafus Shalih, dia menyandarkan diri kepada ishmah (kemaksuman/terjaga dari kesalahan) secara umum. Rasul telah mendiskripsikan tanda-tanda Firqah Najiah yaitu komitmennya dalam memegang sunnah Nabi dan para sahabatnya. Dengan demikian siapa yang berpegang dengan manhaj Salafus Shalih maka yakinlah dia berada atas petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Salafiyah merupakan predikat yang akan memuliakan dan memudahkan jalan menuju “Firqah Najiyah”. Dan hal itu tidak akan didapatkan bagi orang yang menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tidak akan terlepas dari dua perkara :

Anonim mengatakan...

wahai JENGLOT PALSU ulama haram, apa kamu sudah lupa dengan pertanyaan jamaahmu yang sampe saat ini belum dijawab???

ni saya ksh pertanyaan mas anonim yg kemarin biar tidak lupa:

jelaskan "pertanyaan2 remeh ini" LENGKAP DENGAN KITAB-KITAB RUJUKANNYA;

1.Benarkah praktek surat taubat dlm jamaah?
2.Benarkah yg menentukan diterima tdknya taubat itu adalah imamnya kemudian menentukan kaffarohnya dlm bentuk uang?
3.Benarkah praktek qurban urunan sak jamaah, termasuk menyerahkan sejumlah uang qurban per desa dan daerah ke pusat?
4.Benarkah praktek persenan dan penjatahan kepada jamaah?
5.Benarkah orang yg tdk baiat pada bapak Imam kita itu kafir semua? Bagaimana dgn Syaikh2nya Nurhasan dulu? juga Syaikh2nya Kholil dan Aziz sekarang?
6.Benarkah kesaktian2 Nurhasan? Krn Nabi sendiri, para kholifah dan ulama salafus sholih/ syaikh2nya Nurhasan dan Syaikh2nya Kholil dan Aziz tdk ada yg memiliki kesaktian seperti Nurhasan.
7.Setelah sekian puluh tahun, knp baru sekarang2 ini kita diajarkan mustolah hadits? Dan ternyata banyak di dlm hadis himpunan kita ditemukan hadis2 dhoif bahkan maudhu'? (Benarkah Nurhasan belajar di Darul Hadis? Krn di sana pasti diajarkan tentang mustolah hadis)

Anonim mengatakan...

Mari kita liat kebohongan-kebohongan para jokamer yang lain...

"LDII memang memiliki ulama / pemimpin Pondok Pesantren Burengan Kediri yang bernama Bp. H. Dhohir. Setelah Bp. Dhohir meninggal, adiknya (yaitu Bp. Aziz Sulthon Aulia) meneruskan memimpin Pondok Pesantren Burengan Kediri. Namun ini berbeda dengan masalah keimaman. di LDII tidak ada keimaman. LDII memiliki pondok pesantren di Burengan, Kediri, yang saat ini dipimpin oleh Bp. Aziz."--> website resmi jokamjamaah354

Bandingkan komen si JengLOT

"...nah kita sudah ada jamaah dan im** buat apa lagi mau uzlah,jadi begini saja saudaraku eks354,kembalilah...kembalilah ke QHJ..."

Ibnu Taimiyah berkata “inilah sikap Rafidhah.” Syi’ar mereka adalah kehinaan, baju mereka adalah nifak dan taqiyah, modal mereka adalah dusta dan sumpah palsu..."

Anonim mengatakan...

Wahai jenggotpalsu, kami ini tahu persis apa yg di 354 dan mungkin umur kami masih jauh lbh lama di 354, jd tidak ada yg bisa kamu tutup2i. Tapi cobalah berfikir sejenak, pernahkah kamu mengikuti pengkajian kami? Tp sy yakin kamu tdk akan mau krn kamu adalah jamaah yg taat imam. Sadarkah kamu kalau sebenarnya larangan itu bertujuan spy kamu tdk mendapatkan HIDAYAH yg sebenarnya?
Jangan sampai terlambat, jadi cross check lah dahulu janganhanya berkomentar yg tdk2 ala pesulap atau tukang obat.

Anonim mengatakan...

"LDII memang memiliki ulama / pemimpin Pondok Pesantren Burengan Kediri yang bernama Bp. H. Dhohir. Setelah Bp. Dhohir meninggal, adiknya (yaitu Bp. Aziz Sulthon Aulia) meneruskan memimpin Pondok Pesantren Burengan Kediri. Namun ini berbeda dengan masalah keimaman. di LDII tidak ada keimaman. LDII memiliki pondok pesantren di Burengan, Kediri, yang saat ini dipimpin oleh Bp. Aziz."---> maaf ini dari blog kloningan waspada 354

yang ini dari website resmi jokam354

"Apakah di LDII ada amir atau imam?
Jumat, 19 September 2008 10:35

Tidak ada. Di LDII tidak ada istilah Amir atau Imam, melainkan yang ada adalah Ketua Umum dan istilah-istilah yang lazim di sebuah organisasi. Adapun istilah amir dan imam memang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, sehingga di LDII istilah-istilah itu tetap dikaji, tetapi dalam kerangka keilmuan saja"

bandingkan dengan semua perkataan jamaah jokam354, yang nyata-nyata mengatakan bahwa imamnya yang bisa memasukkan kesurga, dan lagi komen si jengLOT palsu

"...nah kita sudah ada jamaah dan im** buat apa lagi mau uzlah,jadi begini saja saudaraku eks354,kembalilah...kembalilah ke QHJ..."

begitu kental dan terangnya mereka ber takiyah, sudah begitu merasa dirinya yang masuk surga..ck...ck...ck...

Anonim mengatakan...

jamaah 354 itu melakukan kebohongan publik yang sangat transparan dan tidak malu

imam, wk 4 cs juga udah melakukan pembohongan pada publiknya sendiri

Anonim mengatakan...

Pertama.
Menisbatkan diri kepada pribadi yang tidak maksum.

Kedua.
Menisbatkan diri kepada orang-orang yang mengikuti manhaj pribadi yang tidak maksum.

Jadi tidak terjaga dari kesalahan, dan ini berbeda dengan Ishmah para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh terhadap sunnahnya dan sunnah para sahabat setelahnya.

Kita tetap terus dan senantiasa menyerukan agar pemahaman kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah selaras dengan manhaj para sahabat, sehingga tetap dalam naungan ISHMAH (terjaga dari kesalahan) dan tidak melenceng maupun menyimpang dengan pemahaman tertentu yang tanpa pondasi dari Al-Kitab dan As-Sunnah.” [Diambil dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th III/1419H-1999M disadur dari Majalah Al-Ashalah edisi 9/Th.II/15 Sya'ban 1414H ]

Selesai kutipan.

Dari penjelasan di atas sudah jelas, bahwa jalan yang paling benar, pemahaman yang membuat kita tidak melenceng dari pemahaman yang sebenar-benarnya terhadap Islam ini tentu saja kembali kepada pemahaman salaful ummah. Dan penisbatan kata salaf, bukanlah hal yang baru ataupun bid’ah, sebab rasululloh shallallahu’alaihi wa salam pun pernah bersabda, “Sebaik-baik salaf adalah aku”. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim dari shahabat Sayyidah Fatimah Radhiyallahu’anha.

Syubhat ketiga, “Kita tidak bisa menisbatkan diri kepada salafiyah, dikarenakan kita tidak bisa seratus persen seperti mereka, jadi penggunaan nama FULAN AL ATSARI atau FULAN AS SALAFY tidaklah tepat, sebab orang yang menyandang nama ini harus benar-benar sesuai dengan sifat yang dibawa oleh para salafush sholeh”

Kita jawab: Telah saya jelaskan di atas, menisbatkan diri kepada para salaf adalah wajib hukumnya. Sebab mereka berada di atas pemahaman yang ma’shum, yaitu pemahaman rasululloh shallallahu’aliahi wa salam. Adapun memang orang yang ada di dalamnya tidak bisa kita hukumi ma’shum, dan itu benar. Namun tentang wajibnya penisbatan diri kepada mereka, tiada keraguan seluruh ulama salaf dan khalaf bersepakat atas hal ini.

Justru para ulama menjelaskan, hanya orang-orang ahlu bid’ah dan orang-orang hizbiyah saja yang tidak menisbatkan diri kepada kata salaf. Menisbatkan diri kepada salaf itu harus, bahkan tiada cela apabila memang dirinya mengikuti salafush sholeh. Berbeda dengan orang yang tidak mengikuti salafush sholeh tapi menisbatkan diri kepada mereka. Apabila kita memang demikian adanya, yaitu mengikuti jalan salafush sholeh, maka menisbatkan diri dengan nama As Salafy adalah hal yang tidaklah aneh.

Anonim mengatakan...

Dan memang kaum thoriqot dan kaum hizbiyun enggan memakai hal ini dikarenakan alasan mereka adalah, “Saya tidak seratus persen seperti salaf”. Kalau kita balik pertanyaan kepada mereka, “Apakah anda bisa seratus persen seperti rasululloh shallallahu’alaihi wa salam?” Jawabannya tentu saja tidak mungkin. Bahkan tiada satu manusia pun yang seperti rasululloh shallallahu’alaihi wa salam, lalu apakah kita tidak bisa menisbatkan diri kepada beliau? Lihatlah, apakah kita tidak bisa mengatakan sebagai umat Muhammad sebelum seratus persen seperti Muhammad shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabatnya ridwanu ‘alaih?

Tentu saja tidak. Urusan hati, iman itu masing-masing jiwa yang lebih mengetahui dan tentunya Allah Rabb semesta alam. Tidak bisa kita vonis seseorang itu, “Anda itu belum ‘nyalaf’ koq beraninya pakai nama salafi pada nama anda?”

Kita bisa balik syubhat ini dengan pertanyaan yang tak mungkin mereka jawab, “Anda koq berani-beraninya mengaku muslim padahal anda itu belum menjadi seorang muslim yang kaaffah?”

Jadi urusan hati itu urusan masing-masing jiwa dengan Allah, bukan urusan manusia menilai. Bisa jadi orang yang selama ini kita kenal biasa saja ternyata ia lebih baik dari kita, dan bisa jadi orang yang selama ini kita kenal baik, ternyata ia lebih jelek dari kita. Dan tentunya, kembali lagi kepada penisbatan salaf, tiada cela bagi mereka yang memang berjalan di atas jalan yang mulia ini menyebut diri mereka sebagai salafy, justru orang yang enggan menisbatkan diri kepada kata salafy, merekalah yang enggan kembali jalan assunnah. Hal ini sudah dibahas oleh para ulama seperti Syaikh Muhammad bin Nasirruddin Al Albani rahimahulloh, Syaikh Ali Al Halabi hafizhahulloh, Syaikh Salim bin Ied Al hilali hafizhahulloh, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahulloh, dan juga ulama-ulama terdahulu seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahulloh dan sebagainya.
Kesimpulan

Jalan yang terang adalah jalan yang telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam kitab dan Sunnah. Namun dengan berpegangan kepada keduanya belum cukup, tanpa kembali kepada pemahaman salaful ummah yaitu rasululloh shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabatnya. Menisbatkan kepada mereka adalah wajib, sedangkan mengingkari jalan mereka adalah bathil. Kebanyakan kaum thoriqoh dan hizbiyyun enggan menggunakan kata salaf, dikarenakan mereka memang tidak sejalan dengan pemikiran salaful ummah, mereka enggan menerima kebenaran, karena itu selalu saja terjadi perselisihan antara ahlussunnah dan ahlu bid’ah. Tidak perlu takut menisbatkan diri pada salafy, kalau memang itulah yang kita tiru dan kita jadikan panutan. Dan disamping itu juga kita harus beristiqomah di atas jalan yang mulia.

Wallahu’alam bishawab.

alatsari.wordpress.com/2010/02/09/perlukah-menyebut-diri-sebagai-salafy-atau-ahlussunnah

Anonim mengatakan...

Ustadz Abu Minhâl

Penyelewengan Terhadap Ayat

يوم ند عوا كل اناس باءممه

(Ingatlah) suatu hari (yang pada hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya..

Pembaca,
Pembahasan Rubrik Firoq kali ini, kami angkat penggalan surat al-Isrâ`/17 ayat 71 sebagaimana tertulis pada judul. Yang secara lebih luas telah kami bahas pada Kategori Al-Qur’an : Tafsir http://www.almanhaj.or.id/content/2644/slash/0 Dan pembahasan berikut merupakan keterkaitannya. Semoga bermanfaat.
__________________________________
PENYELEWENGAN MAKNA AYAT
Sebagian kelompok, dengan sengaja melakukan penafsiran yang dipaksakan atas ayat tersebut, berkaitan dengan penyebutan kata “imam”. Mereka melakukan penyelewengan terhadap makna ayat. Ini dilakukan untuk mendukung kepentingan golongan atau kelompoknya supaya bisa tetap eksis, dan para tokohnya teropini sebagai sosok yang hebat, lantaran akan dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala saat hari Kiamat kelak. Para pengikutnya pun dibuat tercengang dengan tafsiran tersebut.

Di antara golongan yang “memanfaatkan” ayat ini ialah Islam Jama’ah, yang kini bernama Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Kelompok yang sudah berulang kali berganti nama ini memelintir kandungan ayat di atas. Mereka memberi penafsiran, yang isinya diarahkan kepada pemimpin LDII, yaitu Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol). Berdasarkan penuturannya dalam “tafsir manqul” miliknya, ia berkata: “Pada hari kami panggil setiap manusia dengan imam mereka, sehingga yang tidak punya amir, maka akan masuk neraka”. Penyebutan kata “imam” yang dimaksud oleh LDII ialah amir mereka, yaitu Nur Hasan. Keterangan ini dituturkan oleh mantan tokoh besar LDII yang telah sadar, yaitu Ustadz Hâsyim Rifâ’i yang pernah berguru selama 17 tahun kepada Nur Hasan ‘Ubaidah Lubis, pendiri LDII.[1]

Kalangan lainnya, yaitu Sufi, juga berkepentingan memegangi ayat ini untuk mempropagandakan thariqat-thariqat yang sebenarnya tidak pernah dicetuskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalangan Sufi menggiring jamaah-jamaahnya untuk taat kepada para syuyûkh (guru) penggagasnya secara mutlak. Padahal dari ayat tersebut tidak ada muatan sedikit pun yang bisa mendukung klaim mereka. Hal ini akan menjadi jelas dari dua sisi.[2]

Pertama : Para ulama besar dari kalangan ahli tafsir tidak ada satu pun dari mereka yang memaknai kata “imam” dengan makna “syaikh-syaikh tarikat”. Orang-orang yang ahli dalam bidang tafsir pada masa lalu, seperti Ibnu ‘Abbâs, al-Hasan al-Bashri, Mujâhid, Qatâdah, adh-Dhahhâk, mereka memberi penafsiran kata “imam” dengan makna kitab yang berisi amalan-amalan. Demikian pula Imam al-Qurthubi rahimahullah dan Imam Ibnu Katsir rahimahullah merajihkan pengertian ini dengan merujuk firman Allah pada surat Yâsîn/36 ayat 12.

Menurut al-Qâsimi rahimahullah, yang dirajihkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah itulah pendapat yang benar. Karena Al-Qur`ân menjelaskan sebagian ayatnya dengan sebagian lainnya. Dan yang pertama kali perlu diperhatikan dalam memahami makna-makna ayat-ayat Al-Qur`ân, yaitu dengan mengacu pada ayat-ayat yang semakna.

Kedua : Seandainya yang dimaksud dengan “imam” adalah syaikh thariqah –sebagaimana klaim kalangan Sufi–, maka pernyataan ini tidak bisa dijadikan dalil untuk menunjukkan tingginya kedudukan syaikh atau keharusan untuk memuliakannya. Sebab, panggilan dengan namanya tidak mesti menunjukkan keutamaan diri seseorang.

Anonim mengatakan...

Imam ath-Thabari rahimahullah sendiri merajihkan pengertian “imam” tersebut, ialah orang-orang yang diikuti dan menjadi panutan di dunia.

Seperti sudah diketahui, sejumlah orang mudah mengekor setiap penyeru dan menyambut setiap ajakan. Tidak aneh jika mereka menyambut para tokoh kesesatan pula. Karena itu, diriwayatkan dari sejumlah ulama tafsir dari Ibnu ‘Abbas, berkata tentang tafsir kata “imam mereka” dalam ayat, yaitu “imam dalam hidayah dan imam dalam kesesatan”.[3]

Keterangan ini juga telah disinggung oleh Ibnu Katsir. Kata beliau: “Mungkin saja pengertian dari “imam mereka”, maksudnya ialah setiap kaum (dipanggil) dengan orang yang mereka ikuti. Orang-orang beriman akan mengikuti para nabi, dan orang-orang kafir akan mengikuti para tokoh mereka. Allah telah berfirman, yang artinya: Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka …. (al-Qashash/28:41).

Mujahid berkata,”Imam, ialah orang yang diikuti. Maka nanti akan dipanggil, datangkanlah para pengikut Nabi Ibrahim, datangkanlah para pengikut Musa, datangkanlah para pengikut setan, datangkanlah para pengikut berhala-berhala. Orang-orang yang berada di atas al haq, akan mengambil kitab (amalan) mereka dengan tangan kanan. Dan para penganut kebatilan akan mengambil kitab (amalan) mereka dengan tangan kiri”.

Apabila telah jelas bahwa “imam” itu bisa bermakna panutan dalam hidayah atau panutan dalam kesesatan; bisa juga seorang nabi, setan yang terkutuk, maupun berhala dan para pemuja (penganut)nya akan dihimpun di bawah panji sang panutan, baik ia panutan dalam kebaikan maupun dalam kejelekan, jika telah jelas hakikat ini; maka status seorang syaikh thariqat sebagai imam bagi para jamaahnya, tidak otomatis mengindikasikan keutamaannya. Bahkan tetap saja, penilaian terhadap diri syaikh thariqat ini tergantung kepada amalan-amalan, ucapan-ucapan dan ajaran-ajarannya yang ditimbang dengan ajaran Rasulullah, sehingga ia pun menjadi panutan dalam hidayah jika bertumpu pada ajaran-ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya, bisa jadi ia menjadi panutan dalam kesesatan seiring dengan penyelewengannya dari Al-Qur`ân dan as-Sunnah. Seandainya yang menjadi “imam” mereka al-Kitab dan as Sunnah, niscaya mereka tidak membutuhkan penerapan berbagai ibadah yang tidak pernah diajarkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah

DI ANTARA KLAIM PALSU KALANGAN SUFI[4]
Seorang penganut thariqat Tijâniyyah yang bernama al-Fûti, ia mengatakan kepada jamaahnya, bahwa thariqat mereka merupakan thariqat terbaik dan akan menjadi maraji` (rujukan) bagi semua wali Allah.

Al-Fûti berkata: “Pada hari Allah memanggil manusia dengan nama syaikh mereka dan memanggil mereka untuk mendekati syaikh mereka di atas kedudukannya … kalau para jamaah dipanggil dengan nama-nama syaikh (thariqah) mereka dan Allah memanggil para ahli thariqat untuk menuju tempat syaikh mereka dan menempatkannya pada derajat syaikh, maka menjadi jelas dengan sedikit pencermatan saja, bahwa para penganut penutup para wali (Ahmad at-Tijani) yang bergantung kepadanya, selalu konsisten dengan wirid-wirid dan dzikir-dzikirnya, sehingga tidak ada orang lain yang mampu menyamai derajat mereka, kendatipun mereka itu ahli ma’rifah, shiddiqîn dan para aghwâts, selain para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sini, kalangan awam tarikat Tijaniyyah lebih afdhol daripada yang lainnya”. Lihat ar-Rimâh, 2/29.

Anonim mengatakan...

Imam ath-Thabari rahimahullah sendiri merajihkan pengertian “imam” tersebut, ialah orang-orang yang diikuti dan menjadi panutan di dunia.

Seperti sudah diketahui, sejumlah orang mudah mengekor setiap penyeru dan menyambut setiap ajakan. Tidak aneh jika mereka menyambut para tokoh kesesatan pula. Karena itu, diriwayatkan dari sejumlah ulama tafsir dari Ibnu ‘Abbas, berkata tentang tafsir kata “imam mereka” dalam ayat, yaitu “imam dalam hidayah dan imam dalam kesesatan”.[3]

Keterangan ini juga telah disinggung oleh Ibnu Katsir. Kata beliau: “Mungkin saja pengertian dari “imam mereka”, maksudnya ialah setiap kaum (dipanggil) dengan orang yang mereka ikuti. Orang-orang beriman akan mengikuti para nabi, dan orang-orang kafir akan mengikuti para tokoh mereka. Allah telah berfirman, yang artinya: Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka …. (al-Qashash/28:41).

Mujahid berkata,”Imam, ialah orang yang diikuti. Maka nanti akan dipanggil, datangkanlah para pengikut Nabi Ibrahim, datangkanlah para pengikut Musa, datangkanlah para pengikut setan, datangkanlah para pengikut berhala-berhala. Orang-orang yang berada di atas al haq, akan mengambil kitab (amalan) mereka dengan tangan kanan. Dan para penganut kebatilan akan mengambil kitab (amalan) mereka dengan tangan kiri”.

Apabila telah jelas bahwa “imam” itu bisa bermakna panutan dalam hidayah atau panutan dalam kesesatan; bisa juga seorang nabi, setan yang terkutuk, maupun berhala dan para pemuja (penganut)nya akan dihimpun di bawah panji sang panutan, baik ia panutan dalam kebaikan maupun dalam kejelekan, jika telah jelas hakikat ini; maka status seorang syaikh thariqat sebagai imam bagi para jamaahnya, tidak otomatis mengindikasikan keutamaannya. Bahkan tetap saja, penilaian terhadap diri syaikh thariqat ini tergantung kepada amalan-amalan, ucapan-ucapan dan ajaran-ajarannya yang ditimbang dengan ajaran Rasulullah, sehingga ia pun menjadi panutan dalam hidayah jika bertumpu pada ajaran-ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya, bisa jadi ia menjadi panutan dalam kesesatan seiring dengan penyelewengannya dari Al-Qur`ân dan as-Sunnah. Seandainya yang menjadi “imam” mereka al-Kitab dan as Sunnah, niscaya mereka tidak membutuhkan penerapan berbagai ibadah yang tidak pernah diajarkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah

DI ANTARA KLAIM PALSU KALANGAN SUFI[4]
Seorang penganut thariqat Tijâniyyah yang bernama al-Fûti, ia mengatakan kepada jamaahnya, bahwa thariqat mereka merupakan thariqat terbaik dan akan menjadi maraji` (rujukan) bagi semua wali Allah.

Al-Fûti berkata: “Pada hari Allah memanggil manusia dengan nama syaikh mereka dan memanggil mereka untuk mendekati syaikh mereka di atas kedudukannya … kalau para jamaah dipanggil dengan nama-nama syaikh (thariqah) mereka dan Allah memanggil para ahli thariqat untuk menuju tempat syaikh mereka dan menempatkannya pada derajat syaikh, maka menjadi jelas dengan sedikit pencermatan saja, bahwa para penganut penutup para wali (Ahmad at-Tijani) yang bergantung kepadanya, selalu konsisten dengan wirid-wirid dan dzikir-dzikirnya, sehingga tidak ada orang lain yang mampu menyamai derajat mereka, kendatipun mereka itu ahli ma’rifah, shiddiqîn dan para aghwâts, selain para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sini, kalangan awam tarikat Tijaniyyah lebih afdhol daripada yang lainnya”. Lihat ar-Rimâh, 2/29.

hasan mengatakan...

kepada saudara2ku,baik yang masih di 354 jamaah LDII ataupun yang sudah hijrah/ruju' ilal haq khususnya yang sudah mengenal bahasa arab (maaf karena di LDII secara umum gak di ajarkan bahasa arab)segera dengarkan FATWA syeh bazmul hafidhohullah terkhusus untuk JAMAAH AT TAKFIRIYAH AL KHORIJIYAH ADDHOLALAH LDII/354 di waspada 354 sambil menunggu lanjutan FATWA nya dan terjemahnya,sudahlah gak usah nanggapi komen2nya "sijenggotpalsu" jenggotpalsu udah ketahuan otak batu hati beku,mata picek telinga budeg,muka tembok tapi aku doakan mudah2an allah segera menjernihkan akal sehatnya,membuka hatinya,membuka matanya,mendengar telinganya sehingga malu pada allah dan rasulnya serta mau taubat nasuha dari kesesatanya dan hijrah/ruju' ilal haq semoga allah memberi hidayah dan taufiqnya.Aamiin

Anonim mengatakan...

Sanggahan : Perhatikanlah, sejauh mana kebenaran klaim di atas. Bagaimana mungkin seluruh wali Allah (yang sebenarnya) sejak pertama muncul kehidupan akan bergabung dengan thariqat Tijâniyyah?

Ini sebuah klaim yang membutuhkan burhân (petunjuk) dan dalil yang kuat. Bagaimana mungkin orang-orang yang telah meninggal sebelum Ahmad at-Tijâni dilahirkan itu bergabung dengan thariqatnya? Sungguh suatu anggapan aneh yang sangat nyata.

Di bagian lain al-Fûti mengomentari orang-orang yang berada di luar thariqatnya. Dia berkata: “Adapun orang-orang yang masih berada dalam kegelapan, kebodohan, kesesatan dan kezhaliman (maksudnya, orang-orang yang belum mengikuti Tijâniyyah), tidak ada penghalang bagi mereka untuk bersandar dengan syaikh kami Ahmad at-Tijâni, padahal telah begitu nampak kemuliaan dan keutamaan thariqatnya, serta keistimewaan para pengikutnya; seperti terangnya sinar matahari siang hari di musim panas, kecuali mereka akan tercampakkan dari rahmat Allah Ta’ala, terhambat dari kebaikan, mendapat laknat, kecelakaan dan kerugian”. Lihat ar-Rimâh, 2/44.

Seorang dai Tijâni bernama Ibrahîm Nayyâs, ia berkata: “Berdasarkan sebagian pengertian yang dikandung oleh ayat-ayat ini, engkau bisa mengetahui bahwa orang yang memperoleh taufik dari Allah untuk bergabung dengan thariqat kami, niscaya kebahagiaannya di dunia dan akhirat sempurna, dan ia termasuk orang yang dicintai dan diterima di sisi Allah, walau bagaimanapun kondisinya”. Lihat as-Sirrul-Akbar wan-Nûrul-Abhar, hlm. 416).

Anonim mengatakan...

Begitu pula salah seorang dari kalangan thariqat Rifâ’iyyah. Setelah menunjukkan kemampuan syaikhnya yang luar biasa, seperti menempuh jarak sejauh perjalanan 100 tahun hanya dengan satu langkah saja, mengetahui bahasa-bahasa burung, dan lain-lain, ia berkata: “Pegangilah ujung-ujung pakaiannya. Jadilah engkau orang yang duduk di majlisnya. Jangan sekali-kali menjauh dari kehidupannya dan mintalah syafaat dengan namanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menolak permohonan syafaatmu melalui namanya. Karena ia termasuk ahli bait yang mulia. Sungguh orang-orang besar, tokoh-tokoh …, mereka semua telah mengetahui bahwa tarikatnya merupakan jalan keselamatan dan keamanan. Kecintaan terhadapnya termasuk faktor paling efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka mengharuskan diri dan keluarga mereka untuk berpegang dengan janjinya, dan komitmen dengan thariqatnya” Lihat ar-Rimâh, 2/25, 1/349-350.

Oleh karena itu, setiap kaum Muslimin harus waspada. Jalan selamat dalam beragama ialah dengan mengikuti pemahaman generasi Salaf, yaitu jalan yang penuh hikmah dan berdasarkan ilmu.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428H/2008. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Lihat Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, hlm. 86-87.
[2]. Dinukil dari Taqdîsul-Asykhâs, 1/348-352.
[3]. Fat-hul-Qadîr, 3/248. Nukilan dari Taqdîshul-Ashkhâs, 1/348.
[4]. Dikutip dari Taqdisul-Asykhâs, I/349-350.

alatsari.wordpress.com/2010/02/05/penyelewengan-terhadap-ayat-ingatlah-suatu-hari-yang-pada-hari-itu-kami-panggil-tiap-umat-dengan-pemimpinnya

Anonim mengatakan...

lhoo.... ternyata kok ada kesamaan ya antara kelompok SUFI dengan kelompok JAMAAH LDII sama2 syehnya yang paling pol dewe "As Syeikh Al Imam Al Haj Nurhasan Al Ubaidah Lubis Al Mussawah Al Amir Al Kadzab Ad Dajjal"rahimahullah,lihat sebutan namanya yang begitu hebat tapi supaya gampang mengingatnya cukup disebut "MADIGOL"....wkwkwkwk....

emte mengatakan...

Mengapa Harus Bermanhaj Salaf ?


Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).

Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).

Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).

emte mengatakan...

2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)

Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Ta'ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).

Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.

Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.

emte mengatakan...

3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.

Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367). Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ Artinya : "Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)." [QS Al Baqoroh: 137]

emte mengatakan...

Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut: 1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455). Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya. Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka  atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).

emte mengatakan...

2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).

Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).

Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37). Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).

Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.

emte mengatakan...

3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).

Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) dalam perselisihan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara: - Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam. - Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan. - Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79). Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.

emte mengatakan...

Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena: 1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus. 2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam. 3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya. 4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika: 1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63). 2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil dari kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54). 3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88). 4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat,

emte mengatakan...

Lanjutan diatas------>walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil dari kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88) 5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57). 6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.

(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari, Lc, judul asli Mengapa Harus Bermanhaj Salaf, rubrik Manhaji, Majalah Asy Syariah. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=82)

Anonim mengatakan...

to para jokam :

baiat itu tidak selalu melalui berjabat tangan.
mengakui kekuasaan pemerintahan yang sah, dengan cara patuh terhadap peraturan, adalah baiat otomatis.

jadi jokam itu BANCI!

mengangkat amir sendiri tapi disembunyikan karena takut pada penguasa sebenarnya di negeri ini.

dalam teks-nya disebutkan untuk patuh terhadap pemerintahan yang sah.

nah, inilah bukti kedangkalan ilmu agama mereka.
mengangkat amir tapi mengakui amir lainnya.
& sangat jelas amir mereka diangkat setelah ada amir sebenarnya di negeri ini.
maka leher amir ldii adalah wajib ditebas.

jenggotplasu mengatakan...

setiap pindah2 halaman blog ini selalu ada pesan "terima kasih telah berkomentar dengan sopan" kayaknya eks 354 ini makin tambah sakit hati..sadarlah saudaraku....kembalilah pada jmaah..jangan ikuti bisikan syaiton...mengajak menjadi gengsi tobat

Anonim mengatakan...

jengLOT tambah KOPLAKKK!!!

Anonim mengatakan...

jengLOT tambah KOPLAKKK!!!

Anonim mengatakan...

banyak sekali sedulur 354 yang hijrah ke manhaj ahlu sunnah dan meninggalkan paham 354. semua itu tak lepas dari izin dan hidayah Allah swt. Allah membuka mata hati mereka sehingga mereka dapat lepas dari pemahaman batil 354. insya Allah,mereka terselamatkan dari tindak-tanduk hizbiy, firqoh dan khawariji. itu merupakan anugrah Allah yang sangat agung. teruskan berdakwah untuk meluruskan paham 354 dan mari selamatkan sedulur 354 dari belenggu hipnotis doktrin madigoliyah

Anonim mengatakan...

benar sekali komen mas anonim diatas. sebenarnya warga jamaah 354 itu dengan hati yang ridho, ikhlas, menerima semua aturan Islam untuk menyelamatkan dari neraka dan ingin masuk dari surga, mereka bener-bener tunduk dengan aturan Islam, akan tetapi Allah berkehendak lain, tokoh yang selama ini dipercayai membawa kebenaran, ternyata sekarang sudah mulai terbongkar dengan sejelas-jelasnya senyata-nyatanya, bahwa MADIGOL itu pendusta, pembohong, pemalsu hadits, pemalsu isnad semua hanya untuk kepentingan dirinya....alhamdulillah sekarang tabir itu sudah mulai terkoyak, sudah tidak seperti dulu bisa dibohongi sesukanya, semua itu hanya dari Allah semata...Alhamdulillah...bongkar terus kesesatan jamaah seakar-akarnya, kasihan jamaah yang masih terkungkung didalamnya yang masih memiliki hati yang murni mengharap wajah Allah semata..mari berjuang bersama-sama..semoga Allah meridhoi perjuangan kita semua

Anonim mengatakan...

Ulasan dari "emte" sangat memperjelas apa itu ahlussunnah wal jamaah/ Manhaj Salaf. Ini baru MT sungguhan tdk spt dua orang emte jamaah kita yg baru pulang dari Makkah. Dalam nasehatnya saja mengakui klo semua islam itu harus bermanhaj Salaf tp maaf dia tdk berani menjelaskan pengertiannya ahlussunnah wal jamaah/ manhaj Salaf yg diaku-akuinya itu, jg tdk berani menjelaskan tentang ciri2 hizbi (mungkin krn takut ketahuan ya klo jamaah kita ini hizbiyah yg sebenarnya dimaksud?).
Sebagai pelengkap, coba buka

http://waspada354.blogspot.com/2010/11/surat-cinta-ulama-ahlussunnah-waljamaah.html

Minta sama Aziz atau Kholil untuk menterjemahkannya, jangan2 mereka tdk mengakui lagi kalo Syaikh Bazmul itu gurunya! Tobat tobat tobat!

Anonim mengatakan...

Setuju dengan akhi diatas, maka kami harap saudara kita islam jamaah bersedia menyampaikan kepada ustadznya untuk menterjemahkan tulisan ulama tersebut ( Syaikh Bazmul ) , kalau antum ( islam jamaah ) kesulitan memperoleh teks aslinya bisa disampaikan disini , mungkin ada ikhwan yang bisa membantu.

Tidak ada kebohongan dan lakukan sendiri , jangan lupa niatkan untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya , semoga Allah paring hidayah buat antum.

Anonim mengatakan...

ldii mengangkat amir sendiri tapi mengakui amir lainnya yang berkuasa di negara ini.

LDII bener-bener BANCI!

sangat tidak jelas ilmunya, serba absurd

Anonim mengatakan...

to jenggotpalsu:

AMIRMU & SEGALA IJTIHADNYA adalah BATIL.

simak ulasan syaikh Bazmul itu.
di segala hadits & dalil menjelaskan tentang hal itu.

jadi buat apa kamu & para jokam baiat pada amir yg tidak sah & tidak berhak sama sekali.

BAIAT PADA AMIRMU HANYA AKAN MENYERET PADA API NERAKA

Anonim mengatakan...

pak kholil & pak aziz masih belum berani terang2an.

dalam rekaman nasehatnya, pak kholil bilang bahwa islam itu adalah "Laa ilaha illallah".

sama sekali tidak menyinggung & menekankan tentang berjamaah.

Anonim mengatakan...

Ternyata salah satu isi fatwa Syaikh Bazmul adalah membantah manqulan dari Kholil bin Bustami tentang pertanyaannya kepada Syaikh Yahya yang "seakan2" membenarkan Jamaah kita LDII, Syaikh Bazmul menyatakan bahwa itu bukan dari Syaikh Yahya, itu adalah ucapan yang mudallis krn Syaikh Yahya adalah orang yg mengikuti ahlussunnah dan Salafus Sholih, . Beliau Syaikh Bazmul juga menasehati spy takutlah kpd Alloh bila menyelisihi ahlussunnah wal jamaah, takutlah untuk mengkafirkan orang islam, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya semua adalah kebaikan apabila mengikuti sunnahnya Rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Wallohu a'lam bisshowab. Mudah2an Kholil dan Aziz mau berani menterjemahkan Fatwa Syaikh Bazmul Ini.
Bisa2 Daerahan Bulan Ini Batal Deh krn pada Rame2 Ruju' ilal Haq.
Waspadalah waspadalah waspadalah wahai jenggotpalsu dan kroni2nya!
Makar Alloh jauh lebih hebat dari pdmakarnya PUSAT/ Kholil-Aziz!

Anonim mengatakan...

Sebenarnya Khol*l dan Az*z ini sudah ngerti dakwah yang sebenarnya..

sudah ngerti bahwa di salafy-lah dakwah itu ada..

sudah ngerti bahwa dakwah 354 selama ini banyak nyimpang. sekarang mereka sibuk nyari pembenaran2.

meskipun sudah ngerti, tetapi rupanya pembenaran2 itu diambil sebagai jalan damai untuk mengamankan fasilitas yang ada pada mereka.. :))

ilmu dituker dengan duniawi..

wahai, 354.. maka lihatlah kepada siapa kalian menambil ilmu..

semoga Allah menunjukkan hidayah al huda kepada mereka berdua bersama murid2nya.. sehingga kita semua kembali kepada al jama'atil muslimiina yang sebenarnya..

Anonim mengatakan...

dalam nasihat di sangatta (?), tampak jelas, pak Kholil lebih mememilih menjerumuskan jamaah 354 dalam syubhat
unduh
http://www.4shared.com/audio/wiGbsNHU/bpkholil.html
( di rekaman ini jelas, sang pakubumi mengakui memang ada keimaman dalam 354, artinya keterangan pengurus DPP LDII pada MUI yang mengatakan bahwa LDII bukan kelanjutan dari islam jamaah adalah sebuah kebohongan )

Kholil sudah melakukan penyimpangan ilmiyyah dengan menduplikasi sanad tanpa seizin gurunya lalu disebar ke pakubumi2 lainnya
Kholil juga sudah melakukan tindakan oportunistik dalam kitab yang disusunnya yang berjudul ‘mukhtasor jamaah wal imamah' “(ringkasan dari kitab jamaah wal imamah karya syeik bazmul), yang dilakukan kholil adalah mengutip (dengan memotong) pernyataan dalam buku jamaah wal imamah , seolah buku tersebut membenarkan jamaah 354, padahal kalau kita cermati secara lengkap, justru buku jamaah wal imamah mementahkan semua klaim 354
Unduh
http://www.4shared.com/document/8mNBoeO9/al-jamaah_wal_imamah_-_muhamma.html
(kalau dalam dunia akademik, kholil ini sudah melakukan kejahatan akademik, dan terlihat dari caranya menyusun mukhtasor bahwa memang kholil tidak becus melakukan pembahasan yang sistematis, kredibel, jujur serta bertanggungjawab)
Adapun nasihat syeih bazmul pada jamaah 354 dan kholil (yang mana bukunya dijadikan rujukan oleh 354 secara tidak bertanggung jawab) dapat diunduh di
http://www.4shared.com/audio/lIBrGHfs/MP3_Nasehat_Dan_Fatwa_Syaikh_B.html
(terjemahannya insya Allah menyusul).

Saya tidak percaya kholil itu bodoh, selama 8 tahun di mekkah tidak dapat melihat penyimpangan 354, malahan dia menyebarkan syubhat, Jadi.. kholil itu telah melakukan pengkhianatan pada gurunya, melakukan pengkhianatan pada dirinya sendiri dan yang terpenting melakukan kebohongan pada publiknya sendiri yaitu rukyah 354 hanya untuk memenuhi hawa nafsu pusat. Kholil takutlah pada Allah, kenapa koq malah lebih takut pada imam dan orang-orang pusat. Azab Allah sangat kuat wahai kholil. Carilah keridhoan Allah wahai kholil…jangan menjilat pusat untuk mendapatkan keridhoan pusat. Kasihanilah jamaah wahai kholil…..anda itu opinion leader dalam jamaah. Kalau anda mengucapkan kekeliruan, maka akan diikuti oleh ribuan jamaah 354. tak takutkah kholil pada dosa jariyyah?!! Tadlis…tadlis..talbis…talbis

Unduh juga muamalatul hukkam dari syeih bin barjaz untuk lebih mengerti betapa menyimpangnya system 354
http://www.4shared.com/file/RxWZrkEE/Muamalatul_Hukam_fi_Dhawa_al_K.html


Sebagian link didapat dari blog waspada 354 dan rumahku.indah

Anonim mengatakan...

wahai JENGLOT PALSU ulama haram, apa kamu sudah lupa dengan pertanyaan jamaahmu yang sampe saat ini belum dijawab???

ni saya ksh pertanyaan mas anonim yg kemarin biar tidak lupa:

jelaskan "pertanyaan2 remeh ini" LENGKAP DENGAN KITAB-KITAB RUJUKANNYA;

1.Benarkah praktek surat taubat dlm jamaah?
2.Benarkah yg menentukan diterima tdknya taubat itu adalah imamnya kemudian menentukan kaffarohnya dlm bentuk uang?
3.Benarkah praktek qurban urunan sak jamaah, termasuk menyerahkan sejumlah uang qurban per desa dan daerah ke pusat?
4.Benarkah praktek persenan dan penjatahan kepada jamaah?
5.Benarkah orang yg tdk baiat pada bapak Imam kita itu kafir semua? Bagaimana dgn Syaikh2nya Nurhasan dulu? juga Syaikh2nya Kholil dan Aziz sekarang?
6.Benarkah kesaktian2 Nurhasan? Krn Nabi sendiri, para kholifah dan ulama salafus sholih/ syaikh2nya Nurhasan dan Syaikh2nya Kholil dan Aziz tdk ada yg memiliki kesaktian seperti Nurhasan.
7.Setelah sekian puluh tahun, knp baru sekarang2 ini kita diajarkan mustolah hadits? Dan ternyata banyak di dlm hadis himpunan kita ditemukan hadis2 dhoif bahkan maudhu'? (Benarkah Nurhasan belajar di Darul Hadis? Krn di sana pasti diajarkan tentang mustolah hadis)

Anonim mengatakan...

kholil & aziz bisa ke mekkah pake uang jamaah, semua kehidupannya pake uang jamaah. makan,rumah, kesehatan dan semua perikehidupannya ditanggung oleh uang sak jamaah. bisa naik haji pake uang jamaah. juga pada semua pakubumi-pakubumi, hidupnya ditopang pake uang jamaah, apalagi keluarga nurhasan klo ngga disokong pake uang jamaah mereka mau jadi apa?

seharusnya mereka bersyukur pada jamaah. berterimakasihlah pada jamaah lalu berikan hak-nya jamaah yaitu kebenaran. jamaah berhak dapat itu. tapi mengapa mereka malah mengkhianati jamaahnya sendiri? mereka cuma menjadikan jamaah sebagai alat dan obyek dengan diretorikakan 'peramutan"? bersyukurlah pada jamaah dengan memberikan mereka kebenaran. pusat-pusat itu sangat jahat sekali. dari sanalah akidah jamaah 354 diatur, direkayasa, dimainkan, dimanipulatif dan dikendalikan oleh pembesar2nya.

wahai pakubumi, jangan kalian seperti rabi2 yahudi. tau akan kebenaran tapi menyembunyikan kebenaran pada umatnya. masyaAllah..

Anonim mengatakan...

apakah sekarang akhir perjalanan jokam 354???
semoga saja...
atau LDII akan berganti "BAJU" lagi
kita akan jadi saksi sejarah agama ini di indonesia

Anonim mengatakan...

kartu telah terbuka,jalan telah terisolasi,keburukan nyata telah tersingkap.
akan jadi apa para jokam 354??
manakah abu ilyas,irwan jateng,dark blast,jenglot palsu??
bantahan apalagi yang akan mereka lemparkan.
syubhat apalagi yg akan mereka keluarkan? setelah semuanya tersingkap dg jelas...
hayo tunjukkan TAJI kalian!!!

Anonim mengatakan...

inti dari kelompok ini adalah dunia,dunia dan dunia
tujuannya adalah duit,duit duit dan duit
jalan yang ditempuh adalah kebohongan,penipuan serta kemunafikan
akhir perjalanannya adalah kehancuran serta AZAB dari ALLAH SWT

Anonim mengatakan...

keterangan sudah begitu nyata
penjelasan sudah begitu gamblang
hujjah sudah begitu dibentangkan
fakta sudah begitu terungkap
dusta dan kebohongan sudah begitu terlihat

apa jamaah 354 masih lebih suka berkubang pada kubangan hina yang dibuat nurhasan?

takutlah pada neraka Allah, jangan takut pada nerakanya nurhasan

carilah surga Allah, jangan cari surganya madigol

menghadapi surga-nerakanya dajjal kecil madigol saja jamaah 354 sudah tertipu, bagaimana kalau menghadapi dajjal sungguhan ya..

naudzubillah mindzalik

Anonim mengatakan...

JENGLOT ../MANDIGOL kemana kamu ?? kamu yang AHLI BAHASA ARAB DALAM KOTBAH JUM'AH , pasti nggak kesulitan mengartikan perkataan Syaikh Bazmul di http://waspada354.blogspot.com/2010/11/surat-cinta-ulama-ahlussunnah-waljamaah.html

Anonim mengatakan...

MURKA MURKA MURKA beribu2 MURKA bahkan BERTRILUN2 seperti NILAINYA PERSENAN setiap bulannya yg kami jamaah kirimkan ke pusat demi KEBENARAN, ternyata semuanya adalah SEMU,
Entah adzab apa yg Alloh akan berikan kpd mereka semua termasuk kholil dan aziz (maaf sy sebut nama langsung krn mereka bukanlah lg ulama, krn lebih hina drpd ........)
Mana para muballigh yg dengan fasihnya memakai khutbah bahasa Arab saat jumatan (pdhl mereka sendiri tdk ngerti apa yg mereka baca), yg menganggap harom khutbah jumatan dgn bahasa Indonesia atau selainnya, mana? mana? mana? Bisakah antum tuliskan apa yg diucapkan oleh Syaikh Bazmul?
Bersiap2lah tuk menjadi PENGEMIS krn persenan dan keimaman telah HANCUR di jamaah.
Ada makar apa lagi ya dr Pusat? Mau mendatangkan Syaikh dr Makkah? Jangan, lebih baik datangkan Nurhasan spy doktrinnya bisa lebih dipercaya drpd Ulama Ahlussunnah wal jamaah, Jamaah kita kan percaya dengan ilmu jin2an, jamaah kita kan org2 bodoh, jadi walaupun ditipu tetap mereka toat!

Anonim mengatakan...

wahai imam pusat,penggede-penggede pusat, ulama-ulama pusat apa yang kamu pikirkan!!! segeralah bertaubat!!! janganlah kamu semua merencanakan MAKAR lagi...ingatlah MAKAR Allah lebih dahsyat..!!!

Anonim mengatakan...

Paling paling gak boleh ada yang buka internet atw kayak di negara IRAN atw BURMA
kan imamnya mikir;
-kan kartunya cuman diketahuin di internet..
-jokam yg melek internet cuman 0.00001% cuman jenglot palsu,irwan jateng,abu ilyas,& bbrapa anonim
-kan bisa difatwakan sama imam jgn buka airmatakumengalir,waspada 354 dll haram dibuka(karena banyak benernya)
-yang punya laptop,pc netbook isrun nya 25% apalagi klo buka situs x354 jd 30% dll
ada lagi????

Anonim mengatakan...

abis abis semuanya.............
ancur ancur segalanya..........
rusak rusak apa adanya.........
mengapa jadi begini??????
benar kata orang alim tekhnologi itu ibarat 2 mata pisau bisa buat kebaikan dan kejahatan
ternyata skarang bukan jaman kebodohan,dg tekhnologi dunia ibarat di genggaman
ulama di ARAB bisa dg mudah dihubungi
jokam yg bodoh gak mudah dibohongin lagi
ancur ancur ngebangun kerajaan MADIGOLIYAH dari th 1961 karena tekhnologi semua kelihatan ancur di depan muka gimana lagi ini???
si MBAH mana udah mati
si ABAH dah koit
mangshurin yang diharapkan gak bisa nolong
313 gak bisa apa2
duh kasian nasib jokam354 mo gimana lagi,huhuhuhuhuhuhu...
abis ditelanjangi oleh kebenaran

wahyu mantan corong LDII mengatakan...

tolong amal sholeh kepada tim WASPADA 354 untuk segera menyelesaikan rekaman FATWA Syeh Bazmul khusus Jamaah LDII/354 dan sekalian terjemahnya,dan juga kami mohon supaya rekaman itu di tulis di blog WASPADA 354 supaya manfaatnya tersebar ke semua Jamaah yang awam juga,alhamdulillah walaupun saya baru belajar bahasa arab sedikit2 udah bisa memahami apa yang di FATWA kan Syeh Bazmul terhadap Jamaah LDII/354 dan sudah saya perdengarkan ke keluarga saya dan saudara2 Jamaah yang masih baik dengan saya (karena memang setelah saya ruju' ilal haq sebagian keluarga saya dan mayoritas jamaah sak desa saya menjauhi saya kecuali sedikit saja yang masih ada komonikasi dengan saya)ternyata mereka tercengang mendengar FATWA nya Syeh Bazmul itu dan saya lihat di raut wajahnya kelihatan ada kebingungan antara percaya dan tidak,tapi setelah kami lanjutkan diskusi alhamdulillah mereka sudah bisa menyadari bahwa iming2 WAJIIIIIIBBB masuk surga selamat dari neraka selama ini hanya tipuan belaka,dan merka saling curhat uneg2nya selama ini dalam JAMAAH LDII,maka dengan FATWA nya Syeh Bazmul ini mudah2an menjadi perantara hidayah mereka hidayah yang sesungguhnya.

NB: kalau ada texnya (katanya) Jamaah2 yang sudah mendengarkan FATWA Syeh Bazmul ini siap menyebarkan ke Jamaah2 lainya dan (katanya) mereka sanggup menanggung resikonya sebagaimana mereka membela mati2an demi lancarnya JAMAAH LDII yang ternyata hanya kebenaran ilusi surga bayangan.

hasan mengatakan...

Membongkar Kesesatan LDII : Apa itu Manqul (1)
Ahad, 21 Agustus 2005 - 10:26:03 :: kategori Firqoh-Firqoh
Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc
.: :.
Antara Al Quran, al Hadits dan 'Manqul'
Oleh: Qomar ZA

Jangan khawatir…
Jangan takut…
Baca dulu…
Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk.

Pengertian Manqul dalam Ajaran LDII
Manqul H Nur Hasan Ubaidah adalah proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Ilmu itu harus musnad (mempunyai sandaran) yang disebut sanad, dan sanad itu harus mutashil (bersambung) sampai ke Rasulullah sehingga manqul musnad muttashil (disingkat M.M.M.) diartikan belajar atau mengaji Al Quran dan hadits dari Guru dan gurunya bersambung terus sampai ke Rasulullah.
Atau mempunyai urutan guru yang sambung bersambung dari awal hingga akhir (demikian menurut kyai haji Kastaman, kiyai LDII dinukil dari bahaya LDII hal.253)
Yakni: Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru, telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat, terhalang dinding [Menurut mereka, berkaitan dengan terhalang dinding sekarang sudah terhapus. Demikian dikabarkan kepada kami melalui jalan yang kami percaya. Tapi sungguh aneh, aqidah yang sangat inti bahkan menjadi ciri khas kelompok ini bisa berubah-rubah. Demikiankah aqidah?! - pen] atau lewat buku tidak sah sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapatkan ijazah (ijin untuk mengajarkan-red) [Ijazah artinya pemberian ijin untuk meriwayatkan hadits misalnya saya katakan: 'Saya perbolehkan kamu untuk meriwayatkan hadits-hadits yang telah saya riwayatkan dari guru saya'- pen] dari guru, maka ia boleh mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu" [Drs Imron AM, selintas mengenai Islam Jama'ah dan ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993 hal. 24 dinukil dari Bahaya LDII hal. 258- pen]

hasan mengatakan...

Keyakinan LDII tentang Manqul
1. Mereka meyakini dalam mempelajari ajaran agama harus manqul musnad dan muttashil, bila tidak maka tidak sah ilmunya, ibadahnya ditolak dan masuk neraka.
2. Nur Hasan mengaku bahwa dirinyalah satu-satunya jalur untuk menimba ilmu secara musnad muttashil di Indonesia bahkan di dunia., atas dasar itu ia mengharamkan untuk menimba ilmu dari jalur lain.
3. Ia mendasari kayakinannnya itu dengan dalil-dalil, -yang sesungguhnya tidak tepat sebagai dalil-.

Kajian atas Keyakinan dan Dalil-Dalil mereka

Kajian atas point pertama:
a. Keyakinannya bahwa ilmu tidak sah kecuali bila diperoleh dengan musnad mutashil dan manqul, adalah keyakinan yang tidak berdasarkan dalil, adapun dalil-dalil yang dia pakai berkisar antara lemah dan tidak tepat sebagai dalil. Seperti yang akan anda lihat nanti Insya Allah.

b. Bahwa ini bertentangan dengan dalil-dalil syar'i yang menunjukan bahwa sampainya ilmu tidak mesti dengan manqul, bahkan kapan ilmu itu sampai kepadanya dan ilmu itu benar, maka ilmu itu adalah sah dan harus ia amalkan seperti firman Allah: …وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ "Dan diwahyukan kepadaku Al Quran ini untuk aku peringatkan kalian dengannya dan siapa saja yang Al Quran sampai padanya" [Al An'am:19]
Mujahid mengatakan: dimanapun Al Quran datang maka ia sebagai penyeru dan pemberi peringatan. Kata (ومن بلغ) Ibnu Abbas menafsirkannya: "Dan siapa saja yang Al Quran sampai kepadanya, maka Al Quran sebagai pemberi peringatan baginya."

hasan mengatakan...

Demikian pula ditafsirkan oleh Muhammad bin Ka'b, As Suddy [Tafsir at Thabari:5/162-163], Muqatil [Tafsir al Qurthubi:6/399], juga kata Ibnu Katsir [2/130]. Sebagian mengatakan : "Berarti bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai pemberi peringatan bagi orang yang sampai kepadanya Al Quran." Asy Syinqithi mengatakan: "Ayat mulia ini menegaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pemberi peringatan bagi setiap orang yang Al Quran sampai kepadanya, siapapun dia. Dan dipahami dari ayat ini bahwa peringatan ini bersifat umum bagi semua yang sampai kepadanya Al Quran, juga bahwa setiap yang sampai padanya Al Quran dan tidak beriman dengannya maka ia di Neraka". [Tafsir Adhwa'ul Bayan:2/188 lihat pula tafsir-tafsir di atas-pen] Maka dari tafsir-tafsir para ulama di atas - jelas bahwa tidak seorangpun dari mereka mengatakan bahwa sampainya ilmu harus dengan musnad muttashil atau bahkan manqul ala LDII.

Bahkan siapa saja yang sampai padanya Al Quran dengan riwayat atau tidak, selama itu memang ayat Al Quran, maka ia harus beriman dengannya apabila tidak maka nerakalah tempatnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:بلغوا عني ولو آية"Sampaikan dariku walaupun satu kalimat" [Shahih, HR Ahmad Bukhari dan Tirmidzi]. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengharuskan cara manqul ala LDII dalam penyampaian ajarannya.

hasan mengatakan...

c. Keyakinan mereka bertentangan dengan perbuatan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, dimana beliau menyampaikan ilmu dengan surat kepada para raja. Seperti yang dikisahkan sahabat Anas bin Malik: عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menulis surat kepada Kisra, Qaishar, Najasyi dan kepada selurus penguasa, mengajak mereka kepada Allah. bukan an Najasyi yang Nabi menshalatinya" [Shahih, HR Muslim, Kitabul Jihad….no:4585 cet Darul Ma'rifah] (Surat Nabi kepada Heraqlius) [Shahih, HR Bukhari no:7 dan Muslim: 4583]. An Nawawi mengatakan ketika mensyarah hadits ini: "Hadits ini (menunjukkan) bolehnya beramal dengan (isi) surat." [Syarh Muslim:12/330] Surat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam kepada raja Bahrain, lalu kepada Kisra [Shahih, HR al Bukhari, Fathul Bari:1/154]dan banyak lagi surat beliau kepada raja atau tokoh-tokoh masyarakat, bisa anda lihat perinciannya dalam kitab Zadul Ma'ad:1/116120 karya Ibnul Qoyyim [Cet Ar Risalah ke 30 Thn. 1417/1997]

Surat-menyurat Nabi ini tentu tidak sah menurut kaidah manqulnya Nur Hasan Ubaidah. Adapun Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menganggap itu sah, sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menerima Islam - mereka yang masuk Islam - karena surat itu tidak menganggap mereka kafir karena tidak manqul. Dan Nabi menganggap surat itu sebagai hujjah atas mereka yang tidak masuk Islam setelah datangnya surat itu, sehingga tiada alasan lagi jika tetap kafir, seandainya sistem surat-menyurat itu tidak sah, mengapa Nabi menganggapnya sebagai hujjah atas mereka??.

hasan mengatakan...

Kemudian setelah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, cara inipun dipakai oleh para sahabatnya seperti surat Umar kepada Abu Musa al 'Asy 'ari yang terdapat didalamnya hukum-hukum yang berkaitan dengan Qadha' [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, ad Daruqhutni al Baihaqi dan lain-lain `dishahihkan oleh al Albani dalam Irwaul Ghalil:8/241, Ahmad Syakir dan lain-lain -pen], lihat perinciannya dalam buku khusus membahas masalah ini berjudul رسالة عمر ابن الخطاب إلى أبي موسى الأشعري في القضاء و آدابه رواية ودراية karya Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul.], Aisyah menulis surat kepada Hisyam bin Urwah berisi tentang shalat [al Kifayah fi 'Ilmirriwayah:343], Mu'awiyahpun menulis kepada al Mughirah bin Syu'bah tentang dzikir setelah shalat [Shahih, HR Bukhari dan Muslim], Utsman bin Affan mengirim mushaf ke pelosok-pelosok [Riwayat al Bukhari secara Mu'allaq:1/153 dan secara Musnad:9/11], belum lagi para ulama setelah mereka. Namun semuanya ini dalam konsep manqulnya Nur Hasan Ubaidah tidak sah, berarti teori 'manqul anda' justru tidak manqul dari mereka, sebab ternyata menurut mereka semua sah. Dan pembaca akan lihat nanti - Insya Allah - komentar para ulama tentang ini.

Surat-menyurat ini lalu diistilahkan dengan mukatabah, dan para ulama ahlul hadits menjadikannya sebagai salah satu tata cara tahammul wal ada' (mengambil dan menyampaikan hadits), bahkan mereka menganggap ini adalah cara yang musnad dan muttashil, walaupun tidak diiringi dengan ijazah. Ibnus Sholah mengatakan: "Itulah pendapat yang benar dan masyhur diatara ahlul hadits…dan itu diamalkan oleh mereka serta dianggap sebagai musnad dan maushul (bersambung) [Ulumul Hadits:84] . As Sakhowi juga mengatakan: "Cara itu benar menurut pendapat yang shahih dan masyhur menurut ahlul hadits …. dan mereka berijma' (sepakat) untuk mengamalkan kandungan haditsnya serta mereka menganggapnya musnad tanpa ada khilaf (perselisihan) yang diketahui." [Fathul Mughits:3/5]

hasan mengatakan...

Al Khatib al Baghdadi menyebutkan: "Dan sungguh surat-surat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjadi agama yang harus dianut dan mengamalkan isinya wajib bagi umat manusia ini, demikian pula surat-surat Abu Bakar, Umar dan selain keduanya dari para Khulafar ar Rasyidin maka itu harus diamalkan isinya. Juga surat seorang hakim kepada hakim yang lainnya dijadikan sebagai dasar hukum dan diamalkan.' [al Kifayah :345] . Jadi, ini adalah cara yang benar dan harus diamalkan, selama kita tahu kebenaran tulisan tersebut maka sudah cukup. [lihat, al Baitsul hatsits:123 dan Fathul mughits:3/11]

Imam al Bukhari pun mensahkan cara ini, dimana beliau membuat sebuah bab dalam kitab Shahihnya berjudul : "Bab (riwayat-riwayat) yang tersebut dalam hal munawalah dan surat/tulisan ulama yang berisi ilmu ke berbagai negeri." [Fathul Bari:1/153]

Kalaulah 'manqul kalian' dimanqul dari para ulama penulis Kutubus Sittah, mengapa Imam Bukhari menyelisihi kalian?? Apa kalian cukupkan dengan kitab-kitab 'himpunan', sehingga tidak membaca Shahih Bukhari walaupun ada di bab-bab awal, sehingga hal ini terlewatkan oleh kalian?? Demikian pula Imam Nasa'i menyelisihi kalian, karena beliau ketika meriwayatkan dari gurunya yang bernama Al Harits Ibnu Miskin beliau hanya duduk di balik pintu, karena tidak boleh mengikuti kajian haditsnya Sebabnya, karena waktu itu imam Nasa'i pakai pakaian yang membuat curiga al Harits ibnu Miskin dan ketika itu al Harits takut pada urusan-urusan yang berkaitan dengan penguasa sehingga beliau khawatir imam Nasa'i sebagai mata-mata maka beliau melarangnya [Siyar A'lam an Nubala:14/130], sehingga hanya mendengar di luar majlis. Oleh karenanya ketika beliau meriwayatkan dari guru tersebut beliau katakan: حدثنا الحارث بن مسكين قراءة عليه وأنا أسمع"Al Harits Ibnu Miskin memberitakan kepada kami, dengan cara dibacakan kepada beliau dan saya mendengarnya" dan anehnya riwayat semacam ini ada pada kitab himpunan kalian Kitabush Sholah hal. 4, "Apa kalian tidak menyadari apa maksudnya??"

hasan mengatakan...

d. Istilah 'manqul' sebagai salah satu bidang ilmu ini adalah istilah yang benarbenar baru dan adanya di Indonesia pada Jama'ah LDII. Ini menunjukan bahwa ini bukan berasal dari para ulama. Adapun manqul sendiri adalah bahasa Arab yang berarti dinukil atau dipindah, dan ini sebagaimana bahasa Arab yang lain dipakai dalam pembicaraan. Namun hal itu hanya sebatas pada ungkapan bahasa -bukan sebagai istilah atau ilmu tersendiri yang memiliki pengertian khusus - apalagi konsekwensi khusus dan amat berbahaya.

e. Adapun musnad dan mutashil, memang ada dalam ilmu Musthalah dan masing masing punya definisi tersendiri. Musnad salah satu artinya dalam ilmu mushtolahul hadits adalah 'Setiap hadits yang sampai kepada Nabi dan sanadnya bersambung/mutashil' [Min atyabil manhi fi 'ilmil Musthalah:8]. Akan tetapi perlu diketahui bahwa persyaratan musnad ini adalah persyaratan dalam periwayatan hadits dari Nabi, bukan persyaratan mengamalkan ilmu. Harus dibedakan antara keduanya, tidak bisa disamakan antara riwayat dan pengamalan.

Sebagaimana akan anda lihat nanti - Insya Allah - dalam pembahasan al wijadah, bahwa al wijadah itu secara riwayat terputus Namun secara amalan harus diamalkan. Orang yang tidak membedakan antara keduanya dan mewajibkan musnad mutashil dalam mengamalkan ilmu maka telah menyelisihi ulama ahlul hadits.

f. Musnad muttashilpun bukan satu-satunya syarat dalam riwayat hadits. Karena hadits yang shahih itu harus terpenuhi padanya 5 syarat yakni pertama, diriwayatkan oleh seorang yang adil [adil dalam pengertian ilmu mushtalah adalah seorang muslim, baligh, berakal selamat dari kefasikan dan hal-hal yang mencacat kehormatannya (muru'ah) [Min Atyabil Manhi fi Ilmil Musthalah:13]-pen, kedua yakni yang sempurna hafalannya atau penjagaannya terhadap haditsnya, ketiga, sanadnya bersambung, keempat, tidak syadz [Syadz artinya, seorang rawi yang bisa diterima menyelisi yang lebih utama dari dirinya [nuzhatun nadzor] yakni dalam meriwayatkan hadits bertentangan dengan rawi yang lebih kuat darinya atau lebih banyak jumlahnya. Sedang mu'allal artinya memiliki cacat atau penyakit yang tersembunyi sehingga tampaknya tidak berpenyakit padahal penyakitnya itu membuat hadits itu lemah. -pen] dan kelima tidak mu'allal.

hasan mengatakan...

Kalaupun benar –padahal salah- apa yang dikatakan oleh Nurhasan bahwa ilmu harus musnad muttashil, mana syarat-syarat yang lain ? Kenapa hanya satu yang diambil ? Jangan-jangan dia sengaja disembunyikan karena memang tidak terpenuhi padanya !

Atau kalau kita berhusnudhon, ya mungkin tidak tahu syarat-syarat itu, atau lupa, apa ada kemungkinan lainnya lagi?? Dan semua kemungkinan itu pahit. Jadi tidak cukup sekedar musnad muttashil bahkan semua syaratnya harus terpenuhi dan tampaknya keempat syarat yang lain memang tidak terpenuhi sama sekali. Hal itu bisa dibuktikan apabila kita melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ajaran LDII, misalnya dalam hal imamah, bai'at, makmum sholat, zakat, dan lain-lain. Ini kalau kita anggap syarat Musnad Muttashil terpenuhi pada mereka, sebenarnya itu juga perlu dikaji.

g. Amal LDII dengan prinsip ini menyelisihi amal muslimin sejak Zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sampai saat ini.

h. Kenyataannya mereka hanya mementingkan MMM, tidak mementingkan keshahihan hadits, buktinya dalam buku himpunan mereka ada hadits-hadits dha'if, bahkan maudhu' (palsu). Lantas apalah artinya MMM kalau haditsnya tidak shahih karena rawinya tidak tsiqoh misalnya? [Contoh pada pembahasan terakhir -pen]

i. Dari siapa 'manqul' ini dimanqul? Kalau memang harus manqul bukankah 'metode manqul' itu juga harus manqul?? Karena ini justru paling inti, Nur Hasan atau para pengikutnya harus mampu membuktikan secara ilmiyah bahwa manqul ini 'dimanqul' dari Nabi, para sahabatnya dan para ulama ahli hadits. Kalau ia tidak bisa membuktikannya, berarti ia sendiri yang pertama kali melanggar kaidah manqulnya. Kalau ia mau buktikan, maka mustahil bisa dibuktikan, karena seperti yang kita lihat dan akan kita lihat - Insya Allah - ternyata manqul ini menyelisihi Nabi, para sahabat, dan ulama ahlul hadits.

hasan mengatakan...

j. Dalam ilmu Mushtholah al Hadits pada bab tahammul wal ada' (menerima dan menyampaikan hadits) terdapat cara periwayatan yang diistilahkan dengan al Wijadah. Yaitu seseorang mendapatkan sebuah hadits atau kitab dengan tulisan seseorang dengan sanadnya [al Baitsul Hatsits:125]. Dari sisi periwayatan, al wijadah termasuk munqothi' [Munqothi: terputus sanadnya. Mursal: terputus dengan hilangnya rawi setelah tabi'in. Mu'allaq: terputus dengan hilangnya rawi dari bawah sanad - pen], mursal [Ulumul hadits:86, Fathul Mughits:3/22] atau mu'allaq, Ibnu ash Sholah mengatakan: "Ini termasuk munqothi' dan mursal…", ar Rasyid al 'Atthor mengatakan: "Al wijadah masuk dalam bab al maqthu' menurut ulama (ahli) periwayatan".[Fathul Mughits:3/22]

Bahkan Ibnu Katsir menganggap ini bukan termasuk periwayatan, katanya: "Al Wijadah bukan termasuk bab periwayatan, itu hanyalah menceritakan apa yang ia dapatkan dalam sebuah kitab." [al Baitsul Hatsits:125]

Jadi al wijadah ini kalau menurut kaidah M.M.M-nya Nur Hasan tentu tidak terpenuhi kategorinya, sehingga tentu tidak boleh bahkan haram mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan cara al wijadah. Tetapi maksud saya disini ingin menerangkan pandangan ulama tentang mengamalkan ilmu yang didapat dengan al wijadah, ternyata disana ada beberapa pendapat:
a. Sebagian orang terutama dari kalangan Malikiyah (pengikut madzhab Maliki) melarangnya.
b. Boleh mengamalkannya, ini pendapat asy Syafi'i dan para pemuka madzhab Syafi'iyyah.
c. Wajib mengamalkannya ketika dapat rasa percaya pada yang ia temukan. Ini pendapat yang dipastikan ahli tahqiq dari madzhab as Syafi'iyyah dalam Ushul Fiqh. [lihat Ulumul Hadits karya Ibnu Sholah:87]

hasan mengatakan...

Ibnush Sholah mengatakan tentang pendapat yang ketiga ini: "Inilah yang mesti dilakukan di masa-masa akhir ini, karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadits yang dinukil (dari Nabi) karena tidak mungkin terpenuhinya syarat periwayatan padanya." [Ulumul Hadits:87] Yang beliau maksud adalah hanya al wijadah yang ada sekarang. [al Baitsul Hatsits: 126]
An Nawawi mengatakan: 'Itulah yang benar' [Tadriburrawi:1/491], demikian pula As Sakhowi juga menguatkan pendapat yang mewajibkan. [Fathul Mughits:3/27]
Ahmad Syakir mengatakan: yang benar wajib (mengamalkan yang shahih yang diriyatkan dengan al wijadah). [al Baitsul Hatsits: 126]

Tentu setelah itu disyaratkan bahwa penulis kitab yang ditemukan (diwijadahi) adalah orang yang terpercaya dan amanah dan sanad haditsnya shahih sehingga wajib mengamalkannya. [al Baitsul Hatsits:127] Ali Hasan mengatakan: Itulah yang benar dan tidak bisa terelakkan, seandainya tidak demikian maka ilmu akan terhenti dan akan kesulitan mendapatkan kitab, akan tetapi harus ada patokan-patokan ilmiyah yang detail yang diterangkan para ulama' dalam hal itu sehingga urusan tetap teratur pada jalannya [Al Baitsul Hatsits:1/368 dengan tahqiqnya]. Dengan demikian pendapat yang pertama tidak tepat lebih-lebih di masa ini. Diantara yang mendukung kebenaran pendapat yang membolehkan atau mewajibkan adalah berikut ini Nabi bersabda:
-أي الخلق أعجب إليكم إيمانا ؟قالوا : الملائكة.قال: وكيف لايؤمنون وهم عند ربهم وذكروا الأنبياء،فقال: وكيف لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم ؟!قالوا : ونحن فقال: وكيف لاتؤمنون وأنا بين أظهركم. قالوا فمن يا رسول الله؟ قال قوم يأتون من بعدكم يجدون صحفا يؤمونو بما فيها

hasan mengatakan...

artinya: "Makhluk mana yang menurut kalian paling ajaib imannya?" Mereka mengatakan: "Para malaikat." Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan: "Bagaimana mereka tidak beriman sedang mereka di sisi Rabb mereka?". Merekapun (para sahabat) menyebut para Nabi, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallampun menjawab: "Bagaimana mereka tidak beriman sedang wahyu turun kepada mereka". Mereka mengatakan: "Kalau begitu kami?" Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Bagaimana kalian tidak beriman sedang aku ditengah-tengah kalian." Mereka mengatakan : "Maka siapa Wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya." [HR Ahmad, Abu Bakar Ibnu Marduyah, ad Darimi, al Hakim dan Ibu 'Arafah, Ali Hasan mengatakan: Cukuplah Hadits itu dalam pandangan saya sebagai Hadits Hasan lighoirihi (bagus dengan jalan-jalan yang lain), semua jalannya lemah namun lemahnya tidak terlalu sehingga dihasankan dengan seluruh jalan-jalannya. Dan al Haitsami dalam al Majma:10/65 serta al Hafidz dalam al Fath:6/7 cenderung kepada hasannya hadits itu. [al Baitsul Hatsits:1/369 dengan tahqiqnya], maraji': Ad Dho'ifah:647-649, syekh al Albani cenderung kepada lemahnya, Fathul Mughits:3/28 ta'liqnya, Al Mustadrak:4/181, musnad Ahmad:4/106, Sunan ad Darimi:2/108, Ithaful Maharoh:14/63. Tafsir Ibnu Katsir:1/44 Al Baqarah:4- pen]

hasan mengatakan...

- Amalan Ibnu Umar, dimana beliau meriwayatkan dari ayahnya dengan al wijadah, al Khatib al Baghdadi dalam bukunya [al kifayah:354] meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Nafi, dari Ibnu Umar, أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب صحيفة فيها ليس فيما دون خمس من ا لابل صدقة فإذا كانت خمسا ففيها شاة
'Bahwa beliau mendapatkan pada gagang pedang umar sebuah lembaran (tertulis) 'Tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari lima, kalau jumlahnya 5 maka zakatnya satu kambing jantan…'
- Abdul Malik bin Habib atau Abu Imran al Jauni beliau adalah seorang Tabi'in yang Tsiqoh (terpercaya) seperti kata al Hafidz Ibnu Hajar dalam [at Taqrib:621], beliau mengatakan: "Kami dulu mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat padanya ilmu, maka kamipun silih berganti mendatanginya, bagaikan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih." [Al Kifayah:355 dan Fathul Mughits:3/27]

Bila seperti ini keadaannya maka seberapa besar faidah sebuah sanad hadits yang sampai ke para penulis Kutubus Sittah di masa ini, toh tanpa sanad inipun kita bisa langsung mendapatkan buku mereka. Dan kita dapat mengambil langsung hadits-hadits itu darinya, walaupun tanpa melalui sanad 'muttashil musnad manqul' kepada mereka. Dan wajib kita mengamalkannya seperti anda lihat keterangan di atas.

Tidak seperti yang dikatakan Nur Hasan bersama LDIInya bahwa tidak boleh mengamalkanya bahkan itu haram!! Subhanallah, pembaca melihat ternyata dalil dan para ulama menyelisihi mereka, jadi dari mana 'manqulmu' dimanqul?? Ahmad Syakir mengatakan: "Dan kitab-kitab pokok kitab-kitab induk dalam sunnah Nabi dan selainnya, telah mutawatir periwayatannya sampai kepada para penulisnya dengan cara al wijadah.

hasan mengatakan...

Demikian pula berbagai macam buku pokok yang lama yang masih berupa manuskrip yang dapat dipercaya, tidak meragukannya kecuali orang yang lalai dari ketelitian makna pada bidang riwayat dan al wijadah atau orang yang membangkang, yang tidak puas dengan hujjah.[Al Baitsul Hatsits:128].

Oleh karenanya para ulama yang memiliki sanad sampai penulis Kutubus Sittah, tidak membanggakan sanad mereka apabila amalannya tidak sesuai dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Bahkan mereka tidak pernah pamer, tidak pula mereka memperalatnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok, karena mereka tahu hakekat kedudukan sanad pada masa ini., berbeda dengan yang tidak tahu sehingga memamerkan, memperalat dan…dan…

k. Juga, untuk membuktikan benar atau salahnya ajaran manqul. Kita perlu membandingkan ajaran LDII dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Seandainya manqulnya benar maka tentu ajaran LDII akan sama dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya, kalau ternyata tidak sama maka pastikan bahwa manqul dan ajaran LDII itu salah, dan ternyata itulah yang terbukti.

hasan mengatakan...

Berikut ini pokok-pokok ajaran LDII yang berbeda dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya:
- Dalam hal memahami bai'at dan mengkafirkan yang tidak bai'at.
- Dalam hal mengkafirkan seorang muslim yang tidak masuk LDII
- Dalam hal manqul itu sendiri
- Dalam aturan infaq
- Menganggap najis selain mereka dari muslimin
- Menganggap tidak sah sholat dibelakang selain mereka
- Begitu gampang memvonis seseorang di Neraka padahal dia muslim
- Menganggap tidak sahnya penguasa muslim jika selain golongannya
- Dan lain-lain
[perincian masalah-masalah ini sebagiannya telah kami jelaskan dalam makalah yang lain, dan yang belum akan menyusul insyaallah, tunggulah saatnya!! -pen]
l. Sanad Nur hasan Ubaidah [Seputar sanad Nur Hasan atau Ijazah haditsnya ini banyak cerita unik di kalangan LDII, konon hadits-haditsnya hilang waktu naik becak, yang disampaikan kepada pengikutnya hanya 6.-pen], dalam kitab himpunan susunan LDII pada Kitabush Sholah hal. 124-125 yang sampai kepada Imam at Tirmidzi pada hadits Asma' wa Shifat Allah, ternyata hadits itu adalah hadits lemah, Ibnu Hajar mengatakan: "'Illah (cacat) hadits itu menurut dua syaikh (al Bukhari dan Muslim). Bukan hanya kesendirian al Walid ibnu Muslim (dalam meriwayatkannya), bahkan juga adanya ikhtilaf (perbedaan periwayatan para rawinya), idlthirab (kegoncangan akibat perbedaan itu), tadlis (sifat tadlis pada al Walid ibnu Muslim yaitu mengkaburkan hadits) dan kemungkinan adanya idraj (dimasukkannya ucapan selain Nabi pada matan hadits itu [Fathul Bari, syarah al Bukhari:11/215].). Jadi cacat/'illah/kelemahan hadits itu ada 5 sekaligus, yaitu tafarrud, ikhtilaf, idlthirab, tadlis dan idraj." Imam At Tirmidzipun merasakan kejanggalan pada hadits ini, dimana beliau setelah menyebutkan hadits ini mengatakan: 'Gharib' (aneh karena adanya tafarrud/kesendirian dalam riwayat) [Sunan at Tirmidzi:5/497, no:3507], demikian pula banyak para ulama menganggap lemah hadits ini seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, al Bushiri, Ibnu Hazm, al Albani dan Ibnu Utsaimin. [lihat al Qowa'idul Mutsla:18 dengan catatan kaki Asyraf Abdul Maqshud]. Hadits yang shahih dalam masalah ini adalah tanpa perincian penyebutan Asma'ul Husna dan itu diriwayatkan al Bukhari dan Muslim

hasan mengatakan...

Kajian keyakinan kedua, bahwa dialah satu-satunya jalan manqul…

Apa ini bukan kesombongan, kebodohan serta penipuan terhadap umat?!. Karena sampai saat ini sanad-sanad hadits itu masih tersebar luas di kalangan tuhllabul ilmi, mereka yang belajar hadits di Jazirah Arab, Saudi Arabia dan negara-negara tetangganya, di Pakistan, India atau Afrika, baik yang belajar orang Indonesia atau selain orang Indonesia, mereka banyak mendapatkan Ijazah [Bukan ijazah tamat sekolah, tapi ini istilah khusus dalam ilmu riwayat hadits. Yaitu ijin dari syekh untuk meriwayatkan hadits - pen] riwayat Kutubus Sittah dan yang lain termasuk diantaranya adalah penulis makalah ini. Kalau dia konsekwen dengan ilmu manqulnya, lantas mengapa dia anggap dirinya satu-satunya jalan manqul?? Sehingga kalian - wahai pengikut LDII - mengkafirkan yang tidak menuntut ilmu dari kalian, termasuk mereka yang mengambil ilmu dari negara-negara Arab dari ulama/syaikh-syaikh yang punya sanad, padahal mereka mendapat sanad, ternyata kalian kafirkan juga?!

Asy Syaikh al Albani dan murid-muridnya di Yordania, asy Syaikh Abdullah al Qar'awi dan murid-muridnya, asy Syaikh Hammad al Anshari dan murid-muridnya di Saudi Arabia, asy syaikh Muqbil di Yaman, asy Syaikh Muhammad Dhiya'urrahman al 'Adhami dari India dan murid-muridnya, dan masih banyak lagi yang lain tak bisa dihitung. Merekapun punya sanad Kutubus Sittah dan selainnya sampai kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, tapi mereka tidak seperti kalian, wahai Nur Hasan dan pengikutnya. Mereka tahu apa arti sebuah sanad di masa ini, dan perlu diketahui bahwa semua mereka aqidahnya berbeda dengan aqidah kalian, wahai penganut LDII. Mana yang benar, wahai orang yang berakal??

(Bersambung ke Membongkar kesesatan LDII : Bantahan Manqul (2)

hasan mengatakan...

Tulisan tentang mankul diatas Dikutip dari tulisan al Ustadz Qomar Zainuddin, Lc, pimpinan Pondok Pesantren Darul Atsar, Kedu, Temanggung serta Pimred Majalah Asy Syariah. Judul asli Antara Al Qur'an, Al Hadits dan 'Manqul'.

hasan mengatakan...

Membongkar Kesesatan LDII : Bantahan Manqul (2)
Ahad, 21 Agustus 2005 - 11:20:31 :: kategori Firqoh-Firqoh
Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc
.: :.
Dalil-dalil Manqul LDII

Disini akan kami sebutkan dalil-dalil mereka dalam hal manqul dan akan kami jelaskan kedudukan dalil atau pemahaman dari dalil itu - Insya Allah - .

Diantara dalil mereka:
Pertama,
Firman Allah Ta'ala:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِه ِ(16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَه ُ(18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ(19(
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak secepat-cepatnya (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, atas tanggungan kamilah penjelasannya. [Al Qiyamah:16-19]

وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ ...(114)
"Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu." [Thaha:114]

Kajian
Ibnu Katsir mengatakan: firman Allah …ولا تعجل بالقرآن seperti firman Allah dalam surat (al Qiyamah) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ …لاتحرك به لسانك…terdapat riwayat dalam kitab Ash Shahih dari Ibnu Abbas, bahwa beliau mengatakan: "Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengalami usaha yang payah dalam menghafal wahyu, sehingga beliau menggerak-gerakkan lidahnya (untuk menghafal-pent), maka Allah turunkan ayat ini. Yakni bahwa Nabi dulu, jika datang kepada beliau Malaikat Jibril dengan wahyu maka setiap kali Jibril mengucapkan satu ayat Nabi menirukannya karena semangatnya untuk menghafal, maka Allah bimbing kepada yang lebih mudah dan ringan supaya tidak berat baginya, sehingga Allah berfirman (yang artinya): "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak secepat-cepatnya (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya" Yakni, Kami jadikan itu hafal di dadamu, lalu kamu (nanti) bacakan kepada umat manusia dan kamu tidak akan lupa sedikitpun. "Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, atas tanggungan kamilah penjelasannya".

hasan mengatakan...

Dan dalam ayat ini, Allah berfirman(artinya) : "Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu".Yakni diamlah kamu dan dengarkan, jika malaikat selesai membacakannya kepadamu maka bacalah setelahnya …[Tafsir Ibnu Katsir : 3/175]. Jadi ayat ini menerangkan bagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menerima wahyu dan bahwa nabi disuruh membaca setelah bacaannya Jibril. Namun orang-orang LDII menyimpulkan bahwa kalau begitu harus manqul dalam belajar, kalau tidak maka tidak sah. Pertanyaan kami, mana yang mengatakan bahwa jika tidak demikian, maka tidak sah?? Bahkan sampai dianggap kafir??.

Lalu seandainya cara demikian itu wajib tentu Nabi akan praktekkan kepada semua orang, tapi ternyata tidak, buktinya surat-menyurat Nabi dengan para raja. Kemudian tentu para Sahabat juga akan mengikutinya, tapi ternyata tidak buktinya surat menyurat mereka [lihat dalam pembahasan Mukatabah di atas dan al Wijadah]. Lihat pula bagaimana ulama mengambil pelajaran dari ayat itu. As Sa'dy mengatakan: "Dalam ayat ini ada adab menuntut ilmu agar seorang murid jangan memotong guru dalam masalah yang sedang dia mulai terangkan, lalu jika guru selesai maka baru ia bertanya yang belum paham.

Demikian pula jika di awal penjelasan ada yang mengharuskan untuk dibantah atau dinilai baik, maka jangan langsung dibantah atau dinyatakan diterima sampai ia selesai menjelaskannya, supaya jelas yang benar dan yang salah …" [Tafsir as Sa'dy : 899, lihat pula hal. 514].

Tidak ada faidah yang diambil dari ayat itu bahwa ilmu itu wajib manqul, dimana kalian dari penjelasan ulama tafsir, justru kalian tafsiri dari diri kalian sendiri !??.

hasan mengatakan...

Kedua,
Firman Allah Ta'ala:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (36(
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya sesungguhnya pendengaran, pengelihatan, dan hati seluruhnya itu akan ditanya tentangnya" [al Isra:36]

Kajian
Tafsir ayat ini, Qatadah mengatakan: "Jangan kamu katakan bahwa kamu melihat sementara kamu tidak melihat, mendengar sementara kamu tidak mendengar, mengetahui sementara kamu tidak mengetahui karena Allah akan bertanya kepadamu tentang itu semua." Ibnu Katsir mengatakan: "Kandungan tafsir yang mereka (para ulama) sebutkan adalah bahwa Allah melarang untuk berbicara tanpa ilmu bahkan sekedar dengan sangkaan yang itu hanyalah perkiraan dan khayalan [Tafsir Ibnu Katsir:3/43] demikian tafsir para ulama. Maka dari sisi mana dan atas dasar tafsir siapa ayat ini sebagai dasar sistem manqul ala LDII ??? Sementara para ulama' tidak kenal sama sekali sistem manqul seperti itu.

Ketiga,
من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ
'Barangsiapa membaca/mengartikan Al Quran dengan pendapatnya sendiri (tanpa manqul), walaupun benar maka sungguh-sungguh hukumnya tetap salah (HR Abu Daud) (Ini terjemah LDII dinukil dari Bahaya LDII hal. 254)

[Arti yang benar lebih umum dari pada itu mencakup menafsiri al Quran. Ubaidullah al Mubarakfuri mengatakan: Yakni, berbicara tentang lafadznya, bacaanya, maknanya dan kandungannya. [Mir'atul mafatif syarh Misykatul Mashabih:1/330]-pen]

hasan mengatakan...

Kajian
Hadits ini lemah, diriwayatkan oleh Abu Dawud [Kitabul 'Ilm:4/43], Tirmidzi [5/184], Nasa'i [Sunan Kubra kitab Fadhailul Quran:5/31], Ibnu Jarir at Thabari [dalam tafsirnya:1/25]. Semuanya melalui jalan (sanad yang sampai kepada) Suhail bin Mihran bin Abi Hazm al Qutha'i. [Dalam kitab Taqributtahdzib: (kunyahnya) Abu Abdillah dikatakan pula bahwa ayahnya adalah Abdullah al Qutha'i - pen] Dari Abu 'Imran (Abdul Malik bin Habib) al Jauni, dari Jundab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa Nabi mengatakan:…(hadits tersebut)

Hadist tersebut 'illahnya pada Suhail bin Mihran bin Abi Hazm al Qutha'i. Imam Ahmad, Ibnu Ma'in, al Bukhari dan yang lain mencacatnya (Tahdzibut tahdzib:4/261) dan Ibnu Hajar mengatakan: Dha'if (lemah). (Taqribut tahdzib:421). Demikian, sanad hadits ini lemah karena ada seorang rawi yang dha'if.

Asy syekh al Albani mengatakan tentang hadits ini: Dha'if [Dha'if, Sunan Abu Dawud:3652, hal.294 dan Miyskatul Mashabih, no:235], al Baihaqi mengatakan: Pada hadits ini ada kritikan ['Aunul Ma'bud:10/85].

Keempat,
من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار
'Barangsiapa membaca Al Quran tanpa berilmu atau manqul maka hendaknya menempati tempat duduknya di neraka' (HR Tirmidzi) (Ini terjemah LDII dinukil dari Bahaya LDII hal. 254)
[Terjemah yang benar bukan membaca bahkan lebih umum dari pada itu termasuk menafsiri atau menerjemahkannya, lihat al Kifayah fi 'Ilmirriwayah:343-pen]

hasan mengatakan...

Demikian derajat hadits ini, seandainyapun shahih, maka bukan artinya harus manqul seperti dipahami dan diterjemahkan demikian oleh LDII, tidak ada kata manqul dari tidak mengandung makna manqul sama sekali. Arti yang benar pada hadits pertama (dengan pendapatnya) dan pada hadits kedua (tanpa ilmu) tetapi mereka menafsirinya dengan tanpa manqul, bukankah ini manipulasi makna hadits. Kalau begitu apa sebetulnya makna hadits itu bila shahih, untuk itu kami akan nukilkan penjelasan ulama.

Dalam kitab Aunul Ma'bud, Syarah Sunan Abu Dawud disebutkan: "(dengan ra'yunya/pendapatnya) yakni sekedar dengan akalnya dan dari dirinya sendiri tanpa meneliti ucapan para Imam dari ulama ahli bahasa Arab yang tidak sesuai dengan kaidah syar'iyyah, bahkan dia sesuaikan dengan akalnya, padahal (pemahaman terhadap ayat atau maknanya) tergantung pada naqli. [10/85] Al Baihaqi mengatakan: "Jika hadits ini shahih, maka Nabi memaksudkan –wallahu a'lam- pendapat akal yang lebih dominan di qalbunya tanpa dalil yang mendukungnya. Adapun pendapat yang didukung oleh dalil maka boleh. Beliau juga mengatakan, bisa jadi maksudnya orang yang mengatakan dengan pendapat akalnya tanpa mengetahui prinsip-prinsip ilmu dan cabang-cabangnya [idem]. Makanya, kami nasehatkan jangan terkungkung pada kitab himpunan saja, lihat buku ulama, syarah kutub sittah dari ulama, bukan syarah 'paku bumi' dan imam LDII saja. Para ulama yang mensyarah Kutubus Sittah itu, mereka punya sanad sampai ke Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan sanadnya lebih tinggi dan lebih shahih - Insya Allah - .

hasan mengatakan...

Dengan demikian ra'yu itu ada dua macam:
1. Ra'yu yang sesuai dengan bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya, sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah dengan memperhatikan seluruh syarat-syarat tafsir. Maka menafsiri al quran dengan itu boleh.
2. Ra'yu tidak sesuai dengan aturan bahasa Arab, tidak sesuai dengan dalil syar'i serta tidak memenuhi syarat-syarat tafsir, maka ini tidak boleh [At Tafsir wal Mufassirun:1/264]
Ibnu Qoyyim juga membagi ra'yu menjadi dua, yang terpuji dan yang tercela [lihat Al Intishor li Ahlil Hadits hal. 23-34, lihat pula hal. 13 dan At Tafsir wal Mufassirun:1/264]. Dan terakhir simaklah ucapan An Naisaburi: "Tidak boleh hadits ini dimaksudkan bahwa; Jangan sampai seorangpun mengatakan pada Al Quran kecuali apa yang ia dengar (yaitu manqul dalam istilah LDII-pent)". Karena para Sahabat mereka telah menafsirkan Al Quran dan mereka berselisih pendapat pada beberapa masalah dan tidaklah semua yang mereka katakan itu mereka dengar dari Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam…[Mir'atul Mafatih:1/330].

Bukankah ini pukulan telak buat kalian wahai para pengikut LDII?! Sungguh tafsir kalian sangat bertentangan dengan ulama'. Maka benar apa yang dikatakan Ibnu Taimiyyah bahwa ahli bid'ah berhujjah dengan sebuah dalil, padahal dalil itu menghujat mereka.

Kelima,
تعمل هذه الأمة برهة بكتاب الله ثم تعمل برهة بسنة رسول الله ثم تعمل بعد ذلك بالرأي فإذا عملوا بالرأي ضلوا
Umat ini sesaat akan mengamalkan berdasarkan kitab Allah kemudian sesaat mengamalkan berdasarkan sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian setelah itu mengerjakan dengan pendapatnya maka jika mereka mengamalkan dengan pendapat mereka sesat. [HR Abu Ya'la]

hasan mengatakan...

Kajian
Hadits ini lemah, diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam Jami' Bayanil Ilm wa Fadhlihi no:1998, 1999, dari sahabat Abu Hurairah, Abul Aysbal mengatakan: "Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dalam Musnadnya:10/240 no:5856" dan Al Khatib meriwayatkan dari jalannya dalam kitab Al Faqih wal Mutafaqqih:2/179, kata beliau : "Telah mengkhabarkan kepada kami al Hudzail bin Ibrahim al Jummani, ia mengatakan: Telah mengkhabarkan kepada kami Utsman bin Abdurrahman dengannya". Sanad ini lemah sekali. Utsman bin Abdurrahman az Zuhri al Waqqoshi disepakati, bahwa haditsnya dibuang bahkan Ibnu Ma'in menganggapnya pemalsu hadits demikian pula dikatakan oleh al Haitsami dalam al Majma':1/179. Ada mutaba'ah (dukungan) buat Utsman bin Abdurrahman yaitu dari Hammad bin Yahya al Abah, Ibnu Hajar mengatakan: "Hafalannya kurang kuat dan suka keliru", diriwayatkan pula oleh al Khatib dalam Al Faqih wal Mutafaqqih :2/179 dari dua jalan melalui Jubarah. Dan disana ada 'illah (kelemahan lain) yaitu lemahnya Jubarah Ibnu al Mughallis. Jadi hadits itu dengan dua jalannya tetap tidak shahih Wallahu a'lam [lihat Jami Bayanil Ilm wa Fadhlihi: 2/1039-1040 dengan tahqiq Abul Asybal]

Ibnu Abdil Bar mengatakan: "Ulama berbeda pendapat dalam hal Ra'yu yang tercela tersebut, sebagian kelompok mengatakan: Ra'yu yang tercela adalah bid'ah yang menyelisihi sunnah dalam hal aqidah, serta yang lain -mereka adalah mayoritas ahlul ilmi- mengatakan: Adalah berbicara dalam hukum syari'at agama dengan sekedar anggapan baik dan prasangka." [lihat selengkapnya dalam Jami Bayanil Ilm wa Fadhlihi:2/1052,1054]. Demikian pendapat ulama tentang ra'yu yang dimaksud tidak satupun menafsirinya 'tidak manqul'. [lihat pula kitab Mir'atul Mafatih]

Keenam,
تسمعون ويسمع منكم ويسمع ممن سمع منكم
'Kalian mendengar dan akan didengarkan dari kalian dan akan didengarkan dari orang yang mendengarkan dari kalian'

hasan mengatakan...

Kajian
Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud: 3659, Ahmad:1/321, Ibnu Hibban:1/263 Al Hakim:195 al Khatib dalam Syaraf Ashabul Hadits dan Ar Ramahurmuzi dalam Muhadditsul Fashil:92, semuanya melalui jalan Al A'masy dari Abdullah bin Abdullah ar Razi, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau mengatakan ….(Hadits itu)… Diriwayatkan pula melalui jalan lain oleh Al Khatib dalam Syarof Ashabul Hadits dan Ar Ramahurmuzi dalam Muhadditsul Fashil:91, Al Bazzar dan At Tabrani. [lihat perinciannya dalam Silsilah al Ahadits Ash Shahihah, no:1784]

Al Hakim mengatakan: "Shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim dan tidak diriwayatkan oleh keduanya, tidak ada 'iilah padanya " [Ithaful Maharah:7/192] dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Namun Asy Syaikh al Albani tidak setuju bila dikatakan sesuai dengan syarat al Bukhari dan Muslim, karena Abdullah bin Abdullah bukan merupakan rawi Bukhari dan Muslim, namun hadits itu tetap Shahih sedang al 'Ala'i menghasankannya. [lihat Shahih Sunan Abu Dawud:3659 dan Ash Shahihah:1784]

Demikian derajat hadits itu, tapi dimanakah yang menunjukan bahwa musnad muttashil lebih-lebih 'manqul' ala LDII itu syarat sahnya ilmu?! Bukankah yang namanya syarat di dalam ilmu Ushul Fiqih artinya 'Bila syarat sesuatu tidak terpenuhi maka sesuatu itu tidak sah'.!! Manakah dalam hadits itu yang menunjukan bahwa bila tidak manqul maka ilmu itu tidak sah. Hadits itu hanya berisi anjuran atau perintah untuk menyampaikan, tidak terdapat padanya syarat sahnya ilmu itu harus dengan manqul, oleh karenaya Abu Dawud memberikan judul pada hadits ini 'Bab Keutamaan Menyebarkan Ilmu'. Dan para ulama tidak memahami hadits ini seperti pemahaman LDII buktinya Abu Dawud Ibnu Hibban al Hakim dan ulama yang kita sebut di atas, tidak ada yang berpemahaman seperti LDII.

Ketujuh,
الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء
'Isnad/sanad itu termasuk dari agama kalaulah bukan karena sanad tentu sembarang orang akan mengatakan semaunya'.

hasan mengatakan...

Kajian
Ini adalah ucapan Abdullah Ibnul Mubarak diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 dan ar Ramahurmuzi dalam al Muhadditsul Fashil:96 dan al Khotib dalam Syaraf Ashhabul Hadits.

Mereka menganggap ucapan itu sebagai dasar teori manqul, ini tentu tidak sesuai dengan nash ucapan Ibnul Mubarak itu sendiri. Ucapan itu menerangkan keutamaan sanad dan sanad itu lebih umum dari pengertian manqul ala LDII di antara sanad adalah Al Mukatabah seperti yang kami terangkan di atas. Dan tidak mengandung sama sekali keharusan untuk manqul, juga tidak ada larangan mengambil ilmu tanpa manqul, demikian pula beliau ucapkan kata-kata ini di zaman beliau dan beliau meninggal pada tahun 181 H. Berbeda keadaannya dengan keadaan sekarang, oleh karenanya kita dapati para ulama mengatakan bahwa mengamalkan ilmu yang diambil dengan al wijadah, padahal itu tidak sekuat al Mukatabah wajib sebagaimana perincian dalam bahasan al wijadah di atas.

Kedelapan,
إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذوا دينكم
'Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah oleh kalian dari mana kalian mengambil agama kalian.'

Kajian
Ini adalah ucapan Muhammd bin Sirin diriwayatkan Imam Muslim dalam Muqoddimah Shahihnya:26, 1/44 Atsar (ucapan Tabi'in) ini mengandung bagaimana memilih guru agama yaitu memilih yang baik yang sesuai dengan sunnah Nabi, dan tidak sama sekali mengandung keharusan untuk manqul serta tidak ada di dalamnya larangan mengambil ilmu tanpa manqul.

hasan mengatakan...

Kesimpulan:
Demikian dalil-dalil mereka, semuanya tidak tepat sebagai dalil. Adapun ayat Al Quran mereka tafsiri dari diri mereka sendiri, berbeda dengan ulama tafsir, makanya mereka tidak menyebutkan referensi tafsir dalam menerangkan ayat-ayat itu. Nah, bukankah ini artinya menafsiri Al Quran dengan ra'yu ?!! Mereka menuduh orang lain bicara hal agama dengan ra'yu, ternyata justru diri merekalah yang melakukannya ?!!

Dalil-dalil yang kalian pakai untuk menyerang selain golongan kalian justru itu senjata makan tuan dan bumerang bagi kalian sendiri. Kalian mengharuskan manqul dan melarang dengan ra'yu, pada kenyataannya bahkan kalianlah yang memakai ra'yu dalam agama ini, dimana kalian tafsirkan ayat dan hadits semau kalian dan tidak sesuai dengan pemahaman ulama. Dan kalau mereka (LDII) mengkafirkan seseorang yang mereka anggap pakai ra'yu, tidakkah vonis kafir itu juga mengenai mereka sendiri?! Karena mereka juga pakai ra'yu. Ingat ketika kau vonis kafir seseorang dan kau tunjuk dengan jari telunjukmu bukankah 4 jarimu menunjuk pada dirimu sendiri.?!

Saya tidak mengkafirkan kalian, namun saya hanya ingin mengingatkan bahayanya mengkafirkan seseorang, yang bisa jadi vonis kekafiran itu justru akan kembali kepada dirinya sendiri seperti dalam hadits Nabi
أيما رجل قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما
"Barangsiapa mengatakan kepada Saudaranya : Wahai orang kafir maka (hukum) tersebut akan kembali kepada salah satu dari keduanya" [HR Bukhari dan Muslim…]

hasan mengatakan...

Adapun dalil dari hadits maka sebagiannya shahih dan sebagiannya dha'if dan semuanya mereka pahami dengan pemahaman yang salah, sehingga menjadi bumerang buat mereka sendiri. Terakhir dalil dari ucapan para ulama yang lagi-lagi mereka tafsiri sesuai kepentingan mereka. Kalaupun seandainya maksud ulama itu sesuai dengan maksud mereka –dan itu tidak mungkin- maka ucapan ulama bukan hujjah! Hujjah itu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wasallam.

Contoh Hadits-Hadits Dha'if

Sekilas saya melihat buku 'Himpunan' susunan LDII Kitabush Sholah maka saya dapati beberapa hadits dha'if, bahkan ada yang maudhu' diantaranya:
إقرؤوا على موتاكم يس
"Bacalah pada mayit-mayit kalian surat Yasin" hal.147.

Hadits ini Riwayat Abu Dawud Ibnu Majah dan lain-lain, didalamnya terdapat tiga cacat:
- Kemajhulan (tidak ada rekomendasi/komentar dari ulama ahli hadits) rawinya yang bernama Abu Utsman.
- Kemajhulan ayahnya.
- Idlthirab (kegoncangan pada sanadnya)
Hadit ini didha'ifkan oleh Ibnul Qhaththan, Ad Daruqhuthni dan Al Albani. Lihat perinciannya dalam Irwa'ul Ghalil karya al Albani hadits no:688.

من قرأ يس في ليلة أصبح مغفورا له...
"Barangsiapa yang membaca Yasin dalam satu malam maka di pagi harinya dalam keadaan diampuni dosanya", Kitabush shalah, hal.146. Asy Syaikh al Albani mendho'ifkannya dalam Dha'iful Jami':5787.

من قرأ يس كتب الله بقرائتها قرآءة القرآن عشر مرات
"Barangsiapa yang membaca Yasin maka Allah tuliskan dengan membacanya sama dengan membaca Al Quran 10 kali", hal.146.

hasan mengatakan...

Asy Syekh al Albani mengatakan: Maudhu' (palsu) karena ada rawi yang bernama Harun Abi Muhammad, azd Dzahabi menuduhnya sebagai pendusta [lihat perinciannya dalam Silsilah al Ahadits adh Dhaifah, no:169]

كان إذا أفطر قال اللهم لك صمت وعلى رزقك افطرت
"Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bila berbuka membaca Allahumma laka shumtu…" , Kitabush shalah hal.134.
Hadits ini Riwayat Abu Dawud, mursal dan mursal termasuk dha'if. Mursal karena Muadz bin Zuhrah bukan sahabat, lalu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam…, bahkan dia juga tergolong majhul. [lihat perinciannya dalam Irwa'ul Ghalil no:919], asy syekh al Albani mengatakan: "Dha'if". Mana persyaratan Musnad Muttashil (MM) di hadits ini dan hadits setelahnya wahai kaum LDII?!

Hadits khutbah Jum'ah hal 104 dan seterusnya, dari riwayat Abu 'Ubaidah dari Abdullah bin Mas'ud, ternyata lemah, karena sanadnya terputus antara keduanya, dimana Abu Ubaidah tidak mendengar dari Abdullah bin Mas'ud. Anehnya mereka sendiri menyebutkan ucapan Abu Abdurrahman/Imam An Nasa'i dalam hal ini, lalu mengapa mereka tetap memakai hadits itu?! Lihat hal.105 : قال أبو عبد الرحمن أبو عبيدة لم يسمع من أبسه شيئا... "Abu Abdurrahman (An Nasa'i) mengatakan: Abu Ubaidah tidak mendengar hadits dari ayahnya (Ibnu Mas'ud) sedikitpun"

hasan mengatakan...

Demikian pula hadits Asma wa Sifat pada hal.124 dan kita sudah terangkan sisi kelemahannya diatas.

Perlu dikaji kembali bahwa syarat shahihnya hadits ada lima sebagaimana penjelasan pada halaman 4, sehingga tidak cukup dengan musnad atau muttashil saja, dan betapa banyak hadits yang musnad atau muttashil tapi dha'if atau bahkan maudhu'!!

Demikian sekilas kami melihat dan hanya dalam Kitabus Shalat, bagaimana bila seseorang benar-benar meneliti satu-persatu dan pada semua kitab himpunan mereka.

Mari kembali kepada kebenaran sebelum ajal menjemput…
Bila anda tidak terima penjelasan ini…
Ku tunggu jawaban ilmiyah anda.
qomar77 @ telkom.net
kunjungi www.asysyariah.com

Wallahul musta'an

(Dikutip dari tulisan al Ustadz Qomar Zainuddin, Lc, pimpinan Pondok Pesantren Darul Atsar, Kedu, Temanggung serta Pimred Majalah Asy Syariah. Judul asli Antara Al Qur'an, Al Hadits dan 'Manqul'.)

Anonim mengatakan...

mas yg diatas, knapa ga ngasi link-nya aja.
posting disini ma kepanjangan, bacanya juga hoream

Anonim mengatakan...

Sesungguhnya petunjuk itu adalah petunjuk Allah..

semoga Allah merahmati saudara2ku di 354 yang murni hatinya, ingin menetepi kebenaran, ingin masuk surga firdaus...

semoga dakwah salafiyah, beribadah sesuai dengan manhaj salafussoleh bisa segera masuk kedalam hati anda2 sekalian. semua demi keselamatan dan kebaikan bersama.

tidak ada aibnya menisbatkan diri kepada manhaj salaf, karena tidaklah ada manhaj salaf itu kecuali al haqq (Ibn Taimiyyah)

adapun segelintir teman2 di 354 yang menghembuskan syubhat bahwa salafi di indonesia tidaklah sama dengan di saudi.. maka hendaknya mereka takut kepada Allah atas tuduhan2 yang keji itu. dan hendaknya mereka melihat siapa yang mereka tuduhkan itu. apakah orang2 yang cuman ngaku2 salaf? atau betul2 yang memperjuangkan kemurnian ibadah..

jangan terkecoh. ada orang2 yang cuman ngaku salaf. Wahdah Islamiyyah, misalnya, sekarang ngakunya salaf.. :))

jadi klaim2 salafi indon, itu hanya keluar dari orang2 yang tidak menemukan sumber agama dari guru yang baik dan betul2 memurnikan..

nb: berdoalah utk keselamatan. jangan hanya berdoa "utk ditetapkan di ldii", karena belum tentu ldii itu adalah jalan keselamatan. berdoalah dan terus berdoa, minta keselamatan dan hidayah kepada Allah..

Anonim mengatakan...

Kholiiiilllll Apakah kamu masih mau menyesatkan JAMAAH???!!!
Dengan kamu membawa keterangan yang benar dari para syaikh yang kamu datangi, apakah kamu masih akan memberikan keterangan PALSU hanya untuk menghidupi keluargamu, ingatlah pada JAMAAH yang kamu sesatkan jika kamu masih memberikan keterangan palsu!!!!
Apakah masih kurang keterangan dari Syaikh Bazmul yang notabene adalah gurumu!!!
Mau apalagi!!!!

Anonim mengatakan...

Alhamdulillah Ya...Allah....(dah gak bisa berkata-kata lagi)

Anonim mengatakan...

jamaah 354 itu lebih percaya pada pusat yang jelas-jelas ketahuan dan terbukti melakukan kebohongan akidah dan penyimpangan informasi pada ru'yahnya dibandingkan 'orang luar' yang menyampaikan kebenaran yang dilengkapi hujjah yang kuat, bukti yang nyata dan fakta-fakta yang transparan.

jamaah 354 adalah contoh yang paling maksimal dari sebuah golongan yang begitu buta dan tuli terhadap kebenaran walaupun mereka punya mata dan punya telinga.

taklidlah yang menyeret mereka jadi begitu bodoh. fanatisme sempit dan pemujaan yang meluap-luap terhadap nurhasan yang membuat mereka jatuh dalam pemberhalaan model baru.

kalau saja para muhadis macam bukhari, muslim, abu dawud dll masih hidup di zaman sekarang dan menasihati bahwa jamaah 354 itu keliru, jamaah 354 tetap tidak akan percaya walaupun mereka menggunakan dan mempelajari kitab-kitab dari para muhadis tersebut karena mereka lebih percaya pada mulut imam nya yang berasal dari keturunan nurhasan, atau lebih percaya kasmudi, dan pakubumi-pakubumi khianatnya.bagi jamaah 354 kebenaran itu adalah pusat, bukan quran dan hadis.

mereka benar-benar terhipnotis oleh doktrin batil 354. namun untuk para pendakwah, tetaplah menyeru kebenaran pada jamaah 354. kebatilan selamanya tidak akan pernah mengalahkan al haq. 1 orang saja jamaah 354 berhasil diinsyafkan itu lebih baik mendapatkan unta merah.

jenggotpalsu mengatakan...

mendingan begini mas eks354,kalian itu banyak2 doa malam,tahujud supaya pemikiran wedus gembel itu hilang dari kalian....aku sih hanya berdoa mudah2an kalian dapat petunjuk dan kembali ke jamaah

jenggotpalsu mengatakan...

kita sudah di satukan oleh Allah dalam jamaah..nah kalian berfirqoh2...disana teriak ustadz sururi,disana teriak hizby,disana teriak turotsi..subhanallah..apakah ini "faasbahtum bini'matihi ikhwana"

apa ini sesuai dalil???


lam ya'chok

Anonim mengatakan...

kali sekarang pusat lagi bingung dan takut…
-Mau diem aja pasti dihukumi sedang melakukan pembiaran terhadap kekeliruan
-Mau ngeboong lagi, pasti nantinya ketauan lagi dan klo boong ketauan akibatnya ru’yah jadi makin tidak percaya lagi pada pusat
- Mau mengatakan kebenaran, pasti nanti diamuk sama ru’yahnya karena ru’yah pasti akan marah karena selama ini dibo’ongin

Jadi di waktu mendatang, polah pusat kemungkinan besar ada 3 kemungkinan, 1. melakukan pendiaman terhadap doktrin batilnya (tidak mau amr maruf pada kesalahan yang selama ini sudah terjadi) 2. melakukan tadlis dan talbis lagi ( bohong, bahasa diplomasi,eufimisme, ungkapan subhat) atau bisa jadi biidznillah, pusat akan mengatakan kebenaran yang sebenarnya. Kalau pusat mengatakan sebenarnya memang akan terjadi gempa besar dulu dikalangan internal 354.lalu sebagian besar akan berhijrah ke al haq, sebagian besar tetep jadi pemuja setia madigol dan pemuja madigol mungkin akan membuat kelompok baru dan imam baru. Ini kemungkinan saja

Anonim mengatakan...

hizbi itu artinya golongan atau partai. firqoh itu artinya sempalan. hizbi dan firkoh tabiat yang paling gampang dideteksi adalah menyatakan golongannya sendiri yang benar, imamnyalah yang benar, orang islam diluar golongannya adalah kafir.

jamaah 354 itu mencocoki pada semua indikasi dan ciri firqoh, hizbi dan khawarij. sayang sekali mereka tetap terilusi bahwa mereka itulah yang jamaah. ahlu sunnah wal jamaah itu menjauhi kelakuan fanatisme golongan dan parameternya adalah kitabullah dan sunnah rasulullah. sedangkan jamaah 354 menjadi 'golongan' sebagai parameter kebenaran. gitu om

jenggotpalsu mengatakan...

nah sekrang kalimat hizby itu ngene i sopo...mesa'ke kowe kabeh

Anonim mengatakan...

jengLOT sang ulamak koplak, dari dulu tidak bisa komen, kalo komen ya gitu-gitu...mulu gak bermutu. masalahnya tidak ada yang di ikuti, giliran ada jokam yang copas...eh..ketahuan punyanya hizbuttahrir...maklumlah sesama khawarij ilmunya ketemunya sama khawarij. dari sini jelas sekali bahwa orang yang menyerang manhaj salaf pasti dia ketahuan kalo orang khawarij. lihatlah keterangan2 dari salaf mereka mengikuti dari ulama' ulama' haromain, ulama' ulama' yang tersohor,dikenal didunia, itu menunjukkan bahwa salaf hanya mengikuti jalan salafushsholih.
nih saya kasih rujukan pada jengLOT ulamak koplak, kalo mau komen lihatlah website-website,blog-blog punya hizbuttahrir, syiah...dijamin ajarannya sama persis dengan jokam!!!
wk..wk..wk lha wong sama-sama khowarij

Anonim mengatakan...

JENGLOT....JENGLOT , bodo kok dipelihara dan di sombongkan disini .......

Tuduhanmu hanyalah kembali kepada dirimu sendiri dan jamaah mandigolmu , cape' dech ......

COBALAH BELAJAR MALU .......
COBALAH BELAJAR MALU .......
COBALAH BELAJAR MALU .......

jenggotpalsu mengatakan...

bertobatlah semua eks 354..kalau tidak neraka menantimu...sungguh menetapi agama yng benar adalah agama yg di gegeri

jenggotpalsu mengatakan...

jangan marah2...malah memperlihatkan kalian itu dongo...IQ jongkok...
ista'inu bisshobri wassholah

jenggotpalsu mengatakan...

lam yaskurinnaas walam yaskurillah

Anonim mengatakan...

untuk om jenggotpalsu
sebenarnya mudah untuk terhindar dari hizbi om, 1.netepi kitabullah dan sunnah rasulullah jahi segala bentuk syirik 2. memapraktekan cara beragama sesuai dengan praktek dan pemahaman generasi sahabat-tabiit 3. tidak melakukan takfir secara membabi buta tanpa ilmu dan bashirah, dan tidak menganngap orang islam diluar golongannya adalah kafir semua (seperti yang masih dipraktekan jokam sampai saat ini)4.tidak memvonis secara membabi buta ,amal dan keislaman diluar golongannya tidak sah 5. tidak mengatakan murtad pada setiap muslim yang keluar dari golongannya (seperti yang masih dipraktekan jokam sampai saat ini),6 tidak menyuruh ru'yahnya hanya berguru pada ulama golongannya dan melarang berguru dengan ulama diluar golongannya ( (seperti yang masih dipraktekan jokam sampai saat ini dan padahal banyak sekali alim ulama yang memiliki manhaj yang lurus, gitu om, itu baru sebagian kecil saja loh om :). gampang kan om cara ninggalin kelakuan hizbi? masalahnya simpel, jamaah 354 itu mau ngga? itu aja deh,mau apa ngga? :)atau lebih suka netepi akidah usang nurhasan?? nauzubillah ya om :)

tapi saya optimis banget loh om, sekarang udah banyak sekali jamaah 354 membuka mata hatinya om. sekarang bukan tahun 60-an om dimana imam kita bisa dengan mudah menutup akses informasi, sekarang abad informasi om. pembohongan bakalan ngga laku lagi di jamaah kita om :) semoga kita semua dan jamaah 354 selamat dari kelakuan takfir ya om yang selama ini memasung otak kita . amiin dong om :)

Anonim mengatakan...

pada om jenggotpalsu ( sayang banget ya, jenggot koq palsu :) )

nabi musa juga dipelihara firaun om..tapi nabi musa tetep menasihati kebatilan firaun.

apa hukumnya nabi musa ngga bersyukur pada firaun lantas nabi musa tidak bersyukur pada Allah

mudah2kita semua jadi hamba Allah yang banyak bersyukurnya ya om . amiin dong om :)

Anonim mengatakan...

hahahaha....bener kan ??? JENGLOT INI NGGAK PAHAM-PAHAM JUGA ....

Wis , sana pergi ...kamu lagi di cari imam untuk narik isrun ...wkwkwkwk

jenggotpalsu mengatakan...

karna fir aun tidak mengimani adanya Allah..apakah lantas disamakan dengan 354??? subhanalah sungguh gambaran yg bathil

Anonim mengatakan...

"..sungguh menetapi agama yng benar adalah agama yg di gegeri"

--->lha seperti ini dalilnya mana jengLOT ulamak koplakk!! brati ahmadiyah juga bener dia digegeri terus, yahudi juga bener dia digegeri terus sedunia,...

"lam yaskurinnaas walam yaskurillah"

lha maksute dalil iki opo jengLOT ulamak koplakk

Anonim mengatakan...

"karna fir aun tidak mengimani adanya Allah..apakah lantas disamakan dengan 354???"

bener jengLOT firaun dengan 354 sama, apalgi kamu..sama-sama ngeyelnya...wk..wk..wk..

jenggotpalsu mengatakan...

to anonim :
bicaralah yang sopan jgn seperti ini

"jengLOT ulamak koplakk"

"lam yaskurinnaas walam yaskurillah"

kalian dulunya tau agama dari siapa? tau halal harom dari siapa?

malah kelihatan kalian itu sakit hati

Anonim mengatakan...

om jenggotpalsu mengupamakan sedulur yang keluar dari 354 dan mengadakan seruan perubahan adalah golongan yang tidak bersyukur, karena om jenggot palsu menggunakan pemikiran bahwa mereka yang keluar itu dididik oleh 354 koq sekarang malah menentang pada 354. akhirnya om jenggot memvonis "tidak bersyukur" dengan pake dalil lam yaskurinnaas walam yaskurillah

nah itulah yang disebut gambaran batil yang sesungguhnya om :)

tapi saya bisa maklum koq, klo om jenggotpalsu masih belum mengerti :)

Anonim mengatakan...

jengLOT ini kayanya ujian mubaligh dia gak lulus-lulus,kopralll terus.
lha wong koplakk banget

jenggotpalsu mengatakan...

klian pada bocor semua..sana k bengkel hati...fir aun itu adalah orang yang membangkang dan tidak mengakui adanya Allah...nah didalam jamaah qt sholat tertib ibdah tertib..kok disamkan dengan fir aun,,,astagfirullah

saya makin mantap di 354

dulunya kalian katakan cebong2 padahl kalian yang cebong2

Anonim mengatakan...

aku mah tidak sakit hati sama jamaah 354, aku sayang sama jamaah 354 dan ngga sudi ngeliat jamaah 354 diboongin terus tuh sama kholil, aziz aulia,kasmudi pusaten-pusaten. gitu om

salaman yu om, peace no hard feeling ya om.

saran saya om, cobalah bertaklim dengan ulama "orang luar" yang memilki manhaj ahlusunnah waljamaah . seruan pusat untuk melarang kita belajar dengan ulama "orang luar" itu sebenarnya strategi pusat agar kita semua gampang dikendalikan gampang dikontrol. ini namanya brain wash om..

Anonim mengatakan...

"malah kelihatan kalian itu sakit hati"

oya maaf mas jengLOT ulamak koplakk bukannya saya sakit hati, tapi gregetan aja nih...
oya maaf lagi kok masih ngomong jengLOT ulamak koplak,..maaf lagi yaa

Anonim mengatakan...

om jenggot palsu masih mantap pada 354??, wow hebat, heroik..:)

tapi ngga apa-apa koq om, kita juga ngga buru-buru. ditunggu hijrahnya ya om dari paham khawarij dan takfiri.... o iya ajak-ajak juga sanak famili dan handai taulan yang masih terjebak sistem 354 om, pahalanya guede loh om ....

Anonim mengatakan...

KOPLAKKK DILAWAN....

jengLot tu kalo diajak diskusi ilmiyah dia gak ngerti, tapi kalo diajak diskusi yang saru-saru,jorok, ta*k bonj**t, dia langsung nyanthol
lha wong dia tu koplakk banget...!!

Anonim mengatakan...

Bukannya saya membela Ustadz Jenglotpalsu...
Tapi hindarilah kata2 kasar dan hinaan2 yg berlebihan yang ditujukan padanya. Tidakkah kita sama2 telah memahami bahwa:
1. "Orang yang bodoh akan marah kalau kita katakan dia bodoh"
2. "Penipu akan marah kalau kita katakan dia menipu"
3. "Pembohong akan marah kalau kita katakan dia bohong"
4. "Musyrik akan marah kalau kita katakan dia syirik"
5. "Kafir akan marah kalau kita katakan dia kafir"
Jadi sebaiknya kita katakan saja mereka sebagai:
1.Orang yang tidak pintar
2.Orang yang tidak amanah
3.Orang yang tidak jujur
4.Orang yang tidak mengesakan Alloh
5.Orang yang tidak percaya.
Nah, kalau si jenglotpalsu ini baiknya dinomor berapa ya?
Kalau saya sih mengenai tanggapannya jenglot palsu, bukan krn apa2. Itu disebabkan karena dia tidak mengerti bahasa Arab, padahal dia selalu khutbah pakai Bahasa Arab. Jadi nanti tunggu terjemahannya dari Kholil atau Aziz, baru dia bisa mengerti. Paling2 terjemahannya intinya bunyinya seperti ini: "Syaikh Bazmul membenarkan kalau aqidah2 354 itu benar, persenan itu wajib, yg keluar dr 354 itu murtad, tanyajawabnya kholil dengan Syaikh Yahya itu benar, surat taubat itu benar dan wajib ada kafarohnya, sholat di belakang selain 354 itu harom, harus mengulangi lg sholatnya atau kalau tidak mengulangi maka harus niatnya sholat munfarid (klo terlambat satu rokaat gmn ya caranya?), dll. Kalau spt ini jawabannya itu mah bukan dari Syaikh Bazmul, pasti ada salah download. Kalau dikatakan itu suaranya Nurhasan ya mungkin saja, beliau kan punya kesaktian bisa menghilang tdk dilihat sehingga naik kapal tidak bayar krn baca doa Allohummastur 'aurooti dst..., jalan di atas air, injak beling dan duri salak, digebukin batu tdk apa2, silat tenaga dalam Ojo kalau sekarang Lambaran namanya. Klo semua itu Nurhasan bisa, masa kalau cuma berfatwa tentang kebenaran aqidah 354 setelah matinya tdk bisa?????????????

Anonim mengatakan...

@jenggotpalsu: tidak usah melebar dulu, tanggapi saja apa yang disampaikan oleh Syaikh bazmul. itu aja.. coba carikan akal gimana bisa membantah itu.

ini khan sebenarnya tidak fair lagi. kami mendatangkan bantahan dengan kadar yang luar biasa tingginya, ibarat obat itu kadarnya 400 %, tapi anda balas dengan "ngeles" yang kadarnya sangat rendah, yaah 0,5 % gitulah.

anda bisa lihat, rekaman al utsaimin, syaikh bazmul, tentang jamaah, begitu jelas tidak membolehkan model seperti jamaah 354 anda, tapi anda membantahnya hanya dengan mengungkapna "lam yasykurinnaas", atau bantahan2 yang tidak bermutu sama sekali..

sungguh tidak relefan. maka saya sampaikan, tidak usah dulu nulis komen, sampai anda melihat atau menemukan "hujjah" baru yang bisa ngeles dari fatwa syaikh bazmul yang jelas2 sudah menyebut nama golongan anda sak guru2 anda.

kemudian, kalau anda ini ternyata orang yang diberi dapukan oleh DPP, misalnya, utk menjawab2 "tuduhan" dari kami di internet, mk saya sampaikan... tetaplah mencari hujjah yang baik utk membantah, jangan tampakkan sempitnya pengetahuan anda di sini, kasihan orang2 yg menugaskan ana, karena anda hanya menunjukkan kelemahan golongan anda sj.

berikutnya, berbicara mana yang al jamaah dan mana yang firqoh, sepertinya belum sampai pengetahuan anda mengenai ini, sy bisa memaklumi karena di dalam jamaah anda haram hukumnya mengkaji hal2 seperti ini, anda bahkan akan disuruh tobat jika mau mempelajari kitab2 tentang jamaah. silahkan kaji kitab Al Amru bi Luzuumil Jama'atil Muslimina wa imaamihim, Ahkamus Sulthaniyyah, al Bidayah wanNihaayah, munhajus Sunnatun nabawiyyah, dll..

jangan hanya mengkopi paste tulisan dari golongan lain yaah... pelajari dan ambil langsung dari majlis guru..

semoga Allah memberikan hidayah kepada anda sekalian.. meninggalkan al firqoh 354 dan menuju jami'atul muslimiin yg sebenarnya.

oh iya, kalau berbicara salafi, seperti yg anda tuduhkan bahwa berpecah2, tidak usahlah komentar terlalu banyak... anda hanya tau info itu dari internet koq, yang sebenarnya bagaimana anda tidak tau persis... jd diam sj dari hal itu.. tidak ada yang lebi memecah belah selain kelompok anda 354.

Anonim mengatakan...

sabar ya akhi saudara JENGLOT PALSU ini kita dakwahin dg hikmah dan sabar....
mungkin karena sudah enak di 354 makan uang isrun jadi ngapain keluar dari 354? tani gak bisa,karyawan gak ada yang mao(keras kepala)buka usaha gak ada modal,dagang rugi mulu
mendingan di 354 duduk,dengar,diam,dapet duit,
lagian klo biasa makan duit isrun yang notabene HARAM biasanya susah terima kebenaran!!! karena NERAKA YANG LEBIH LAYAK UNTUKNYA eh kok jadi gini yah??
gimana JENGLOT PALSU?
betul gak begitu?

Anonim mengatakan...

waduh,aduh,kalian kok pinter banget sih bantahin si jenglot palsu?? pasti pada ngaji yah???
dah gitu ngasih nasehat lagi,
ih baik banget sih
klo aja si jenglot palsu kasih bantahan gak mutu ketauan bgt dia mah orang bodoh ngaku ulama iya kan?
nulis cuman itu doang;gak bersyukur,imam kalian presiden,salaf*** mangkanya ngaji
neraka,sorga buat pengurus,im**,dll

kasih nasehat terus yah buat dia...
yah kita sabar aja dalam berdakwah
klo gak diterima tinggal urusan dia

eh mas jenglot palsu sekarang terima berapa sebulan dari LD**??
nambah dong bulan ini dibanding kemaren? karena skrg kan bantah kebenarannya lebih susah!!!

Anonim mengatakan...

dasar bajingan semua tengik

Anonim mengatakan...

minggu ke berapa sekarang?? weleh sebentar lagi hasil daerahan ya? ada berita apa ya dari pusat? paling propaganda kholil lagi

Anonim mengatakan...

TO JENGGOTPALSU :

AMIR & JAMAAHMU ITU BATIL,
MENGARAH LANGSUNG KE NERAKA.

CUMAN ORG2 BODOH YG MAU NGIKUTIN AJAKAN KE NERAKA.

MANKUL ALA JOKAM ITU BANYAK KEKURANGANNYA.

YG PALING FATAL DARI MANKUL INI ADALAH MENGAMALKAN ILMU & PENGERTIAN AGAMA YG TIDAK SESUAI DENGAN ISLAM YG DIBAWA RASULULLOH.

JOKAM ITU NYEREMPET AMALANNYA FIRAUN, YAITU MUSYRIK.
MUSYRIK!!

KALIAN MENGAGUNG-AGUNGKAN & MEMBENARKAN ULAMA KALIAN YG SALAH,
ITU MUSYRIK!!

KALIAN MENYEMBAH BERHALA DENGAN CARA MEMBENARKAN ULAMA2 SESAT KALIAN.
ITULAH MUSYRIK!!

...

adakah jokam yg lebih bisa mikir daripada jenggotpalsu ini?!?

Anonim mengatakan...

Ternyata sekarang baru ketahuan kenapa jamaah:
1.Dilarang belajar sama orang luar
2.Dilarang baca2 buku/ kitab2 karangan
3.Dilarang bergaul dengan orang2 yang bisa mempengaruhi kepahaman kita
4.Dilarang buka2 situs agama di internet
5.Dilarang bertanya kepada Masyaikh di Makkah krn di sana lebih bithonah lagi tentang jamaahnya, dll larangan yang aneh2

Jawabannya adalah:

"SUPAYA KAMU TETAP BODOH, KRN KALAU KAMU PINTAR KAMU AKAN MENGETAHUI KALAU AKU INI MEMBOHONGIMU"

Kita ini jamaah tinggal taat saja, jangan jadi orang yang pasal2, banyak bertanya kayak Bani Isroil.
Taat surga tidak taat neraka, coba lihat itu orang2 yang sudah keluar, hidayahnya dicabut oleh Alloh, jadi orang kafir, murtad jadi anjingnya neraka, kholidiina fiiha!
Seperti ini kan nasehatnya?
Sekarang sudah jelas semuanya, mereka mau nasehat apa lagi ya? Bagaimana caranya supaya persenan kita tdk menurun ya?
Betul2 Agama yang Haq ini digunakan sebagai pendulang harta dunia lewat persenan, batu merah, qurban, dll. Astaghfirulloh! Manusiakah yang berbuat ini? Ittaqillah, ittaqillah, ittaqillah!
Makanya tidak heran kalau di zaman Nabi dan para Kholifah saat itu memerangi dan membunuh kaum khowarij.

Anonim mengatakan...

"dasar bajingan semua tengik "

mas jangan kasar gitu...mas jengLOT itu dikatakan ulamak koplak saja nggak terima lho...masak dibilang dasar ba****an te**ik yaa itu terlalu menusuk jiwa raganya mas jengLOT yang.....koplakkkk

Anonim mengatakan...

ternyata al ustadz azis al pakubumyyi al kadiry mengakui banyak hal2 yg harus di benahi dalam aqidah al islam al jokam al tiga lima empaty , dan al mukarom abu nurhasan adalah imam dakwah, bukan al imamul udzma .....dan rukyahnya lebih hafal 5 bab dari pada rukun iman ....sungguh jujur ustadz kami ini .... semoga Allah mengaugerahi kekuatan kepada bpk ustadz ini apabila memang cita2 nya mulia, namun jika khianat ilmu? Wallahu a'lam.

Anonim mengatakan...

mas anonim di atas, saya juga menerima keterangan yang sama dengan antum. pak ridwan aziz masih agak mendingan dari pada kholil. pak aziz akan keluar dari 354 kalau emang 354 ngga mau berubah dari akidah takfirinya. saya ada akses rekamannya dari ridwan aziz. klo kholil mungkin masih berat ya berhubung dia masih keluarga nurhasan (menantu dhohir). mugo pa aziz bukan pengkhianat kebenaran..

Anonim mengatakan...

Kenapa kita muballigh dan jamaah tidak diajarkan mustholah hadits?
Karena drengan ilmu mustholah hadits itu terdapat keterangan tentang kriteria ulama2 yang bisa kita mengambil hadits darinya. Seorang ulama kalau ketahuan berbohong satu kali saja, maka sudah ditinggal haditsnya walaupun dia meriwayatkan banyak hadits tetap tdk diambil hadits dari ucapannya, harus mengambil dari jalur isnad yang lain.
Kalau di Makkah Aziz berkata "A" kemudian sampai di Indonesia kok berkata "Z", kira2 masih bisakah kita mengambil hadits darinya? Malah menjelek2kan Salafi, tidakkah dia belajar di Makkah tentang hadits hukuman bagi orang pencela Salaf?
Ya ustadz Aziz Ridwan (muridnya kasmudi krn pernah tugas di rumahnya kasmudi di Gresik), anta matrukul hadits. Bukankah ini khowarij yg dimaksudkan berbulu domba berjiwa iblis, fasih membaca Al Quran tetapi tdk mengerti isinya? Mudah2an bukan, tapi .....

Anonim mengatakan...

[ Hot MP3 ! ] Kalau Aziz Dan Kholil Menyampaikan Al Haq, Kenapa Gak Boleh Merekam ?
eh malah direkam juga..

udah gitu.. dikirim ke waspada354@yahoo.com pula ...

Menganggap Kafir Pemerintah Dan Kaum Muslimin Di Indonesia ?

Apa jadinya Islam Jamaah / LDII kalau ini kami sampaikan ke Pemerintah RI ?

Apa jadinya Islam Jamaah / LDII kalau ini kami sebarluaskan ke Kaum Muslimin di Indonesia ?

Apakah orang Islam Jamaah / LDII mau seluruh Kaum Muslimin memboikot mereka ?

Tetep Menganggap Kafir Orang Islam Selain LDII ? Apa jadinya Islam Jamaah / LDII kalau kami sebarluaskan Fakta ini ke Kaum Muslimin di Indonesia ?

Apa mereka mau seluruh masjid mereka rata dengan tanah ?

Belajar di Makkah Tapi Tetep Mendakwahkan Akidah Khawarij ? Apa jadinya Islam Jamaah / LDII kalau kami Laporkan Nama-Nama Muballigh Mereka Yang Belajar Di Makkah ke Penguasa Kerajaan Saudi Arabia ?

Apa jadinya Islam Jamaah / LDII kalau kami sebarluaskan Lokasi Rumah Hud dan Nousha ke ke Penguasa Kerajaan Saudi Arabia ?

Musibah apalagi yang Allah timpakan ke Islam Jamaah / LDII , udah jauh2 belajar ke mekkah... buat apa kalau Malah Membenarkan Dakwah Khawarij ?

Apakah Murid Syaikh Yahya Cuman Kholil Dan Aziz doang ?

Apakah Akidah Syaikh Yahya, beda dengan Syaikh MasjidilHaram yang Lain ?

Apakah Akidah Syaikh Yahya itu QHJ 354 atau Ahlussunnah Waljamaah ?

Apakah ada satu orang saja Syaikh di MasjidilHaram yang setuju dengan akidah TAKFIR , TAQIYYAH, dan pemahaman islamnya NURHASAN, KASMUDI, YUSUF THOHIR, AZIZ, KHOLIL ?

Katanya Manqul,... Bukankan Manqul itu harus SAMA PERSIS ?

Sampaikan saja, siapa yang takut? Kami punya Senkom, Punya Persinas Asad, Punya Bolo Pendem, Punya Organisasi LDII. Dan yang tak kalah pentingnya adalah Kami punya Imam yang bisa menjadi perisai jamaahnya. Tidakkah antum paham dengan dalilnya "Assulthonu dzillullohi fil ardhi?"
Imam kami bisa kok memberikan keamanan pada ustadz kami yang ada di Makkah.

Wong Imame dewe diumpetno, iso-isone ke'i jaminan karo liane! Payah payah payah!

Anonim mengatakan...

jamaah 354 punya rumah di hud mekkah?? rumah itu adalah milik orang saudi asli, jamaah 354 itu hanya menyewa. uang sewanya dari mana? dari uang infaq persenan itu...

Anonim mengatakan...

semua rangkuman kejadian yg ada sampai detik ini semakin memantapkan hati untuk meniti menhaj 54 LAF.

Anonim mengatakan...

wuih si jenglot palsu marah dikatain ulama koplakkk
disebut ingkarus sunnah diem
penolak fitrah diem juga
dikata dongo ho oh aj
ternyata marah klo dikata koplak
terus katain kawan
ulama koplak,ulama koplak,ulama koplak,ulama koplak

Anonim mengatakan...

ulama koplak bajingan
imam-imamnya semuanya tengik
ulama koplak bajingan
imam-imamnya semuanya tengik
ulama koplak bajingan
imam-imamnya semuanya tengik
ulama koplak bajingan
imam-imamnya semuanya tengik
ulama koplak bajingan
imam-imamnya semuanya tengik
ulama koplak bajingan
imam-imamnya semuanya tengik
ulama koplak bajingan
imam-imamnya semuanya tengik
ulama koplak bajingan
imam-imamnya semuanya tengik
ulama koplak bajingan
imam-imamnya semuanya tengik

saya lihat komentar2 klian malah jadi boomerang<"hujjah itu bagimu dan atasmu" kalau tidak bisa berhujjah biasanya akan dalil itu akan menghujjah dia

hujjah org yg mengatakan saudaranya kafir jika saudaranya tidak terbukti maka tuduhan itu berbalik kepada yang menuduhnya
ulama koplak !!!!!!

LDII adalah ormas yang obyektif dalam melaksanakan dan mengajak manusia kepada kebaikan..
agama kok dijadikan ORMAS
ulama koplak !!!!!!

wah dengan begitu kan pengurs ngurusi jamaah agar ga kehilangan surganya
ulama koplak ngomongin sorga!!!!

maka kita hanya melihat ijtihad imam yang di keluarkan.karna imam itu adalah pengganti nabi,imam mengatur dan menasehat jamaah agar jauh dari pelanggaran.
lihat fatwa ulama koplak!!!!

mendingan begini mas eks354,kalian itu banyak2 doa malam,tahujud supaya pemikiran wedus gembel itu hilang dari kalian....aku sih hanya berdoa mudah2an kalian dapat petunjuk dan kembali ke jamaah
ulama koplak ngomongi kebaikan!!!!!

jangan marah2...malah memperlihatkan kalian itu dongo...IQ jongkok
ulama koplak ngomongin diri sendiri!!!

karna fir aun tidak mengimani adanya Allah..apakah lantas disamakan dengan 354??? subhanalah sungguh gambaran yg bathil
ulama koplak ngeluarin BITHONAH bwt kelompoknya!!!!

klian pada bocor semua..sana k bengkel hati...fir aun itu adalah orang yang membangkang dan tidak mengakui adanya Allah...nah didalam jamaah qt sholat tertib ibdah tertib..kok disamkan dengan fir aun,,,astagfirullah

saya makin mantap di 354
AKHIR KATA >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
ulama koplak tetap dalam kesesatannya!!!!

Anonim mengatakan...

apakah nabi Muhammad mempraktekkan surat tobat? Siapa khalifatu rosyiddin yang mempraktekan surat tobat? Para imam besar muhadis maupun fuqoha siapa yang mempraktekan surat tobat?

Surat tobat adalah cara pusat untuk menguatkan posisi imam, agar kedudukan imam begitu sakral dan kuat di mata ru’yahnya. Sekali lagi, ru’yah dimanipulatif sugestinya dengan surat tobat ini.

Sampai-sampai ada ritual khusus (ada dipengajian2 kelompok) minta maaf pada imam dengan cara menulis surat tobat

Anonim mengatakan...

Salut buat jenggotpalsu... masih berani komentar,walaupun komentarnya koplak seperti yang di sebut oleh anonim diatas kalau yang ditampilkan mantan 354 berupa ilmu seperti pembahasan MANKUL,masalah MANHAJ SALAF dll,jenggotpalsu diam sejuta bahasa tapi kalo tulisanya tidak bahas ilmu baru deh... jenggotpalsu ketahuan koplaknya seperti menukil dalil yang bukan pada tempatnya;MANLAYASKURINNASA LAM YASKURILLAH,apa hubunganya dengan tulisan2 sebelumnya, yaa itulah dasar KOPLAK tapi mudah2an allah memberi hidayah yang sesungguhnya,tapi mana nich... temen2nya jenggotpalsu seperti irwan _jateng terus abu ilyas dan juga kroco2 lainya kok pada menghilang semua... semoga allah sudah mulai membuka hatinya untuk menerima hidayah yang haq.amin

nice mengatakan...

CUMAN ORANG SINTING YANG MAU DIAJAK KE NERAKA.

JENGGOTPALSU, JANGANLAH KAMU JADI ORANG YG LEBIH PARAH DARIPADA ORANG SINTING, DENGAN CARA MENGAJAK PADA NERAKA.

SUDAH SANGAT JELAS AMIRMU & SEGALA IJTIHADNYA ADALAH BATIL.

TAKUTLAH PADA BAHAYA SYIRIK!!

MENYEMBAHA BERHALA DENGAN CARA MENGAGUNG-AGUNGKAN & MEMBENARKAN SEGALA UCAPAN ULAMAMU!!

ITU SYIRIK YANG SANGAT NYATA!!

nice mengatakan...

AMIR JOKAM & SEGALA IJTIHADNYA + MANKUL DIBANGUN ATAS ILMU YG BATAL!!

TIDAK ADA YG BISA DIBANGGAKAN DARI SEMUA ITU!

Anonim mengatakan...

mas anonim yang optimis dengan jujurnya aziz,
saya kok beda ya...soalnya saya jg dah dengar nasehatnya aziz, tapi semua membenarkan keamiran,jamaah 354. bahkan dia memantau blog di internet termasuk blog ini, insya allah (halo ziz kamu ngliat tulisan-tulisan ini kan...)
dan dia mengatakan bahwa "mangkul" di internet itu tidak sah, sekarang banyak yang mengaji lewat internet. tapi dia keceplosan boleh ngaji di internet, tapi dia buat alasan bahwa boleh ngaji di internet tapi harus tahu dulu gurunya (sudah pernah bertemu langsung dengan syaikh)---dia mencontohkan dirinya, bahwa dia ngaji di internet boleh soalnya dia pernah bertemu syaikh di mekah ---->inilah wahai saudara seakan-akan hanya dia yang boleh ngaji di internet,sy rasa ini hanya untuk membodohi jamaah

*ingatlah dia mengharamkan orang yang belajar tidak bertemu langsung dengan gurunya /belajar di internet..dll

*dia sangat membenarkan keimaman jamaah

*dia membenarkan surat taubat

*dia berkelit bahwa nurhasan tidak main jin, tapi dia ngomong juga bahwa pada saat itu kalo ulama' tidak sakti itu tidak diakui

*dia menyanggah bahwa dia dengan ustadz dzulqurnain sama sekali tidak pernah menyinggung pembicaraan mengenai jamaah

dan lain-lain....saya harap dari airmatamengalir bisa mempostingkan nasehat dari aziz itu,banyak sekali yang bisa dikritisi.

Anonim mengatakan...

TIDAK ADA YG BISA DIBANGGAKAN DARI ILMU MANKUL JOKAM!!!

HADITS SHOHIH & HADITS PALSU TIDAK ADA BEDANYA BAGI JOKAM.
ASAL MANKUL, SEMUA DIAMALKAN.

«Paling tua ‹Lebih tua   1 – 200 dari 283   Lebih baru› Terbaru»