بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Meniti Jalan Salaf

product

dzulqarnain.net

Detail | Pencari Ilmu

Tegar Di Atas Sunnah

product

Assunnah

Detail | My Way

Airmatakumengalir Blog

product

Dakwatuna

Detail | ilallaah

Hukum menyambut dan merayakan hari Raya non Muslim (Natal/Tahun Baru/Imlek, red)

Penulis: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan


Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi'ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi'ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.

Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan kepadanya (yang artinya) : " Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?" Dia menjawab, "Tidak". Beliau bertanya, "Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?" Dia menjawab, "Tidak". Maka Nabi bersabda, "Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam"
[Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]

Hadits diatas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di bertepatan dengan tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah ; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi'ar-syi'ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka atau menjadi wasilah yang mengantarkan kepada syirik. Begitu pula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala' (loyalitas) kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi'ar-syi'ar mereka.

Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makanan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka (kini kebanyakan berpesiar, berlibur ke tempat wisata, konser, acara musik, diakhiri mabuk-mabukan atau perzinaan, red).

Dan diantaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para shahabat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.

Syaikhul Islam Ibnu Timiyah berkata, "Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan".

Pertama. Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena
mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari'atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan Kedua.
Karena hal itu adalah bid'ah yang diada adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu".

Beliau juga mengatakan, "Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi'ar mereka pada hari itu. (Dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim, pentahqiq Dr Nashir Al-'Aql 1/425-426).

Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja [1] maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh. Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi'ar-syi'ar kekufuran.

Segolongan ulama mengatakan. "Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi". Abdullah bin Amr bin Ash berkata, "Siapa yang mengikuti negera-negara 'ajam (non Islam) dan melakukan perayaan Nairuz [2] dan Mihrajan [3] serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat.


Footnote :
[1] Mungkin yang dimaksud (yang benar) adalah 'tanpa sengaja'.
[2] Nairuz atau Nauruz (bahasa Persia) hari baru, pesta tahun baru Iran yang
bertepatan dengan tanggal 21 Maret -pent.
[3] Mihrajan, gabungan dari kata mihr (matahari) dan jan (kehidupan atau
ruh), yaitu perayaan pada pertengahan musim gugur, di mana udara tidak panas
dan tidak dingin. Atau juga merupakan istilah bagi pesta yang diadakan untuk
hari bahagia -pent.

(Dinukil dari tulisan Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dalam kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy[Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1])

Comments
9 Comments

9 Response to "Hukum menyambut dan merayakan hari Raya non Muslim (Natal/Tahun Baru/Imlek, red)"

GENTA SYAIKH YAHYA mengatakan...

Bismillaahirrahmaanirraahiim.
Gerakan bertanya kepada as-Syaikh al-Allamah as-Salafy Yahya bin Utsman al-Mudarris bil Harom al-Makkiy as-Syarif.

Alhamdulillah, telah semakin jelas kesesatan Jamaah 354 melalui fatwa as-Syaikh (Profesor) ad-Duktur Muhammad bin Umar Bazmul, seorang ulama besar Mekkah sekaligus guru besar di Universitas Ummul Quro Mekkah yang merupakan guru dari pakubumi kholil dan pakubumi aziz.

Selanjutnya, kami serukan kepada semua anggota (rokyah) Jamaah 354 untuk melakukan sebuah gerakan besar bertajuk GENTA SYAIKH YAHYA yaitu sebuah gerakan bertanya langsung kepada Syaikh Yahya bin Utsman yang merupakan jalur isnad Jamaah 354 saat ini. Gerakan amar makruf nahi munkar ini untuk mempertegas dan memperkuat fatwa sesat terhadap Jamaah 354 dari Syaikh Muhammad Bazmul.

Kami sarankan agar gerakan perbaikan yang kritis ini (GENTA SYAIKH YAHYA) tidak melibatkan petinggi-petinggi Jamaah 354 yang berpotensi tidak jujur terbuka dalam bentuk pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Yahya atau bahkan mereka akan mencegah keras gerakan ini.

Bertanyalah langsung kepada Syaikh Yahya tentang keimaman (baiat) 354, aqidah takfir 354, infaq rizki 10 % dan perkara lainnya yang menjadi keresahan internal Jamaah 354 saat ini. Antum bisa titip pertanyaan kepada siapa saja yang terpercaya yang akan berangkat ke Mekkah atau yang sedang berada di sana. Seandainya antum mampu mendatangkan Syaikh Yahya maka insyaAllah itu jauh lebih baik.

Teknisnya sebaiknya dengan video camera berkualitas dan voice recorder sehingga akan terlihat dan terdengar dengan jelas semua bentuk pertanyaan dan jawaban dari Syaikh Yahya. Jauh lebih baik lagi bila mendapat fatwa tertulis dan tertanda tangan beliau. Beliau Syaikh Yahya hampir setiap malam mengajar di Masjidil Harom sehingga akan sangat mudah menemui beliau di sana, insyaAllah.

Selanjutnya, silakan fatwa Syaikh Yahya tersebut di upload ke internet dan di print beserta terjemahannya dalam bentuk selebaran untuk disebarluaskan ke kaum muslimin di Indonesia termasuk MUI dan yang paling penting kepada semua rokyah jamaah 354 di seluruh Indonesia dan di luar negri.

Amal sholeh GENTA SYAIKH YAHYA ini diniati karena Alloh
Semoga menjadi perantara hidayah bagi antum semua Jamaah 354.
Baarokallohu fiykum.

Jum’at 24 Muharram 1432 H
muhammad(dot)jkt(at)gmail(dot)com

baru belajar mengatakan...

ALHAMDULILLAH, syukur saya sudah di AHLUSSUNNAHWALJAMA'AH, shingga ilmu2 dari para Ulama' bisa kami dapat dengan sempurna.

Dulu setiap tahun baru, kami di ldii, selalu merayakannya dengan pengajian semalam suntuk, walaupun dengan alasan menjauhi fitnah dari tahun baru tersebut.

Acara pengajian mudamudi ini memang tidak rutin, dan di rutinkan pada setiap malam tahun baru.

Setelah kami mengetahui bahwa ini pun di haramkan, SUBHANAULLOH, kami benar2 taqlid buta pada Ulama2 ldii.

Inilah perlunya belajar dari banyak guru...

affan ali mengatakan...

oooh alaaa mas banyak dijadikan guru kwalat sampean.

wong urip mengatakan...

komentar sendiri,terus yang komentar ya orangnya sendiri,lucu ya, dasar pendusta calon ahli neraka selama lamanya kekal abadi,apa gak takut tu.

Anonim mengatakan...

hehehe...
inilah orang2 yg gak mau berguru pada orang lain.
taqlid-lah jadi nya.

kalau gurunya berkata baik, syukurlah jadi baik.
tetapi,
kalau gurunya berkata jorok, kasihan, jadi orang jorok juga??

turuk bosok e... di ikuti tutuk bosok (nasehat dari Nurhasan).
tae bonjrot e... di ikuti taek bonjrot (nasehat dari Nurhasan).
asu, celeng dianceli asu dan celeng.. e.. di ikuti... (nasehat dari nurhasan)

kasihan... mubalerg2 nya jadi wong2 kang jorok2.!!

agus mengatakan...

maaf saya dulu pernah di ajak ikut ldii di benhil jakarta pusat.
waktu itu lagi terkenalnya ustad zainudin mz.
e... malah di bilang zainudin tae bonjrot, ama orang2 di pengajian ldii sono..
sorry.. saya gak mau guru saya jorok!
nanti saya ikut2 jadi jorok!
good bye ldii...
ustad2 kalian jorok2...

Anonim mengatakan...

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu berkata :

وليس لأحد أن ينصب للأمة شخصاً يدعو إلى طريقته، ويوالي ويعادي عليها غير النبي صلى الله عليه وسلم، ولا ينصب لهم كلاماً يوالي عليه ويعادي غير كلام الله ورسوله وما اجتمعت عليه الأمة، بل هذا من... فعل أهل البدع الذين ينصبون لهم شخصاً أو كلاماً يفرقون به بين الأمة، يوالون به على ذلك الكلام... أو تلك النسبة ويعادون

“Tidak seorangpun berhak menentukan untuk umat ini seorang figur yang diseru untuk mengikuti jalannya, yang menjadi tolok ukur dalam menentukan wala’ dan bara’ selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, begitu juga tidak seorangpun yang berhak menentukan suatu perkataan yang menjadi tolok ukur dalam berwala’ dan baro’ selain perkataan Allah dan Rasul-Nya serta apa yang menjadi kesepakatan umat. Tetapi perbuatan ini adalah kebiasaan Ahli bid’ah, mereka menentukan untuk seorang figur atau suatu pendapat tertentu, melalui itu mereka memecah belah umat, mereka menjadikan pendapat tersebut atau nisbat tersebut sebagai tolok ukur dalam berwala’ dan baro" (Majmu’ Fatawa XX:164)

Anonim mengatakan...

#

*
Tulis komentar...

#
Abu Hudzaifah
وذكر شيخ الإسلام ابن تيمية - رحمه الله - ( أن تحذير الأمة من البدع والقائلين بها واجب باتفاق المسلمين )
Dan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah – rahimahullah – menyebutkan, Bahwa memperingatkan ummat dari bid'ah dan para pendakwahnya adalah wajib dengan kesepakatan kaum muslimin
مجموعة الفتاوى (28/231)

Anonim mengatakan...

SEPESIAL BUAT PENGIKUT HIZB SALAFY:DARI KATA2NYA ATAW GAYANYA,TAMPAKNYA LEBIH MUWAFIQ DENGAN PERBUATAN YANG DITUDUHKAN KPD LDII.IKHWAN!! YO KITA BERDA`WAH..DENGAN GAYA `NGAJAK JANGAN SAMBIL NGEJEK`.


HIDUUUP RUSLI........HIDUPP ROMII....