بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Meniti Jalan Salaf

product

dzulqarnain.net

Detail | Pencari Ilmu

Tegar Di Atas Sunnah

product

Assunnah

Detail | My Way

Airmatakumengalir Blog

product

Dakwatuna

Detail | ilallaah

semestinya kita berfikir

Telah kita ketahui bersama,bahwa agama islam ini sungguh telah sempurna.dimana kita sebagai hamba yang muslim pun bukan hanya mengakui terhadap eksistensi firman Allah,akan tetapi yang perlu kita capai adalah buah dari tujuannya,yakni syariat yang telah di bawa oleh nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wasallam hanya tinggal di jalankan saja.tidak di butuhkan pemikiran seseorang untk merubah mengurangi atau menambah aturan yang telah di bawanya.

Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Artinya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS Al Maaidah: 3]

Apa jadinya bila agama ini diwarnai pmikiran liar yg tidak
terbimbing dengan pemahaman salafus shalih,merasa bahwa ada yang masih kurang dalam agama.Apa jadinya pula agama ini
ketika setiap individu pemeluknya bebas memberi tafsir dlm setiap
perkara agama,tanpa diiringi kaidah2 yang telah baku sebgaimana
dilakukan salafus shalih.Maka,tak sepatutnya bgi seorang muslim
meninggalkan ketentuan yg telah secara sah berdasar nash lalu
mngambil pmkiran manusia,hanya karna pemkiran tersebut sejalan
dgn akalnya.


dari mana dalilnya infaq persenan.
dari mana dalilnya surat taubat.
dari mana dalilnya shalat munfarid.

3316 - حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ الْهَمْدَانِيِّ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ تَقُولُهَا إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَإِنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصْبَحْتَ وَقَدْ أَصَبْتَ خَيْرًا تَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ الْبَرَاءُ فَقُلْتُ وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ فَطَعَنَ بِيَدِهِ فِي صَدْرِي ثُمَّ قَالَ وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَفِي الْبَاب عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ الْبَرَاءِ وَرَوَاهُ مَنْصُورُ بْنُ الْمُعْتَمِرِ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ الْبَرَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ وَأَنْتَ عَلَى وُضُوءٍ

رواه الترمذي

apakah anda tau....sekalipun sesorang adalah sahabat rasulullah,tetaplah tidak memiliki wewenang menambah,merubah atau mengurangi perihal yang telah beliau ajarkan pada sahabatnya.....

sebut saya Al baro' ibn Azib...seorang sahabat yanag ceritanya tengah di berikan satu kemuliaan doa ketika hendak tidur....ada lafadz yang hendak di ubah oleh Al baro' ibn Azib yakni walau konteksnya tidak merubah makna hanya merubah lafadz. Al baro' mengatakan
" قَالَ الْبَرَاءُ فَقُلْتُ وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
kemudian Nabi menegur Al Baro'
قَالَ فَطَعَنَ بِيَدِهِ فِي صَدْرِي ثُمَّ قَالَ وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
Al baro' berkata : maka dadaku di tusuk dgn tangannya nabi sambil nabi bersabda "WANABIYYIKA ladzi arsalta"
sejenak kita berfikir dan berfikir....menandakan dalam hadits ini ada beberapa point yang bisa kita ambil manfaat,yakni bahwasanya Nabi tidak mau ada perubahan apa yang telah di sampaikannya,manusia tidak ada haq mengutak ngatik apa yang telah di ajarkan oleh nabiyullah shalallahu alaihi wasallam sekalipun dia adalah sahabat rasul.

catatan "bagi jamaah 354 silahkan membuka kitab da'wat hal 9...insya Allah ada hadits yang sama dgn di atas.

maka hendaknya kita berfikir....lebih dalam lagi berfikir ttg INFAQ PERSENAN,SURAT TAUBAT,NIKAH DALAM dan lain-lain,..
dimana dalilnya...karna kita beragama adalah dilandasi dengan hujjah/dalil.seakan masih terfikir oleh kalian masih ada kurangnya apa yang telah di ajarkan rasulullah pada umatnya.....

wahai saudaraku ....semestinya kita berfikir....
afala ta'qiluun
afala tadzakkaruun
afala tubshiruun


wallahu musta'an

peristiwa tahun baru bersama imam daerah

mungkin ada yang bertanya-tanya tentang postingan di atas,membahas fatwanya fadhilatus syaikh tentang larangannya merayakan tahun baru,apakah ada kaitannya dengan islam jamaah,,,apakah islam jamaah dalam daftar orang yang meraykan pula tentang tahun baru....???

dua hari saya mencari bukti yang pernah saya simpan di arsip komputer sy tapi ternyata beberapa bukti yang telah saya agendakan sebagian hilang....yah qodarullah..alhamdulilah masih ada beberapa file yang masih saya simpan. di mana file ini saya dapatkan jauh-jauh sebelumnya,karna file foto ini berkenan dengan keadaan zaman.utamanya pada generasi muda islam jamaah yang mengusung pembawa bendera quran dan sunnah,begitu titahnya mereka selama ini.

bayangakan berapa kali saya bertugas di beberapa daerah sebagai dainya islam jamaah....dimana pada setiap akhir tahun di adakan semacam kegiatan muda-mudi,dengan beralasankan agar tehindar dari kemaksiatan. ibaratnya bagai makan buah simakalama.....mundur kena maju pun kena.

sesaat saya sadar bawa apa yang di lakukan oleh LDII utk pembaruan militansinya malah berubah aturan baru,aturan yang bertentangan dengan quran dan sunnah....bagaimana tidak hal yang sperti di gambarkan di bawah ini adalah polemik yang selalu saya jumpai....

salah satunya adalah imam daerah gorontalo (sederajat dengan gubernur)


dengan menggunakan projector yang bertuliskan "HAPPY NEW YEAR selamat tahun baru 2009" seorang imam daerah Gorontalo (pak Sudarmono) tengah memberi pengarahan tentang tahun baru kepada jamaahnya.

wah bagimana jadinya...seorang imam sekaligus mubalig melakukan hal yang demikian ....bagaimana menurut anda????

Hukum menyambut dan merayakan hari Raya non Muslim (Natal/Tahun Baru/Imlek, red)

Penulis: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan


Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi'ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi'ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.

Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan kepadanya (yang artinya) : " Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?" Dia menjawab, "Tidak". Beliau bertanya, "Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?" Dia menjawab, "Tidak". Maka Nabi bersabda, "Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam"
[Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]

Hadits diatas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di bertepatan dengan tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah ; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi'ar-syi'ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka atau menjadi wasilah yang mengantarkan kepada syirik. Begitu pula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala' (loyalitas) kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi'ar-syi'ar mereka.

Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makanan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka (kini kebanyakan berpesiar, berlibur ke tempat wisata, konser, acara musik, diakhiri mabuk-mabukan atau perzinaan, red).

Dan diantaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para shahabat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.

Syaikhul Islam Ibnu Timiyah berkata, "Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan".

Pertama. Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena
mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari'atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan Kedua.
Karena hal itu adalah bid'ah yang diada adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu".

Beliau juga mengatakan, "Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi'ar mereka pada hari itu. (Dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim, pentahqiq Dr Nashir Al-'Aql 1/425-426).

Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja [1] maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh. Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi'ar-syi'ar kekufuran.

Segolongan ulama mengatakan. "Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi". Abdullah bin Amr bin Ash berkata, "Siapa yang mengikuti negera-negara 'ajam (non Islam) dan melakukan perayaan Nairuz [2] dan Mihrajan [3] serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat.


Footnote :
[1] Mungkin yang dimaksud (yang benar) adalah 'tanpa sengaja'.
[2] Nairuz atau Nauruz (bahasa Persia) hari baru, pesta tahun baru Iran yang
bertepatan dengan tanggal 21 Maret -pent.
[3] Mihrajan, gabungan dari kata mihr (matahari) dan jan (kehidupan atau
ruh), yaitu perayaan pada pertengahan musim gugur, di mana udara tidak panas
dan tidak dingin. Atau juga merupakan istilah bagi pesta yang diadakan untuk
hari bahagia -pent.

(Dinukil dari tulisan Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dalam kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy[Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1])