بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Meniti Jalan Salaf

product

dzulqarnain.net

Detail | Pencari Ilmu

Tegar Di Atas Sunnah

product

Assunnah

Detail | My Way

Airmatakumengalir Blog

product

Dakwatuna

Detail | ilallaah

maafkan aku telah menjadi pendusta

parah....parah.........sebelum membaca kiriman surat dari sahabat yang tak ingin di sebut namanya..jujur ini membuat saya merasa bahwa masih banyak dari sahabat ini yang bernasib semisal.

"ASSALAMU ALAIKUM...
KEPADA SAUDARAKU YANG TELAH MENYEGERAKAN INGATANKU UNTK KEMBALI KEJALAN ALLAH...sungguh dulunya saya sebelum mengenal dakwah LDII saya hanyalah seorang penipu pendusta untuk mencapai apa yang saya inginkan...sampai suatu ketika saya di pertemukan dengan dakwah yang awalnya menggungah jiwa saya utk ingat pada Allah dan beribadah kepadaNya.

dalam perjalanan saya setelah di baiat,maka di jelaskan pula keutamaan orang jamaah yang sudah berbaiat :
1. hidupnya halal
2. amalannya di terima.
3. mati sewaktu-waktu masuk surga selamat dari neraka.

mendapat ukhro
1. halal hartanya orang luar jamaah asalkan tidak ketahuan nyolongnya.nek konangan iku budi ashor....
2. halal berdusta (membithonahkan)merahasiakan apa-saja yang akan membuat orang geger.

parahnya setelah berjamaah di LDII malah menjadikan saya semakin leluasa berdusta,mencuri (karna telah di doktrin bondone wong jobo iku halal),hanya pembedanya sholat antara saya dulu sebelum LDII dan setelah di LDII.

saya sangat berharap ketika bertemu dgn LDII sikap dan tabiat saya akan hilang,ternyata makin subur tabiat itu di karnakan teman-teman 354 juga berprilaku demikian.

saya ingin kembali ke jalan yang benar...semakin hari hati saya gelisah bertanya-tanya apakah kelakuan seperti saya telah di contohkan oleh nabi dan para sahabat juga???

astagfirullah....mudah2an tulisan saya bisa di baca oleh saudaraku yang mungkin berprilaku seperti saya hendaknya bertaubat...wassalamu alaikum
"

TIDAK ADA JALAN YANG LAIN KECUALI KEMBALI KEPADA QUR AN DAN SUNNAH MAAFKAN AKU TELAH MENJADI PENDUSTA

Comments
151 Comments

151 Response to "maafkan aku telah menjadi pendusta"

Anonim mengatakan...

semoga warga2 islam jama'ah, Alloh beri mau mencari ilmu, mau membuka hatinya utk ilmu, mau menghilangkan kebodohan selama ini yg terasa kebenaran.

fitroh manusia kembali ke jalan Penciptanya. InsyaAlloh, semoga. aamiin.

Anonim mengatakan...

Masya Allah , semoga kita di tetapkan Allah dalam agama-Nya yang lurus dan sempurna ini.

Mari kawan , eratkan persaudaraan kita dan galakan dakwah dalam upaya memerangi PAHAM sesat ahmadiyah dan islam jamaah ( LDII ).

Semoga Allah memudahkan dakwah kalian semua dan jauhi anarkis serta kerusakan .
Kaidah dakwah adalah mendahulukan untuk menghindari kerusakan dibanding dengan harapan memperoleh manfaat.

Aku pemerhati kelompok sesat ,islam sempalan , LDII

Anonim mengatakan...

Sungguh aku berwasiat kepada saudara-saudaraku salafiyyin -dimanapun ia berada- untuk bertakwa kepada Allah Ta’âlâ di dalam pena-pena dan tulisan-tulisan mereka, di dalam melakukan bantahan, menerangkan kesalahan dan mengomentari mereka…

Aku tidak mengatakan pada mereka -saudara-saudaraku salafiyin-:

Jangan kalian tulis!!

Jangan kalian bantah!!

Jangan kalian komentari!!

Tidak!!! Bahkan tulislah, akan tetapi dengan ilmu…

Bantahlah….akan tetapi dengan santun…

Berikanlah komentar…akan tetapi dengan lembut…

Dan sungguh (sebagian saudara-saudaraku) yang bersemangat -atau memiliki kecemburuan- terhadapku bergegas mengatakan:

“Akan tetapi (wahai syaikh!,) mereka yang menyelisihimu itu(!) telah mencerca, berbohong, berbuat kedustaan, mencela dan menuduh!

Maka aku katakan -sebagai jawaban-:

Janganlah kalian melakukan seperti apa yang mereka lakukan.

Jjanganlah kalian berjalan di belakang mereka (mengikuti cara mereka, ed.),

Janganlah kalian terbakar emosi dengan perbuatan-perbuatan mereka!!!

Anonim mengatakan...

Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mdil -Mahasuci Ia-,

Doakanlah mereka dengan hidayah dan kebaikan…

Ikhlaskan niat karena Rabb kalian ketika dalam membantah mereka….

Berbuat jujurlah bersama diri kalian…

Jangan jadikan tujuan kalian -baik besar maupun kecil!- hanya sebagai pembelaan -semata- terhadap Fulan atau ‘Allan!! (Meskipun perbuatan tersebut -jika sesuai dengan kadarnya- adalah sesuatu yang disyariatkan tidak dilarang)

Jadikanlah tujuan kalian untuk menolong agama dan manhaj kalian (dari hal-hal) yang ditimpa ghuluw, maupun keangkuhan… yang ditimpa tamyî‘ (sikap lembek),hal yang merusak,ataupun keburukan!!

Janganlah kalian kelewat batas di dalam memuji, dan jangan pula berlebihan dalam mencela…

Akan tetapi bersamaan dengan itu saya katakan –dalam mengakui kenyataan yang tidak dipungkiri- :

Sesungguhnya serangan (yang menghancurkan) itu -yang tidak mengenal belas kasih- , penjatuhan (kredibiltas) yang sangat keras ini, dan bantahan yang kejam -yang diarahkan pada kami- akan menghantarkan –dan ini adalah suatu keharusan- kepada balasan perbuatan yang sebaliknya! Yaitu dengan sedikit sikap keras.

Anonim mengatakan...

Aaku tidak mengatakan : sama seperti sikap keras mereka!! bahkan –hampir- tidak sampai sepersepuluhnya atau kurang dari itu!

Dan ini -atas keadaannya sebagai orang yang menyelisihi- lebih sesuai dengan perkara yang tertanam dalam tabiat jiwa, sebagaimana Rabb kita -mahasuci Ia- berfirman:

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيل

“Dan sungguh orang-orang yang membela diri setelah dizhalimi tidak ada satu dosapun terhadap mereka.” (QS asy-Syûrâ: 41)

Hanya saja setiap dari kita hendaknya mencurahkan kesungguhan yang pada dirinya sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya, untuk melawan hal yang mendorongnya untuk membalas, atau mengembalikan permusuhan-, sebagaimana firman Allah Ta’âlâ :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan Kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Ankabût : 69)


[Dialihbahasakan oleh al-Akh Fachri
Dari Muqoddimah Manhaj Salaf hal 35-37 cet-2
karya Syaikh ‘Alî Hasan al-Halabî,
dengan sedikit pembenahan oleh Abu Salma]

Anonim mengatakan...

LOL! udah kehabisan bahan mas?

abu husain mengatakan...

bismillah

abu husain mengatakan...

Waduh, Ternyata Firanda Seorang Pendusta……

Tentang kedustaan Firanda, telah kami jelaskan sebelumnya bahwa yang menghukumi dustanya Firanda bukanlah seorang ustadz yang berasal dari Indonesia, namun seorang Syaikh dari kota Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang masyhur yang sangat dikenal kiprahnya dalam dakwah salafiyah, yaitu Syaikh: Abdullah Bin Abdurrahim Al-Bukhari Hafizhahullah Ta’ala. Beliau benar- benar mengetahui akhlak Firanda yang sangat buruk ini, sebab beliau yang menghadapinya secara langsung tentang fitnah keji yang dia sebarkan olehnya. Berikut ini fatwa Beliau:

Terjemahan :

“Ditempat kalian terjadi fitnah, apakah ditempat kami tidak terjadi fitnah? Kami juga mengalami fitnah, bahkan fitnah yang lebih banyak dibanding kalian, kalau kita terus berjalan dibelakang setiap mereka, yakni setiap orang dari mereka para pelaku kejahatan berbicara, dan jumlah mereka sungguh banyak –semoga Allah tidak menambah lagi jumlah mereka menyebabkan kita tidak lagi mengajar manusia, tidak lagi membuat karya ilmiah, tidak lagi menulis, tidak lagi mengajar dan menyebarkan agama.

termasuk orang yang paling fajir diantara mereka (ahli fitnah). paling buruk dan pendusta sekarang ini adalah si jahat yang dikenal dengan nama Firanda yang berasal dari Indonesia. Si jahat dan pendusta besar ini berjalan di kota Madinah mendatangi sebagian para pelajar dan sebagian orang, dan membuat kisruh bahwa Syaikh Abdullah (al-Bukhari) tidak menyisakan satupun, semuanya dikritik, dia mengkritisi si fulan, mengkritisi Syaikh al-Abbad dan anaknya dan saya tidak tahu siapa lagi, sebab ketika mereka datang kepadaku, dia bersama yang lain dari pengikutnya Ali Musri dan aku membicarakan mereka dan kebodohan mereka, si bodoh yang ngawur Ali Musri dan sikap dia pada tahun yang lalu. Dan aku mencela Firanda atas bukunya yang berbicara tentang Ihya At-Turats, Aku jelaskan kebobrokan Ihya At-Turats dan memaparkan kepada mereka siapa itu Ihya At-Turats. mereka berkata: Demi Allah wahai Syekh, kami benar-benar tidak tahu, jazakallah khaer engkau telah menjelaskannya. Maka saya berkata : nah, sekarang aku telah menjelaskan, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Tentunya orang ini (maksudnya Firanda,pen) dia keluar dari kediamanku dalam keadaan dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan dan perbuat setelah menyebarkan kedustaan, kefajiran dan kejahatan ini. Bahkan teman-temannya yang ketika itu bersamanya, diantara mereka Nur Ihsan dan yang bersamanya, mereka berkata: wahai syaikh, kami tidak memahami ucapanmu ini dengan pemahaman itu, dan engkau telah mengetahui bahwa orang ini (maksud mereka Firanda,pen) jahat dan pendusta,fajir, bahkan kelewat batas dalam berdusta pula. Maka kita semoga Allah memberkatimu- setiap hari kami menghadapi fitnah, dan setiap hari kami menghadapi para pencari fitnah. Kalau sekiranya kita menyibukkan diri dengan mereka, kita tidak akan mendakwahi manusia, tidak mengajar lagi, ya akhi, tinggalkan mereka…

sumber ;www.salafybpp.com

Anonim mengatakan...

Fatwa syaikh Ubaid Al-Jaabiri hafidzohullah

(قال السائل) : الشيخ هل يجوز الدراسة في معهد من يأخذون مال إحياء التراث والاستماع إلى إذاعتهم؟

(فأجاب الشيخ بقوله) : أقول : الجمعيات أو الجماعات المنحرفة إذا قدَّمَتْ عوناً في السلفيين فهذا العون له... حالتان؛

إحداهما أن يكون مشروطاً بأن ينشروا الأفكار المنحرِفة مثل أفكار سيد قطب والمودودي والبنَّا وغيرهم من دعاة الضلال والانحراف، فهذا العون لا يجوز القبول له

والمدارسُ التي تدرِّس هذه الأفكار وتُلبس الحق بالباطل فلا تجوز الدراسة فيها، يعني نهاية الدارس الضلالُ أو التشويش والحيرة فيصبح مضطرباً لا يميِّز بين حق وباطل والغث والسمين والصحيح والسقيم.

الثاني : أن يقدِّموا عوناً غير مشروط. يبنون مسجداً أو مدرسةً أو معهداً ويأتون بكتب على السنة غير مخلوطة ويطلبون من أهل السنة أن يختاروا الأئمةَ والمؤذنين والمعلِّمين منهم ولا تتدخل هذه الجهة المنحرفةُ من جماعة أو فرد في أمر أهل السنة، إنما تُقدِّم لهم العون المطلق فقط، هذا لا مانع من قبوله. ويدخل تحت هذا المعهدُ الذي ذكرتَ يدخل في نفس التقسيم، وهذا دليلُه قوله صلى الله عليه وسلم ((إن الله لَيُؤَيِّدُ هذا الدين بالرجل الفاجر)).

ولا شك عندنا أن الاستعفاف أفضل والاستغناء لقوله صلى الله عليه وسلم ((من يستغنِ يُغنه الله ومن يستعففْ يُعِفَّه الله ومن يتصبر يصبره الله))، نعم لكن كثير من تجمعات أهل السنة من قرى ومُدُن وأحياء الفقرُ فيهم هو السائد، فهم محتاجون إلى من يبني لهم مسجداً أو مدرسة ويعيِّن لهم إماماً يعلِّمهم دينَ الله ويفَقِّهُهم فيه، فإذا قُدِّم لهم عونٌ غير مشروط من جهة منحرفة فلا مانع من قبوله إن شاء الله تعالى

(قال السائل) : لكن -يا شيخنا- الذي عرفنا من هؤلاء أنهم يمكرون لأهل السنة

(قال الشيخ) : هذا لا شك فيه أن معك في هذا، ولهذا أنا فصّلتُ، وأُضيفُ هنا إذا عرفتم مكرهم فكُفُّوا عن قبول العون، هذا معروف. لكن قَدْ وُجِدَ أيضاً في بعض الأحيان ما يمكرون، إذا وجدوا أهلَ السنة أقوياء، لكن إذا وُجد منهم مكرٌ كُفَّ عن قبول عونهم، فيقال : نحن قبلنا عونكم بدون شروط. إذا وُجد أنهم يبعثون دسائس ويبثون من خلالها أفكارًا تَحْرف المسلمين عن منهج الحق فنحن نكف عنهم، نكف عن ما لديهم. فصلاتنا في الفضاء خيرٌ من صلاتنا في مسجدٍ يُؤسّس على الضلالة، أو يؤسَّس أولَّ مرةٍ على هدى ثم بعد ذلك يغلِب عليه الضلالُ والبدعة والانحراف ويصبح وكراً للأفكار الهدَّامة والمناهج المنحرفة.

Anonim mengatakan...

asyikkk si abu husain dah nongol lagi nich
bisa 1 kali mendayung 2 pulau terlewati
1 membantah abu husain
2 menasihati jokam ldii
selamat datang kembali abu husain
ahlan wa sahlan

Anonim mengatakan...

Nama : Firanda Andirja Abidin

Kunyah : Abu Abdil Muhsin

Tempat tanggal lahir : Surabaya 28 Oktober 1979

Status : Nikah

Istri : Rosmala Dewi (Ummu Abdil Muhsin)

Ayah dari 3 orang putra dan putri, Abdul Muhsin, Aiysah, dan Zainab

Pendidikan:

TK Pertiwi : Sorong Irian Jaya

SD Inpres 17 : Sorong Irian Jaya

SMP negeri 1 Sorong Irian Jaya

SMU negeri 1 Sorong Irian Jaya

S1 : Fakultas Hadits Islamic University of Madinah (Universitas Islam Madinah)

S2 : Fakultas Dakwah Jurusan Aqidah

Judul Tesis :

أَجْوِبَةُ شَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رحمه الله عَنِ الشُّبْهَاتِ التَّفْصِيْلِيَّةِ لِلْمُعَطِّلَةِ فِي الصِّفَاتِ الذَّاتِيَّةِ
Jawaban Ibnu Taimiyyah terhadap syubhat-syubhat terperinci yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah dzatiyah yang dilontarkan oleh para penolak sifat

Dan sekarang masih menunggu jadwal sidang (pendadaran) tesis tersebut

Februari 11, 2011
Anonim Anonim berkata...

Tentang kedustaan Firanda, telah kami jelaskan sebelumnya bahwa yang menghukumi dustanya Firanda bukanlah seorang ustadz yang berasal dari Indonesia

KLO ANTUM MEMBANTAH BANTAHLAH DG ILMIYAH DAN TUJUKAN KE ALAMAT DI ATAS
bertobatlah , janganlah mengikuti jalannya yahudi ( madigol ) yang demi mempertahankan kebodohannya rela menipu dan berbohong dan maksiat lainnya.

mengapa dia tidak duluan melakukanya abu hasad????

klo antum mau menasihati ustadz FIRANDA yang antum tulis di atas datang dan nasihati beliau di FIRANDA.com situs milik dia kita tunggu jawabannya yah jangan cuman OMONG DOANG
nasehat nasehat nasehat

Anonim mengatakan...

NASEHAT DARI USTADZ FIRANDA...

Firanda Andirja
Sahabatmu yang menasehatimu adalah sahabat yang sayang padamu sehingga ingin kebaikan bagimu, adapun sahabat yang membiarkanmu dalam kesalahan tanpa menasehatimu adalah sahabat yang telah menipumu.
Kemarin jam 12:40 · Tidak SukaSuka · Anda

Anonim mengatakan...

Ustadz-ustadz yang mentahdzir tersebut, sebenarnya juga menerima beasiswa dari Ihya' AtTurots ketika dulu kuliah di Madinah.
Kenapa sekarang ketika sudah lulus, ketika sudah terjun ke medan dakwah, mereka tidak melihat dari mana uang mereka kuliah dulu.
Sedikit orang terlihat aibnya, ditelanjang sampai seluruh aibnya tampak. Sifat salaf itu tidak seperti itu, dan mereka ketika dinasehati juga telinga mereka seperti tuli. Semoga Allah menolong kita semua

Anonim mengatakan...

bismillah. assalamu alaikum. assalamu ala manittaba'al huda. Bagaimana menurut antm kalau permusuhan sebab ihya turats disikapi dengan sederhana: pengambilan dana dari It segera dihentikan. Sedangkan untuk para saudara agar lebih peduli dengan kebutuhan dakwah dan dai supaya langkah ini bisa sempurna. Karena memang diakui di banyak tempat sulit banget mengumpulkan dana dakwah dari para ikhwah?? khawatir,ini penyakit bakhil.

wa'alaikumsalam
Ide antum bagus, akan tetapi tentunya ini hanyalah sebuah ide, akan tetapi sangat tidak menjamin timbulnya persatuan. ana harap antum merenungkan point-point berikut ini :
- Ini merupakan perkara ijtihadiah yang tentunya kita hanya bisa menganjurkan untuk meninggalkan ihyaa At-Turoots, akan tetapi kenyataannya mereka yang mengambil dana enggan untuk meninggalkan, bukan karena hawa nafsu atau ingin jadi orang kaya akan tetapi karena banyak maslahat yang mereka dapatkan dari sisi dakwah dan pendidikan. toh orang yang mengambil dana bukanlah orang kaya
- kebanyakan orang yang ditahdzir bukanlah orang yang mengambil dana
- mereka yang tukang tahdzirpun saling mentahdzir, bahkan dengan perkataan yang keji dan buruk. sebagai contoh coba baca link berikut ini
http://www.facebook.com/home.php#!/permalink.php?story_fbid=177966935558685&id=100000733806235
Jadi meninggalkan At-Turoots bukanlah suatu jaminan
Bahkan mereka saling mentabdi'
- perkara ijtihadiah tidak akan pernah selssai hingga hari kiamat, oleh karenanya cara pemecahannya bukan dengan memaksakan kepada salah satu pendapat kalau tidak maka dihantam, akan tetapi cara penyesaiannya hanyalah satu... yaitu...
- harus mengikuti manhaj AHlus sunnah wal jama'ah , manhaj salafy dalam menghadapi permasalahan khilaf ijtihadiah.
Inilah yang tidak diikuti oleh saudara-saudara kita, tidak bermanhaj salaf dalam menyikapi khilaf yang mu'tabar. baarokallahu fiik

Anonim mengatakan...

# ibnmuflih 2011-01-07 18:09
bismillah .. ustaz , ana ikhwan dari malaysia yg pernah menelpon ustaz berkenaan masalah ustaz dengan syaikh al-bukhari , ana cukup terkejut mendengar suara rakaman ini , ana sangat kenal dengan suara ustaz xxx dr malaysia tersebut , sesuai dengan realiti ustaz ini menyembunyikan fatwa syaikh , sebagai bukti dia melarang sahabat ana untuk menyekolahkan anaknya di ponpes binbaz dengan alasan ya seperti itu , sementara ustaz ini menterjemahkan sendiri tentang bolehnya menimba ilmu di tempat yg menerima bantuan dari ihya at-turots

Anonim mengatakan...

baca kelanjutannya di....



http://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/101-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-6-tahdziir-dan-tabdii-berantai-ala-mlm-awas-sururi

Anonim mengatakan...

ana bosen deh dg sikap abu hasad.
mendingan antum beat lagi aja deh.. di kedaerahan pondok gede.

anda sudah menyalahi aturan imam.

imam benjol kali ye...

nb.
di ldii hisby nya terlihat jelas, bahkan hizby nya sampai mengkafirkan saudaranya sesama muslim.
MIRIP ni yee...

Anonim mengatakan...

wkwkwkwk....abu hasad bin jahil , ahlan wa sahlan....

ana kira antum sudah tobat nih..

apa kabar sobat jahil ? apa lagi ngumpulin cerpen lainnya ....

wkwkwkwk.....sombong dan bodoh lagi , kok bangga

Anonim mengatakan...

IJMA’ (Konsensus) Para Ulama yang berhubungan dengan Menempatkan Hukum Bagi Penguasa Negeri Sebagaimana Kedudukan Imam yang dibai’at

Abul Hasan Al-Asy'ari –Tatkala menyebutkan perkara-perkara yang Merupakan ijma' para -Salafus Sholih- berkata, "Ijma' ke empat puluh delapan. Mereka (para salaf) berijma' untuk senantiasa setia mendengar dan taat kepada para penguasa kaum muslimin, dan barang siapa yang berhasil menguasai pemerintahan kaum muslimin baik dengan cara yang diridhoi atau dengan cara kudeta dan akhirnya kekuasaan berada padanya –baik ia adalah orang baikmaupun jahat- maka tidak boleh untuk memberontak dengan mengangkatsenjata kepadanya baik ia berlaku jahat atau adil. Dan wajib untuk berperang bersama mereka (para penguasa) melawan musuh…". (Risaalah ila Ahli Ats-Tsaghr 296-297)
Beliau adalah al-Imam Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais bin Hadhar. Abu Musa Al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang masyhur. Beliau -Abul Hasan Al-Asy’ari- Rahimahullah dilahirkan pada ta¬hun 260 H di Bashrah, Irak.
Para pakar hadits (Ashhabul hadits) sepakat bahwa Abul Hasan al-Asy’ari adalah salah seorang imam dari ashhabul hadits
Abu Bakr bin Faurak berkata, ”Abul Hasan al-Asy’ari keluar dari pemikiran Mu’tazilah dan mengikuti madzhab yang sesuai dengan para sahabat pada tahun 300 H.”
Guru beliau : muhaddits Baghdad Zakariya bin Yahya as¬-Saji. Demikian juga, beliau belajar kepada Abul Khalifah al-Jumahi, Sahl bin Nuh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqri, Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri, dan para ula¬ma thabaqah mereka. >>>>

Anonim mengatakan...

Imam An-Nawawi berkata: "Adapun memberontak dan memerangi para penguasa maka (hukumnya) haram dengan dasar ijma' (konsensus) kaum muslimin, meskipun mereka (para penguasa) adalah orang-orang yang fasik dan zalim. Dan sangat banyak hadits-hadits yang semakna dengan apa yang saya sebutkan ini. Ahlus Sunnah telah ijma' (berkonsensus) bahwasanya seorang penguasa tidaklah serta merta terlepas kekuasaannya hanya karena ia melakukan kefasikan." (Syarh Shahih Muslim 12/229)

Ibnul Qayyim juga berkata, "Pasal tentang apa yang merupakan ijma' (konsensus) umat dari perkara-perkara aqidah (as sunnah). Tentang perkara-perkara agama dari sunnah-sunnah yang telah disepakati oleh umat dan penyelisihan terhadap perkara-perkara ini adalah bid'ah dan dhalalah (kesesatan)…." [Ijtimaa' Al-Juyuusy Al-Islaamiyah hal 83].
Kemudian beliau menyebutkan perkara-perkara yang merupakan ijma’ (konsensus) tersebut diantaranya… : "Setia mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum muslimin dan setiap orang yang menjadi penguasa urusan kaum muslimin baik dengan kekuasaan itu ia peroleh dengan keridha-an ataupun dengan cara kudeta dan keras pijakannya baik dari pemimpin yang baik (sholeh) maupun fajir. Maka tidak boleh memberontak kepadanya baik dia (seorang penguasa yang) zalim ataupun yang adil…". (Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah hal 86)
Beliau adalah Imam, ‘Allamah, Muhaqqiq, Hafizh, Ushuli, Faqih, Ahli Nahwu, berotak cemerlang, bertinta emas dan banyak karyanya; Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi.
asy-Syihab an-Nablisiy, al-Qadli Taqiyuddin bin Sulaiman, Abu Bakr bin Abdid Da’im, Isa al-Muth’im, Isma’il bin Maktum dan lain-lain
Belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy.
Banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid beliau. Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambali al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i, Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi’i dan lain-lain.

Anonim mengatakan...

"Sesunggunhnya Penguasa adalah naungan Allah di muka bumi, maka barangsiapa yang menghina-kannya maka Allah akan menghinakannya dan barang siapa memulyakannya maka Allah akan memulyakannya." (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim, Ahmad, Ath-Thoyalisi, At-Tirmidzi dan Ibnu Hiban, dan dihasan-kan oleh Al-Albani)
Tidak ada perselisihan sedikitpun dari kalangan para ulama dan para ahli tafsir bahwa yang dimaksud As-Sulthon pada hadits di atas adalah para penguasa negara yang mereka itu muslim, seperti Raja Kerajaan Saudi Arabia, Kepala Pemerintahan Negara Indonesia dan seterusnya.

Di dalam al-qur'an menunjukkan bahwa hadist itu adalah dalil, begitu pula al-qur'an dan hadist menunjukkan bahwa ijma itu adalah dalil, dan al-qur'an, hadist dan ijma menunjukkan bahwa qiyas itu adalah dalil.

Dari hal ini, maka benarlah jika dikatakan bahwa sumber dari empat dalil ini adalah alquran, adapun selainnya adalah penjelas dari quran yang bersandar kepada alqur’an.

Jika ada yang bertanya, kenapa perlu ada ijma dan qiyas, bukankah al-qur’an dan hadits sudah cukup untuk menentukan suatu hukum dari agama islam???

Maka jawabnya, untuk ijma, maka rosulullah bersabda :

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ

“sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat terhadap hal-hal yang sesat”. (HR Ibnu majah dalam sunannya, dan dihasankan syaikh Albani)

Begitu pula syaikh utsaimin berkata dalam ushul min ‘ilmi al ushul :
“kita katakan, bersepakatnya umat ini atas suatu hal, bisa jadi hal itu adalah benar, dan bisa jadi hal itu adalah salah. Jika hal itu adalah benar, maka itu menjadi dalil, namun jika hal tersebut adalah sesat, maka bagaimana mungkin, umat ini yang merupakan semulia-mulianya umat diantara umat-umat yang lain, dari masa nabinya sampai pada hari kiamat, berada pada perkara yang menyesatkan yang tidak diridhoi oleh Allah ta’ala?? Ini merupakan perkara yang sangat mustahil".

Dari hal ini, sangat jelaslah bahwa ijma merupakan dalil selain dari al-qur’an dan hadist.

Lalu, apa faidah kita mengambil ijma sebagai dalil??

Maka hal ini untuk menegaskan suatu dalil dari al-qur’an dan hadits. Maksudnya, ketika terdapat suatu dalil al-qur’an dan hadits yang menunjukkan hukum suatu hal, kemudian para ulama bersepakat, ijma akan benarnya hukum tersebut, maka tidak ada orang lain yang bisa merubah dan mengganti hukum yang telah ditetapkan tersebut. Dan orang yang menyelisihinya adalah orang yang sesat.

Mengajak Kepada Hizbiyah dan Perpecahan Umat
Tanpa kita sadari selama ini berdakwah mengatasnamakan Syari'at Islam dan Persatuan, maka pada hakekatnya mereka justru berdakwah didalam kesesatan dan perpecahan umat (firqoh). na'dzubillah min dzalik....

Anonim mengatakan...

selanjutnya baca di http://separuhhidupkupergi.blogspot.com/2011/02/blog-post.html

Anonim mengatakan...

Hanya Ulama Yang Berhak Berbicara Masalah Fitnah

Pertanyaan :

كيف نفرق بين السكوت عن الفتن المذموم وبين عدم الخوض فيها المحمود؟

Bagaimana cara kita membedakan antara tercelanya bersikap diam terhadap fitnah dengan terpujinya sikap tidak menceburkan diri ke dalam fitnah?

Jawaban :

Al-‘Allâmah Shâlih Fauzân al-Fauzân menjawab :

الفتن لا يتكلم فيها الا أهل العلم والبصيرة، ما الكل يتكلم فيها. إذا تكلم الجهال في الفتن زادت الفتن؛ أما إذا تكلم العلماء فيها وبينوها فإنها تطفأ بإذن الله. فالفتن ما يتكلم فيها كل أحد وإنما يتكلم فيها أهل العلم وأهل البصيرة الذين يعرفون الحق من الباطل ويعرفون كيف يتكلمون. ما يخوض كل واحد في الفتن ويتكلم ويفتي ويقول .. نعم

Tidak ada seorang pun yang berhak berbicara masalah fitnah kecuali hanya ulama dan ahli bashiroh. Tidak setiap orang boleh berbicara tentangnya. Apabila orang jâhil (bodoh) ikut berbicara masalah fitnah, maka akan malah semakin menambah fitnah. Adapun jika yang berbicara dan menjelaskannya adalah para ulama, maka hal ini sesungguhnya dapat memadamkan fitnah tersebut dengan izin Alloh.

Jadi, masalah fitnah, tidak boleh setiap orang berbicara tentangnya. Yang boleh hanyalah ahli ilmu dan bashiroh, yang mana mereka dapat mengetahui kebenaran dari kebatilan, dan mengetahui bagaimana seharusnya mereka berbicara. Tidak boleh setiap orang menceburkan diri, berbicara, berfatwa dan berpendapat tentang masalah fitnah… iya

Anonim mengatakan...

Bagian1
Kita semua tahu bahwa LDII/jamaah 354 mengusung dalil atsar Umar Bin Khatab yang berbunyi : laa islama ila bil jamaah wala jamaah ila bi imaroh (Tidaklah iIslam kecuali dengan Al Jamaah, dan tidaklah Al Jamaah kecuali dengan Imaroh). Konyolnya, oleh imam dan jamaah 354 kata-kata dan lafaldz ‘al jamaah’ dan ‘imaroh’ pada dalil tersebut dinisbatkan pada imam dan golongan mereka. Sehingga jamaah 354 mengartikan atsar umat tersebut sebagai modal untuk mengkafiri orang islam diluar golongan mereka. Seakan mereka berkata “ tidak berbeat pada Imam kami, maka kalian tidak berjamaah, kalau kalian tidak berjamaah berarti kalian tidak islam, kalau kalian tidak islam berarti kalian kafir, dan siapa saja anggota kami yang keluar maka hukumnya murtad. Masya Allah. Itulah orang jahil dalam menafsirkan atsar. Diperburuk dengan pucuk pimpinan mereka yang ambisius untuk berkuasa dan terus menguasai pengikutnya. Patut diketahui, bahwasannya tidak ada ulama muktabar yang menjadikan atsar tersebut sebagai dasar untuk pengkafiran sesama muslim. Apalagi atsar tersebut lemah secara sanad. Apabila ditegur jamaah 354 mengenai kedudukan atsar tersebut, maka jamaah 354 selalu menuding seolah orang yang mengkoreksi meragukan kredibilitas Umar Bin Khatab. Padahal tidak begitu maksudnya. Umar Bin Khatab sudah mahfum sebagai khalifaturosyidin almahdiyyin panutan umat Islam. Hanya saja atsar umar itu bukan pada tempatnya dijadikan patokan dan modal dasar pengkafiran umat islam seperti apa yang telah dilakukan dan diyakini oleh jamaah 354. Mungkin mereka 354 sengaja melakukan pembelokan ini karena apabila atsar ini dipahami dengan benar oleh jamaah 354, para petinggi jamaah 354 akan khawatir akan kehilangan pengikut. Oleh karena itu pucuk pimpinan mereka terus melakukan penyesatan dan syabhat-syubhat pada para rukyahnya. Rukyah terus dibrainwashing agar bisa terus dikuasai oleh imam mereka (dan para menteri khayalannya)

Anonim mengatakan...

Bagian 2
Baru-baru ini petinggi LDII/jamaah 354 telah mengeluarkan buku ‘ilmiyah’ yang isinya adalah pembelaan mengenai eksistensi Imamah dan Jamaah 354. Buku itu sekan menjadi pembenaran akan tindakan takfiri dan hizbiyyun ala jamaah 354. bagi pembaca yang berminat menelaahnya dan melakukan analisa, pembaca bisa mengunduhnya di
http://www.4shared.com/document/Lftufa25/konsep_jamaah_wal_imamah_354_l.html

dengan menelaah buku itu, kita akan mengetahui cara mereka berpikir sehingga itu akan memudahkan kita untuk melakukan pencegahan dan radd atas pemikiran sesat mereka dengan cara yang ilmiah dan berhujjah.

Buku itu nampaknya sengaja untuk tidak dicantumkan siapa pengarangnya dan Siapa penulisnya . Buku itu sengaja untuk tidak menampilkan identitas penyusunnya. Hal ini bisa dikarenakan:
1 Pihak penulis buku tersebut /LDII/jamaah bersiap-siap sembunyi dan lempar batu sembunyi tangan apabila dikemudian hari karyanya mendapatkan “masalah”, kritik, permintaan pertanggungjawaban. Ini memang jauh dari etika sebuah pemaparan dan hujjah. Apabila ada pihak yang ingin melakukan recheck buku tersebut pada pihak LDII, maka itu akan memudahkan LDII mengeles dan berkata “ bukan kami yang menulis buku tersebut’.

2 Penulis buku tsb secara tidak disadari, mengindikasikan bahwa sebenarnya ia melakukan penulisan itu dengan emosional, parsial, prematur, hawa nafsu sekaligus disatu sisi: tidak pede dan tidak merasa tidak punya kapasitas keilmuan dalam melakukan pembelaan resmi .(takut menghadapi kritik dan pertanggungjawaban sehingga ia memilih tabrak lari)

Tapi maklum aja, memang begitu gaya dan style mereka.

Saya merekomendasikan agar buku ini (format pdf) dapat diteruskan dan disebar ke seluruh elemen umat islam, pemerintah, ormas-ormas dan MUI. Karena dengan memahami doktrin-doktrin dan ajaran mereka, kita akan semakin tahu jatidiri mereka sesungguhnya, membuat kita bisa lebih berhati-hati menghadapi 354 dengan segala praktek bitonahnya dan ‘budiluhur’nya, dan bisa menyuguhkan hujjah bantahan aliran 354 langsung pada jantung masalah.

Mari kita belajar dari pengalaman dan modus operandi LDII/jamaah 354 yang senantiasa mengusung bitonah sebagai pembenaran untuk berbohong demi keselamatan sekte mereka serta praktek double standar LDII /jamaah 354 sehingga kita tidak mudah percaya dan terbuai pada tulisan-tulisan mereka, argumen mereka, mulut manis mereka. Sudah dimaklumi bahwa ketika jamaah 354/LDII bicara dengan ‘orang-luar’ maka teori mereka tidak sama dengan praktek mereka di lapangan (lain di mulut lain di hati)

Abu Bakar mengatakan...

Blog ini nampaknya sengaja untuk tidak dicantumkan siapa pengarangnya dan Siapa penulisnya . Blog ini sengaja untuk tidak menampilkan identitas pembuatnya. Hal ini bisa dikarenakan:
1 Pihak pembuat/penulis blog ini bersiap-siap sembunyi dan lempar batu sembunyi tangan apabila dikemudian hari karyanya mendapatkan “masalah”, kritik, permintaan pertanggungjawaban. Ini memang jauh dari etika sebuah pemaparan dan hujjah. Apabila ada pihak yang ingin melakukan recheck buku tersebut pada pihak salafi, maka itu akan memudahkan SALAFI mengeles dan berkata “ bukan kami yang menulis blog ini’.

2 Penulis/pembuat blog ini secara tidak disadari, mengindikasikan bahwa sebenarnya ia melakukan penulisan itu dengan emosional, parsial, prematur, hawa nafsu sekaligus disatu sisi: tidak pede dan tidak merasa tidak punya kapasitas keilmuan dalam melakukan pembelaan resmi .(takut menghadapi kritik dan pertanggungjawaban sehingga ia memilih tabrak lari)

Tapi maklum aja, memang begitu gaya dan style SALAFI.

Mari kita belajar dari pengalaman dan modus operandi SALAFI yang senantiasa mengusung GHIBAH, permusuhan, kedengkian, penyesatan&pemelintiran hujjah/fatwa syaikh/ustadz sebagai pembenaran untuk berdakwah demi keselamatan sekte mereka serta praktek kelacutan SALAFI sehingga kita tidak mudah percaya dan terbuai pada tulisan-tulisan mereka, argumen mereka, mulut manis mereka. Sudah dimaklumi bahwa ketika SALAFI bicara dengan ‘orang-luar’ maka SIFAT BUSUK IBLIS AKAN SELALU MERASUK DALAM SETIAP TULISAN MEREKA.

Anonim mengatakan...

alhamdulillah berarti dibaca dan disimak :P

Anonim mengatakan...

aku menduga penulisnya adalah abu sahl alias mas yayan alian bpk. ihsan muhyidin bin zubaidi umar, salah satu pakubumi yg bermukim di singapura.
mungkin udah kadung nyaman di singapura akhirnya jadi pemuja negara sekuler dan mendiskreditkan negara islam (daulah islamiyyah)...... wal iyyadu billah, tabayyunlah ke ulama ahlussunnah wahai saudaraku .....

Anonim mengatakan...

emang susah pakubumi kalau hidup bergantung dari subsidi uang infaq. susah berpihak pada kebenaran.
mungkin itu sebabnya pakubumi pada ngumpetin kebenaran, dan terus ngejerumusin warga 354 dalam kesesatan. semakin sesat warga 354 maka semakin loyal mereka pada imam dan dari sinilah warga 354 jadi sapi perahan atas nama infak isrun/kepatuhan/ketoatan. kalo pakubumi berani mengatakan kebenaran, nasibnya akan terusir dari rumah SB, gaji/tunjangan distop, fasilitas diambil,dicap murtad, istri dipaksa minta cerai, darahnya halal,difitnah pengen jadi imam, dituding sakit hati,...pakubumi takut akan hal itu. dan mereka ngga mau keluar dari kenyamanan mereka walau dalam sesat. mereka pakubumi ngga takut dapet dosa jariyah apa ya dari pengikut 354 yang mereka sesati? ngga kebayang dosa dari ribuan pengikut 354 mengalir masuk ke kolom dosa catatan amal pakubumi2 itu. Pakubumi itu cuma keren di julukan:PAKUBUMI. berat dinama doang. mungkin dengan istilah PAKUBUMI, akan tercipta efek kharismatis didepan pengikutnya.seolah orang huebat sakti. Penyebutan PAKUBUMI juga bagian dari trik rezim 354 untuk menaikan pamor ulama 354. Sebenarnya istilah pakubumi itu dipakai dalam kerajaan mataram dan jogjakarta sebagai abdi dalam punggawa raja. nah nurhasan dan keturunannya ini memposisisikan dirinya sebagai raja jawa dan mubaligh pakubumi ini diasosiasikan sebagai tangan kanan raja (imam/sultan). Itulah hasrat tersembunyi keluarga nurhasan cs: KEKUASAAN dan PENGARUH. Lalu ditipulah itu orang-orang dan pengikutnya dengan slogan-slogan ‘satu-satunya jalan tunggal masuk surga selamat dari neraka’, ‘jadi orang jamaah (354) berarti hidupnya sah, amalannya sah dan wajib masuk surga’ dll
wess, mudah 2an pakubumi2 itu mau rujuilal haq- amiin- dan ngga takut pada kasmudi dan pak aziz madigol untuk kebenaran

Anonim mengatakan...

orang ini bener2 licik ya ....

menggunakan nama samaran dengan nama orang yang di hormati islam dengan tujuan menghinakan islam itu sendiri.

ada abu hasan , abu husein , abu bakr dll

kalau engkau membaca kritikanku ini bertaobatlah kepada Allah , terkucuali kalau engkau memang bukan seorang muslim .

Anonim mengatakan...

nggk selalu bro, pakubumi juga berarti lambang kejantanan ( banyak dijual di toko obat kejantanan ) wkwkwkwkwk

tadi disini pakubumi memang orang hueebat , dan kuaattt

huebat membualnya dan kuat isine.

Anonim mengatakan...

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan tidaklah boleh seorang pun dari mereka (syaikh/murabbi/pimpinan kelompok -pen) mengambil ‘ahd (janji setia) dari orang lain untuk menyetujui segala apa yang diinginkan, berloyal terhadap orang yang setia padanya dan memusuhi orang yang memusuhinya.

Itu maksudnya apa... baiat kelompok menurut syaikh itu dilarang kan? bukankah dalam buku ilmiah itu menyebut2 syaikh ibnu taimiyah itu ulama besar, di agung2kan.. sejarah beliau dipenjara karena menegakkan aqidah salaf saja yang di angkat... tetapi substansi dari aqidah salaf yaitu didak dibenarkan baiat kelompok.. pemimpin negara adalah sabagaimana khalifah/amir kenapa tidak diambil... bingung saya melihat ini orang...

Anonim mengatakan...

Dalam buku itu juga disebut2 imam nawawi... ini dia ucapan nawawi yang berkaitan dengan kedudukan pemimpin negara:
Imam An-Nawawi berkata: "Adapun memberontak dan memerangi para penguasa maka (hukumnya) haram dengan dasar ijma' (konsensus) kaum muslimin, meskipun mereka (para penguasa) adalah orang-orang yang fasik dan zalim. Dan sangat banyak hadits-hadits yang semakna dengan apa yang saya sebutkan ini. Ahlus Sunnah telah ijma' (berkonsensus) bahwasanya seorang penguasa tidaklah serta merta terlepas kekuasaannya hanya karena ia melakukan kefasikan." (Syarh Shahih Muslim 12/229)... saya aneh... mengambil ilmu kok sebagian2...

Anonim mengatakan...

Tidak ada perselisihan sedikitpun dari kalangan para ulama dan para ahli tafsir bahwa yang dimaksud As-Sulthon pada hadits di atas adalah para penguasa negara yang mereka itu muslim, seperti Raja Kerajaan Saudi Arabia, Kepala Pemerintahan Negara Indonesia dan seterusnya.

Anonim mengatakan...

ada yg berkata:
Bagian1
Kita semua tahu bahwa LDII/jamaah 354 mengusung dalil atsar Umar Bin Khatab yang berbunyi : laa islama ila bil jamaah wala jamaah ila bi imaroh (Tidaklah iIslam kecuali dengan Al Jamaah, dan tidaklah Al Jamaah kecuali dengan Imaroh).
___________________________________
jawab:
setahu kami dalilnya laa islama ila bi-jama'ah bukan bil-jama'ah

jangan salah bro.. bi- JAMA'AH, beda artinya dg bil-jama'ah!!!

Andai warga 354 teliti... InsyaAlloh mereka tdk akan tersesat masuk ke golongan Islam Khowarij islam Jama'ah.

dan berbondong2 keluar dari 354.
ruju' ilal haq/ al-jama'ah
aaamiiin. ya robalalamin...

Anonim mengatakan...

DR.Mufti Farhan (SALAF) Sekretaris Islamic Center of Long Island (ICLI) USA, DR bidang Study Islam.

Singkat cerita, setibanya di masjid Islamic Center, kami langsung mendengarkan nasehat yang sudah dimulai dan diisi oleh salah satu mufti, beliau seorang doctor Study Islam. Beliau nasehat, dengan materi yang sangat indah tentang penyakitnya hati. Saya sangat terkesan dengan nasehat tersebut, karena mungkin perbendaharaan dalil-dalilnya sangat lengkap, baik yang dari Qur’an maupun hadist.

Hingga setelah nasehat selesai, saya menemui beliau, saya perkenalkan diri saya, termasuk asal saya. Kemudian saya sampaikan niat saya untuk menanyakan sebuah hadist. Lalu beliau dengan sangat rendah hati, santun dan tawadzuk

Dengan berdiri bertiga di halaman masjid , saya , Mufti dan teman Jama’ah (orang USA). Kemudian saya membacakan hadist sebagai berikut :
قال : تلزم جماعة المسلمين وإمامهم قلت : فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام ؟ قال
فاعتزل تلك الفرق كلها ، ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك

“Rasulullah SAW bersabda : tetapilah Jama’ahnya orang-orang islam dan ke-imaman mereka. Dan kemudian aku (Khudaifah ibnul Yaman), bertanya: bagaimana apabila tidak ada imam dan tidak ada jama’ah?”. Kemudian rasululllah bersabda : pisahilah semua perpecahan tersebut, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga angkau menemui ajalmu, dan engaku tetap atas perkara itu”.

“Apa yang dimaksud dengan imam dalam hadist ini ?”. Tanya saya.

“Imam adalah khalifah, dan sekarang sudah tidak ada lagi, semenjak tahun 1924, umat islam sudah tidak lagi memiliki imam atau khalifah”. Jawab sang Mufti.

“Iya, semenjak runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani, dan merdekanya Arab Saudi?”, Tambah saya.

“Anda benar”. Tegas sang Mufti.

“jadi sekarang umat Islam tidak memiliki imam ?, apakah salah apabila saya menyimpulkan demikian?”. Tanya saya.

“Iya, anda benar”. Jawab sang Mufti dengan nada berusaha tegas, namun agak gamang.

“Bagaimana kalau ada orang yang mengartikan bahwa imam adalah imam sholat atau pemimpin-pemimpin di organisasi Islam kita?”. Tanya saya

“Itu bukan imam, itu pemimpin (leader), kalau imam adalah yang mengatur semua keperluan umat Islam, tetapi kita tidak mudah untuk mendapatkan seorang imam”. Jawab beliau.

“lalu bagaimana kalau kita mengartikan kepala Negara adalah imam?. Tanya saya.

“Kepala Negara adalah raja “Mulku”, bisa saja dianggap begitu, tetapi itu bukan khalifah, atau imam yang dimaksud dalam hadist yang anda tanyakan”. Beliau menjelaskan.

Anonim mengatakan...

“Jadi kesimpulannya bahwa umat islam saat ini tidak memiliki imam, benar ya?”. sekali lagi saya berusaha menegaskan

“ya, benar”. Beliau menegaskan dengan suara yang agak lebih mantap.

“kalau kita tidak berimam berarti kita tidak jama’ah?. Tanya saya.

“ya”. Jawab beliau dengan tegas.

“kalau demikian kita hidup dalam firqah, apa boleh saya menyimpulkan demikian?”. Tanya saya.

“benar”. Jawab beliau singkat namun dengan suara mantap.

“Na’uzubillah mindzalik”. Saya berbisik. Dan wajah beliau tampak sedih.
Sesaat kami diam sebentar, sang Mufti agak termenung.

“saya boleh mengajukan satu pertanyaan lagi?". Tanya saya memecah keheningan ditengah udara yang sangat dingin.

“silahkan”. Sang Mufti mempersilahkan.

“bagaimana pendapat anda dengan hadist yang menerangkan bahwa barang siapa yang mati dan dia belum pernah “B” dengan seorang imam, maka matinya adalah dalam keadaan Jahiliyah ?”. Tanya saya.

“ya, orang yang mati belum pernah “B” dengan seorang imam, maka matinya adalah jahiliyyah, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini!”. jawab beliau dengan suara yang sangat tegas.

“apakah salah apabila saya menyimpulkan bahwa kita semua sekarang dalam keadaan Jahiliyyah, karena kita tidak pernah “B” dengan seorang imam?”. Tanya saya ingin memastikan jawaban beliau.

“tidak, tidak salah terhadap kesimpulan tersebut”. Jawab beliau dengan bijak.

“Jazakallahukhoiro, atas waktu dan penjelasan anda”. Saya mensyukuri sang Mufti.

Kami segera berpisah, karena udara sangat dingin sekali, kalau tidak salah 23f. Alhamdulillah, teman saya tampak memahami sekali percakapan tersebut, dan sekarang dia telah melihat dan mendengar sendiri tentang Jama’ah dari lisannya seorang Mufti. Sekarang dia telah benar-benar tahu bahwa Mufti bukan tidak tahu tentang jama’ah, tetapi TIDAK BERANI bicara tentang Jama’ah.

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan pulang, dia tampak senyum bahagia dan merasa beruntung bahwa dia telah “B”, dia bukan orang Jahiliyyah.

Anonim mengatakan...

Teman2 ku salafi, setelah melihat blog ini kami punya keyainan bahwa kalian mempunyai kesamaan kefahaman dgn kami HT, bahwa: Laa Syariata illa bid daulah...

Tidak akan terwujud syariat islam kecuali dengan berdaulah.

Kami tdk sama dengan rekan2 lain dalam mewujudkan syarait islam dgn berpolitik, kami melakukannya dengan dakwah dan mengajak persatuan diatas satu khalifah...

Dengan demikian, sy harap hentikan permusuhan,perdebatan dan perselisihan dalam bolg ini, ikutlah kalian dalam perwujudan daulah islam dalam satu khalifah bersama kami...

Karena dengan perdebatan, perselisihan dan pernusuhan dalam blog ini akan memunculkan keretakan/kerapuhan islam, maka bersatulah dengan kami dalam daulah islam yg sebenarnya demi tegaknya syariat islam yg kalian dambakan...

Anonim mengatakan...

berita update, tampaknya buku luzumul jamaah sedang jadi euphoria dikalangan 354 ( ditulis oleh yayan alias ihsan muhyidin)

354 lagi tunggu instruksi dari 'pemangku azaz' ( kode sandi untuk imam, atau wk4)untuk perizinan penyebarannya

Anonim mengatakan...

nih sy kasih tau dikit aja ya, insya Alloh sebentar lagi jkm akan kedatangan tamu salah seorang syaikh Masjidil Haram yg juga adalah mufti Lajnah Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta'. kira2 mau kasih penjelasan apa beliau di jokam? ada dehh... *biar penasaran*

Anonim mengatakan...

ooh ... gurunya mas oong (ontorejo bin yusuf) dkk ya?

Anonim mengatakan...

Yang ngundang mufti Lajnah Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta siapa? pembesar jokam atau siapa?

rudi mengatakan...

`sejak th 1908,maka pejuang kemerdekaan terdiri dari aktifis muslim,komunis dan kejawen...akhirnya th 1945 Indonesia merdeka sekaligus kemenangan nasionalis {kejawen} dan komunis,itu di buktikan dengan penghapusan piagam jakarta tentang syariat islam,akhirnya islam menjadi oposisi atau bahkan jadi pemberontak..dan th 1966 negara kejawen berhasil ditegakan dengan azas tunggal pancasila...berselisih dengan pancasila berarti masuk penjara atau bahkan hukuman mati..BAGAIMANA MUNGKIN RI BISA DISEBUT DAULAH ISLAM,WONG DIDIRIKAN BUKAN BERDASAR AZAS ISLAM,JADI PODO KARO USA ATAU SINGAPUR DLL.JADI JAMAAH WAL IMAMAH SECARA ISLAM HARUS DITEGAKKAN DI NUSANTARA INI.Adapun fatwa para syekh haramain itu sangat dipengaruhi politik penguasa saudi,sebagai protek terhadap gencarnya gerakan syiah dan osama bin laden dengan Alikhwnnya...ingat KERAJAAN SAUDI ITU HASIL PEMBERONTAKAN TERHADAP DAULAH ISLAM TURKI YG MENGUASAI JAZIRAH ARAB.

Anonim mengatakan...

Sebagian orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang agama ini tidak malu
dan memberanikan diri berbicara tentang permasalahan yang sangat besar.
Mereka mendefinisikan negara Islam menurut hawa nafsunya. Mereka melontarkan
syubhat yang membuat keraguan dan melemparkan kedustaan yang membingungkan.
Mereka mengambil dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah semaunya dan
mereka pahami seenaknya tanpa mengembalikan permasalan ini kepada para
ulama’ yang telah diakui keilmuannya oleh kaum muslimin.

Anonim mengatakan...

Sebagian orang-orang yang bodoh tersebut menyatakan bahwa kebanyakan
negara-negara Islam sekarang yang berhukum dengan undang-undang buatan
manusia adalah negara kafir. Dari pengkafiran yang membabi buta inilah,
muncul seruan jihad untuk memerangi orang-orang Islam sendiri dan
menghalalkan darah, harta serta kehormatan mereka. Dan mereka sebenarnya
secara tidak sadar telah menapaki jejak “Khowarij” bukan jejak ahlu sunnah,
meskipun mereka sendiri tidak mau dicap sebagai Khowarij.

Sesungguhnya tidaklah benar jika berhukum dengan undang-undang buatan
manusia dijadikan tolak ukur untuk memvonis suatu negara muslim atau kafir.
Hal ini menyelisihi nash-nash syari’at, serta manhaj ahlu sunnah dan
kesepakatan ulama’ kaum muslimin dari semua madzhab (empat madzhab).

Anonim mengatakan...

Syaikhul Islam rohimahullah berkata: “Suatu tempat dikatakan negara kafir, jika dihuni oleh orang-orang kafir. Lalu negara itu bisa berubah menjadi negara Islam, jika penduduknya masuk Islam, seperti Makkah dahulu yang awalnya adalah negara kafir.” (Majmu’ al Fatawa, 27/143)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu berkata: “Dahulu Rosulullah shallallahu alaihi wasallam menyerang (musuh) ketika adzan dikumandangkan. Jika beliau mendengar adzan, maka beliau tidak jadi menyerang. Tapi jika tidak terdengar adzan, maka beliau akan melancarkan serangan.” (HR. Bukhori:610, Muslim:1365)

Ibnu Hazm rohimahullah berkata: “Suatu negara itu dilihat dari kekuasaan, mayoritas (penduduknya), dan penguasa atau pemimpinnya.” (lihat Al Muhalla:13/140)

Ulama’ Madzhab Syafi’i

Ar Rosfi’i rohimahullah berkata: “Cukup sebuah negara dikatakan negara Islam, jika di bawah kekuasaan imam (kaum muslimin), meskipun tidak ada satupun muslim yang di sana. (At Taaj wa Iklil: 1/451)

Ulama’ Madzhab Hanafi.

As Sarakhsi rohimahullah berkata: “Sesungguhnya sebuah tempat dinisbatkan kepada kita (kaum muslimin), atau kepada mereka (kaum kafir) berdasarkan kekuatan dan kekuasaan. Semua tempat yang tersebar kesyirikan di dalamnya, dan kekuasaan di tangan kaum musyrikin, maka itu dinamakan negara kafir. Dan semua tempat yang tersebar di dalamnya syiar-syiar Islam, dan kekuatannya di tangan kaum muslimin, maka itu dinamakan negara Islam.” (lihat Syarhus Sa’ir: 3/81) Al Jashshos rohimahullah berkata: “Sesungguhnya tolak ukur suatu negara itu berdasarkan kekuasaan dan tampaknya syiar-syiar agama di dalamnya. Buktinya adalah, apabila kita menaklukkan salah satu negara kafir dan kita menampakkan syiar-syiar kita, maka negara itu menjadi negara Islam.” (Al Aulamah: 100)

Ulama’ Madzhab Maliki

Ibnu Abdil Bar rohimahullah berkata: “Aku tidak menjumpai perselisihan tentang wajibnya adzan bagi penduduk negeri, karena hal itu adalah tanda yang membedakan negara Islam dan negara kafir.” (Al Istidzkar: 18/4, Tamhid: 3/61) Al Maaziri rohimahullah berkata: “Di dalam adzan itu ada dua makna: yang pertama menampakkan syiar Islam, yang kedua untuk menjelaskan bahwa ini adalah negara Islam.” (Adz Dzakhiroh: 2/58)

Ulama’ Madzhab Hambali

Ibnu Muflih rohimahullah berkata: “Setiap negara yang mayoritasnya adalah syiar Islam, maka disebut negara Islam. Dan apabila syiar kafir yang mayoritas, maka disebut negara kafir.” (Al Adab Asy Syar’iyyah:1/212)

Ucapan para ulama’ di atas jika kita renungkan kembali, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, diantara bentuk negara Islam adalah negara yang ditaklukkan oleh kaum muslimin dan dihuni oleh orang-orang kafir dengan membayar jizyah Dan tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang kafir tersebut secara otomatis berhukum dengan selain hukum Allah. Hal ini menunjukkan dengan sejelas-jelasnya bahwa tolak ukur semua ini adalah kekuasaan atas negara tersebut. Adapun terlihatnya syiar-syiar Islam, hanyalah tanda akan adanya kekuasaan tersebut, yang terkadang bisa lemah dengan hanya sebagian saja syiar yang nampak dan disertai adanya syiar-syiar kafir, selama kekuasaan di tangan kaum muslimin dan bukan di tangan kaum kafir; maka negara itu adalah negara Islam.

Anonim mengatakan...

mudah sekali membantah syubhat khawarij bukan??

otak mereka penuh dg hawa nafsu,syahwat serta syubhat yang berbahaya!!!!!

abufatih

Anonim mengatakan...

ada indikasi di jamaah 354 sekarang pengikutnya sedang diindoktrinasi untuk membenci saudi arabia. Dikarenakan ajaran LDII/ jamaah 354 banyak dikoreksi oleh thulab/ustad yang berguru di tanah al haramain.

bahkan di jamaah 354 (oleh mubaligh jakartabarat) disiarkan bahwa kota mekkah mengalami desakralisasi dengan menyebut kota mekkah sudah menjadi kota pariwisata. itulah jahatnya 354, mereka menggiring pengikutnya untuk tidak mengakui ulama alharamain dan mencela mekkah. Kalau mekkah saja dicela oleh 354, lantas mana lagi kota suci umat islam? Kediri? Gading? Kertosono?. apa burengan kediri mau dijadikan sebagai kota-sucinya islam jamaah 354. kalau ulama mu'tabar mekkah-madinah mulai dideskreditkan oleh ulama 354 dan petingginya, kepada siapa 354 menimba ilmu yang shahih? kepada kholil?,aziz?ihsan muhyiddin? pakubumi? kasmudi? atau bandit-bandit akidah di ring 1 sana?

di jamaah 354 sedang disiarkan bahwa kebenaran di tanah suci juga ditampilkan sembunyi-sembunyi gaya bitonah 354. ini lelucon macam apa? ini pengelabuan dan pembohongan macam apalagi? ditanah suci mekkah agama ditampilkan justru dengan cara syiar dan terbuka karena kebenaran harus diketahui oleh siapapun juga. bukan konsep kebenaran ala 354 yang disetting sembunyi-sembunyi sehingga mereka 354 berkata "beruntung yang bisa bergabung dengan jamaah 354" (karena kebenaran itu sulit dan tersembunyi)

Anonim mengatakan...

Saya terkesan dengan cerita anonim 23 Februari yang membawa nama DR.Mufti Farhan (SALAF) Sekretaris Islamic Center of Long Island (ICLI) USA, DR bidang Study Islam.

Taruh kata cerita itu benar , maka tolong jawab pertanyaanku ini ya :

1. Apakah cuma itu ceritanya , tidak ada yang tertinggal lagi ?

2. Kalau ada maka tulislah edisi lanjutannya kalau sudah cukup maka apakah DR.Mufti Farhan sepaham bahwa mati jahiliyah = kafir ?

3. Kalau dia setuju maka besok matinya dia akan kafir kalau nggak baeat sama amir di kediri , apakah itu maksudnya ya ?

4. Terakhir , lantas kepada siapakah umat islam harus berbaeat ? ke imamnya LDII-kah ? atau Imamnya syiah ? atau kemana supaya nggak mati jahiliyah atau kafir ?

Anonim mengatakan...

Karena Tidak ada solusi maka munjulah ijma' ulama.

Tidak ada perselisihan tentang wajibnya beramir... namun amir yang bagaimana yang harus kita bentuk? nah dari itu mengacu kepada kewajiban dan fungsi amir sesuai qur'an hadits maka muncullah IJMA’ (Konsensus) Para Ulama Fiqh, Fatwa-fatwa Ulama Haromain, Fatwa Imam-imam Madzhab bagi Penguasa Negeri

lihat di http://separuhhidupkupergi.blogspot.com

Anonim mengatakan...

kesimpulannya Islam jama'ah itu gak beres... gak bener...

kami berdoa supaya ALLOH YG MAHA PERKASA., membubarkan Islam Jama'ah, dan menjukkan mereka pada manhaj al-jama'ah...

Anonim mengatakan...

aamiin 313x

Anonim mengatakan...

Coba cermati hal berikut:

1. Masalah pemerintahan adalah urusan duniawi
bukan termasuk sesuatu yang menjadi tugas Rasulullah
untuk mengurusnya, sejarah Islam telah mencatat
bahwa gara-gara dicampur adukkannya urusan
agama dengan pemerintahan maka teramat banyak
darah yang tertumpah, dalil agama sering dijadikan
alasan pembenaran untuk melakukan tindakantindakan
biadab, yang hanya pantas dilakukan oleh
manusia yang paling biadab bahkan layak untuk
disebut binatang, contohnya apa yang dilakukan oleh
Syimir dan Umar bin Saad serta pasukan yang mereka
pimpin atas dasar perintah gubernur Kuffah Ubaidillah
bin Ziyad demi menunjukkan loyalitas kepad penguasa
dzalim Yazid bin Muawiyah di Damaskus dia sembelih
Husein bin Ali cucu yang sangat disayangi oleh
Rasulullah, kemudian kepala Husein yang sudah
terpotong tersebut ditancapkan pada ujung tombak,
selain itu cucu-cucu perempuan Rasulullah mereka
perlakukan sebagai tawanan yang hina.

Demikian pula tindakan Hajjaj bin Yusuf yang dengan
lancangnya membakar Baitullah Ka’bah as-Syarif
kemudian dia bunuh Abdullah bin Zubair karena
dianggap pemberontak bagi rezim bani Umayyah di
bawah kekuasaan Abdul Malik bin Marwan, padahal
Abdullah bin Zubair adalah putra Hawari Rasulullah (Hawari adalah sahabat setia yang senantiasa bersedia menolong,
setiap Nabi mempunyai Hawari termasuk Nabi Isa alaihis salam
sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam QS. As-Shaf : 14)
yang juga cucu dari Abu Bakar as-Shiddiq, kebiadaban
Hajjaj bin Yusuf tidak hanya sampai di situ saja bahkan
kemudian dia hinakan jenazah Abdullah bin Zubair
dengan disalib hingga beberapa hari dipertontonkan
kepada umat Islam yang saat itu sedang
melaksanakan Ibadah Haji di Makkah al-Mukarramah.
Dan masih banyak lagi lembaran sejarah yang penuh
dengan kebiadaban serta pertumpahan darah, hanya
gara-gara ambisi kekuasaan duniawi (berebut menjadi
pemerintah) dengan mengatas-namakan agama,
itulah politik, sangat kejam, kotor, hina dan jahat
sehingga tidak layak dicampur-adukkan dengan
urusan agama yang suci ini.
Oleh karenanya dulu kami sering dinasehati; Jangan sampai kita salah niat,
tujuan Jamaah ini adalah murni urusan
akhirat, mencari surga selamat dari neraka dengan
berpedoman kepada al-Qur’an dan al-Hadits, bukan
untuk mendirikan pabrik tempe, bukan untuk
membentuk partai, bukan untuk mendirikan negara itu
semua urusan kecil urusan dunia, kalau karena itu
semua berarti salah niat dan kita tidak akan
diridhai oleh Allah.

Anonim mengatakan...

2. Sejarah juga telah membuktikan bahwa sebab
utama kejatuhan umat Islam atau lebih tepat jika
disebut negara-negara Islam adalah karena mereka
memaksakan mencampur urusan dunia dengan
agama, yaitu raja yang tidak cekap dan
tidak bertanggung-jawab dalam urusan pemerintahan
akan tetapi mereka punya otoritas penuh untuk
memerintah sehingga mereka menjadi penguasa/
pemerintah yang kejam dan korup.

3. Di sisi lain Agama Islam sendiri sebagaimana telah
disabdakan Nabi akibat ulah kotor para pembuat
bid’ah telah berpecah-belah menjadi bermacammacam
madzhab dan masing-masing madzhab
merasa paling benar, sehingga bagi umat Islam yang
madzhabnya berbeda dengan penguasa maka dia
akan ditindas dan bahkan tidak diberi kebebasan
menjalankan syariat Islam sesuai dengan manhaj atau
madzhab yang diyakininya, hal inilah yang dialami
para ulama’ ahlus Sunnah seperti Imam Ahmad yang
harus mendekam dipenjara hanya karena berbeda
keyakinan dengan penguasa mengenai al-Qur’an
makhluk atau bukan makhluk, demikian pula dengan
Imam Bukhari yang diusir dari tanah kelahirannya,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang hidupnya keluarmasuk
penjara hingga wafat di penjara, dan masih
banyak yang lain-lainnya

Anonim mengatakan...

Anda mengatakan yang
berjamaah adalah firqah sebaliknya yang tidak
membentuk jamaah; itulah jamaah yang
sesungguhnya, demikian itu adalah sama dengan taktik yang
pernah digunakan oleh pasukan “pemberontak” yang
dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan dalam
peristiwa perang Shiffin (Perang Shiffin adalah perang yang terjadi akibat pembangkangan
Muawiyah yang enggan membaiat dan mengakui kekhalifahan Ali bin
Abi Thalib terjadi di tebing Sungai Furat yang kini terletak di Syam
(Syria) 1 Shafar tahun 37 H. bertepatan dengan 26 Juli 657 M).

Ketika itu Ammar bin Yasir
yang berada di fihak Khalifah Ali bin Abi Thalib
terbunuh oleh pasukan Mu’awiyah, banyak diantara
pasukan Mu’awiyah yang shock dan lemah semangat
mereka untuk meneruskan peperangan, sebab mereka
teringat akan sabda Nabi yang ditujukan kepada
Ammar, di saat sedang bergotong royong
membangun masjid an-Nabawi, waktu itu bahu Ammar
kotor oleh debu, maka Nabi mengusap bahu Ammar
seraya bersabda; Kasihan si Ammar dia kelak akan dibunuh oleh
golongan durhaka (pemberontak), sebagaimana Hadits yang
diriwayatkan oleh Abi Said al-Khudri;

Kemudian dia (Abi Said) mulai bercerita kepada kami sehingga ketika dia
sampai pada peristiwa membangun Masjid (Nabawi) dia berkata; Kami
masing-masing mengangkat satu bata sedangkan Ammar mengangkat dua
bata sekaligus, Nabi melihat yang dilakukan oleh Ammar maka beliau
bersabda; Kasihan si Ammar dia akan dibunuh oleh golongan durhaka
(pemberontak), Ammar akan mengajak mereka ke surga sedangkan mereka
mengajaknya ke neraka, Abu Said berkata, (kemudian) Ammar berdoa; Aku
berlindung kepada Allah dari fitnah. HR. Al-Bukhari : 428

Muawiyah adalah orang yang banyak akal dan
ambisinya terhadap kekuasaan sama besarnya
dengan ambisi ayahnya (Abu Sufyan) di masa
Jahiliyah, untuk menghilangkan rasa bersalah yang
menghantui pasukannya dan membangkitkan kembali
semangat tempur mereka, dia merubah fakta; bahwa
sebenarnya yang membunuh Ammar bukanlah
pihaknya, melainkan orang yang membawa Ammar
dalam peperangan (yaitu Ali), sebab kalau Ali tidak
membawa Ammar dalam peperangan maka tentulah
Ammar tidak akan terbunuh, ternyata taktik licik dan
kotor Muawiyah ini berhasil, semangat tempur
pasukannya pun bangkit kembali dan dengan tidak
merasa berdosa mereka memerangi sang Khalifah (Ali
bin Abu Thalib).

Jadi taktik inilah yang digunakan oleh gerombolan
Salafi untuk menarik umat Islam yang sudah
berjamaah, agar keluar dari jamaahnya dan ikut
bergabung dengan gerombolan liar mereka, lalu
dengan lantang mereka katakan; Jamaah
sesungguhnya ya seluruh umat Islam, sedangkan kalian
yang membentuk jamaah itu berarti “firqah
ashabiyah”, wal iyadzu billah

Anonim mengatakan...

Catatan; Tulisan tentang Muawiyah bin Abu Sufyan
pendiri dinasti kerajaan bani Umayyah ini bukan dalam
konteks mendiskreditkan beliau atau membunuh
karakter beliau, tetapi penulis berbicara atas fakta,
sebab orang-orang Salafi dengan menghalalkan dusta
seringkali memanipulasi fakta sejarah, mereka paling
anti kepada fihak yang berusaha menggambarkan
profil Muawiyah yang sesungguhnya, lalu mereka tuduh
sebgai golongan Syiah, hal ini lagi-lagi disebabkan oleh
kedangkalan pemahaman ilmu mereka serta budaya
taqlid yang bergitu melekat pada tradisi mereka,
mereka tidak bisa memahami Hadits;

Dari Abi Sa’id al-Khudri dia berkata, Rasulullah bersabda jangan
kalian mencaci-maki sahabatku, seandainya salah satu kalian infaq emas
sebesar gunung Uhud, maka itu tidak bisa menyamai infaq mereka yang
hanya (berupa makanan) satu mud atau setengahnya. HR Al-Bukhari : 3397,
Muslim : 4610

Mereka anggap bahwa menyebutkan fakta yang
sesungguhnya tentang Muawiyah sama dengan
menghujat sahabat Nabi, mungkin ini disebabkan
mereka belum faham tentang definisi sahabat
sehingga mereka pukul rata, pokoknya orang yang
hidup se zaman dengan Nabi berarti dia adalah
sahabat, pemahaman seperti ini sangat bodoh dan
berbahaya, sebab bisa jadi Abdullah bin Ubay bin Salul
(tokoh munafiq) pun digolongkan sahabat Nabi,
apalagi Islamnya Abdullah bin Ubay jauh lebih dahulu
dibandingkan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Adapun Hadits di atas sebenarnya jika ditinjau dari
sababul wurud justru ditujukan oleh Rasulullah b kepada
golongan Thulaqa’, banyak diantara mereka yang
“tidak tahu diri”, karena merasa sudah sama-sama
Islam para Thulaqa’ ini sering minta diistimewakan sama
dengan sahabat-sahabat Nabi yang awal, yaitu
golongan Muhajir dan Anshar radiallahu anhum, dan
tidak menaruh hormat kepada mereka, bahkan mudah
mengeluarkan caci-maki, maka Rasulullah bersabda
sebagaimana yang diriwayatkan dalam Hadits di atas.

Anonim mengatakan...

Mau lebih jelas pendapat ulama' tentang sesatnya salafi:

Ibn al-Uthaymeen - "The Salafi Sect" Vs. The Way of the Salaf
www.youtube.com

Anonim mengatakan...

Qolbu
...
jika anda katakan jamaah354 itu adalah sempalan, hizb, firqoh, dsb. sementara rakyat muslim
se-indonesia lah yg tidak sempalan, apakah anda tidak perhatikan bahwa yg mengatakan demikian justru tidak menyadari keadaan dirinya. Bagaimana mungkin segolongan manusia yg berimam, berbaiat dikatakan firqoh sementara yg mengatakan itu tidak terikat imam/baiat manapun justru dikatakan yg benar? atau orang tersebut menganggap imamnya ialah dgn mencomot presiden yg tidak pernah ia beat? lalu ia menyerang jamaah dgn cara apapun entah itu mencela, menjelek2kan, memfitnah, dll.

Lalu bagaimana umat muslim yg ada di AS, China, Australia? apakah imamnya adalah Obama, Hu Jintao, Julia Gillard? apakah imam boleh dan bisa orang non muslim?

..pikirkanlah ini dan terus pikirkanlah kapan saja, dimna saja, dlm keadaan bgmn saja ... jgn mau dibohongi ...salam damai

Anonim mengatakan...

simpelnya orang 354 itu mengatakan: imam yang sah adalah imam kami, siapa yang tidak beat pada imam kami berarti islamnya ngga sah, kalau mati, mati jahiliyyah,mati sewaktu-waktu masuk neraka...

kalau 354 tahu hadits huzaifah pada bab fitan riwayat Bukhary, orang 354 mungkin tidak akan berkata 'bagaimana kalau di amerika presidennya obama, bagaimana pemimpinnya wanita dll, karena di hadits hudaifah telah digambarkan apa yang harus dilakukan ketika dalam sebuah negeri tidak ada pemimpin muslim..silahkan juga cek syarhnya di fath bari :)

Anonim mengatakan...

bagi pakubumi "hebat" pencela muawiyyah silahkan cek

hadits Bukhary, Kitabu Fadhoil Asshahabah, bab dzakaro Muawiyyah Radiallhu'anhu

disana ada penjelasan kefadholan Muawiyah dan kebencian akan penghinaan pada muawiyah yang disampaikan oleh sang mutarjim Alquran Ibn Abbas RadiAllahanhu.

semakin kita tahulah itu kualitas pakubumi singapur kebanggan jokam 354 (mungkin itu pakubumi kebanyakan baca buku sejarah islam yang ditulis orientalis)

Anonim mengatakan...

berikut petikan kefadholan muawiyah dalam hadits bukhary

حدثنا الحسن بن بشر حدثنا المعافى عن عثمان بن الأسود عن ابن أبي مليكة قال أوتر معاوية بعد العشاء بركعة وعنده مولى لابن عباس فأتى ابن عباس فقال دعه فإنه قد صحب رسول الله صلى الله عليه وسلم
مسألة: التحليل الموضوعي
بَاب ذِكْرِ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

3553 حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا الْمُعَافَى عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْأَسْوَدِ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ أَوْتَرَ مُعَاوِيَةُ بَعْدَ الْعِشَاءِ بِرَكْعَةٍ وَعِنْدَهُ مَوْلًى لِابْنِ عَبَّاسٍ فَأَتَى ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّهُ قَدْ صَحِبَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مسألة: التحليل الموضوعي
باب ذكر معاوية رضي الله عنه

3553 حدثنا الحسن بن بشر حدثنا المعافى عن عثمان بن الأسود عن ابن أبي مليكة قال أوتر معاوية بعد العشاء بركعة وعنده مولى لابن عباس فأتى ابن عباس فقال دعه فإنه قد صحب رسول الله صلى الله عليه وسلم
الحاشية رقم: 1
[ ص: 130 ] قوله : ( باب ذكر معاوية ) أي ابن أبي سفيان واسمه صخر ويكنى أيضا أبا حنظلة بن حرب بن أمية بن عبد شمس ، أسلم قبل الفتح ، وأسلم أبواه بعده ، وصحب النبي - صلى الله عليه وسلم - وكتب له ، وولي إمرة دمشق عن عمر بعد موت أخيه يزيد بن أبي سفيان سنة تسع عشرة واستمر عليها بعد ذلك إلى خلافة عثمان ، ثم زمان محاربته لعلي وللحسن ، ثم اجتمع عليه الناس في سنة إحدى وأربعين إلى أن مات سنة ستين ، فكانت ولايته بين إمارة ومحاربة ومملكة أكثر من أربعين سنة متوالية .

قوله : ( حدثنا المعافى ) هو ابن عمران الأزدي الموصلي يكنى أبا مسعود ، وكان من الثقات النبلاء ، وقد لقي بعض التابعين ، وتلمذ لسفيان الثوري ، وكان يلقب ياقوتة العلماء ، وكان الثوري شديد التعظيم له ، مات سنة خمس أو ست وثمانين ومائة ، وليس له في البخاري سوى هذا الموضع وموضع آخر تقدم في الاستسقاء ، وفي الرواة آخر يقال له المعافى بن سليمان أصغر من هذا ، ووهم من عكس ذلك على ما يظهر من كلام ابن التين ، ومات المعافى بن سليمان سنة مائتين وأربع وثلاثين ، أخرج له النسائي وحده وأخرج للمعافى بن عمران مع البخاري أبو داود والنسائي .

قوله : ( وعنده مولى لابن عباس ) هو كريب ، روى ذلك محمد بن نصر المروزي في " كتاب الوتر " له من طريق ابن عيينة عن عبيد الله بن أبي يزيد عن كريب ، وأخرج من طريق علي بن عبد الله بن عباس قال : " بت مع أبي عند معاوية ، فرأيته أوتر بركعة ، فذكرت ذلك لأبي فقال : يا بني ، هو أعلم " .

Anonim mengatakan...

bagi yang menyampaikan Ibn al-Uthaymeen - "The Salafi Sect" Vs. The Way of the Salaf
www.youtube.com

kamu tau bahasa arab nggak ya ?
referensimu salah alamat bung - jauh sekali.

Bagi pencela Muawiyah bin Abu Sufyan
= begitukah pemahaman islam jamaah atas seorang sahabat Nabinya ?
Kita tidak mensucikan seorangpun dari dosa ( maksum ) , namun kitapun tidak menjadikan kesalahan sahabat sebagai bahan pembicaraan , dan bentuk kepatuhan kepada Rasulullah demikan yang dipahami para ulama dahulu sampai sekarang .

Begitukah bentuk pemahaman kalian kepada salah serang sahabat yang mulia ? ataukah ini hanya pemikiran si majhul pakubumimu itu ?

Ya Allah semoga orang-orang ini engkau beri hidayah , terbukanya pikiran dan ilmu akan agama-Mu yang haq ini .

Dulu kalau ada yang mengatakan bahwa kalian mencampur adukan pemahaman khawarij , syiah dan nasrani , aku nggak habis pikir dengan tuduhan itu , namun sekarang aku tidak bisa membantah yang mereka lontarkan kepada kalian , wahai madigoliya.

Anonim mengatakan...

AHLI BID’AH MENGAKU-NGAKU AHLI SUNNAH

Oleh:

Syaikh Abu ‘Abdis Salam Hasan bin Qosim al-Husaini



Sesungguhnya banyak kelompok-kelompok bid’ah mengaku-ngaku berada di atas manhaj salaf sholih, namun pengakuan mereka ini tidak dapat diterima (begitu saja) karena pengakuan mereka ini hanyalah klaim belaka yang tidak disokong bukti (dalil). Sekiranya pengakuan belaka bermanfaat dengan sendirinya, maka niscaya (pengakuan) Yahudi dan Nasrani juga bermanfaat tatkala mereka mengklaim bahwa surga itu hanya khusus bagi mereka saja, sebagaimana yang difirmankan Alloh tentangnya :





وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS al-Baqoroh : 111)



Seandainya pengaku-ngakuan belaka membuahkan manfaat dengan sendirinya, niscaya Fir’aun adalah orang yang benar dengan apa yang didakwakannya, dimana Alloh menfirmankan tentangnya :



قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَى وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ

Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang Aku pandang baik; dan Aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. (QS Ghaafir : 29)



Sesungguhnya pengaku-ngakuan (klaim/dakwaan) belaka tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan disertai keterangan dan burhan. Imam Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan di dalam Shahih mereka dari hadits Ibnu ’Abbas Radhiyallahu ’anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

لو يعطى الناس بدعواهم لادع ناس دماء رجال وأموالهم ولكن اليمين على المدعى عليه

”Seandainya manusia diberi hanya cukup dengan dakwaannya saja, niscaya manusia akan mendakwakan darah dan harta seseorang. Hanya saja orang yang didakwa cukup dengan bersumpah.” (lafazh riwayat Muslim)2

Dikeluarkan pula oleh Imam at-Turmudzi di dalam Sunan-nya dari hadits ’Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

البينة على المدعي واليمين على المدعى عليه

”(Harus ada) bukti bagi yang mendakwa dan sumpah bagi yang didakwa.”3

Imam Nawawi rahimahullahu berkata : “Hadits ini* merupakan kaidah yang besar diantara kaidah-kaidah hukum syar’i. Di dalam kaidah ini (terdapat hukum) tidak diterimanya ucapan seseorang tentang apa yang didakwakannya sebatas hanya dakwaan belaka, namun diperlukan bukti dan pembenaran dari orang yang didakwa.”4



Alangkah tepatnya apa yang dikatakan oleh seorang penyair



”Pengaku-ngaku yang tidak menyokong pengakuannya"

Dengan bukti-bukti maka ia hanyalah pengaku-ngaku belaka.”

وكل يدعي وصـــلا لليلى **وليلى لاتقـــر لهم بـذاك

“Semua mengaku-ngaku punya hubungan dengan Laila

Namun Laila memungkiri pengaku-ngakuan mereka itu.”

Anonim mengatakan...

Diantara bentuk klaim dakwaan belaka yang menyebar dari timur hingga ke barat adalah apa yang diucapkan oleh Hasan al-Banna, seorang pendiri partai al-Ikhwan al-Muslimun. Ia berkata : ”Wahai kaum kami, sesungguhnya kami menyeru anda sekalian, dan al-Qur’an ada di tangan kanan kami dan as-Sunnah di tangan kiri kami serta amalan salaf yang shalih dari putera-puteri umat ini adalah taudalan kami.”3

Aku (Syaikh Hasan al-Husaini) berkata : Sesungguhnya klaim yang kosong dari bukti yang nyata ini, dibatalkan dari pokoknya oleh landasan yang dibangun di atasnya partai al-Ikhwanul Muslimun mulai dari pendirinya sampai anggota terkecilnya. Aku sekarang tidak akan menjelaskannya secara terperinci (masalah ini) karena telah cukup bagi kita sejumlah tulisan yang ada di zaman kita ini (yang berbicara tentang al-Ikhwanul Muslimun), diantaranya adalah :

Ath-Thorîq ilâ al-Jamâ’ah al-Umm 6

Waqofât ma’a Kitâbi lid Du’ât Faqoth 7

Adhwâ` Islâmiyyah ’alâ Aqîdati Sayyid Quthb wa Fikruhu 8

Mathô’in Sayyid Quthb fî Aśħâbi Rosŭlillah Shallallâhu ’alaihi wa Sallam 9

Al-’Awâśim fîmâ fî Kutubi Sayyid Quthb minal Qowâśim 10

Al-Mauridu az-Zilâl fî Akhthô`i aż-Żilâl 11

Da’watu al-Ikhwân al-Muslimîn fî Mîzânil Islâm

Haqîqotu ad-Da’wah ilâllôhi Ta’âla

Al-Quţbiyyah hiyal Fitnah fa’rifŭhâ 12

Dan lain lain

Kendati demikian, aku cukupkan pembatalan klaim ini dengan apa yang dinyatakan oleh Hasan al-Banna sendiri, dimana ia berkata : Kita saling bekerja sama di dalam perkara yang kita sepakati dan memberikan toleransi satu dengan lainnya di dalam perkara yang kita perselisihkan. 13

Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata : ”Adapun memberikan toleransi satu dengan lainnya di dalam perkara yang kita perselisihkan tidaklah mutlak demikian…. apabila di dalam perkara ijtihad yang dalilnya masih samar-samar, maka wajib tidak ada pengingkaran di dalamnya… adapun bila menyelisihi nash dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah maka wajib mengingkari siapa saja yang menyelisihi nash.” 14

Anonim mengatakan...

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata di sela-sela bantahan beliau terhadap salah seorang kalangan mereka (IM) : ”… Dan dakwah ini memungkinkan untuk mengajak seorang penyeleweng walaupun sangat besar tingkat penyelewengannya (ke dalam barisan IM, pent.)… akan tetapi tidak ada suatu kelanggengan di atas (berhimpunnya) madzhab-madzhab bathil…” 13

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata : ”Ini merupakan penetapan kaidah yang muhdats (baru) lagi rusak karena tidak ada toleransi bagi orang yang menyelisihi hukum-hukum qoth’i (pasti) di dalam Islam, bahkan sesungguhnya hal ini merupakan kesepakatan kaum muslimin, (yaitu) tidak ada toleransi maupun peremehan terhadap keyakinan yang telah diterima (oleh kaum muslimin).” 16

Syaikh kami, ’Ali bin Muhammad al-Faqihi berkata : ”Dan kaidah yang mutlak ini tanpa (adanya) pembatasan adalah rusak dan batil, karena dengan kesepakatan kaum muslimin, tidak boleh ada toleransi maupun peremehan terhadap masalah keyakinan (aqidah) yang telah diterima, tidak pula para imam agama Islam berselisih di dalam masalah ushul (pokok), sebab termasuk diantara keburukan kaidah ini adalah kita dapatkan orang-orang yang berpendapat dengan kaidah ini, terhimpun di bawah slogan mereka ini : orang-orang yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah Shallallalhu ’alaihi wa Salam terutama tiga al-Khulafa`ur Rasyidun yang telah dipersaksikan dengan surga 17 dan mereka mendakwakan adanya perubahan al-Qur’an sebagaimana di dalam buku-buku mereka terdahulu maupun kontemporer 18. Kemudian, masuk pula ke dalam slogan mereka ini semua anggota Ba’tsi(pengikut partai Ba’ats) yang mulhid (atheis/komunis) yang mendendangkan taqiyah (kedustaan) dannifaq (kemunafikan) sebagai syiar agama Islam. Sebagaimana pula terhimpun di dalam slogan ini kaum sufi yang pemikiran dan cara beragamanya terhubung dengan keyakinan Wahdatul Wujud(Inkarnasi/Manunggaling Kawula Gusti) dan mengklaim bahwa mereka mengambil cara-cara beragamanya dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam secara langsung. Dan orang yang menyetujui di dalam buku-bukunya dari kalangan simpatisan jama’ah ini pencetus slogan ini, (ia berpendapat) bahwasanya tidak mengapa seorang muslim menggantungkan keperluannya kepada orang-orang suci yang telah meninggal dan bersamaan dengan itu ia menuntut penerapan syariat Islam. Kami tidak tahu hukum syariat Islam apakah (yang hendak ditegakkan) di dalam dakwah yang secara terang-terangan (menyeru) kepada kesyirikan terhadap Alloh, padahal tidak ada yang mampu memenuhi segala kebutuhan makhluk melainkan pencipta mereka Subhanahu wa Ta’ala :



مْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُون

”Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi]? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” 19

Anonim mengatakan...

Aku berkata : menjadi jelaslah bahwa kaidah ini membatalkan apa yang didakwakan olehnya yaitu klaimnya bahwa amal salaf sholih dari umat ini adalah tauladannya dan tauladan jama’ahnya.

Termasuk yang membatalkan klaim ini juga adalah apa yang ia katakan dalam sebuah konferensi yang dihadiri bersama oleh dewan persekutuan Amerika Inggris. Dia berkata : ”Aspek yang akan saya bicarakan ini merupakan poin yang luas dari segi agama, karena poin ini acapkali tidak begitu difahami oleh dunia barat. Oleh karena itulah dengan senang hati aku akan menjelaskannya secara ringkas. Maka aku tetapkan, bahwa permusuhan kita dengan Yahudi bukanlah permusuhan karena faktor agama, karena al-Qur’an al-Karim menganjurkan kita untuk berteman dan bersahabat dengan mereka. Islam merupakan syariat insaniyah (humanisme) sebelum menjadi sebuah syariat qoumiyah (spesifik terhadap umat tertentu), Islam pun memuji mereka dan menjadikan antara kita dengan mereka suatu persesuaian



وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

”Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (QS al-Ankabut : 46)

Dan tatkala ingin mengambil masalah Yahudi (sebagai permusuhan) maka dikembalikan kepada aspek ekonomi dan perundang-undangan, Alloh Ta’ala berfirman :

”Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka.” (QS an-Nisaa` : 10) 20



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : ”Bahkan Yahudi dan Nasrani mengetahui bahwa Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam diutus dengannya (risalah) dan mengkafirkan siapa saja yang menyelisihi (risalah)-nya seperti perintah beliau untuk beribadah hanya kepada Alloh semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan larangan beliau dari beribadah kepada sesuatupun selain Alloh… dan seperti bentuk permusuhan beliau kepada Yahudi, Nasrani, kaum musyrikin, Shabi’in (paganis) dan Majusi (zoroaster)…”21

Aku berkata : Perhatikanlah wahai pembaca budiman, ucapan Syaikhul Islam rahimahullahu yang menjelaskan bahwa Yahudi sendiri mengetahui dengan baik bahwa Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam diutus dengan permusuhan kepada mereka. Lantas bagaimana dengan orang yang mengafiliasikan dirinya kepada salafiyyah secara bohong dan dusta sedangkan ia mengatakan Maka aku tetapkan, bahwa permusuhan kita dengan Yahudi bukanlah permusuhan karena faktor agama!

Anonim mengatakan...

Alloh Ta’ala berfirman :



مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيم

”Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), Ini adalah dusta yang besar.” (QS an-Nur : 16)

Syaikh ’Abdul ’Aziz bin Baz berkata ketika disodorkan pernyataan ini : ”Ini adalah perkataan yang batil dan buruk. Yahudi adalah manusia yang paling memusuhi kaum mukminin, mereka adalah seburuk-buruk manusia, bahkan mereka adalah kaum yang paling keras permusuhannya kepada kaum mukminin diantara kaum kuffar lainnya, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :



لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. ” (QS al-Maidah : 82).

Orang-orang Yahudi dan Watsaniyun (paganis/penyembah berhala), mereka adalah manusia yang paling keras permusuhannya kepada kaum mukminin. Ucapan ini adalah pernyataan yang salah, zhalim, buruk dan mungkar. Wajib bagi orang yang mengucapkannya bertaubat kepada Alloh dan kembali kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan menyesali atas ucapannya yang jelek ini.” 22

Aku berkata : Dan termasuk juga yang membatalkan klaimnya adalah aqidahnya yang tafwidh 23 dan (mendakwakannya bahwa) ”mentafwidh (menyerahkan) pengetahuan makna sifat termasuk pemahaman salaf”. Ia berkata : ”Kami berkeyakinan bahwa pemahaman salaf adalah mendiamkan atau mentafwidhpengetahuan makna-makna (shifat) ini kepada Alloh Tabaroka wa Ta’ala lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti.” 24

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : ”Telah terang bahwa ucapan para penganut fahamtafwidh yang mengira bahwa mereka mengikuti sunnah dan salaf adalah termasuk seburuk-buruk ucapan ahli bid’ah dan ilhad (penyeleweng).” 23

Syaikh Muhammad Khalil Hirras rahimahullahu berkata : ”Termasuk pendapat yang salah yaitu menganggap bahwa pendapat ini (tafwidh) merupakan madzhab salaf sebagaimana orang-orang kontemporer menyandarkannya, baik dari kalangan Asy’ariyah maupun selainnya. Karena Salaf tidak pernah mentafwidh pengetahuan akan makna (shifat) dan mereka tidak pernah membaca suatu kalimat yang mereka tidak memahami maknanya. Namun, mereka memahami makna-makna nash dari al-Kitab dan as-Sunnah dan mereka menetapkannya bagi Alloh Azza wa Jalla, lalu mereka menyerahkan hakikat atau kaifiatnya, sebagaimana dikatakan oleh Malik ketika ditanya tentang kaifiat istiwa’(bersemayamnya) Alloh Ta’ala di atas Arsy : ”Istiwa` itu telah maklum (difahami maknanya) sedangkan kaifiatnya majhul (tidak diketahui).” 26



Syaikh ’Abdul ’Aziz bin Baz rahimahullahu berkata : ”Bukan perkara yang lebih selamat mentafwidhperkara di dalam masalah Shifat menjadi perkara ghaib, dikarenakan Alloh Subhanahu menjelaskannya kepada hamba-hamba-Nya dan Ia terangkan di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dan dari lisan Rasul-Nyaal-Amin Shalallahu ’alahi wa Salam, namun Ia tidak menerangkan akan kaifiatnya. Maka wajib mentafwidhpengetahuan akan kaifiatnya bukan pengetahuan akan maknanya, dan tafwidh ini sendiri bukanlah bagian dari madzhab salaf namun ia adalah madzhabnya mubtadi’ yang menyelisihi apa yang difahami oleh Salaf Shalih.” 27



Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin berkata : ”Dengan demikian kita mengetahui kesesatan atau kedustaan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya thoriqoh salaf itu adalah tafwidh. Mereka telah sesat apabila mengatakan demikian dikarenakan kejahilan akan thoriqoh salaf, namun telah berdusta apabila mereka mengatakannya dengan sengaja… ’Ala kulli haal, tidak diragukan lagi bahwa siapa saja yang mengatakan bahwa sesungguhnya madzhab ahlus sunnah adalah tafwidh, maka mereka telah salah karena madzhab ahlus sunnah itu menetapkan makna namun mentafwidh kaifiat.” 28

Anonim mengatakan...

Beliau juga berkata ketika mengomentari perkataan Ibnu Taimiyah terdahulu : ”Telah benar beliaurahimahullahu, apabila anda perhatikan maka anda dapatkan (pada mereka yang berfaham tafwidh) pendustaan terhadap al-Qur’an, menuduh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bodoh dan bertele-tele dengan ilmu filsafat.” 29



Aku berkata : Al-Banna banyak sekali membuat kebid’ahan yang membatalkan akan dakwaannya bahwa amal salaf merupakan tauladannya. Bagi yang ingin menelaah lebih jauh tentang ucapan-ucapan bid’ahnya, maka silakan merujuk kepada buku-buku yang menjelaskan akan keboborokan al-Ikhwanul Muslimun diantaranya yang telah berlalu penyebutannya. Wallohu ’alam.



Termasuk dakwaan belaka yang kosong dari dalil dan burhan (keterangan yang nyata) adalah apa yang didakwakan oleh ’Abdul Majid ar-Raim 30 yang mengeluarkan sebuah kaset yang berjudul ”Ar-Ruju’ ila Fahmis Salaf” (Kembali kepada pemahaman salaf), mungkin lebih tepat apabila diberi judul dengan ”Ar-Ruju’ ila Fahmil Kholaf”. Kaset ini dipenuhi oleh pujian terhadap Jama’ah Jihad 31 dan celaan terhadap sebagian ulama sunnah as-Salafiyyun serta keburukan-keburukan lainnya yang menyelisihi kebenaran manhaj Salaf Shalih. Kami katakan kepada ’Abdul Majid ar-Raimi : Apakah termasuk kembali kepada pemahaman salaf shalih adalah memuji ahli bid’ah dan mengagungkan mereka, padahal ulama salaf telah menjelaskan pada kita bagaimana cara berinteraksi dengan ahli bid’ah?



Diantaranya adalah apa yang dikatakan oleh Abu ’Utsman ash-Shobuni rahimahullahu : ”Mereka (salaf ashhabul hadits) bersepakat untuk merendahkan ahli bid’ah, menghinakan mereka, mencela mereka, menjauhkan mereka, menyingkirkan mereka, menjauhi mereka dengan tidak bersahabat dan berteman dengan mereka serta bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh Azza wa Jalla dengan cara meninggalkan dan memboikot mereka.” 32



Apakah termasuk manhaj salaf mencela ulama sunnah as-Salafiyyin sebagaimana yang kau katakan di dalam kasetmu al-Qodhiyah al-Filisthiniyah : ”Mereka ini adalah penjilat penguasa, semoga Alloh menghinakan mereka yang senantiasa memberikan kepada penguasa fatwa-fatwa yang mereka kehendaki.”



Abu Hatim ar-Razi rahimahullahu berkata : ”Ciri-ciri ahli bid’ah adalah celaan mereka kepada ahli atsar.” 33



Apakah termasuk manhaj salaf mengkafirkan penguasa kaum muslimin dan memberontak darinya walaupun mereka berbuat aniaya atauppun fasiq sebagaimana yang engkau dengangdengungkan di dalam kasetmu Hatta Laa Taghriiqus Safiinah wa Fiqhul Waaqi’.



Imam ath-Thohawi rahimahullahu berkata : ”Kami tidak memandang (bolehnya) keluar dari para pemimpin dan penguasa kami walaupun mereka berbuat jahat. Kami tidak mendoakan keburukan atas mereka dan tidak melepaskan baiat untuk mentaati mereka dan kami memandang bahwa mentaati mereka dari ketaatan Alloh Azza wa Jalla adalah wajib selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat dan kami doakan bagi mereka kebaikan dan ampunan.”34



Apakah termasuk manhaj salaf apa yang kau katakan di dalam kasetmu Mafaasid ad-Dimuqrathiyah –bagian 2- dimana (kau mengatakan) bahwa pemilu merupakan masalah ijtihadiyah sebagaimana membaca al-Fatihah di belakang imam? Apakah –demi Alloh- merubah hukum Alloh dengan hukum manusia termasuk masalah ijtihadiyah? Apakah penyetaraan orang yang alim dengan jahil, seorang laki-laki dengan wanita, orang yang bertakwa dengan orang fasik di dalam urusan agama termasuk masalah ijtihadiyah? Padahal telah diketahui bersama bahwa suara dari tiap-tiap orang dianggap sebagai persaksian yang sama pada orang yang ikut pemilu. Apakah kebebasan pendapat dan pendapat lainnya termasuk masalah ijtihadiyah? Apakah menfoto wanita termasuk masalah ijtihadiyah?

Anonim mengatakan...

Sungguh besar ucapan yang keluar darimu dan yang kau katakan hanyalah kedustaan belaka. AllohTa’ala berfirman :

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ


”Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS al-Hajj : 46).



Inilah keburukan-keburukan yang diperpegangi oleh ’Abdul Majid ar-Raimi, yang tidaklah disebutkan di sini melainkan hanya sedikit dari (kesalahan-kesalahan)-nya yang berlimpah. Barangsiapa yang mengingkan tambahan pengetahuan tentang orang ini, maka silakan baca buku Tanbiih al-Afaadhil ’ala Talbiisaat Ahlil Baathil karya saudara kami, Abu Hummam ash-Shumi’i al-Baidhoni, yang menerangkan akan kebatilan penamaan kasetnya dengan judul Ar-Ruju’ ila Fahmis Salaf.

Anonim mengatakan...

1 Dialihbahasakan oleh Abu Salma dari Irsyadul Bariyah ila Syar’iyyatil Intisaabi lis Salafiyyah wa Dahdhu asy-Syubahil Bid’iyyah karya Syaikh Abu ‘Abdis Salam Hasan bin Qosim al-Husaini ar-Raimi as-Salafi, taqdim oleh al-‘Allamah Muqbil bin Hadi rahimahullahu, pasal ke-8, Intisaabu al-Firoq al-Mubtadi’ah lis Salafiyyah Da’awa Kholiyah minad Dalil, hal. 60-68, Cet. I, 1421/2000 Darul Atsar, Shan’a, Yaman.

2 Diriwayatkan oleh Bukhari, kitab tafsir, bab Innad Diina Yasytaruu bi Ahdillahi wa Aymanihim Tsamanan Qoliilan (VIII/213) dan Muslim, kitab al-Aqdhiyah, bab al-Yamin ‘alal Mudda’a ‘alaihi (III/133).

3 Sunan at-Turmudzi, kitab al-Ahkam, bab Ma Ja’a fi annal Bayyinah ‘alal Mudda’iy (III/6626) dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih at-Turmudzi (II/37-38).<>

* yaitu hadits muttafaq ’alaihi.

4 Syarh Nawawi terhadap (Shahih) Muslim (XII/3).<>

3<> Majmu’atur Rosa`il hal. 33, cet. Dar asy-Syihab.<>

6<> Karya Syaikh ‘Utsman ‘Abdus Salam Nuh, pent.<>

7<> Karya Muhammad bin Saif al-‘Ajmi, pent.<>

8<> Karya al-‘Allamah DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Darul Falah, pent.

9<> Karya al-‘Allamah DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Darul Falah pent.<>

10<> Karya al-‘Allamah DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi, pent.<>

11<> Karya Syaikh ‘Abdullah ad-Duwaisy, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Darul Qolam, pent.<>

12 Karya Syaikh Abu Ibrahim bin Sulthan al-Adnani<>

13<> Dikutip dari ath-Thoriq ilal Jama’atil Umm karya Utsman ’Abdus Salam Nuh, hal. 10. Dan mengenai ucapan ini sendiri lihat Majmu’atur Rosa`il karya Hasan al-Banna hal. 23-24.<>

14 Majmu’ al-Fatawa – penghimpun asy-Syuwai’ir (III/83).<

13 Al-Bayan hal. 206.

16

19 Al-Washooya minal Kitaabi was Sunnah (al-Majmu’ah ar-Robi’ah) hal. 67.

20 Al-Ikhwanul Muslimun Ahdaats Shona’at at-Taarikh karya Mahmud ‘Abdul Halim (I/409).<

21< Majmu’ al-Fatawa (IV/43).

22<> Melalui perantaraan Da’watu al-Ikhwan al-Muslimin fi Miizanil Islaam, hal. 161.<

23< Tafwidh adalah pemahaman di dalam tauhid Asma` wa Shifat, yang menyerahkan dan tidak menetapkan makna Shifat kepada maknanya yang hakiki yang telah maklum. Aqidah ini menyelisihi aqidah ahlus sunnah yang menetapkan makna shifat namun mentafwidh (menyerahkan) hakikat shifat. Pent.

24< Majmu’atur Rosa`il (Aqo`id) hal. 33.</

23< Dar`u Ta’aarudhil Aqli wan Naqli (I/203).<

26< Syarhul Aqidah al-Wasithiyah hal. 21-22.<

27< Majmu’ Fataawa wa Maqoolaat Mutanawwi’aih (III/33) dihimpun oleh asy-Syuwai’ir.</

28 Syarhul Aqidah al-Wasithiyah (I/92-93)

29 Ibid (I/39)<

30 Ia adalah salah seorang du’at sururi di Shan’a Yaman.

31Maksudnya Jama’ah Takfir yang mengatasnamakan aktivitas tadmir dan tafjir (perusakan dan pengeboman) dengan nama jihad. Karena salafiyun tidak mengingkari jihad sebagaimana tuduhan dusta yang dialamatkan oleh hizbiyun takfiriyun. Salafiyun menetapkan jihad syar’i namun menolak aktivitas perusakan dan pengahancuran yang diatasnamakan jihad, pent.

32 Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits hal. 123.

33 Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah karya al-Laalika`i (I/179).<

34Syarh Aqidah ath-Thohawiyah hal. 468.

Anonim mengatakan...

Imam al Auza'i rahimahullah (wafat 157H) berkata :“Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syariah I/445 no. 127, dishahihkan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar Alaam an-Nubalaa VII/120.]

al-jama'ah bukan islam jama'ah mengatakan...

asssalamu'alaikum...

mungkin saya lama di islam jama'ah...

mungkin saya baru masuk manhaj mengikuti salafussollih..

Alhamdulillah betapa luasnya ilmu di salaf, betapa dalam nya ilmu di salaf, www.kajian.net

dan akhirnya saya katakan sekali lagi..
good bye 354/islam jama'ah...
good bye bidah2...
good bye bp.imam
good bye bp.dpp
good bye wk 4
good bye pemahaman syiah dan khowarij...

dan sy mengajak kepada saudara2 utk selalu mencari ilmu syari /agama yg menuntun pada jalan yg lurus jalan yg benar, yg menyelamatkan diri anda dari jahanam.

saya masih memandang saudara2 islam jama'ah sfirqoatu firqoh dari 72 firqoh, yg tidak kekal di dalam neraka.
saudara2 di islam jama'ah juga masih muslim, ttp saya tdk tahu dg para pemimpin yg sudah datang hujjah pada mereka...?

akhirnya sy hy berdoa, smoga doa ini doa musafir, doa saudara Islamn yg berjauhan,
:
Ya.. Alloh, Ya dzal Jalali wal ikrom.., bukakanlah, hidayah pada saudara2 kita di Islam jama'ah, sesat mereka terlalu jauh ya Alloh,..
seorang anak tidak pernah mendoakan orangtuanya yg muslim, karena pemahaman mereka thd or tua nya yg bukan golongan mereka adalah kafir...
ya ... Alloh, berilah kesadaran pada pemimpin2 mereka, shingga mereka mau merubah pemahamannya diganti dg pemahaman SALAFUSSOLIH.. pemahaman Al-jama'ah, pemahaman toifatummansuroh..., atau pemahaman Firqotunnajiah (golongan yg selamat)...

aaamiiin.. 313x

rudi mengatakan...

alangkah baiknya dakwah kita ini mengajak kesemua firqoh untuk menyusun sebuah bangunan,mencari solusi menghadapi perpecahan umat yang sudah terjadi.Umat ini jangan sampai mengulangi peristiwa kelam dimasa salafussholih yang banyak memakan korban org2 penting dalam sejarah perkembangan islam,akibat menghadapi perbedaan faham yg disertai kebencian dan dendam.Yang akhirnya,setiap masa perbedaan itu selalu menimbulkan korban,mungkin saja keadaan ini dipolitisir oleh yahudi yg selalu benci terhadap umat ini.Padahal di masa Rosulillah pernah terjadi ketika pera sahabat mengusulkan kepada Nabi untuk membunuh a.bin ubay,orang munafik.Tapi Nabi menolak,karena ubay berada dilingkungan umat,yg kalau Nabi membunuhnya maka orang2kafir akan menganggap Muhammad telah membunuh sahabatnya.Begitu pula kita,sama punya bendera islam saling menghujat atau saling membunuh,jelas itu akan mencegah orang untuk masuk islam dan membuat musuh2 islam bertep0uk tangan.Alhasil,perpecahan umat dimasa salafussholih yg banyak menimbulkan korban dan subhat bagi mualaf jangan sampai terulang lagi,karena Allah menciptakan sejarah itu untuk dijadikan pelajaran bagi kaum berikutnya.Di firqoh manapun kita berada,jadikanlah firqoh2 itu sebagai tempat `uzlah dalam rangka mengharap ishlah umat menuju persatuan.bukan malah sebaliknya,berbuat tafriq alumah..seperti tafriqnya yahudi yang diselimuti baghyan bainahum.Untuk firqoh salafy silahkan jelaskan kebenran dng tanpa melontarkan hinaan,untuk 354 tetap eksist dan terus berdakwah dengan tanpa hinaan...hindarkan gaya2 ajakan yahudi ndan jahilyyah,tetap ikhlash,karena keikhlasan akan menyatukan hati kita.

Anonim mengatakan...

comment rudi kayaknya udah mulai melunak... ga ngotot2 amat... smg ptnjuk ada pd kta semua... amin...

Anonim mengatakan...

Agar lebih jelas berikut ini biografi
ringkas Muawiyah bin Abi Sufyan (602 – 680 Masehi;

umur 77–78 tahun);

Latar Belakang Nasabnya;
Ayahnya; Abu Sufyan bin Harb, sponsor utama
sekaligus pemimpin kafir Quraisy ketika memerangi
Rasulullah dan orang-orang Iman dalam perangperang
terdasyat sepanjang sejarah Islam, seperti

Badar al-Kubra (Walaupun dalam perang Badar Abu Sufyan tidak turut serta, dalam
barisan pasukan Musyrik, akan tetapi sebab terjadinya perang Badar bermula dari rencana Rasulullah SAW dan para Sahabat yang akan
menghadang rombongan saudagar kafir Quraisy yang dipimpin Abu
Sufyan, dalam perjalanan mereka pulang dari Syam, Rasulullah
bermaksud menuntut kembali harta-harta kaum Muslimin yang telah dirampas oleh orang-orang Quraisy saat mereka berhijrah ke Madinah, namun rencana tersebut tercium oleh Abu Sufyan lalu dia mengutus
seseorang agar memberitahu kepada pemimpin-pemimpin kafir
Quraisy di Mekah, sehingga terjadilah peristiwa perang Badar al-Kubra)
dan Uhud, Abu Sufyan masuk Islam
karena tertangkap ketika dia mengintai pasukan Islam
yang saat itu dalam perjalanan akan membebaskan
kota Mekah dari genggaman kaum Musyrikin, Abu
Sufyan tercengang saat menyaksikan pasukan Islam
dengan jumlah melebihi jamaah haji yang wuquf di
Arafah, setelah dia melihat tidak ada harapan sama
sekali bagi kaum musyrikin untuk bisa melawan kaum
Muslimin seandainya terjadi peperangan, dan takut
dihukum mati maka Abu Sufyan menyatakan masuk
Islam.

Ibunya; adalah Hindun binti Utbah yang dalam
peristiwa perang Uhud membayar Wahsi untuk
menombak Hamzah bin Abi Thalib paman Nabi
sekaligus Sayyidus Syuhada’ (Hal ini dilakukan oleh Hindun karena dendam dan kebencian
terhadap Islam sekaligus bahwa Hamzahlah yang membunuh ayahnya
dalam perang Badar),
sejarah mencatat
bagaimana dengan kejinya Hindun membelah jenazah
Hamzah kemudian memakan jantungnya, na’udzu
billahi min dzalik.

Masuk Islamnya:
Muawiyah masuk Islam menjelang fathul Makkah, ada
sebagian yang mengatakan dia masuk Islam sebelum
ayahnya tapi tetap merahasiakan keIslamannya,
sedangkan yang lebih mashur adalah dia masuk Islam
setelah fathul Makkah, jadi Muawiyah adalah termasuk
Thulaqa’ yang tidak merasakan beratnya berjihad
bersama Rasulullah di awal-awal Islam sebagaimana
yang dialami Sahabat-sahabat Muhajir dan Anshar,
bahkan sebaliknya di saat itu dia berada di dalam
barisan tentara kafir Quraisy yang bercita-cita untuk
membunuh Rasulullah, jadi salah besar jika
menggolongkan Muawiyah sebagai Sahabat
radiallahu anhum, atau mengatakan, bahwa
Muawiyah termasuk diantara Sahabat yang dimaksud
oleh Hadits di atas, perhatikan firman Allah;

Tidak sama di antara kamu orang yang menginfakkan [hartanya] dan
berperang sebelum penaklukan [Mekah]. Mereka lebih tinggi derajatnya
daripada orang-orang yang menafkahkan [hartanya] dan berperang sesudah
itu. QS. Al-Hadid : 10

Anonim mengatakan...

Keutamaannya;
Para pembela Muawiyah berusaha memanipulasi
sejarah dengan mengarang-ngarang cerita atau
membesar-besarkan fakta, diantaranya dalam
membuat sejarah tentang Muawiyah senantiasa
digambarkan bahwa Muawiyah adalah seorang yang
zuhud yang sederhana dan tidak gila kuasa, orang
yang penyabar tidak pendendam, gambarangambaran
yang sungguh aneh dan tidak masuk akal,
kalau demikian adanya tentu Abu Dzar al-Ghifari
sahabat Nabi yang terkenal kezuhudannya tidak akan
di asingkan oleh Khalifah Utsman bin Affan gara-gara
menegur tabiaat Muawiyah sebagai gubernur Syam
pada waktu itu yang hidup bermewah-mewah dan
jauh dari konsep kehidupan zuhud orang-orang yang
cinta akhirat, selanjutnya kalau Muawiyah bukan orang
yang gila kuasa tentu dia tidak akan menjadi
pemberontak yang menolak berbaiat kepada Khalifah Ali, betapa banyak kaum Muslimin yang terbunuh
pada waktu itu hanya gara-gara ambisi Muawiyah
terhadap kekuasaan.

Adalagi yang berdalih, bahwa Muawiyah adalah
Katibul Wahyi (penulis wahyu) berarti bukan orang
sembarangan, karena tentu Rasulullah tidak
sembarang memilih orang untuk menulis wahyu dari
Allah, padahal betapa banyak sahabat yang pernah
mendapat tugas menulis wahyu, bahkan yang lebih
dikenal adalah Ali bin Abi Thalib Khalifah yang sangat
dimusuhi oleh Muawiyah, dan menjadi penulis wahyu
tidak menjadi jaminan atas kualitas ketakwaan
seseorang, bukankah diantara penulis wahyu (malah
yang lebih senior dari pada Muawiyah) juga ada yang
murtad, sehingga Rasulullah memasukkan orang itu
dalam daftar tiga orang yang Harus dihukum mati
ketika fathul Makkah.

Orang-orang Syiah telah menodai agama Islam yang
mulia ini dengan banyak memalsukan Hadits dalam
rangka memuliakan (secara berlebih-lebihan) kepada
Ali bin Abi Thalib, sehingga mempropagandakan
umat Islam agar membenci dan merendahkan
serendah-rendahnya derajat para Sahabat bahkan
Khulafa ar-Rasyidin selain Ali (Abu Bakar As-Shiddiq,
Faruq Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan ) yang
mereka tuduh telah merampas kekhalifahan dari Ali bin
Abi Thalib, Kenyataan itu bukan berarti kemudian
membolehkan kita umat Islam yang berpegang teguh
pada al-Qur’an dan as-Sunnah untuk mengarang
cerita palsu yang mengunggul-unggulkan Muawiyah
dan mencitrakannya seolah-oleh dia adalah orang
yang innocent lagi madzlum (teraniaya).

Para Ahli Hadits telah menunjukkan bagaimana
bersikap adil, menempatkan manusia pada
tempatnya, memuliakan siapa yang sebenarnya mulia,
dengan tanpa maksud menghina atau merendahkan
yang lain, walaupun berat resikonya, bahkan nyawa
sebagai taruhannya, sebagaimana yang terjadi pada
Imam an-Nasa’i rahimahullah.

"Pada tahun 302 M Imam An-Nasai meninggalkan Mesir menuju
Damaskus, setibanya di sana beliau diminta pendapat oleh para fans
Muawiyah tentang kelebihan Muawiyah rahimahullah mengalahkan Ali (Tindakan ini seakan-akan mereka minta kepada Nasa’i agar menulis
sebuah buku tentang keutamaan Mu’awiyyah), beliau menjawab
kepada sipenanya; “Tidakkah engkau merasa puas dengan adanya
kesamaan derajat, sehingga engkau merasa perlu utk
mengutamakannya mengalahkan Ali ?”

mereka menanyakan lagi,
sehingga An-Nasai berterus-terang; Aku tidak tahu adanya keutamaan
Muawiyah melainkan “Allah tidak mengenyangkan perutnya” (sebuah
sindiran bahwa Muawiyah adalah orang yang rakus akan kekuasaan)

mendapat jawaban seperti ini mereka naik pitam lalu memukulinya,
sampai-sampai buah kemaluannya pun dipukul dan menginjakinjaknya,
kemudian menyeretnya keluar dari masjid, kemudian beliau dibawa ke Ramlah dan wafat di sana". Lihat; Sunan an-Nasai, cet.
Thahaputra Semarang

Anonim mengatakan...

http://rumahku-indah.blogspot.com/2011/02/meluruskan-sejarah.html

http://rumahku-indah.blogspot.com/2011/02/bagaimana-sikap-ahlus-sunnah.html

Anonim mengatakan...

assalamu'alaikum

goodbye ldii...

dg membaca sejarah kami telah tahu kalian bukan yg kalian maksudkan.
kalian mengatakan kalianlah islam satu2nya yg masuk sorga selamat dari neraka dg bertawasul pada imam yg kalian be'at.

good bye ldii...

utk saudara2ku bacalah sejarah Islam, Al-bidayah wa nihayah karya Ibni Katsir (pentafsir Al-quran),

skali lagi good bye ldii...
bukan islam yg seperti kalian yg kami inginkan.
karena kami tidak mau mampir ke Jahanam sebab firqoh yg telah nabi sebutkan.

teruslah belajar saudaraku...
wassalamu'alaikum.

Anonim mengatakan...

SEKTE SALAFI KEPEDEAN ABIZZ, NGIMPIII...

Anonim mengatakan...

Kedudukan Mu’awiyah bin Abi Sufyan disisi Ulama’ Salaf
Posted on Maret 7, 2010 by haulasyiah
قال أبوعلي الغَسَّاني الجَيَّاني – كما ذكر ابن خَلِّكان -: (أن عبد الله بن المبارك سئل: أيهما أفضل: معاوية بن أبي سفيان أم عمر بن عبد العزيز؟ فقال: “والله إنَّ الغبار الذي دخل في أنف معاوية مع رسول الله صلى الله عليه وسلم أفضل من عُمر بألف مرَّة، صلَّى معاوية خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: سمع الله لمن حمده. فقال معاوية: ربنا ولك الحمد. فما بعد هذا ؟”).اهـ.
Abu Ali Al-Ghossani Al-Jayyani sebagaimana disebutkan Ibnu Khollikan: “Bahwa Abdullah bin Mubarok ditanya, ‘Siapakah yang lebih afdhol, Mu’awiyah bin Abi Sufyan ataukah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz? Beliau menjawab: Demi Allah! Sesungguhnya debu yang masuk ke hidung Mu’awiyah (ketika) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih mulia seribu kali dari Umar (bin Abdul ‘Aziz). Mu’awiyah sholat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah. Mu’awiyah menjawab: Robbana wa Lakal Hamd. Adakah keutamaan yang lebih besar dari ini?”


dengarkan perkataan Imam kalian wahai rafidhah…!!!

Imam Hasan alaihissalaam mengatakan:

“Saya lihat, demi Allah, Mu’awiyah lebih bersikap baik terhadap diri saya dibanding mereka ini (syiah). Mereka menyatakan diri sebagai pengikutku, tetapi mereka berupaya membunuhku, memberatkan bebanku, merampok hartaku. Demi Allah sekiranya Mu’awiyah memberikan janji kepadaku, menjaga agar darahku tidak tertumpah, dan memberikan pengamanan kepada keluargaku, maka itu akan lebih baik daripada mereka ini membunuhku. Lalu kerabat dan keluargaku pun akan menjadi tersia-sia. Kalaupun aku memerangi Mu’awiyah, niscaya mereka akan memenggal leherku dan menyerahkannya kepadanya agar ia diselamatkan.” (Abu Manshur at-Thabrisi – Al-Ihtijaaj; 2/10. juga dalam “Adaabu al-Manaabir”; oleh Hasan Mughniyah; hal. 20).

Busuk sekali prasangka kalian terhadap keluarga Rasulullah saw…
Bukankah Mu’awiyah adalah Ipar Rasulullah saw…?!
Bukankah Mu’awiyah adalah paman kaum muslimin….?
Bukankah Ummu Habibah saudari beliau, adalah isteri Rasulullah….?

Bahkan Rasulullah Saw sendiri memuji dan mendoakan kebaikan untuk Mu’awiyah, dan para ulama Ahlu Sunnah terdahulu menyaksikan keutamaan dan status sahabat beliau…

Dari Ibnu Tharif dan Ibnu Alwan dari Ja’far dari ayahnya, bahwa Imam Ali mengatakan pada pasukannya :
“Kami tidak memerangi mereka karena mereka kafir, juga bukan karena mereka menganggap kami kafir, tetapi merasa kamilah yang benar, mereka pun demikian”. (Biharul Anwar jilid 32 hal 321-330, Bab hukum memerangi Amirul Mukminin Ali – Himyari dari kitab Qurbul Isnad hal 45)

Jadi Imam ‘Ali sendiri ga pernah menganggap Muawiyah sebagai kafir, seperti anggapan kalian sekarang…
malahan Imam ‘Ali mengganggap Rafidhah sebagai orang-orang murtad… kalian syiah lah pembunuh Imam Hasan & Husain…

Imam ‘Ali alaihissalam berkata :
“Kalaulah aku bisa membedakan pengikutku, maka tidak akan aku dapatkan kecuali ORANG YANG MEMISAHKAN DIRI. Kalaulah aku menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan kecuali ORANG-ORANG MURTAD. Kalaulah aku menyeleksi mereka, maka tidak ada yang akan lolos seorang pun dari seribu orang.” (Al-Kafi/Ar-Rdudhoh, 8/338)

wahai syiah… tangisi lah darah para Imam…!!!

Anonim mengatakan...

Imam ar-Ridha berkata:
“Sebenarnya orang-orang yang menyatakan cinta kepada kami Ahlul Bait, justru orang-orang yang lebih keras di dalam memfitnah kami melebihi Dajjal.” (Wasaa-ilu asy-Syii’ah 11/441)

Imam Ja’far Ash-Shadiq alaihissalaam berkata:
“Allah s.w.t. tidak menurunkan ayat tentang orang-orang munafik, melainkan ke atas orang-orang yang mengaku sebagai sebagai Syi’ah.” ( Rijaalu al-Kaasyi; hal. 254)

Imam Husain alaihissalaam mengenai syiah:
“…alangkah buruk moral kalian (syiah). Sebenarnya kalianlah para pendurhaka di antara umat ini, KELOMPOK PALING JAHAT, PENCAMPAK AL-KITAB (AL-QUR’AN), SARANA BISIK-BISIKAN SETAN, GOLONGAN PARA PENDOSA, PEMANIPULASI AL-KITAB (AL-QUR’AN), PEMADAM SUNNAH-SUNNAH, dan PEMBUNUH PUTRA-PUTRI PARA NABI”. (‘Ala Khathi al-Husain; hal. 130-131)

ketauan kan dasar dari agama syiah itu hanyalah DUSTA…
syiah… tobat apa susah nya sich…?! lol

wah jokam udah ngikutin paham SYIAh dalam mencaci maki sahabat!!!

Anonim mengatakan...

Ohh imam An-Nasai itu fahamnya syiah toh, baru dapat ilmu baru dari sekte salafi nih...

Anonim mengatakan...

alhamdulillah Imam Nasai merupakan Imam hadits Ahlusunnah wal jamaah, beliau jauh dari akidah khawarij dan syiah :)

Anonim mengatakan...

tambah ramai nich ....ada pengekor syiah ( tidak selalu orang syiah ) yang meramaikan perdebatan ini , atau islam jamaah sudah ketularan paham syiah ?

hati-hati teman kalau menulis segala sesuatu karena nanti kalian akan mempertanggungjawabkan , apalagi mencaci sahabat.

kalau aku perhatikan , setiap orang yang berani mencaci salah seorang sahabat , selalu di ikuti ke bid'ahan .
mereka ingin memutus rantai sanat , sehingga terputuslah sunnah.

hati-hati ya teman .....

Anonim mengatakan...

"Pada tahun 302 M Imam An-Nasai meninggalkan Mesir menuju
Damaskus, setibanya di sana beliau diminta pendapat oleh para fans
Muawiyah tentang kelebihan Muawiyah rahimahullah mengalahkan Ali (Tindakan ini seakan-akan mereka minta kepada Nasa’i agar menulis
sebuah buku tentang keutamaan Mu’awiyyah), beliau menjawab
kepada sipenanya; “Tidakkah engkau merasa puas dengan adanya
kesamaan derajat, sehingga engkau merasa perlu utk
mengutamakannya mengalahkan Ali ?”

mereka menanyakan lagi,
sehingga An-Nasai berterus-terang; Aku tidak tahu adanya keutamaan
Muawiyah melainkan “Allah tidak mengenyangkan perutnya” (sebuah
sindiran bahwa Muawiyah adalah orang yang rakus akan kekuasaan)

mendapat jawaban seperti ini mereka naik pitam lalu memukulinya,
sampai-sampai buah kemaluannya pun dipukul dan menginjakinjaknya,
kemudian menyeretnya keluar dari masjid, kemudian beliau dibawa ke Ramlah dan wafat di sana". Lihat; Sunan an-Nasai
..................................
alhamdulillah Imam Nasai merupakan Imam hadits Ahlusunnah wal jamaah, beliau jauh dari akidah khawarij dan syiah :)
...................................

Loh kalo menulis ttg Imam n-Nasai yg diatas, kenapa yg nulis yg dianggap syiah???

Padahal penulis hanya menampilkan sejarah imam An-Nasai saja loh, apa sekte salafi ke "geer" an dengan penulisan tersebut???

Anonim mengatakan...

Qolbu
...
kedudukan muawiyah bin abi sufyan disisi ulama salaf posted on march 7,2010 by haulasyiah ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
imam "Ali alaihissalam" berkata:
"kalaulah aku bisa membedakan pengikutku, maka aku tidak akan..........dst" -----------------------------------
eh ini "Ali 'alaihissalam'"--->apa bener ini gelarnya ??? mohon dikoreksi..

Anonim mengatakan...

WAMAKARU WAMAKARALLOH WALLAHU KHOIRUL MAKIRIIN..

Terbukti sudah upa daya sekte salafi ternyata dibenci oleh umat islam, secara tdk sengaja ane ngeliat grup FB: "Umat islam bersatu memberantas sekte salafy"

Apakah ini bukti dalil diatas?
Wallahu a'lam...

Anonim mengatakan...

jamaah 354 rupanya sedang ngotot mencela muawiyah gara-gara sang pakubuminya mencela muawiyah. kita tahu bahwa pendeskreditan muawiyyah hanya ada di buku-buku syiah dan buku sejarah yang direkonstruksi oleh orientalis. padahal jelas-jelas imam bukhary dalam hadits shahihnya mencantumkan satu bab khusus tentang kefadholan muawiyah. apa imam bukhary salah? trus yang benar si ihsan muhyiddin itu sang pakubumi kebanggaan jamaah 354?
yang mencela muawiyyah, mana hujjah, dalil dan atsarnya? palingan juga ngambil dari buku-buku bacaan sejarah islam yang beredar dipasaran .itulah yang dijadikan si ihsan muhyiddin sebagai hujjah, yaitu buku sejarah pasaran.
apa nasihat Imam Tafsir Alquran yaitu ibn Abbas salah, sedangkan ibn Abbas adalah orang yang sangat kredibel yang hidup sezaman dengan Rasulullah dan muawiyyah.
lalu jokam 354 mencoba mengadu antara muawiyyah dan nasai. padahal pembelaan nasai pada Ali bukan ditujukan untuk menjatuhkan muawiyyah.
coba mana dalil, hujah dan atsar dari para sahabat yang menjelekan muawiyah? sebutkan apa kitabnya? apa nama babnya dan juz berapa?

Trus tulisan yang menyatakan
‘Pada tahun 302 M Imam An-Nasai meninggalkan Mesir menuju
Damaskus…’

dasarnya dari kitab apa, wong Rasulullah saja hidup di tahun 600 M koq disitu disebut Pada tahun 302 M Imam An-Nasai meninggalkan Mesir menuju
Damaskus…’
??
Ini hadits bukhary yang menerangkan muawiyah dan syarh-nya
http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=6834&idto=6838&bk_no=52&ID=2135

Sekarang pilih mana? Keterangannya Imam Bukhary, Ibn Abbas, Ibn Hajar dan generasi salaf atau pilih keterangannya pakubumi, syiah, orientalis dan buku sejarah pasaran tentang muawiyah?

Anonim mengatakan...

Pilih : "Umat islam bersatu memberantas sekte salafi".

Sayfulloh mengatakan...

As Sarakhsi rohimahullah berkata: “Sesungguhnya sebuah tempat dinisbatkan kepada kita (kaum muslimin), atau kepada mereka (kaum kafir) berdasarkan kekuatan dan kekuasaan. Semua tempat yang tersebar kesyirikan di dalamnya, dan kekuasaan di tangan kaum musyrikin, maka itu dinamakan negara kafir. Dan semua tempat yang tersebar di dalamnya syiar-syiar Islam, dan kekuatannya di tangan kaum muslimin, maka itu dinamakan negara Islam.” (lihat Syarhus Sa’ir: 3/81) Al Jashshos rohimahullah berkata: “Sesungguhnya tolak ukur suatu negara itu berdasarkan kekuasaan dan tampaknya syiar-syiar agama di dalamnya. Buktinya adalah, apabila kita menaklukkan salah satu negara kafir dan kita menampakkan syiar-syiar kita, maka negara itu menjadi negara Islam.” (Al Aulamah: 100)

---------------------------------

- mas abu fatih, apa anda melihat kebanyakan orang yang mengaku muslim di negeri ini, mereka terhukumi Muslim??(saya tegaskan yang saya tanyakan kebanyakan bukan semuanya)

- apakah tidak tampak dipengelihatanmu & pendengaranmu, bahwa negeri ini hampir disetiap daerah ada sesembahan2 selain Alloh??(ada makam sunan gunung jati, sunan wali 9, Gus dur, Hasyim Ashari, Sultan Iskandar Muda,Kyai ahmad Kholil Bankalan yg dimintai berkah sampai ada yang sujud bahkan towaf disana, ada tradisi Syirik Akbar persembahan hewan qurban untuk Nyi Loro kidul yg dianggap penguasa pantai selatan, kyai Sapu Jagat, Sapi jelmaan Kyai Slamet, Grebeg Suren), dukun dan paranormal laris manis ada dedy cobuzier, Tommi Rafael, Mama Lauren(semoga Alloh membalas dengan Jahanam), Ki Joko Bodo, dan masih banyak lagi yang tidak mengiklankan diri di Tv2.
- dan kalau kita jujur kita dikelilingi orang yang mengaku muslim, mengucapkan Syahadatain tp karena mereka tidak memahaminya, sehingga bersamaan dgn itu tidak mengamalkan yang menjadi konsequensinya untuk merealisasikan kewajiban hamba pada Alloh yaitu beribadah & dengan tidak mensekutukannya ( sehingga mereka tinggalkan dr thulab/mencari ilmu, sampai sholat,puasa).Atau saya gambarakan

Seandainya ada manusia diqodar oleh Alloh bertemu dg Rosululloh, kemudian dia menyatakan saya Muslim tp saya tidak sholat tidak puasa, saya akan minta kawruh pada dukun, saya tidak mau ngaji2an,saya akan makan riba, zina, minum khomer.Kemudian Rosululloh akan mengatakan " ya kalian masih tetap Muslim, saya tidak akan kafirkan kamu ",
Begitu kiranya Nabi akan berkata??

Sungguh fatal pemahaman kalian para pengeklem Salafi akan Tauhid/aqidah.Jangan menisbatkan pada kata yang mulia kalau kalian tidak tahu hakikat Dakwah Salaf.

Tentunya Rosululloh akan menjawab " sungguh kamu manusia paling kafir yang akan saya perangi".

Kalau anda mas abufatih dr lubang buaya memang ingin mendakwahkan Al Haq, saya minta nomer HP/tlp yg bisa dihubungi.

Mari nanti kita diskusi secara langsung...

Tidak usah berbantah bantahan, ejek mengejek di Blog ini..

Karena agama bukan untuk debt2an melainkan untuk dicari kemudian di'amalkan perintahNya sepenuh kemampuan kita dan dijauhi laranganNya sejauh2nya..

SAYA TUNGGU Mas Abu Fatih,,

Anonim mengatakan...

Mua’wiyyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abd asy ­Syams bin Abdu Manaf bin Qushay. Nama panggilannya Abu Abdur Rahman al-Umawi. Dia dan ayahnya masuk Islam pada saat pembukaan kota Makkah (Fathu Makkah), ikut daIam perang Hunain, termasuk orang-­orang muallaf yang ditarik hatinya untuk masuk Islam, dan keislaman­nya baik, serta menjadi salah seorang penulis wahyu.

Dia meriwayatkan hadits dari Rasulullah sebanyak seratus enam puluh tiga hadits. Beberapa sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits darinya antara lain: Abdullah bin Abbas, Abdulah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Darda’, Jarir aI-Bajali, Nu’man bin Basyir dan yang lain. Sedangkan dari kalangan tabiin antara lain: Sa’id bin al-­Musayyib, Hamid bin Abdur Rahman dan lain-lain.

Dia termasuk salah seorang yang memiliki kepintaran dan kesabaran. Banyak hadits yang menyatakan keutamaan pribadinya, namun dari hadits-hadits tersebut hanya sedikit yang bisa diterima.

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan (dia mengatakan bahwa hadits ini hasan) dari Abdur Rahman bin Abi Umairah (seorang sahabat Ra­sulullah) dari Rasulullah bahwa dia bersabda kepada Mu’awiyah, “Ya Allah, jadikanlah dia orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.”

Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan dari al-Mirbadh bin Sariyyah dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Ya Allah ajarilah Mu’awiyah al-Qur’an dan hisab serta lindungilah dia dari adzab.”

Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya dan Imam ath-Thabarani dalam kitabnya al-Kabir meriwayatkan dari Abdul Malik bin Umair dia berkata: Mu’awiyyah berkata: Sejak Rasulullah bersabda kepada saya. “Wahai Mu’awiyah, jika kamu menjadi raja, maka berbuat baiklah!” saya selalu menginginkan jabatan kekhilafahan.
Mua’wiyyah adalah seorang lelaki yang bertubuh tinggi berkulit putih dan tampan serta karismatik. Suatu ketika Umar bin Khaththab melihat kepadanya dan berkata, “Dia adalah kaisar Arab.”

Diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib dia berkata, “Janganlah kalian membenci pemerintahan Mu’awiyah. Sebab andai kalian kehilangan dia, niscaya akan kalian lihat beberapa kepala lepas dari lehernya.”

Anonim mengatakan...

Al-Maqbari berkata: Kalian sangat kagum kepada kaisar Persia dan Romawi namun kalian tidak mempedulikan Mu’awiyah! Kesa­barannya dijadikan sebuah pepatah. Bahkan Ibnu Abid Dunya dan Abu Bakar bin ‘Ashim mengarang buku khusus tentang kesabarannya.

Ibnu ‘Aun berkata, “Ada seorang lelaki berkata kepada Mu’awiyah: Demi Allah hendaknya kamu menegakkan hukum dengan lurus wahai Mu’awiyah. Jika tidak, maka kamilah yang akan meluruskan kamu!”
Mu’awiyah berkata, “Dengan apa kalian akan meluruskan kami?’
Dia menjawab, “Dengan pentungan kayu!”
Muawiyyah menjawab, “Jika begitu kami akan berlaku lurus.”

Qubaishah bin Jabir berkata: Saya menemani Mu’awiyah beberapa lama, ternyata dia adalah seorang yang sangat sabar. Tidak saya temui seorang pun yang sesabar dia, tidak ada orang yang lebih bisa berpura-pura bodoh darinya, sebagaimana tidak ada orang yang lebih hati-hati daripadanya.

Tatkala Abu Bakar mengutus pasukan ke Syam, dia dan saudaranya Yazid bin Abu Sufyan berangkat ke sana. Tatkala Yazid meninggal dia ditugaskan untuk menggantikan saudaranya di Syam untuk menjadi gubernur. Umar mengokohkan apa yang ditetapkan Abu Bakar dan Utsman menetapkan apa yang ditetapkan oleh Umar. Utsman menjadikan Syam seluruhnya berada di bawah kekuasaannya. Dia menjadi gubernur di Syam selama dua puluh tahun dan menjadi khalifah juga selama dua puluh tahun.

Ka’ab al-Ahbar berkata: Tidak ada orang yang akan berkuasa sebagaimana berkuasanya Mu’awiyah.

Adz-Dzahabi berkata: Ka’ab meninggal sebelum Mu’awiyah menjadi khalifah, maka benarlah apa yang dikatakan Ka’ab. Sebab Mu’awiyah menjadi khalifah selama dua puluh tahun, tidak ada pem­berontakan dan tidak ada yang menandinginya dalam kekuasaannya. Tidak seperti para khalifah yang datang setelahnya. Mereka banyak yang menentang, bahkan ada sebagian wilayah yang menyatakan melepaskan diri.
Mu’awiyah melakukan pemberontakan kepada Ali sebagaimana yang telah disinggung di muka, dan dia menyatakan dirinya sebagai khalifah. Kemudian dia juga melakukan pemberontakan kepada al­-Hasan. Al-Hasan akhirnya mengundurkan diri. Kemudian Mu’awiyah menjadi khalifah pada bulan Rabiul Awal atau Jumadil Ula, tahun 41 H. Tahun ini disebut sebagai ‘Aam Jama’ah (Tahun Kesatuan), sebab pada tahun inilah umat Islam bersatu dalam menentukan satu khalifah. Pada tahun itu pula Mu’awiyah mengangkat Marwan bin Hakam sebagai gubernur Madinah.

Pada tahun 43 H, kota Rukhkhaj dan beberapa kota lainnya di Sajistan ditaklukkan. Waddan di Barqah dan Kur di Sudan juga ditak­lukkan. Pada tahun itu pulalah Mu’awiyah menetapkan Ziyad anak ayahnya. Ini -menurut ats-Tsa’labi- merupakan keputusan pertama yang dianggap mengubah hukum yang ditetapkan Rasulullah.
Pada tahun 45 H, Qaiqan dibuka.

Pada tahun 50 H, Qauhustan dibuka lewat peperangan. Pada tahun 50 H, Mu’awiyah menyerukan untuk membaiat anaknya Yazid sebagai putra mahkota dan khalifah setelahnya jika dia meninggal.

Anonim mengatakan...

Mu’awiyah meninggal pada bulan Rajab tahun 60 H. Dia dimakamkan di antara Bab al-Jabiyyah dan Bab ash-Shaghir. Disebutkan bahwa usianya mencapai tujuh puluh tujuh tahun. Dia memiliki beberapa helai rambut Rasulullah dan sebagian potongan kukunya. Dia mewasiat­kan agar dua benda itu di diletakkan di mulut dan kedua matanya pada saat kematiannya. Dia berkata, “Kerjakan itu, dan biarkan saya menemui Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang!”.

Sumber: Tarikh Khulafa’

kita lihat...
jokam sudah mulai menuduh ;
Ohh imam An-Nasai itu fahamnya syiah toh, baru dapat ilmu baru dari sekte salafi nih...
dari mana anda bisa mengambil kesimpulan diatas???

Anonim mengatakan...

MU’ÂWIYAH BIN ABỈ SUFYÂN : SAHABAT YANG DIZHALIMI

Imâm Abû Zur’ah ar-Râzi rahimahullâhu pernah berkata :

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ اَصْحَابِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدْيِقُ!!!

’Jika engkau melihat ada orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullôh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah zindîq!!!..” [Al-Kifâyah karya al-Imâm al-Khâthib al-Baghdâdî (hal. 97); Lihat pula al-Anwârul Kâsyifah karya Syaikh Alî Hasan al-Halabî, Dârul Ashâlah, cet. I, 1411 H/1991 M, halaman 11.]

Banyak sekali tuduhan yang dilontarkan kepada para Sahabat NAbî yang mulia, terdepan di antara mereka yang sering dicela dan dihujat adalah Mu’âwiyah bin Abî Sufyân radhiyallâhu ‘anhu.

Syî’ah, Khowârij, Mu’tazilah hingga beberapa pergerakan (harokah) modern turut mengambil bagian di dalam mencemarkan hak sahabat Mu’âwiyah. Kita ambil misalnya, Sayyid Quthb ghofarollôhu lahu wa lanâ, beliau tidak hanya mencela Mu’âwiyah, namun juga ‘Utsmân bin ‘Affân, bahkan lebih dari itu, beliau juga mencela para NAbî seperti NAbî Musa ‘alaihis Salam.

Pembesar Jahmî zaman ini, Hasan ‘Alî as-Saqqof, juga turut mengambil bagian dalam celaan dan cercaan terhadap sahabat yang mulia, Mu’âwiyah bin Abî Sufyân Radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata :

“Mu’âwiyah membunuh sekelompok kaum yang shâlih dari kalangan sahabat dan selain sahabat hanya untuk mencapai kekayaan duniawi.” [Ta’lîq as-Saqqof terhadap kitab Daf’u Syubahit Tasybîh hal. 237.]

Diantara pencela sahabat Mu’âwiyah dari kalangan kontemporer lainnya adalah, Syaikh Taqîyuddîn an-Nabhânî rahimahullâhu, pendiri harokah (pergerakan) internasional, Hizbut Tahrîr (Partai Pembebasan/Liberation Party). Beliau bahkan meragukan status sahabat Mu’âwiyah, agar sifat ‘adâlah (kredibilitas) Mu’âwiyah dapat dilunturkan dengan mudah sehingga dapat dicela.

Syaikh Taqîyuddîn an-Nabhânî ghofarollahu lahu wa lanâ berkata :

معاوية بن أبي سفيان رأى الرسول واجتمع به, وكل من رأى الرسول واجتمع به فهو صحابي, فالنتيجة أن معاوية بن أبي سفيان صحابي, وهذه النتيجة خطأ, فليس كل من رأى الرسول واجتمع به صحابي, وإلا لكان أبو لهب صحابياً

“Mu’âwiyah bin Abî Sufyân berjumpa dan berkumpul dengan Nabî, sedangkan setiap orang yang berjumpa dan berkumpul bersama nabî adalah sahabat, sehingga konklusinya Mu’âwiyah bin Abî Sufyân adalah seorang sahabat. Konklusi ini salah, karena tidak setiap orang yang melihat dan berkumpul dengan Nabî otomatis adalah seorang sahabat. Jika demikian keadaannya maka tentulah Abū Lahab bisa dikatakan sebagai Sahabat.” [asy-Syakhshiyah al-Islâmîyah Juz I hal. 43].

Anonim mengatakan...

Pendapat Syaikh an-Nabhânî ini ditegaskan kembali oleh pengikut Hizbut Tahrir, sebagaimana dikatakan oleh penulis kitab “al-Mulif al-Fikrî” (hal. 148) :

الصحابي وكل من تتحقق فيه معنى الصحبة, وفُسِّر بأنه إذا صحب النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ سنة أو سنتين, وغزا معه غزوة أو غزوتين, ومعاوية أسلم وعمره 13 سنة, ولم يرد أنه ذهب إلى المدينة وسكن فيها في حياة الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ وصاحَبَه, والرسول مكث في مكة مدة قصيرة لا تتحقق فيها معنى الصحبة, وعليه فمعاوية ليس صحابياً

“Sahabat dan setiap orang yang terpenuhi padanya definisi sahabat, telah dijelaskan (bahwa ia disebut sebagai sahabat) apAbîla ia menyertai Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam selama setahun atau dua tahun dan turut serta di dalam satu atau dua peperangan. Sedangkan Mu’âwiyah, ia masuk Islâm dan usianya masih 13 tahun. Tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa ia pergi dan tinggal di Madinah pada masa Rasul Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam masih hidup dan menyertai beliau. Rasulullah tinggal di Makkah selama beberapa waktu yang singkat yang tidak memenuhi lamanya Mu’âwiyah masuk dalam definisi sahabat, karena itulah Mu’âwiyah bukanlah seorang sahabat.”

Akhirnya, dengan mencopot status sahabat Mu’âwiyah, maka sah-sah saja mencela (jarh) dan menghujat (tho’n) Mu’âwiyah, serta menuduhnya dengan berbagai tuduhan keji. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Muhammad asy-Syuwaikî, mantan anggota Hizbut Tahrir di dalam buku beliau, “ash-Showâ`iq al-Hâwiyah” (hal. 37), beliau berkata :

ثم إن نفيهم ـ أي حزب التحرير ـ لصحبة معاوية جعلهم يتطاولون عليه ويجرحونه, فقد جاء في كتاب “نظام الحكم في الإسلام” وهو من منشورات حزب التحرير الطبعة الثانية 1374هـ ـ 1953م والثالثة 1410هـ ـ 1990م والطبعة الرابعة 1417هـ ـ 1996م والطبعة السادسة وأظنها الخامسة لكنهم أخطأوا ربما في الطباعة وهي مؤرخة 1422هـ ـ 2002م وكل هذه الطبعات ذكرت معاوية وتهجمت عليه منذ خمسين عاماً, وذلك في باب (ولاية العهد من الكتاب المذكور), فقالوا عنه: إنه ابتدع منكراً, وإنه يحتال على النصوص الشرعية, وإنه يتعمد مخالفة الإسلام, وإنه لا يتقيد بالإسلام, وإن طريقة اجتهاده على أساس المنفعة لا على أساس الإسلام.

“Sesungguhnya penafian Hizbut Tahrir terhadap status sahabat Mu’âwiyah, menyebabkan mereka dapat mendiskreditkan dan mencela Mu’âwiyah. Di dalam buku “Nizhâmul Hukmi fîl Islâm” yang termasuk publikasi Hizbut Tahrir pada cetakan ke-2 (th. 1374/1953), ke-3 (th. 1410/1990), ke-4 (th. 1417/1996) dan cetakan ke-6 yang saya kira sebenarnya adalah cetakan ke-5 (th. 1422/2002), mungkin salah cetak. Seluruh cetakan buku ini menyebut Mu’âwiyah dan mendiskreditkan beliau semenjak 50 tahun lalu. Hal ini terdapat di dalam Bab “Wilâyatul Ahdi minal Kitâbil Madzkūr”, dimana mereka mengatakan bahwa Mu’âwiyah telah mengada-adakan suatu kemungkaran dan melakukan penipuan terhadap nash-nash syariat. Beliau bersandar kepada sesuatu yang menyelisihi Islâm dan tidak mengikat diri dengan Islâm, serta metode ijtihadnya berdiri di atas landasan keuntungan semata bukan di atas landasan Islâm.”

Demikian pula di dalam buku “al-Kurôsah” atau “Izâlatul Utrubah”, karya para pemuda (Syabâb) Hizbut Tahrir, mereka menuduh Mu’âwiyah bahwa beliau telah melakukan kelicikan dan pengkhianatan, serta mencuri kekuasaan. Hal ini terdapat di dalam bab “Mughtashob as-Sulthah.”

Dengan mengeluarkan status Mu’âwiyah bin Abî Sufyân sebagai sahabat, mereka dapat dengan mudah menjarh dan mencela Mu’âwiyah Radhiyallahu ‘anhu, bersamaan dengan itu mereka berkilah : “Kami tidak pernah mencela Sahabat karena seluruh sahabat adalah adil (kredibel), sedangkan Mu’âwiyah bukanlah seorang sahabat.”

Anonim mengatakan...

Sebagai pembelaan terhadap sahabat nAbî dan sebagai bentuk nasihat dan amar ma’rūf nahî munkar, maka saya turunkan tanggapan dan jawaban atas pendapat Hizbut Tahrir di atas. Sesungguhnya apa yang saya paparkan di sini adalah sebagai nasehat bagi saudara-saudaraku Hizbut Tahrir agar mereka mau rujuk kembali kepada al-Haq, dan meninggalkan pendapat yang lemah lagi tertolak. Saya menurunkan artikel ini bukan untuk menghujat ataupun mencela, namun murni sebagai nasehat kepada sesama muslim. Maka apAbîla nasehatku ini benar, terimalah. Dan apAbîla nasehatku ini salah, buanglah jauh-jauh.

Untuk itu, dengan bertawassul kepada Allôh dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya yang mulia, saya katakan :

Pertama : Definisi Sahabat Yang Tepat

Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhânî rahimahullâhu memiliki pendapat tentang definisi sahabat yang tidak mu’tamad (dapat dijadikan sandaran) lagi mu’tabar (diakui). Pendapat beliau ini menyelisihi apa yang diperpegangi oleh jumhur ulama ahlus sunnah.

Imâm an-Nawawî rahimahullâhu berkata :

فأما الصحابي فكل مسلم رأى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولو لحظة. هذا هو الصحيح في حده وهو مذهب أحمد بن حنبل وأبي عبد الله البخاري في صحيحه والمحدثين كافة

“Sahabat adalah setiap muslim yang melihat Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam walaupun hanya sekilas. Pendapat inilah yang benar mengenai batasan (seseorang dikatakan sebagai) sahabat dan inilah madzhab yang dipegang oleh Ahmad bin Hanbal dan Abū ‘Abdillâh al-Bukhârî di dalam Shahîh-nya serta seluruh ulama ahli hadits.” (Syarhul Muslim 1/35)

Beliau rahimahullâhu juga berkata :

إن الصحيح الذي عليه الجمهور, أن كل مسلم رأى النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولو ساعة فهو من أصحابه

“Sesungguhnya yang benar adalah pendapat jumhur, yaitu seluruh muslim yang melihat Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam walaupun hanya sesaat, maka ia termasuk sahabat beliau.” (ibid : 16:85)

Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullâhu berkata :

الصحابي: من رأى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ في حال إسلام الرائي, وإن لم تطل صحبته له, وإن لم يروِ عنه شيئاً. هذا قول جمهور العلماء, خلفاً وسلفاً

“Sahabat adalah orang yang melihat Rasulullah Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dalam keadaan Islâm ketika melihatnya, walaupun tidak lama dan tidak meriwayatkan satu haditspun dari beliau. Dan ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama, baik kholaf (kontemporer) maupun salaf (terdahulu). (al-Bâ’its al-Hatsîts : II/491).

Anonim mengatakan...

Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Aqsolânî rahimahullâhu berkata :

أصح ما وقفت عليه من ذلك أن الصحابي من لقي النبي ـ صلى الله عليه وآله وسلم ـ مؤمناً به ومات على الإسلام, فيدخل فيمن لقيه من طالت مجالسته أو قصرت, ومن روى عنه أو لم يروِ, ومن غزا معه أو لم يغزُ, ومن رآه رؤية ولو لم يجالسه, ومن لم يره لعارض كالعمى,….ثم قال: وهذا التعريف مبني على الأصح المختار عند المحققين, كالبخاري, وشيخه أحمد بن حنبل, ومن تبعهما, ووراء ذلك أقوال أخرى شاذة

“Yang paling benar sejauh penelitian saya tentang hal ini adalah, sahabat adalah orang yang menjumpai Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dalam keadaan mengimani beliau dan wafat dalam keadaan Islâm. Termasuk sahabat adalah orang yang menjumpai beliau, baik dalam waktu yang lama maupun singkat, baik meriwayatkan (hadits) dari beliau maupun tidak meriwayatkan, baik yang turut berperang beserta beliau maupun yang tidak, orang yang melihat beliau walaupun belum pernah menemani beliau, dan orang yang tidak melihat beliau disebabkan sesuatu hal seperti buta…” Kemudian al-Hâfizh melanjutkan perkataannya : “Definisi ini dibangun di atas pendapat yang paling benar dan terpilih menurut para ulama peneliti (muhaqqiqîn), semisal al-Bukhârî dan guru beliau, Ahmad bin Hanbal, dan yang meneladani mereka berdua. Adapun pendapat selain ini merupakan pendapat yang ganjil (syâdzah).”

Ibnu Katsîr rahimahullâhu berkata :

وتعرف صحبة الصحابة تارة بالتواتر, وتارة بأخبار مستفيضة, وتارةً بشهادة غيره من الصحابة له, وتارةً بروايته عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ سماعاً أو مشاهدةً مع المعاصرة

“Status sahabat dapat diketahui acap kali dengan (berita) yang mutawatir, atau berita yang mustafîdhah (banyak namun di bawah derajat mutawatir), atau dengan kesaksian sahabat yang lain, atau bisa juga dengan meriwayatkan hadits NAbî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, baik secara simâ’ (mendengar) ataupun menyaksikan, selama satu zaman (dengan NAbî).” (al-Ba’îts al-Hatsîts II/491).

Dari definisi di atas, dapat kita ketahui dengan jelas bahwa Mu’âwiyah adalah termasuk sahabat NAbî. Sebab, bukan hanya berjumpa dan melihat Rasulullah, beliau juga meriwayatkan hadits dari NAbî saw dan sebagian sahabat meriwayatkan dari beliau ra.

Kedua : Mu’âwiyah Radhiyallahu ‘anhu adalah Sahabat

Setelah kita menyimak tentang batasan yang tepat dan terpilih tentang definisi sahabat. Mari kita menelaah bersama, apakah Mu’âwiyah Radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat atau bukan.

Sebagai hujjah utama dan pertama, saya turunkan kesaksian NAbî Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri dalam dua haditsnya yang mulia.

NAbî Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

” اللهم اجعله هادياً مهدياً واهده واهد به . يعني معاوية “. أخرجه أحمد والترمذي وصححه الألباني في (السلسلة الصحيحة/1969)

“Ya Alloh, jadikanlah Mu’âwiyah sebagai pembawa petunjuk yang memberikan petunjuk. Berikanlah petunjuk padanya dan petunjuk (bagi umat) dengan keberadaannya.” (HR Ahmad dan Turmudzi. Dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah : 1969)

Apakah mungkin NAbî Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan tidak kepada sahabatnya?

NAbî Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

” اللهم علم معاوية الكتاب والحساب وقه العذاب “. أخرجه أحمد وصححه الألباني في (السلسلة الصحيحة/ 3227)

“Ya Alloh, anugerahkanlah kepada Mu’âwiyah ilmu al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hisab (ilmu hitung) serta jauhkanlah beliau dari adzab.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah : 3227).

Kepada siapakah NAbî Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan jika tidak kepada sahabatnya?

Anonim mengatakan...

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang senada dan semakna. Dari dua hadits di atas, dapat kita tarik kesimpulan dengan tegas dan terang bahwa Mu’âwiyah bin Sufyân Radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat NAbî. Sebab, tatkala NAbî saw berkata demikian, hal ini menunjukkan bahwa Mu’âwiyah hidup di zaman Rasulullah, bertemu dengan beliau dan mengimani beliau. Lantas, tidakkah ini menunjukkan bahwa Mu’âwiyah Radhiyallâhu ‘anhu adalah seorang sahabat NAbî yang mulia?!

Ketiga : Kesaksian Siapakah Yang Lebih Diterima?

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullâhu beserta murid dan simpatisannya beranggapan bahwa Mu’âwiyah bin Abî Sufyân bukanlah seorang sahabat. Sedangkan para Imam Ahlis Sunnah, seperti Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ashhab, Ibnul Atsir dalam Usudul Ghabah fi Ma’rifatish Shahabah, ad-DzahAbî dalam Siyaru ‘Alamin Nubala’ , Ibnu Sa’d dalam ath-Thobaqotul Kubra, al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikhul Baghdad, Abu Nu’aim dalam Ma’rifati ash-Shahabah dan selain mereka, seperti al-Bukhari, ath-Thabari, Ibnu Qutaibah, Ibnul Jauzi, Ibnu Abî Hatim, Ibnu Hibban, Syaikhul Islam, Ibnu Katsir, Ibnul ‘Imad, as-Suyuthi dan selain mereka, semuanya mengakui bahwa Mu’âwiyah bin Abî Sufyân Radhiyallâhu ‘anhu adalah salah seorang sahabat nAbî yang mulia.

Al-Hafizh al-‘Alla`i rahimahullâhu berkata dalam kitabnya Tahqiqu Munif ar-Rutbah (hal. 105) :

“وكذلك روى أيضاً عن معاوية جريرُ بن عبد الله البجلي، وأبو سعيد الخدري, وعبد الله بن عمرو بن العاص، وعبد الله بن الزبير، ومعاوية بن خَديج، والسائب بن يزيد، وجماعة غيرهم من الصحابة ـ رضي الله تعالى عنهم ـ.

“Demikian pula, para sahabat juga meriwayatkan dari Mu’âwiyah seperti : Mu’âwiyah Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali, Abu Sa’id al-Khudri, ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash dan sejumlah sahabat lainnya –semoga Alloh meridhai mereka semuanya-…”

Kesaksian al-‘Alla`i di atas menjelaskan bahwa para sahabat sendiri meriwayatkan dari Mu’âwiyah bin Abî Sufyân, lantas bagaimana bisa beliau dikatakan bukan sebagai seorang sahabat NAbî saw. Karena itulah Imam Muhammad bin Sirin rahimahullâhu berkata :

كان معاوية رضي الله عنه لا يتهم في الحديث عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ

“Mu’âwiyah Radhiyallâhu ‘anhu tidaklah tertuduh di dalam haditsnya dari NAbî saw.”

Sa’id bin Ya’qub ath-Tholiqoni berkata : Saya mendengar ‘Abdullah bin Mubarak berkata :

تراب في أنف معاوية أفضل من عمر بن عبد العزيز.

“Debu di dalam hidung Mu’âwiyah, lebih mulia dibandingkan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz.”

سئل المعافى بن عمران: أيهما أفضل معاوية أو عمر بن عبد العزيز؟ فغضب, وقال للسائل: أتجعل رجلاً من الصحابة مثل رجل من التابعين؛ معاوية صاحبه وصهره وكاتبه وأمينه على وحي الله

Al-Mu’afi bin ‘Imran ditanya : “Manakah yang lebih mulia, Mu’âwiyah ataukah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz?” Lantas al-Mu’afi pun marah dan berkata kepada sang penanya, “Apakah engkau hendak menjadikan salah seorang sahabat nAbî sama seperti tAbî’in. Mu’âwiyah adalah sahabat, ipar, penulis wahyu dan kepercayaan NAbî saw.” [Lihat al-Bidayah wan Nihayah VIII/140]

Anonim mengatakan...

Demikianlah kesaksian para imam dan ulama ahlus sunnah, lantas kesaksian siapakah yang lebih utama untuk diterima dan diambil?!!

Keempat : Menjawab Tuduhan dan Syubuhat

Hizbut Tahrir –semoga Alloh memberikan hidayah-Nya kepada mereka, kita dan seluruh kaum muslimin-, berdalih dengan atsar Ibnul Musayyib rahimahullâhu yang berpendapat bahwa status sahabat diperoleh jika ia mengikuti minimal satu atau dua peperangan bersama nAbî dan hidup bersama nAbî minimal satu atau dua tahun.

Sedangkan Mu’âwiyah, ia masuk Islâm dan usianya masih 13 tahun. Tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa ia pergi dan tinggal di Madinah pada masa Rasul Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam masih hidup dan menyertai beliau. Rasulullah tinggal di Makkah selama beberapa waktu yang singkat yang tidak memenuhi lamanya Mu’âwiyah masuk dalam definisi sahabat, karena itulah Mu’âwiyah bukanlah seorang sahabat. Demikian pernyataan penulis al-Mulif al-Fikri hal. 148.

Saya jawab :

- Persyaratan definisi sahabat telah terhimpun pada Mu’âwiyah bin Abî Sufyân ra. Sebagaimana telah saya turunkan penjelasannya di atas. Bahwa beliau bertemu dengan NAbî saw dan beriman kepadanya, serta wafat dalam keadaan Islam. Dan inilah pendapat terpilih tentang definisi sahabat. Bahkan Rasulullah saw sendiri memuji dan mendoakan kebaikan untuk beliau, dan para sahabat mengambil riwayat beliau serta para ulama ahlus sunnah terdahulu menyaksikan keutamaan dan status sahabat beliau.

- Taruhlah riwayat Ibnul Musayyib rahimahullâhu yang dibawakan oleh HT adalah shahih dan maqbul. Hal ini tidak menafikan status sahabat Mu’âwiyah, bahkan menegaskan akan status sahabat beliau ra. NAbî saw melakukan peperangan sekurang-kurangnya tiga kali pasca Fathu Makkah, yaitu : perang Hunain, Tha`if dan Tabuk. Ketika itu Mu’âwiyah telah masuk Islam dan tentu saja beliau mengikuti ketiga peperangan ini. NAbî juga hidup setelah Fathu Makkah lebih dari dua tahun, dan telah dimaklumi pula bahwa Mu’âwiyah telah masuk Islam saat itu, sehingga beliau telah menemani NAbî lebih dari dua tahun, apalagi beliau merupakan salah seorang kepercayaan NAbî dan penulis wahyu beliau saw.

- Realitanya, atsar dari Ibnul Musayyib itu tidak shahih baik secara sanad dan matan. Berikut ini penjelasan para imam ahli hadits tentangnya.

Imam Nawawi rahimahullâhu berkata dalam at-Taqrib :

وعن سعيد بن المسيب أنه لا يعد صحابياً إلا من أقام مع رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ سنة أو سنتين, أو غزا معه غزوة أو غزوتين, فإن صحَّ عنه فضعيفٌ, فإن مقتضاه أن لا يُعَدَّ جرير البجليُّ وشِبهُه صحابياً, ولا خلاف أنهم صحابة

“Riwayat dari Sa’id bin al-Musayyib bahwa beliau tidak menganggap seseorang sebagai sahabat kecuali hidup bersama nAbî saw satu atau dua tahun atau turut berperang beserta beliau dalam satu atau dua peperangan, sekiranya riwayat ini shahih darinya, maka riwayat ini dha’if (lemah matannya). Karena konsekuensi pendapat beliau ini akan menyebabkan Jarir al-Bajali dan yang serupa dengannya bukan sebagai seorang sahabat, padahal tidak ada khilaf bahwa beliau adalah sahabat.”

hur

Anonim mengatakan...

As-Suyuthi juga berpendapat senada ketika men-syarh ucapan Imam Nawawi di atas, dan menyatakan bahwa yang serupa dengan Jarir al-Bajali adalah Wa`il bin Hujr yang telah disepakati atas status sahabatnya, namun tidak terpenuhi dengan syarat riwayat dari Ibnul Musayyib di atas.

Imam al-‘Iraqi mengkritik riwayat ini, dan mengatakan :

ولا يصح هذا عن ابن المسيب, ففي الإسناد إليه محمد بن عمر الواقدي ضعيف في الحديث

“Tidak shahih riwayat dari Ibnul Musayyib ini, karena di dalam sanadnya ada Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi, dia adalah dha’if di dalam hadits.” [Tadribu ar-Rawi hal. 376].

Imam Muslim menyatakan bahwa al-Waqidi adalah Matrukul Hadits (haditsnya ditinggalkan). Imam Syafi’i menyatakan : “Buku-buku al-Waqidi penuh dengan dusta.” Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan, “Al-Waqidi adalah Kadzdzab (pendusta besar).” [lihat lebih lengkap jarh (celaan) para imam ahli hadits terhadap al-Waqidi dalam as-Siyar karya Imam DzahAbî IX:454-462].

Sungguh amatlah aneh jika kita berpegang pada pendapat yang lemah dan syadz dan meninggalkan pendapat yang kuat dan masyhur

Beberapa Keutamaan Mu’âwiyah ra

- Beliau adalah Paman Kaum Muslimin. Hal ini oleh sebab saudari beliau, Ummu HAbîbah, adalah isteri Rasulullah saw.

- Beliau adalah salah seorang sahabat yang diisyaratkan NAbî akan berperang di tengah lautan dan akan masuk surga.

Hal ini sebagaimana sabda NAbî saw :

عن أم حرام قالت: قال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ : ” أول جيش من أمتي يغزون البحر قد أوجبوا”

Dari Umu Haram Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah saw bersabda : “Pasukan pertama dari ummatku yang perang di lautan maka wajib baginya (surga).” [HR Bukhari : 2924]

Ibnu Hajar mengatakan : “Al-Muhallab berkata : “hadits ini menjelaskan keutamaan Mu’âwiyah karena beliaulah orang pertama yang berperang di lautan.” Adapun lafazh “qod aujabu” (maka wajib atasnya) maksudnya adalah : melakukan perbuatan yang wajib atasnya surga.” [al-Fath VI : 120].

- Beliau adalah penulis wahyu dan kepercayaan Rasulullah saw.

Anonim mengatakan...

Dari Ikrimah bin Ammar, dari Abî Zamil Sammak bin Walid dari Ibnu Abbas, Abu Sofyan Berkata : “Wahai Rasulullah berikanlah tiga perkara kepadaku?” Rasulullah menjawab: “Iya”. Beliau berkata: “Perintahkanlah aku supaya memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu aku memerangi orang-orang Islam.” Rasulullah menjawab: “Iya”, Beliau berkata lagi: “Dan jadikan Mu’âwiyah sebagai penulis di sisimu?” Rasulullah menjawab : “Iya”. [HR Muslim]

- Beliau didoakan memperoleh hidayah dan memberikan hidayah.

“Ya Alloh, jadikanlah Mu’âwiyah sebagai pembawa petunjuk yang memberikan petunjuk. Berikanlah petunjuk padanya dan petunjuk (bagi umat) dengan keberadaannya.” (HR Ahmad dan Turmudzi)

- Beliau didoakan menguasai ilmu al-Kitab dan ilmu hitung.

“Ya Alloh, anugerahkanlah kepada Mu’âwiyah ilmu al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hisab (ilmu hitung) serta jauhkanlah beliau dari adzab.” (HR Ahmad)

- Beliau adalah orang yang faqih.

Seseorang mengadu kepada Ibn Abbas Radhiyallahu ‘anhu pada masa pemerintahan ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwa Mu’âwiyah melaksanakan sholat witir dengan hanya satu rakaat. Ibn Abbas menjawab: “Sesungguhnya dia adalah seorang yang faqih (faham agama).” [Shahih al-Bukhari – hadis no: 3765]

- Beliau adalah seorang yang pandai di dalam memutuskan hukum.

Saad bin Abî Waqqas Radhiyallâhu ‘anhu berkata : “Tidak pernah saya melihat ada seseorang yang lebih pandai di dalam memutuskan hukum pasca khalifah ‘Utsman daripada Mu’âwiyah (Al-Bidayah Wan Nihayah VIII : 133)

- Beliau adalah salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.

Menurut Imam adz-DzahAbî, beliau meriwayatkan kurang lebih 163 hadits dalam Musnad Baqi bin Mikhlad. Riwayat dari beliau, yang muttafaq ‘alaihi (disepakati oleh Bukhari dan Muslim) ada 4 hadits, diriwayatkan oleh Imam Bukhari sejumlah 4 hadits dan Imam Muslim sejumlah 5 hadits. (Siyar A’lamin Nubala’ III : 162)

- Beliau adalah seorang negarawan ulung

Ibnu Abbas Radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Saya belum pernah melihat seorang yang lebih mengetahui tentang kenegaraan daripada Mu’âwiyah” (Al-Bidayah VIII : 138)

Anonim mengatakan...

Jangan Mencela Sahabat Wahai Saudaraku

Wahai saudaraku, diantara keyakinan dan aqidah ahlus sunnah adalah, kita wajib menahan diri dari mencela dan memperbincangkan para sahabat. Perhatikanlah nasihat para ulama ahlus sunnah di bawah ini :

- Imam ath-Thahawi berkata di dalam Kitab ‘aqidah-nya :

ونحب أصحاب رسول الله r ولا نفرط في حبِّ أحد منهم، ولا نتبرّأ من أحد منهم، ونبغض من يبغضهم، وبغير الخير يذكرهم، ولا نذكرهم إلاّ بخير، وحبُّهم دين وإيمان وإحسان، وبغضهم كفر ونفاق وطغيان

“Kami mencintai sahabat-sahabat Rasulullah saw dan kami tidaklah melepaskan kecintaan kami dan berlepas diri (baro’) terhadap salah seorang pun darimereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan tidak mau menyebutkan kebaikan mereka. Kami tidak mau menyebut mereka melainkan dengan kebaikan. mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman dan ihsan, sedangkan membenci mereka merupakan kekufuran, nifaq dan perbuatan melampaui batas.”

- Imam al-Baghowi di dalam Syarhus Sunnah mengatakan :

قال مالك: من يبغض أحداً من أصحاب رسول الله r وكان في قلبه عليه غلٌّ فليس له حق في فيء المسلمين

“Imam Malik berkata, barangsiapa yang membenci salah seorang sahabat Rasulullah saw, maka akan menancap di dalam hatinya kedengkian yang menyebabkan dirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta rampasan (fai’) kaum muslimin.”

- Imam Ahmad bin Hanbal di dalam kitab beliau,as-Sunnah, berkata :

من السنة ذكر محاسن أصحاب رسول الله r كلهم أجمعين، والكف عن الذي جرى بينهم، فمن سبَّ أصحاب رسول الله r أو واحداً منهم فهو مبتدع رافضي؛ حبهم سنّة، والدعاء لهم قربة، والاقتداء بهم وسيلة، والأخذ بآثارهم فضيلة

“Termasuk sunnah adalah menyebutkan kebaikan-kebaikan seluruh sahabat Rasulullah saw dan menahan diri dari berbicara tentang perkara yang terjadi di antara mereka. Barangsiapa yang mencela sahabat Rasulullah saw atau salah seorang dari mereka, maka ia adalah seorang ahli bid’ah Rafidhi. Mencintai sahabat adalah sunnah, mendoakan mereka adalah ibadah, meneladani mereka adalah wasilah (cara) dan mengambil atsar mereka adalah keutamaan.”

- Imam Abu ‘Utsman ash-Shobuni di dalam kitabnya, ‘Aqidatus Salaf wa AshhAbîl Hadits mengatakan :

ويرون الكف عما شجر بين أصحاب رسول الله r وتطهير الألسنة عن ذكر ما يتضمن عيباً لهم، أو نقصاً فيهم، ويرون الترحم على جميعهم، والموالاة لكافتهم

“(Kaum salaf dan ashhAbîl hadits) berpandangan untuk menahan diri dari (memperbincangkan) perselisihan yang terjadi di tengah sahabat Rasulullah saw, menyucikan lisan dari menyebutkan aib-aib (keburukan) dan kekurangan mereka dan mendoakan rahmat (tarahum) bagi semuanya serta memberikan kecintaan (wala’) bagi seluruhnya.”

- Dan masih banyak ucapan-ucapan para imam ahlus sunnah yang melarang untuk mencela dan mendiskreditkan sahabat NAbî saw.

Sebuah Renungan dan Pelajaran

Kita semua meyakini bahwa, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullâhu adalah seorang khalifah yang mulia lagi adil. Kekhilafahan beliau adalah salah satu kekhilafahan yang berada di atas minhaj nubuwwah. Namun perhatikanlah apa yang dilakukan oleh Khalifah yang mulia ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullâhu terhadap mereka yang mencela Mu’âwiyah bin Abî Sufyân Radhiyallâhu ‘anhu :

Ibrahim bin Maisarah berkata, “Saya tidak melihat ‘Umar bin Abdul ‘Aziz memukul seseorang kecuali seorang yang mencela Muawiyah. Beliau mencambuknya dengan beberapa cambukan.” (Tarikh Dimasyq 59/211)

Aduhai, bagaimanakah kiranya jika khalifah yang mulia ini hidup di zaman ini, dan melihat apa yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di dalam pergerakan yang mengklaim hendak mendirikan daulah khilafah islamiyah ‘ala minhajin nubuwwah?! Khilafah seperti apakah yang akan ditegakkan, jika aqidah dan keyakinan mereka menyelisihi aqidah dan keyakinan ahlus sunnah?!! Nas’alullahaas-Salamah wal Afiyah.

Anonim mengatakan...

Semoga Alloh swt memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kami, mereka dan seluruh kaum muslimin, dan mempersatukan hati-hati kita di atas al-Qur`an dan as-Sunah menurut pemahaman salaful ummah.

abusalma.net/?p=18

biar jelas semuanya baca dengan seksama!!!
jangan cuman MANGKUL yang berasal dari kata NAQOLA yang berarti menukil
cuman menukil (mencomot tulisan ini atau itu)
payah pemahaman beragama kalian semua para jokam!!!!

Anonim mengatakan...

@sayfulloh
mas abu fatih, apa anda melihat kebanyakan orang yang mengaku muslim di negeri ini, mereka terhukumi Muslim??(saya tegaskan yang saya tanyakan kebanyakan bukan semuanya)

al jawab; saya lihat berdasarkan dzohir mereka..
mereka masih mengucapkan 2 kalimat syahadat sholat puasa zakat dan yg lain lagi

apakah tidak tampak dipengelihatanmu & pendengaranmu, bahwa negeri ini hampir disetiap daerah ada sesembahan2 selain Alloh??(ada makam sunan gunung jati, sunan wali 9, Gus dur, Hasyim Ashari, Sultan Iskandar Muda,Kyai ahmad Kholil Bankalan yg dimintai berkah sampai ada yang sujud bahkan towaf disana, ada tradisi Syirik Akbar persembahan hewan qurban untuk Nyi Loro kidul yg dianggap penguasa pantai selatan, kyai Sapu Jagat, Sapi jelmaan Kyai Slamet, Grebeg Suren), dukun dan paranormal laris manis ada dedy cobuzier, Tommi Rafael, Mama Lauren(semoga Alloh membalas dengan Jahanam), Ki Joko Bodo, dan masih banyak lagi yang tidak mengiklankan diri di Tv2.

al jawab; nurhasan adalah seorang guru yang HEBAT...
1.dia bisa menghilang (waktu naik kapal petugasnya tidak ada yang tahu,soale gak mau bayar),
2.sakti bisa bermain-main ular (sekalian aja jadi penari ular), 3.bisa menggoreng jagung dengan surban (hemat BBM nih)
4. bisa amar ma'rufin nyi roro kidul (gurunya kali nyi roro kidul

DAKWAHKAN dulu LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA

Anonim mengatakan...

Seandainya ada manusia diqodar oleh Alloh bertemu dg Rosululloh, kemudian dia menyatakan saya Muslim tp saya tidak sholat tidak puasa, saya akan minta kawruh pada dukun, saya tidak mau ngaji2an,saya akan makan riba, zina, minum khomer.Kemudian Rosululloh akan mengatakan " ya kalian masih tetap Muslim, saya tidak akan kafirkan kamu ",
Begitu kiranya Nabi akan berkata??

begini nih pemahaman jokam
beragama... SEANDAINYA!!!!
mas RASULULLAH sudah meninggal!!
jadi sudah gak ada SEANDAINYA

Sungguh fatal pemahaman kalian para pengeklem Salafi akan Tauhid/aqidah.Jangan menisbatkan pada kata yang mulia kalau kalian tidak tahu hakikat Dakwah Salaf.

Tentunya Rosululloh akan menjawab " sungguh kamu manusia paling kafir yang akan saya perangi".

mengambil pemahaman sendiri menisbatkan kepada RASULULLAH SAW

Anonim mengatakan...

Mari nanti kita diskusi secara langsung...

Tidak usah berbantah bantahan, ejek mengejek di Blog ini..

Karena agama bukan untuk debt2an melainkan untuk dicari kemudian di'amalkan perintahNya sepenuh kemampuan kita dan dijauhi laranganNya sejauh2nya..

saya lebih suka diskusi dengan orang pintar karena berdiskusi dg orang pintar menambah ilmu saya

sedang diskusi dg orang bodoh hanya emosi,akal yang berbicara dan tidak ada ilmunya dan semakin menjauh dari ilmu

1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:
“Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” [Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]

2. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Cukuplah engkau sebagai orang zhalim bila engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain dzikir kepada Allah.” [al-Fakihi dalam Akhbar Makkah]

Sementara ad-Darimi meriwayatkan bahwa Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam dzikir tentang Allah.” [Darimi: 299]

3. Muslim Ibn Yasar rahimahullah
Musim ibn Yasar rahimahullah berkata:
“Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya setan menginginkan ketergelincirannya.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404]

4. Hasan Bashri rahimahullah
Ada orang datang kepada Hasan Bashri rahimahullah lalu berkata, “Wahai Abu Sa’id kemarilah, agar aku bisa mendebatmu dalam agama!” Maka Hasan Bashri rahimahullah berkata:
“Adapun aku maka aku telah memahami agamaku, jika engkau telah menyesatkan (menyia-nyiakan) agamamu maka carilah.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 588]

5. Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah
Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah berkata:
“Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindah-pindah (agama).” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565]

6. Abdul Karim al-Jazari rahimahulah
Abdul Karim al-Jazari rahimahulah berkata:
“Seorang yang wira’i tidak akan pernah mendebat sama sekali.” [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 636; Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

Wira’i artinya orang yang sangat menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dan membatasi diri dari yang mubah.

7. Ja’far ibn Muhammad rahimahullah
Ja’far ibn Muhammad rahimahullah berkata:
“Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama, karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan mewariskan kemunafikan.” [Baihaqi dalam Syu’ab: 82

Dahulu dikatakan:
“Janganlah engkau mendebat orang yang santun dan orang yang bodoh; orang yang santun mengalahkanmu, sedang orang yang bodoh menyakitimu.” [Al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

“Ya Allah jauhkanlah kami dari jidal, dan anugerahkan pada kami istiqomah. Janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah engkau memberi hidayah pada kami.”

Sumber: Diketik ulang dari Majalah Qiblati Edisi 03 Tahun IV (12-1429/12-2008) hal.16-20

Sayfulloh mengatakan...

Seandainya ada manusia diqodar oleh Alloh bertemu dg Rosululloh, kemudian dia menyatakan saya Muslim tp saya tidak sholat tidak puasa, saya akan minta kawruh pada dukun, saya tidak mau ngaji2an,saya akan makan riba, zina, minum khomer.Kemudian Rosululloh akan mengatakan " ya kalian masih tetap Muslim, saya tidak akan kafirkan kamu ",
Begitu kiranya Nabi akan berkata??

Tentunya Rosululloh akan menjawab " sungguh kamu manusia paling kafir yang akan saya perangi".

-----------------------------------

sabar mas anonim, silahkan anda cek tulisan tersebut kurang lebih saya ambil dari jawaban beliau Fadhilatusyekh DR Soleh bin Fauzan (dengan ada sedikit edit&tambahan) didalam beliau mengomentari keadaan sekarang ini. Yang menjadikan Iman sebagai perdebatan & bahan diskusi dikalangan pencari 'ilmu. Beliau bermaksud membantah orang2 yang cenderung mengarah pada paham irja',yang menjadikan 'amal tidak ada pengaruhnya dengan iman.

Inilah yang saya sangat pungkiri dari kalian. Ketika sebuah fatwa yang sengaja saya sembunyikan sumber referensinya, dengan kesombonganmu kalian hinakan, bahkan tidak dianggap (apalagi diambil hikmahnya).Dan mungkin sesuatu yang salah bila saya nisbatkan pada 'ulama besar kalian akan menerima.Karena didalam beragama kalian cenderung dibutakan pada kebesaran si Pendapat&gelar, bukannya mencocokan dengan AlQur'an & Sunnah.

The way of real salaf mengatakan...

Muhammad ibn Saalih al-Uthaymeen (May Allah have Mercy on Him) explains the difference between the Madhhab (way) of the Salaf as-Salih (The Pious Predecessors) and that of the new hizb (sect) commonly known as "The Salafis" or the neo-salafis.

There is the way of the salaf, and there is a party (hizb) called "THE SALAFIS" that some of those sects declare others as being misguided.
They declare them to be innovators and as being sinners.

So lets us judge by them and not according to desires, opinions and not according to personalities...

Anonim mengatakan...

oh gitu yah!!!!
jokam dah mbaca kitab kitab karangan ulama ahlussunnah
tapi atas dasar pemahaman siapa??
si penulis buku atau PAKUBUMI KALIAN???
seandainya kalian telaah kitab kitab karangan ulama ahlussunnah
niscaya kalian akan tinggalkan pemahaman beragama kalian di 354
tapi memang dasar sifat kalian memelintir dalil Alqur'an dan Sunnah untuk kepentingan kelompok kalian
dan untuk tulisan ;silahkan anda cek tulisan tersebut kurang lebih saya ambil dari jawaban beliau Fadhilatusyekh DR Soleh bin Fauzan (dengan ada sedikit edit&tambahan)

sumbernya darimana agar saya bisa merujuk tulisan tersebut...

dan yang untuk edit dan tambahannya itu yang berbahaya jika tidak sesuai dg maksud si penulis!!!!

Anonim mengatakan...

@anonim diatas:

Kewalik boss!!
Lihat perkataannya Muhammad ibn Saalih al-Uthaymeen yang mengatakan bahwa SALAFI ADALAH HIZB yang selalu mengatakan pada selain golongannya sesat dan bid'ah!!!

Anonim mengatakan...

yo... iyo.. ldii skarang ngaku2:

kita ini yg salafi..., kita ini yg mengikuti salaffussolih...

hehehe... konangan rek... ldii bermuka dua...

pengakuan2 ldii seperti inilah yg dimaksud Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Sholeh Utsaimin !?...

betul kata anonim diatas, ngaku2 salaf tapi mengkafirkan muslim diluar golongannya, tanpa dalil yg sohih!!!

wong ber Tauhid pada Alloh e... di bilang Kafir...?
wong masi sholat e... dikatakan kafir?
wong rukun Islam semua di jalankan e... di katakan kafir...

ldii gak beres.. gak bener!!!

gooh gooh.. piye tho sampean iki rek rek...

Anonim mengatakan...

kok yg berguru diluar 354 bisa baca kitab2 bahasa arab yah...

wah2 di 354 di ajarin apa sih???

pantas tertipu mereka...warga 354

ditipu dg mangkul itu tuh...

mantab yah. kasihan benar nih saudara2 yg masi di 354.

hehehe sy baru tau 354 itu kode islam jama'ah di kediri yah.!!

hamba_Alloh mengatakan...

mas anonim

- apa kamu katakan bertauhid bila seseorang bersyahadat kemudian tidak mengamalkan konsquensinya??

- apa bertauhid bila bersyahadat kemudian melakukan syirik akbar (dukun2an, menyembah kubur, memberi hewan sembelihan untuk Nyi Loro Kidul) ??

- Banyak orang mengaku ana Muslim di negeri ini tp tidak tahu dan tidak mau tahu bahwa Islam itu menuntut peribadatan pada Alloh SWT & mengharuskan memurnikan ibadah hanya pada Nya, dan yang terakhir juga perkara yang penting ialah berlepas diri/baro'ah dari syirik dan para pelaku syirik.

Saya kira kamu perlu kaji kembali dan renungkan kitab2 aqidah yg dikalangan kalian sudah diperjual belikan pd setiap dauroh2 kalian.

- Renungkan apa dakwah kalian sama dg dakwah yg dibawa Rosululloh SAW??

- apa dakwah kalian sama dengan dakwah Salaf yg dibawa Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahab??

Nabi & Syeh Muhammad bin 'Abdul Wahab memerangi para pemuja kubur dengan menggelari mereka para Musyrikin,,kalian malah ngotot menghukumi mereka tetap Muslim,,

Sohabat Abu Bakar saja menghukumi Murtad pada orang2 yg tidak mau mendatangkan zakat ( padahal mereka dulu hidup bersama Nabi, ya solat, ya puasa, ya jihad, ya mereka juga bukan lagi menyembahi uzza lata manaf)),,

nah terus bagaimana hukumnya orang yg tidak solat2an, tidak puasa2an, tidak mau tahu akan agama Islam ini. Sehingga hidup selalu dalam kebodohan, tidak tahu halal kharom, haq batil, dosa pahala, syurga neraka.

Masya Alloh,,
kami berlindung dari keyakinan batil seperti ini.

Anonim mengatakan...

emang salafi diindonesia melakukan yg anda tuduhkan ----> "... yg tidak solat2an, tidak puasa2an, tidak mau tahu akan agama Islam ini. Sehingga hidup selalu dalam kebodohan, tidak tahu halal kharom, haq batil, dosa pahala, syurga neraka"........ ???

Anonim mengatakan...

wkwwkwkwkwk......orang LDII ditelanjangai habis di bloq ini

berkata ini salah , berdalil dengan itu salah , dasar kaum khawarij yang bermuka dua.

mencomot kata ulama -secuil- yang dimaknai dengan kemauannya.

wahai kaum mandigol , sudahlah jangan sombong dengan menolak kebenaran .

beranikah pemuka2 kalian debat terbuka dengan ahlus sunnah ?

paling-paling beraninya pamer otot , kroyokan iya kan

tapi memang itulah yang bisa kalian banggakan , kalau masalah ilmu dan pemahaman pasti keok deh kalian semua.

hamba_Alloh mengatakan...

memang diskusi dengan kalian itu susah, mutar muter, mancla mencle tp yang dibawa fatwa2 ulama' soleh.

Saya ulangi ya mas biar dong..

Kalian katakan kebanyakan masyarakat di negeri ini masih muslim, kemudian saya bantah&sudah saya jawab.

Kami tidak mengatakan kalian sudah terhukumi ....

melainkan kebanyakan masyarakat di negeri ini.

dong kan mas,, kalau baca jangan pakai kesombongan ya mas,,jadi nanti bisa mencerna tulisan orang lain.Dan bisa masuk agama ini ke dalam hati kalian.

Anonim mengatakan...

rupanya ada pemahaman khowarij ganda di sini!!!

sbaiknya anda baca fathul bahri jilid 1. tentang sesungguhnnya Alloh tdk mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selainnya syirik,...

wahai hamba2nya Alloh Ta'ala.

Nb. rujukan kita sama, Kitabillah wa sunnah (hadits induk sohih Bukhori) hendaknya di fahami dg pemahaman salafussolih.
Hilangkan semua taklid pada seorang guru, dan hindarkan mangkul yg tdk pas!!

hamba_Alloh mengatakan...

ini ahli hadist jaman ini yang (nyuwun sewu) ngawur..

Innalloha laa yaghfiru dzunuba an yusyrokabihi wayaghfiru ma duuna dzalika li man yasya.

kata duuna jangan anda artikan siwa (selain)..
karena duna itu bermakna dibawah,,

yang maksud ayat itu adalah Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Alloh akan mengampuni dosa dibawah tingkatan/level dosa syirik, kepada orang yang Alloh kehendaki..

Apa ada dosa yang setingkat dosa Syirik??ya tentu ada mas (monggoh dilihat Syarah Nawaqidhil Islamnya, tenang bukan karangan Abah Nurhasan tapi Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahab yg di terangkan oleh Syekh Soleh Al Fauzan )

Konsquensi makna SELAIN, maka asal tidak Syirik ada harapan ampunan,,ini pemahaman Batil (pahamnya orang Murji'ah)

Terus mau dikemanakan Nawaqidhil Islam/pembatal2 Islam yang lainnya??

Tentunya Iblis ada harapan masuk Surga karena Iblis bukannya mensekutukan/syirik dalam ibadah, tapi sombong/menolak untuk ibadah.

Terus Abdulloh bin Ubay (tokoh munafiq zaman Nabi) ada harapan ampunan ya mas kalau begitu??

Maaf saya hanya meluruskan, mohon pencerahannya Mas Ahli Hadis??

sayfulloh mengatakan...

nambahi,,

sebenarnya kalau kalian memahami keterangan /penjelasan 'ulama soleh, mereka selalu mendahulukan bab tauhid(memurnikan/mengesakan)di dalam kitab2nya,sebelum masuk pada permasalahan fiqih.
Karena banyak orang yang tidak tahu hakikat agama ini, sperti saya misalkan kalimat Syahadat Laa ilaha illalloh,,
Banyak orang memahami bahwa kalimat ini bermakna tidak ada tuhan selain Alloh, sehingga seakan akan asal sudah mengakui bahwa Alloh adalah tuhan, maka bagi yang mengucapkan sudah Islam, relita ini banyak terjadi di masyarakat dinegeri ini.
Padahal kalau pengakuan saja Iblis dari dulu mengakui kalau Alloh itu tuhan, orang musyrik zaman Nabi mengakui bahwa Alloh itu tuhan.Bahkan orang yang beragama Nasronipun mengakui kalau Alloh itu tuhan.Tapi sebenarnya kalimat yang diserukan oleh Nabi SAW tersebut adalah persaksian bahwa dirinya akan meniadakan persembahan pada selain Alloh kemudian hanya akan memberikan ibadah hanya pada Alloh semata.
Bisa disimpulkan, kalimat ini mengandung persaksian (persumpahan)bagi yang melafalkan akan beribadah&murni hanya pada Alloh semata ( ya ada ibadah, ya harus murni).
Dan kalimat ini harus dijaga, caranya dengan perintah Alloh sebelum mengamalkan (yaitu untuk mencari 'ilmu/pengetahuan tentang bagaimana ibadah yang murni), sehingga kalimat itu bisa batal karena sebab2 yang Alloh membatalkannya.Perkara ini juga sudah dijelaskan oleh para 'ulama.
Jadi tidak asal sudah syahadat itu selamanya Islam, itu tidak semudah itu.
Kita hidup sekali ini harus selalu menghambakan (menetapi perintahNya sa' pol kemampuan & menjauhi laranganNya sejauh2nya, dan meyakini apa yang terkandung di Qur'an&Sunnah seyakin2nya)sampai tutug pol ajal mati kita masing2.
Atau istilah dikalangan para 'ulama " membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota tubuh".

Nabi pun demikian selalu mengajak umatnya untuk menetapi ajakan menyerah/Islam yang hakiki.Dengan menghambakan diri/beribadah, memurnikan/mengesakan dalam beribadah, dan berlepas diri dari syirik & para pelakunya.

wassalamu 'alaikum..

Abdul Aziz mengatakan...

Bismillah.
Assalamualaikum ya.. akhi...

kalian ahli2 hadits zaman ini, patut dibanggakan, pemuda2 kita sudah banyak menimba ilmu dari sumber2 yg jernih.

mari sama2 kita dengarkan nasihat2 agama, utk memantabkan diri kita dan tetap menjaga niat kita agar cita2 kita tercapai, masuk sorga selamat dari neraka...
aamiin..

mungkin didalam ini ada materi ilmiah yg sedang pelajari.

http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Maududi%20Abdullah/Hakikat%20Ikhlas

wassalamu'alaikum wr wb.

Anonim mengatakan...

nggak melok komentar , mengko mendak salah ....

nunggu dawuhe , imam wae ....slamet

Anonim mengatakan...

nje pak e.., dengar nasehat di atas saja pak..e.
InsyaAlloh lebih aman & selamat.

kalau pa'e mau langsung bicara pada Ulama' Madinah, pa'e bisa pakai nomer telp Flexi.ketik

*55*210756

langsung panggil...
radio dakwah tanpa muzik, pa'e..
24jam full...

Anonim mengatakan...

he'eh ...bener apo kondomu , radio rodja

iki lagi ngrungo'ne :http://www.radiorodja.com/tabligh-akbar/nasehat-untukmu-wahai-saudaraku-yang-masih-mengamalkan-kebidahan/

Anonim mengatakan...

NURHASAN TEACHING (354 DOCTRINE/BURENGAN REGIME) IS THE MASTERPIECE OF THE ART OF ANIMAL TRAINING, FOR ITS TRAINS HIS FOLLOWERS AS TO HOW THEY SHALL THINK

354 DOCTRINE l'é al chèp d ôvra dl'èrt d insgnèr al bîsti, parché l'insaggna ala Zänt quall ch'i an da pinsèr

nurhasan doctrine is een meesterstukje in de kunst van de dierdressuur: het brengt de mens bij hoe te denken

354 / NURHASAN DOCTRINE è il capolavoro dell'arte dell'ammaestramento di animali, perché addestra la gente su come deve pensare

MADIGOLIYYAH:
لك العمل الكبير من فنّ تدريب الحيوانات، لأنه يدرب الناس على كيف يجب أن يعتقدوا

Anonim mengatakan...

bahasanya kok campur2 ... mohon di artikan nih..., biasa kita dulu di didik gak usah sekolah tinggi2.

gak usa belajar ilmu2 alat, gak usa belajar nahu shorof, gak usa sekolah tinggi2....
yg penting mangkul, cukup jadi gurune jagad.

ya... efeknya jadi bodoh nih...

Anonim mengatakan...

yo ngono iku didikane wong njobo..
neng jamaah pondok2 ngajarke nahwu shorof wis pirang-pirang

Anonim mengatakan...

ora faseh bahasa inggris yo ora iso dadi MTI rek

Anonim mengatakan...

SAYA HANYA MENGINGATKAN SAUDARAKU YANG MASIH NGEYEL TAKLID KEPADA AMIR ISLAM JAMAAH/ LDII AGAR SEGERA TAUBAT, BANYAK BELAJAR TENTANG ISLAM YANG SEBENARNYA ITU BAGAIMANA, JANGAN HANYA BELAJAR NASEHAT 5 BAB, SAMPE TUA UMURNYA PUN JUGA GA AKAN NGERTI ISLAM YANG BENAR, DAN YANG LEBIH PARAH LAGI,JAMAAH LDII ITU NGAKU PALING PAHAM, PADAHAL BACA ALQURAN SAJA GA TAHU TAJWID, APALAGI MENGUASAI ILMU TAFSIR ATAU BAHASA ARAB, NA'UDZUBILLAHI MINDZALIK, BEGITULAH SAYA DAHULU PUNYA PEMAHAMAN DEMIKIAN YANG SESAT, SEMOGA YANG MASIH BERADA DI KUBANGAN SESAT ISLAM JAMAAH/ LDII SEGERA TOBAT, TERUTAMA PARA ULAMA PAKUBUMI PAK KHOLIL BUSTOMI, AZIZ,EKO DLL, MARILAH KITA TINGGALKAN PAHAM SESAT WALAUPUN HARUS KEHILANGAN FASILITAS PANTER, MOTOR REVO, JAMUS DLL, BIAR FASILITAS ITU DINIKMATI ORANG2 YANG MASIH SETIA SAMA MADIGOL NURHASAN YANG SEKARANG DIPEGANG AMIRNYA ABDUL AZIZ DAN KRONINYA.

Anonim mengatakan...

ketika orang terdekatku/temen2 mulai mencium bahwa diri ini mulai menarik diri berlahan2 dari jamaah354, mereke mulai melontarkan kata2 kafir, murtad, dll... ternyata sifat itu tidak hilang di diri mereka walaupun katanya berpendidikan tinggi secara duniawi, namun sangat bodoh dan dangkal dalam pemahaman agama... tertipu dengan aqidah yang selama ini dibangun.. ternyata dibangun dalam kesesatan yang nyata... salah satu kefatalan yang membuat aqidah firqoh ini rusak adalah meletakkan dalil jamaah kedalam rukum islam bahkan lebih tinggi dari rukun islam... astaqfirulloh... tunjukkanlah hidayah kepada mereka ini ya.. alloh...

Anonim mengatakan...

Nurhasan berkata : BARANG SIAPA YANG MASIH MENG ANGAN-ANGANKAN ATAU BERFIKIR BAHWA MASIH ADA DI LUAR JAMAAH KITA INI ADA HARAPAN MASUK SURGA.... MAKA SEBELUM BERDIRI DARI MAJLIS INI SUNGGUH DIA TELAH KAFIR

Sayfulloh mengatakan...

As Sarakhsi rohimahullah berkata: “Sesungguhnya sebuah tempat dinisbatkan kepada kita (kaum muslimin), atau kepada mereka (kaum kafir) berdasarkan kekuatan dan kekuasaan. Semua tempat yang tersebar kesyirikan di dalamnya, dan kekuasaan di tangan kaum musyrikin, maka itu dinamakan negara kafir. Dan semua tempat yang tersebar di dalamnya syiar-syiar Islam, dan kekuatannya di tangan kaum muslimin, maka itu dinamakan negara Islam.” (lihat Syarhus Sa’ir: 3/81) Al Jashshos rohimahullah berkata: “Sesungguhnya tolak ukur suatu negara itu berdasarkan kekuasaan dan tampaknya syiar-syiar agama di dalamnya. Buktinya adalah, apabila kita menaklukkan salah satu negara kafir dan kita menampakkan syiar-syiar kita, maka negara itu menjadi negara Islam.” (Al Aulamah: 100)

---------------------------------

- mas abu fatih, apa anda melihat kebanyakan orang yang mengaku muslim di negeri ini, mereka terhukumi Muslim??(saya tegaskan yang saya tanyakan kebanyakan bukan semuanya)

- apakah tidak tampak dipengelihatanmu & pendengaranmu, bahwa negeri ini hampir disetiap daerah ada sesembahan2 selain Alloh??(ada makam sunan gunung jati, sunan wali 9, Gus dur, Hasyim Ashari, Sultan Iskandar Muda,Kyai ahmad Kholil Bankalan yg dimintai berkah sampai ada yang sujud bahkan towaf disana, ada tradisi Syirik Akbar persembahan hewan qurban untuk Nyi Loro kidul yg dianggap penguasa pantai selatan, kyai Sapu Jagat, Sapi jelmaan Kyai Slamet, Grebeg Suren), dukun dan paranormal laris manis ada dedy cobuzier, Tommi Rafael, Mama Lauren(semoga Alloh membalas dengan Jahanam), Ki Joko Bodo, dan masih banyak lagi yang tidak mengiklankan diri di Tv2.
- dan kalau kita jujur kita dikelilingi orang yang mengaku muslim, mengucapkan Syahadatain tp karena mereka tidak memahaminya, sehingga bersamaan dgn itu tidak mengamalkan yang menjadi konsequensinya untuk merealisasikan kewajiban hamba pada Alloh yaitu beribadah & dengan tidak mensekutukannya ( sehingga mereka tinggalkan dr thulab/mencari ilmu, sampai sholat,puasa).Atau saya gambarakan

Seandainya ada manusia diqodar oleh Alloh bertemu dg Rosululloh, kemudian dia menyatakan saya Muslim tp saya tidak sholat tidak puasa, saya akan minta kawruh pada dukun, saya tidak mau ngaji2an,saya akan makan riba, zina, minum khomer.Kemudian Rosululloh akan mengatakan " ya kalian masih tetap Muslim, saya tidak akan kafirkan kamu ",
Begitu kiranya Nabi akan berkata??

Sungguh fatal pemahaman kalian para pengeklem Salafi akan Tauhid/aqidah.Jangan menisbatkan pada kata yang mulia kalau kalian tidak tahu hakikat Dakwah Salaf.

Tentunya Rosululloh akan menjawab " sungguh kamu manusia paling kafir yang akan saya perangi".

Kalau anda mas abufatih dr lubang buaya memang ingin mendakwahkan Al Haq, saya minta nomer HP/tlp yg bisa dihubungi.

Mari nanti kita diskusi secara langsung...

Tidak usah berbantah bantahan, ejek mengejek di Blog ini..

Karena agama bukan untuk debt2an melainkan untuk dicari kemudian di'amalkan perintahNya sepenuh kemampuan kita dan dijauhi laranganNya sejauh2nya..

SAYA TUNGGU Mas Abu Fatih,,

Anonim mengatakan...

IJMA’ Negeri yang Penguasanya Muslim Sebagaimana Kedudukan Imam di perkuat oleh para ulama’ salaf diantaranya:

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Para imam dari setiap madzhab bersepakat bahwa seseorang yang berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri maka posisinya seperti imam (khalifah) dalam segala hal. (Ad-Durar As-Saniyyah, 7/239, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam, hal. 34)

Beliau adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Masyraf bin ‘Umar dari Bani Tamim.
Karya-karya beliau di antaranya: Kitabut Tauhid, Kasyfusy Syubuhat, Al Kabair, Al Ushuluts Tsalatsah, Mukhtasharul Inshaf Wasy Syarhul Kabir, Mukhtashar Zaadul Ma’ad, dll. Beliau hafal Al-Qur’an sebelum umur 10 tahun. Beliau seorang yang jenius dan cepat memahami. Di bawah asuhan bapaknya sendiri beliau belajar fikih mazhab Hambali, tafsir, hadits, aqidah dan beberapa bidang ilmu syar’i serta bahasa. Beliau sangat menaruh perhatian besar terhadap kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim rahimahumallah, sehingga beliau terpengaruh oleh keduanya dan berjalan di atas jalan mereka dalam mementingkan masalah aqidah yang benar, mendakwahkannya, membelanya dan memperingatkan dari perbuatan menyekutukan Allah, bid’ah serta khurafat. Guru Beliau : Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif An-Najdi dan Asy-Syaikh Muhammad Hayah bin Ibrahim As-Sindi, Abdullah bin Abdul Lathif seorang hakim. Pujian Ulama Kepada Syaikh : Di antara mereka adalah Asy-Syaikh Husain bin Ghanam. Beliau banyak menulis tentang Asy-Syaikh, memujinya dan menyebutkan kisah perjalanan hidupnya dalam kitab Raudhatul Anzhar wal Afham, juga Asy-Syaikh Utsman bin Bisyr, yang memujinya dalam kitab ‘Unwanul Majdi fi Tarikhi Majdin, dan Asy-Syaikh Mas’ud An-Nadqi menulis tentang beliau dalam kitab yang diberi judul Al-Mushlih Al-Mazhlum.

Al-Imam Asy-Syaukani berkata: Para pemimpin kaum muslimin yang ada di dunia ini (baik yang memimpin kerajaan ataupun negara -pen) secara syar’i (sah) mempunyai wewenang sebagaimana wewenang Al-Imam Al-A’zham (khalifah) ketika masih ada.

Sambuuung>>>

Anonim mengatakan...

Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “Adapun setelah tersebarnya Islam dan semakin luas wilayahnya serta perbatasan-perbatasannya berjauhan, maka dimaklumilah bahwa kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah seorang Imam atau penguasa yang menguasainya, demikian pula halnya daerah yang lain., (Iklilul Karamah hal. 127)



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan tidaklah boleh seorang pun dari mereka (syaikh/murabbi/pimpinan kelompok -pen) mengambil ‘ahd (janji setia) dari orang lain untuk menyetujui segala apa yang diinginkan, berloyal terhadap orang yang setia padanya dan memusuhi orang yang memusuhinya.
“Demi Allah, tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang bodoh atau pengikut hawa nafsu.”1) Qodhinya para qadhi Abdul Bar As-Subky. sumber www.annajiyah.or.id

Beliau adalah imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi wa sallam
Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H.


Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

As-syaikh sholih fauzan-rahimahullah- berkata didalam menjawab tentang bai’at jama’ah-jama’ah yang berbilang-bilang : “bai’at tidak diberikan kecuali kepada penguasa muslim, bai’at-bai’at yang berbilang-bilang ini adalah perbuatan bid’ah, dan ia termasuk sempalan-sempalan ikhtilaf, dan wajib bagi kaum muslimin yang berada negara yang satu dan berada di dalam kerajaan yang satu bahwa bai’at mereka satu untuk seorang imam, dan tidak boleh ada pembaia’tan yang berbilang-bilang” (Al-muntaqo dari fatwa syaikh sholih fauzan)



- As-syaikh Utsaimin-rahimahullah berkata : … Akan tetapi ketika seorang pemimpim yang menguasai dan mendominasi dan terbentuk sebuah pemerintahan , maka ini adalah sempurnanya bai'at,

Kami katakan bahwa semua dalil-dalil tentang kewajiban mendengar dan taat serta larangan khuruj atau memberontak, hanya diberikan kepada dan menjadi hak pemimpin muslim yang berkuasa (apakah namanya Raja/Presiden) baik pemimpin / Amir tersebut baik atau durhaka, baik ia mengikuti sunnah ataupun ia mengikuti hawa nafsunya. Dan Bai'at ini tidak diberikan kepada orang selainnya.

Tugas rakyat adalah mendengar dan taat, baik pemerintahan itu ideal sesuai dengan Kitabullah wa sunnah ataukah tidak ideal karena banyaknya pelanggaran syar'i. Hal ini sudah diprediksi oleh Rosululloh Sholallahu ‘alaihi wasallam ( Faidahnya sebagai salah satu tanda-tanda kenabian ) karena kalau rakyat bikin bai'at sendiri-sendiri (ini namanya perpecahan yang dilarang) dan saling mengklaim bahwa bai'atnya yang paling sah dan keluar dari ketaatan kepada Amir yang berkuasa, maka akan banyak darah-darah kaum muslimin yang mengalir. Hal ini telah menjadi pelajaran yang sangat berharga di dalam perjalanan kaum Muslimin dan sikap para ulama-ulama sunnah di era tersebut ( Lihat Tarikh Khulafa oleh Imam Suyuti )
(Kitab Liqo Bab Maftuh oleh Syaikh Utsaimin)

Bersambuuung >>>>

Anonim mengatakan...

Asy- Syaikh Utsaimin rohimahulloh beliau berkata: Imam adalah penguasa tertinggi dalam Negara, tidak disyari'atkan ia harus seorang imam bagi seluruh kaum muslimin, karena Imam yang umum telah hilang semenjak lama, dan Nabi Saw bersabda: "Dengar dan taatlah sekalipun kamu diperintah oleh seorang budak Habsyi".(Syarhul Mumti' (8/12)

- As-syaikh Utsaimin-rahimahullah berkata (Menjawab Pertanyaan orang-orang Al-Jaza’ir yang pemerintahnya menerapkan sistem demokrasi sebagaimana di Indonesia) : Selama ia masih sholat, maka ia adalah muslim, tak boleh dikafirkan. Oleh karena ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tatkala ditanya tentang pemberontakan melawan pemerintah, maka beliau bersabda, "Jangan, selama ia masih sholat". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Imaroh (62)
Tidak boleh memberontak melawan pemimpin itu, tak boleh mengkafirkannya. Barangsiapa yang mengkafirkannya, maka dia (yang mengkafirkannya) dengan perbuatannya ini menginginkan masalah kembali dari awal. Baginya ada bai’at, dia adalah pemimpin yang syar’iy.
Adapun masalah undang-undang, maka undang-undang wajib diterima kebenaran yang terdapat di dalamnya, karena menerima kebenaran adalah wajib bagi setiap orang, walapun kebenaran itu dibawa oleh manusia yang paling kafir. (Majmu Fatwa Syaikh Utsaimin, dikumpulkan oleh Fahd As-Sulaiman (II/133, 134), lewat perantara Dhawaab Takfirul Mu’ayyan karangan Dr. Abdullah ibn Abdul Aziz Al-Jibrin, versi terjemahan Pustaka Imam Syafi’i hal. 65-66.)
Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin Al Wuhaibi At-Tamimy seorang ahli hadits terkenal dari Arab Saudi. Beliau berguru pada Syaikh Abdurahman As-Sa'dy, Syaikh Abdurrahman bin Ali 'Audan, Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan lain-lain.
Demikian pula fatwa Al-Imam As-Suyuthi, sebagaimana dalam Al-Hawi Lil Fatawa (1/253). (Lihat Nashihah Dzahabiyyah, hal. 11) Para pembaca, bukankah dengan aneka ragam bai’at/’ahd yang bid’ah ini kaum muslimin menjadi terkotak-kotak, saling menjatuhkan bahkan mengkafirkan orang-orang yang di luar kelompok/jamaahnya atau yang tidak berbai’at kepada pimpinannya?! Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kebatilannya. Oleh karena itu, jauh-jauh hari seorang ulama besar dari kalangan tabi’in yang bernama Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir menolak dan mengingkari bai’at/’ahd yang semacam ini, ketika Zaid bin Shuhan memerintahkan kepadanya dan para hadirin untuk membai’at dirinya. (Lihat Hilyatul Auliya‘ 2/204, dan Siyar A’lamin Nubala‘ 4/192) Hukum Berbai’at Dari keterangan yang lalu, tidaklah diragukan lagi bahwa berbai’at kepada pemimpin/penguasa kaum muslimin di negerinya masing-masing merupakan sesuatu yang disyariatkan dalam agama Islam, sedangkan berbai’at kepada syaikh/murabbi/pimpinan jamaah dan yang sejenisnya tidaklah disyari’atkan bahkan termasuk perkara bid’ah.


“PENTING” Ada yang berpendapat, Imam hanya mengurusi Agama saja, jadi mendirikan keimaman didalam Negara demokrasi yang telah memiliki pemimpin islam adalah boleh bahkan wajib:

Imam Nawawi dalam syarahnya, beliau berkata:
“Para Nabi di kalangan Bani Israil memimpin mereka sebagaimana layaknya para penguasa (Umara) memimpin rakyatnya.” (Lihat syarah Muslim juz XII, hal. 231 oleh Imam Nawawi). Dengan kata lain, para Nabi itu bukanlah pemimpin sepiritual (hanya mengurusi agama) semata akan tetapi mereka adalah para penguasa yang melakukan kegiatan siyasah (politik) demi kemaslahatan umatnya di dunia dan akhirat. Mereka pun melakukan perang untuk melawan musuh-musuh mereka. Dan seperti itu pula Rasulullah SAW di samping kedudukannya sebagai utusan Allah, beliau juga seorang militer dan pemimpin tertinggi bagi Daulah Islam yang pertama.
Jadi, khalifah atau imam dalam syari’at Islam identik dengan kepemimpinan Negara.

Sekian >>>>

Vie Skyline mengatakan...

to the point saja... Saya seorang muslim, tp bukanlah penganut salah satu paham manapun, baik itu NU, Muhammadiyah, atau LDII..... Tetapi dengan tegas saya berpendapat kalo "Ajaran LDII tidaklah sesat" sprti yg ada ditulis dilapak ini... Saya bisa blng seperti itu krna saya jg tau apa yg diajarkan LDII, saya jg bergaul dekat dan bertukar pikiran dengan mereka krna rumah saya juga berdekatan dgn masjid LDII ...
Sekedar catatan saja :
* Kalo ada penganut LDII yg keliatannya (dianggap) seperti mengajarkan / mengabarkan sesuatu yg dianggap sesat, itu terjadi krna faktor mental masing2 orangnya saja, bukan krna ajarannya... (mngkn krna orng trsbt lg menjalankan (menetapi) ajaran/larangan yg ada dlm suatu ayat/hadits yg baru diajarkan, sementara orng trsbt blm tau ada ayat/hadist yg menggugurkan larangan tersebut)
* Buat para provokator dilapak ini yg mnyerukan utk memerangi LDII / Ahmadiyah (saya tau kesesatan Ahmadiyah), saya hanya berpendapat "Mungkin kalian masih mentah / dangkal dlm mengetahui / memahami / melaksanakan ajaran agama"....
Apakah kalian merasa dirugikan dengan adanya ajaran mereka yg kalian anggap sesat itu / apakah kalian berani menjamin kalo seruan / paham yg kalian anut itu benar....?
* Pada kenyataannya dari bakal terpecahnya Islam mnjdi sekian golongan nantinya, hanya ada satu yg benar.... Dan itu hanyalah Allah yg tau.... Jadi sebaiknya tdk usah menyerukan peperangan dgn dalih suatu paham dlm agama Islam....
* Meluruskan sesuatu bukan dgn peperangan, tp lewat adu argumentasi dgn disertai dalil dan fakta yg benar.... Bagaimana mereka tau kesalahannya kalo tdk prnh diberitau apa yg dianggap benar..
* Masalah Ahmadiyah bukanlah 100% krna kesalahan penganutnya, tp pemerintah ikut andil besar krna dari dulu tdk prnh dengan tegas membubarkan / melarang Ahmadiyah...
* Negara ini bukan milik suatu paham ato golongan, jd jgn sok berkuasa ato merasa paling benar...
* Bagaimana perasaan kalian kalo ada yg menyerukan utk memerangi kalian....? Sementara
pada kenyataannya hanya Allah saja yg tau 1 golonga yg benar itu nantinya....
* Saya tegaskan sekali lagi kalo saya seorang muslim, tp bukanlah "penganut LDII ato paham yg lain", saya orang yg netral dan bebas saja.... Tapi kalo ada yg mau / ingin tukar pikiran / adu argumentasi tentang ajaran yg ada didalam agama Islam, dengan senang hati saya membuka kesempatan.....
* Memang saya amati masih ada kekurangan / kerancuan dalam LDII, tapi anggap saja itu adalah peraturan organisasi saja sebagaimana NU, Muhammadiyah yg juga pnya peraturan sendiri2...
* Akhir kata jadi orang itu mending yg Asor saja, karena diatas langit masih ada langit yg lainnya....

nur mengatakan...

islam jama'ah = ahmadiyah.(dalam satu sisi)

sammanya mereka; berdusta pada orang muslim di luar mereka adalah halal (boleh2 saja).

islam jama'ah mengatakan fatonah bitonah budi luhur (berdusta boleh).
ahmadiyah mengatakan (berdusta boleh)

ahmadiyah berkata semua muslim kafir kecuali ahmadiyah.

islam jama'ah juga berkata semua muslim kafir kecuali islam jama'ah.

memang mirip2 yah///...

bedanya ahmadiyah tdk mengakui Nabi Muhammad bin Abdullah sebagai rosul terakhir, ( mirza ghulam ahmad lah rosulnya ahmadiyah)
Inilah yg merusak syahadatain warga2 Ahmadiyah.

sedangkan ldii / islam jama'ah masih berpendapat bahwa Nabi Muhammad adalah rosul terakhir.

jadi ldii masih mendingan menurut saya. ldii masih muslim (warganya).
tetapi pemahamannya berlebih2an ghuluw.
1. dalam hal najis
2. dalam hal mengkafirkan sesama muslim
3. dalam hal mengkafirkan or yg berbuat bid'ah
4. dalam hal mengkafirkan or yg berbuat dosa besar
5. dalam hal memuji2 sang guru pembawa islam jamaah sangat berlebih2an (foto2 nurhasan ada di rumah2 warga ldii)
sedangkan kalau di tanya siapa nama2 istri2 Nabi kita? bagaimana perjalanan hidup Rosullulloh? Siapa saja para sahabat rosul?

saya rasa itu jarang di dapat di pengajian2 ldii.
coba di perbaiki mutu pengajian nya mas mubalerg.???!

Anonim mengatakan...

Salah satu hasil daerahan bulan maret 2011:

Andi Malaranggeng ( menpora) sedang dikomunikasikan ke grass root 354 sedang berusaha mendekati bapak imam 354 guna melaksanakan beat.

Efek yang ingin diciptakan: dramatisasi
Tokoh sekaliber menteri aja mengakui kebenaran jokam, organisasi kami hebat, menteri aja mau beat pada Imam 354. ( ini teknik gula-gula agar rukyah lugunya tetap merasa bangga dengan kelompok ‘jalan tunggal masuk surga selamat dari neraka’-nya ini).

Jangan-jangan, ketokohan, keartisan ( ex efa seciora, yang kewafatannya dijadikan ‘jualan’ propaganda bahwa sang artis ini adalah anggota jokam), keselebritisan mulai dijadikan tolok ukur kebenaran mereka setelah mereka menggunakan tolok ukur macam

1. jumlah pengikut ( dengan kredo ‘ walaupun dirintangi jamaah kami makin lama makin banyak pengikutnya, tiap bulan 200 orang yang beat dan sejenisnya)

2. banyaknya infrastruktur yang dimiliki ( proyek mercusuar menara emas, masjid mewah, gedung-gedung)

Anonim mengatakan...

Buku Luzumul Jamaah karya pakubumi singapura di daerahku di cancel untuk dijadikan pegangan resmi. Sepertinya mereka 354 sadar, bahwa buku itu adalah ro’yi sang pakubumi karena isinya selaras dengan semangat syiah dan berkebalikan dengan manhaj ahlusunnah. Tau kan? Kitab itu berisi pencacimakian terhadap salah seorang sahabat nabi?

Bagaimana ya si reaksi si pakubumi itu? Apakah dia kecewa karena mungkin dia awalnya bermimpi disambut bak pahlawan yang membela 354 dengan hasil karya yang ‘hebat’ nyatanya karyanya salah besar. Atau makin dendamkan si pakubumi dengan menyiapkan kitab jilid ke 2?

Udeh deh mending tuh pakubumi diem aja dari pada bertindak sok pahlawan dan merasa hebat jadi juru bicara 354 (malah ngerugiin jamaahnya sendiri sebenarnya dan nyessatin rukyah 354)

btw,Mugo-mugo pakubumi itu justru insyaf dan diberi hidayah dan bukannya semakin marah dan mengikuti hawanapsu

Anonim mengatakan...

to the point saja... Saya seorang muslim, tp bukanlah penganut salah satu paham manapun, baik itu NU, Muhammadiyah, atau LDII..... Tetapi dengan tegas saya berpendapat kalo "Ajaran LDII tidaklah sesat"
------------------------------------
1. LDII itu memang bukan faham/ manhaj, tapi ormas (bithonah ya)

2. LDII memang tidak mengajarkan ajaran sesat, tapi melindungi / sebagai sarangnya islam jamaah. (bithonah lagi)

Anonim mengatakan...

Maksud anaonim diatas apa sih??? bingung gue... to the point.
mencla mencle...

Anonim mengatakan...

nb. maksud pakubumi singapura, diatas itu siapa?

apa yg ibu nya mantan Nurhasan itu?

mmmm.... pantas dia bela2in keturunan Nurhasan.

si pakubumio ini kali... merasa dirinya masih anak nur hasan??? hehehe...
kasihan...

kalaupun engkau faham pada ahlussunnah, kau pun akan di buang seperti pakubumi yg lain.

berat yah??...
orapopo rek..., ini masi di dunyo.., masih enteng...

from. me.

Anonim mengatakan...

Saya orang netral berpndapat...
setiap kelompok orang yang berkumpul akan riskan dengan hizb, dll

walaupun memang benar adanya orang yang mengaku salafy (ana salafy ) di kritisi oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, dll

dilain pihak banyak pemahaman salafy yang ternyata sama dengan pemahaman salafy seperti Asy- Syaikh Utsaimin rohimahulloh beliau berkata: Imam adalah penguasa tertinggi dalam Negara, tidak disyari'atkan ia harus seorang imam bagi seluruh kaum muslimin, karena Imam yang umum telah hilang semenjak lama, dan Nabi Saw bersabda: "Dengar dan taatlah sekalipun kamu diperintah oleh seorang budak Habsyi".(Syarhul Mumti' (8/12)

Kita jangan melihat sesuatu dari kelompoknya... tetapilah secara tidak langsung mereka telah bersepakat dalam suatu perkara yaitu masalah imamah, baiat, dll.

dibandingkan kelompok jamaah 354 yang tidak satupun pemahaman baiat kelompok yang di dukung oleh kibarul ulama, walaupun memang islam itu tidak membutuhkan pengakuan tetapi mengapa 354 masih saja mencomot fatwa ulama mekah madinah secara tidak utuh, mengambil kalimat yang seolah2 membenarkan apa yang mereka yakini selama ini tetapi sangat RANCU...

kikuk-kikuk mengatakan...

waa...waa...waa...waa...waa...waaduuh!!!paraaaaah banget nie....

Anonim mengatakan...

ada nggak korelasinya antara semakin banyaknya web/blog yang menjelaskan tentang penyimpangan /kesesatan paham islam jamaah dengan semakin intensifnya pengajian islam jamaah di daerah ?

semoga web/blog semacam ini semakin banyak dan dapat diambil manfaatnya bagi mereka yang mau mengambil manfaat.

wahai ahlus sunnah , bersatulah kalian dalam ketaqwaan dan istiqomahlah kalian.
Mari bersama-sama kita basmi sampai tuntas segala macam kesyirikan dan bid'ah yang banyak dibungkus dengan slogan budaya, kerukunan dll dengan hujjah bukan dengan kekerasan.

wahai ahlu bid'ah ( islam jamaah ) semoga kalian mendapat hidayah Allah dan kembali kepada ajaran yang lurus.

amin

Anonim mengatakan...

sudah jelas..., islam jama'ah gak beres!!!

Anonim mengatakan...

ada yg nanya bro..., pimpinan islam jama'ah itu lulusan apa???
apakah sarjana Agama Islam?
apakah S1 Madinah Lc.
apakah s2 MA?
apakah s3 Doktor dalam bidang agama?

dijawab:
bukan lulusan apa2 pak...

kok jadi pemimpin?

apakah dia faham dg ilmunya?

khan Umar bin khotob berkata:
FAKIHKANLAH KAMU SEBELUM KAMU JADI PEMIMPIN.

bagaimana? ilmu dunia sj gak lulus, bagaimana ilmu akhirat?

Apa hanya mangkul saja yg di butuhkan???

kasihan... mangkul itu membuat otak warga2 jama'ah jadi beku...
gak bisa lagi mencari ilmu dari sumber yg murni, hanya pada islam jama'ah saja ilmunya..
kasihan...

coba yg di daerah2 itu berinisiatif mengirimkan ulama'nya ke luar negri utk belajar islam.
terutama ke timur tengah, biar terbuka wawasannya...

Anonim mengatakan...

imam 354 itu adalah dimonopoli oleh anak turun nurhasan. Tapi dari segi keilmuan, imam 354 itu jauh dari mumpuni. makanya imam 354 sangat mengandalkan Kasmudi. Kasmudi ini ibaratnya perdana menteri. Semua hal2 yang berkaitan dengan agama dalam 354 itu diatur dan dimenej oleh kasmudi. kasmudi ini sangat berperan secara signifikan akan terciptanya akidah 354 selain dari nurhasan.bahkan teks hasda sebenarnya bukan dari imam 354, tapi dari kliknya kasmudi. Imam 354 hanya acc saja

Anonim mengatakan...

ada info apa lur...

sptnya kita harus terus berdakwah ke 354.

smoga 354 banyak yg insaf.
kembali ke jalan yg lurus.
bukan jalan nya orang2 khowarij, dan bukan jalannya syiah rafidoh.

aaamiin.

Anonim mengatakan...

Kalau Pa' Karno, Harto, Habibi, Mba Mega, Pa' BY lulusan mekah atau medinah mas???

Atau lulusan gontor, tebu ireng, lirboyo??

hmm,,hmmm,,hmmm

Anonim mengatakan...

mas... mas... mendingan kita ngaji saja yuk..., ke www.kajian.net
mumpung sempet, dan bisa disambi...

sebenarnya saya mau ngaji di mana saja yg bersumber dari Kitabillah wa sunnah..

Anonim mengatakan...

yuk qt ngaji di masjid. biar ga tergoda disambi ngeklik situs porno. sambil menghidupkan mesjid dan silaturohim