بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Meniti Jalan Salaf

product

dzulqarnain.net

Detail | Pencari Ilmu

Tegar Di Atas Sunnah

product

Assunnah

Detail | My Way

Airmatakumengalir Blog

product

Dakwatuna

Detail | ilallaah

Kita Buktikan Apakah Mereka Manqul!!!!


    • Assalamu Alaikum.wr.wb

    • Saudara2ku, telah kita ketahui bahwa Isnad adalah bagian dari agama. Sebagai pemantapan tentang Manqul, Musnad Mutashil, maka saya ingin menyampaikan pesan ini. Mudah2an bermanfaat

    • Dalam HR. Muslim fii Muqoddimah tertulis:

    • Abdulloh Bin Al-Mubarok berkata:

    • "al-isnadu minad-Din. Walaulal isnadu, laqoola man saa'a maa saa'a"

    • "Al-isnad (sandaran guru) merupakan bagian dari agama. Seandainya tidak ada Isnad, niscaya orang akan berkata pada apa yg dia mau"

    • >>> Belajar Hadis/ ilmu agama tanpa Isnad yg Muthasil, sangat berpotensi menterjemahkannya dgn bebas..

    • Apakah metode memahami agama dgn berisnad yg muthasil (manqul)?

    • Manqul dari masdar/ kata dasar Naqola yg artinya: yg dipindahkan
    • Pengertian secara umum yang dimaksud berguru sistim manqul berisnad muttashil adalah belajar atau mengaji Qur'an dan Hadist baik makna dan keterangan kepada seorang guru yang mana guru tersebut juga bersandarkan pada keterangan dari guru diatasnya, gurunya dari gurunya, sambung bersambung tanpa terputus isnadnya sampai kepada Rosulluloh SAW.

    • Nabi bersabda:

    • تسمعون ويسمع منكم ويسمع ممن سمع منكم *رواه أبو داود

    • Artinya : “Kalian mendengarkan dan didengarkan dari kalian dan di dengar dari orang yang mendengar dari kalian “ HR Abu Dawud

    • >>> Dengan demikian, dalam memahami ilmu agama, seseorang tidak menggunakan ro'yi / pendapatnya / analisanya, tapi menggunakan keterangan dari gurunya. Sebab, ro'yi atau pendapat atau analisa dalam ilmu agama sangat tidak diperkenankan oleh Nabi SAW

    • Beliau bersabda:

    • من قال فى كتاب الله عز وجل برأيه فاصاب فقد أخطأ *رواه أبو داود

    • Artinya:”Barang siapa yang berkata dalam kitab Alloh yang maha mulya dan maha Agung dengan pendapat sendiri lalu benar, maka sungguh-sungguh salah.” HR Abu Dawud

    • JADI... hukumnya pendapat benar-benar DI LARANG OLEH AGAMA ISLAM

    • Untuk lebih jelasnya kami berikan contoh belajar mengaji quran hadist TANPA isnad yang muttashil:

    • 1. Anda ahli nahwu ( bahasa Arab ) kemudian anda belajar sendiri tanpa bantuan seorang guru untuk menjelaskan keterangan dari Quran Hadist dengan bantuan sarah atau kitab-kitab tafsir. contoh tersebut bukan termasuk ilmu yang ber-isnad, permasalahannya Apakah anda mengerti penjabaran secara praktek dan teori walaupun anda sudah dibantu dengan sarah dan tafsir.

    • 2. Anda belajar atau mengaji qur'an dan hadist kepada seorang guru atau ulama yang tidak memiliki isnad sampai Rosul.

    • 3. Anda membaca sebuah buku atau kitab-kitab yang sudah ada arti dan keterangan sehingga tanpa bantuan guru anda bisa memahaminnya

    • Sekarang perhatikan Hadits berikut ini:

    • "Nabi bersabda: Ambillah ilmu sebelum hilang, berkata shohabat ” bagaimana ilmu dapat hilang, wahai nabinya Alloh , sedangkan dikalangan kita ada kitab Alloh ?” maka nabi marah yang Alloh belum pernah membuat nabi marah seperti itu. Kemudian nabi bersabda : ” celakalah kalian, bukankah taurot dan injil itu masih ada dikalangan bani isroil, kemudian keduanya ( taurot dan injil ) tidak dapat mencukupi mereka sedikitpun, sesungguhnya hilangnya ilmu adalah hilangnya pembawanya. Sesungguhnya hilangnya ilmu adalah hilangnya pembawanya (isnadnya atau ulama’nya)" HR. Ad-Daromi dari Abi umamah ( CAI 2009 halaman 76)

    • Dari hadist tersebut, ada pengertian:

    • 1. Ketika shohabat merasa Al-Qur'an telah mencukupi mereka, Nabi marah besar. Karena Nabi sangat tidak berkenan memahami Al-Qur'an dgn analisa / pendapat. Sehingga Nabi menyabdakan, hilangnya ilmu adalah hilangnya pembawanya (hilangnya ilmu bukanlah hilangnya kitab Qur'an Hadis)

    • 2. Dari hadist diatas dapat diambil kesimpulan walaupun kitab quran hadist, tafsir-tafsir, bahkan ditambah kitab-kitab karangan belumlah mencukupi tanpa adanya keterangan dari Guru yang memiliki isnad sampai Rosul.

    • Maka, hendaklah memahami islam dgn pedoman yg murni (Qur'an Hadis) dan dgn metode yg di kehendaki Nabi (ber-isnad yg muthasil sampai Nabi). Dan syukur Alhamdulillah, kita sejak dahulu telah menggunakan metode manqul, musnad, mutashil. Manjaga kemurnian ilmu Qur'an Hadist. Sebab ilmu yg didapat dgn tanpa isnad (alias ro'yi) pasti terdapat kejanggalan2.

    • Saudaraku, bersukurlah kita mendapat pemahaman yg benar mengenai Qur'an Hadist. Terharu bila merenungi ini.

    • Sekian, jazaakumullohu Khoiro. Wassalamu Alaikum.wr.wb

    • kutipan dari group facebook :

    SUBHANALLAH..........MEMANG TIDAK DI RAGUKAN LAGI BAHWA ISNAD BUKAN HAL YANG BARU DI KALANGAN PARA PENCARI ILMU,UTAMANYA DALAM MASALAH PERIWAYATAN HADITS.

    Yang jadi permasalahannya disini adalah ngaku-ngaku bahwa mereka mempunyai isnad,Maka kita meminta pada mereka bukti kalau lah mereka benar,Qul haatu burhanakum inkuntum shodiqiin datangkan bukti bila pernyataan kalian itu benar.

    1.Kami tanya pada kalian sejak kapan Nurhasan belajar kepada syaikh Umar Hamdan,dan bila ada bukti maka coba tunjukan kepada kami bukti-bukti tersebut.bahkan kami mempunyai bukti bahwa Nurhasan bukan termasuk murid dari Syaikh Umar Hamdan,andai beliau termasuk murid syaikh Umar Hamdan maka tentunya ada bukti sebagai daftar murid-murid terbaiknya,ini berhubungan dengan seringnya di nasehatkan pada jamaahnya"alhamdulillah bapak Nurhasan adalah putra terbaik indonesia yang telah mampu mengusai 49 isnad,"maka tentunya Nurhasan berada dalam deretan murid-murid Syaikh Umar Hamdan lihat disini.

    2.Dan bila Ijazah para mubalig seperti ini di jadikan landasan/bukti maka sejak kapan Abdudzhohir memberi kajian Kitab Imam Nasai,Imam Bukhori. lihat di bwah ini

    kami pun pernah bertahun-tahun belajar di pondok kediri tidak pernah saya melihat Muh sueh Abd dzhohir memberikan kajian kitab tersebut,padahal kami mengikuti asrama hadits tersebut. Lalu buat apa ijazah isnad yang harusnya di berikan oleh seorang guru kepada muridnya sedangkan murid tidak pernah mengakui adanya Muh sueh Abd dzhohir memberikan kajian kitab tersebut.

    3.andai mereka betul-betul berisnad maka hadits dhoif dan maudhu pun mereka tau,dan tidak akan berani mengamalkan dalam urusan penghalalan.tapi kenyataan tidak tau dan merasa tau. silahkan anda klik disini sebagai contoh ilmu mereka tidak mutashil akan tetapi mustahil.dan satu bukti lagi bahwasanya mereka tidak manqul,lihatlah dalil yang mereka gunakan.seakan tidak ada kaidah seorang yang tsiqoh dalam pengambilan/penukilan hadits :

    مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

    Hadits ini dha’if, diriwayatkan oleh Abu Dawud (3/320) no. 3652, Timidzi (5/200) no. 2952, beliau berkata, “Hadits ini gharib”, Nasai dalam Sunan Al-Kubra (5/31) no. 8086, dan tidak disebutkan lagi dalam Sunan Al-Mujtabi. Juga Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (2/163) no. 1672 dan Mu’jam Al-Ausath no. 5101. Dan Abu Ya’la (3/90) no. 1520 dan Ibn Adi (3/450) no. 867. Semuanya dari jalan Suhail bin Mihran bin Abi Hazm al Qutha'i dari Abu 'Imran (Abdul Malik bin Habib) al-Jauni, dari Jundab dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

    Hadist tersebut cacatnya pada Suhail bin Mihran bin Abi Hazm al-Qutha'i. Abu Hatim berkata, “Laisa bi qawi”, dan seperti itu menurut Bukhari, Nasai dan lain-lain. Biografi Suhail disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal biografi no. 3605, Al-Aqili dalam Dha’if Al-Kabir (2/154) biografi no. 656 dan Ibn Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib jilid 4 biografi no. 460, lalu beliau menyimpulkan dalam Taqrib At-Tahdzib biografi no. 2672 bahwa dia ini dha’if. Syeikh Al-Muhadits al-Albani mencantumkannya dalam Dha’if Sunan Abu Dawud dan mendha’ifkannya juga dalam komentar beliau terhadap kitab Misykatul Mashabih no. 235 karya Al-Khatib At-Tabrizi dan Dhaif Al-Jami Ash-Shaghir (no. 5736) dengan lafazh Al-Qur’an. Berkata al-Baihaqi: “Pada hadits ini ada kritikan”, Seperti disebutkan Muhammad Syamsul Haq Al-Azhim Abadi dalam 'Aunul Ma'bud Syarah Abu Dawud (10/85), yakni dha’if.

    Yang shahih perkataan ini adalah maqtu dari perkataan Qatadah dan Mujahid, bukan secara marfu.

    (di kutip dari rumahku-indah)

    contoh lagi doa/dzikir lailatul qodar :


    قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ
    • كريم

    تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »

    Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab,”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).”[1]

    kalaulah mereka benar-benar berisnad,maka mereka akan mengenal lafadz doa/dzikir tersebut yang sebenarnya :

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى


    اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني

    Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu, ahli hadits dan juru hukum Arab Saudi berkata : ”Tiada dasar hadits yang menjelaskan lafazh ini”. (Tashhih Ad-Du’a hal 512).

    Jika lafazh hadits ini ada pada sebagian lafazh Sunan Tirmidzi (pada no. 3513), maka hal itu mudroj (tersisip) atau salah dalam penyalinan naskah (salah dalam ’mangkulnya’). Oleh sebab itu Syaikh Bakr tidak mengetahui ada hadits dengan bunyi seperti itu, sebab riwayat Tirmidzi yang ada padanya tidak dengan tambahan itu.

    Tanda bahwa tambahan lafazh ini batil adalah :

    Pertama, Imam Ibn Katsir dalam Tafsir (8/452) mengutip (baca : mangkul) naskah hadits dari Tirmidzi ternyata tanpa tambahan lafazh itu, beliau berkata :

    وقد رواه الترمذي، والنسائي، وابن ماجة، من طريق كَهْمَس بن الحسن، عن عبد الله بن بريدة، عن عائشة قالت: قلت: يا رسول الله، أرأيت إن علمْتُ أي ليلة القدر، ما أقول فيها؟ قال: "قولي: اللهم، إنك عَفُو تحب العفو، فاعف عني" . وهذا لفظ الترمذي

    Artinya : “Dan sungguh diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasai dan Ibn Majah dari jalan Kahmas ibn Al-Hasan dari Abdullah ibn Buraidah dari Aisyah beliau berkata: “Ya Rasulullah apa yang aku ucapkan tatkala melihat tanda-tanda lailatul qadar?”. Beliau bersabda: katakanlah : اللهم، إنك عَفُو تحب العفو، فاعف عني .(Ibn Katsir berkata) Ini adalah lafazh Tirmidzi”.

    Perhatikanlah !! sebab ini menegaskan bahwa tambahan itu tidak ada dalam naskah Sunan Tirmidzi milik Al-Hafizh Ibn Katsir rahimahullahu.

    Demikian pula naskah yang dikutip Imam Nawawi dari riwayat Tirmidzi yang ada padanya dalam Riyadhus Shalihin (1/135), begitu pula Ibn Muflih dalam Adab Asyar’iah (2/489), begitu pula Imam Syaukani dalam Nailul Author (7/207), dan lainnya yang mengutip lafazh Tirmidzi semuanya tidak ada lafazh ‘كريم’.

    Hal ini sekali lagi menegaskan kepada kita bahwa tambahan lafazh yang terdapat dalam sebagian naskah Tirmidzi ini tidak ada asalnya atau tersisip, bahkan tertolak berdasarkan mangkulan para Imam ahli hadits terdahulu dan sekarang.

    Kedua, tanda lain bahwa tambahan ini keliru adalah kenyataan bahwa tidak ada lafazh ’كريم’ dalam riwayat doa ini dari jalan yang lain dari arah selain guru Tirmidzi (guru Tirmidzi pada sanad ini adalah Qutaibah ibn Said). Seperti riwayat Ibn Majah no. 3850, Nasai dalam Al-Kabir no. 11688, Ahmad (1/171, 182, 183, 208, 258) dan lainnya.

    Ketiga, Bahkan perawi lain yang juga meriwayatkan dari gurunya Tirmidzi ini seperti Nasai dalam Sunan Al-Kabir no. 10708 tidak dengan tambahan diatas.

    Oleh sebab itu Al-Albani pun menegaskan kebatilan tambahan itu dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 3337.

    Kami katakan : Tetapi kenapa mereka yang mengaku mangkul itu tidak mengetahuinya? Dari siapa mereka mangkul?. Apa mereka tidak pernah mendengar guru-gurunya mengkoreksi lafazh ini ?. Mereka berbangga diri karena konon ’mangkul’ ini sedikit salahnya daripada orang-orang yang ’tidak mangkul’, tapi kenyataannya banyak sekali kesalahan yang mereka lakukan, dalam aqidah, ibadah, mu’amalah dan lafazh-lafazh hadits.

    lafazh كريمada ditambahkan pada sebagian riwayat, tetapi dengan lafazh begini :

    اللهم اعف عني ، فإنك عفو تحب العفو ، و أنت عفو كريم

    Mungkin riwayat diatas tercampur dengan riwayat ini, tapi dengan lafazh terakhir ini ternyata riwayatnya lemah sekali (dhaif jiddan), dalam sanadnya ada Yahya ibn Maimun, dia ini matruk menurut ahli hadits. Lihat dalam Majma Az-Zawaid, Al-Haitsami (4/425) dan Silsilah Adh-Dhaifah, Al-Albani no. 2049

    atau lihat di sini


    MAKA BUKTIKAN UCAPAN KALIAN DENGAN MENDATANGKAN BUKTI

Yang penting di imbangi,(Haram bisa jadi Halal).Bag 1

Ya Allah....ampunilah dosa-dosa kami,dari perbuatan dosa dan kedzaliman yang telah kami lakukan pada diri kami.



saudaraku....

masih ingatkah anda.....tentang kejahilan yang telah anda lakukan,kala itu anda berada di pondok pesantren LDII,yang angan berharap bahwa anda akan menjadi ulama (mubalig)penyampai ilmu syariat agama.

Siapapun anda pasti akan menjumpai malam tahun baru,perayaan idul fitri,idul adha,senam barokah,kembangan dan lain-lain. dimana pada acara-acara tersebut anda mungkin juga ikut andil dalam mendengarkan musik bahkan sambil joget-jogetan. Entah anda saat itu sedang melampiaskan kebahagiaan atau yang lainnya.

belum lagi yang ngetrend saat ini,adalah handphone,MP player yang sebagian besar isinya adalah musik,bahkan pada saat acara-acara yang saya sebutkan di atas,subhanallah membuat kita banyak beristigfar dan inabah.

sebagian dari kita tau akan hukumnya nyanyian/musik saat itu,tapi syubhat sudah terlalu tebal dalam dada hingga kita selalu mendapat ucapan"yang penting di imbangi dengan memperbanyak amalan",atau sebagian yang lain "mbuh ora wruh". dan akhirnya karna bodohnya kita,jawaban demikian kita tularkan kepada jamaah.

kemarin pun saya mampir di rumah teman yang di belakangnya masjid LDII,ternyata

padahal setelah kita kaji kitab-kitab para ulama,inilah pendapat mereka tentang musik/nyanyian :

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjawab:
Hidup di akhir zaman, siapa saja tidak lepas dari lantunan suara musik atau nyanyian. Mungkin di antara kita –dulunya- adalah orang-orang yang sangat gandrung terhadap lantunan suara seperti itu. Bahkan mendengar lantunan tersebut juga sudah menjadi sarapan tiap harinya. Itulah yang juga terjadi pada sosok si fulan. Hidupnya dulu tidaklah bisa lepas dari “gitar” dan musik. Namun, sekarang hidupnya jauh berbeda. Setelah Allah mengenalkannya dengan Al Haq (penerang Al Qur’an dan As Sunnah), dia pun perlahan-lahan menjauhi berbagai nyanyian. Alhamdulillah, dia pun mendapatkan ganti yang lebih baik yaitu dengan Kalamullah (Al Qur’an) yang semakin membuat dirinya mencintai dan merindukan perjumpaan dengan Allah.
Lalu apa yang menyebabkan hatinya bisa berpaling kepada Kalamullah dan meninggalkan nyanyian? Tentu saja, karena taufik Allah kemudian siraman ilmu. Dengan ilmu syar’i yang dia dapati, hatinya mulai tergerak dan mulai sadarkan diri. Dengan mengetahui dalil Al Qur’an dan Hadits yang membicarakan bahaya lantunan yang melalaikan, dia pun mulai meninggalkannya perlahan-lahan. Juga dengan bimbingan kalam-kalam para ulama, dia semakin jelas dengan hukum keharamannya.

Alangkah baiknya jika kita melihat dalil-dalil yang dimaksudkan dan juga perkataan para ulama masa silam mengenai hukum nyanyian. Mungkin kita adalah di antara orang-orang yang gandrung. Semoga dengan mengetahui hal ini, Allah membuka hati kita dan memberi hidayah pada kita seperti yang didapatkan si fulan tadi. Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolonglah dan mudahkanlah).

Beberapa Ayat Al Qur’an yang Membicarakan “Nyanyian”

[Pertama] Nyanyian dikatakan sebagai “lahwal hadits” (perkataan yang tidak berguna)
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih” (QS. Luqman: 6-7)

Ibnu Jarir Ath Thabariy -rahimahullah- dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa para pakar tafsir berselisih pendapat apa yang dimaksud dengan “lahwal hadits” dalam ayat tersebut. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah nyanyian dan mendengarkannya. Lalu setelah itu Ibnu Jarir menyebutkan beberapa perkataan ulama salaf mengenai tafsiran ayat tersebut. Di antaranya adalah dari Abu Ash Shobaa’ Al Bakri –rahimahullah-. Beliau mengatakan bahwa dia mendengar Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsiran ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali. (LihatJami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, 20/127).

Begitu pula tafsiran yang sama dikatakan oleh Mujahid, Sa’ib bin Jubair, ‘Ikrimah, dan Qotadah. Dari Ibnu Abi Najih, Mujahid berkata bahwa yang dimaksud lahwu hadits adalah bedug (genderang). (Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 5/105).

Asy Syaukani dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Lahwal hadits adalah segala sesuatu yang melalaikan seseorang dari berbuat baik. Hal itu bisa berupa nyanyian, permainan, cerita-cerita bohong dan setiap kemungkaran.” Lalu Asy Syaukani menukil perkataan Al Qurtubhi yang mengatakan bahwa tafsiran yang paling bagus untul makna lahwal hadits adalah nyanyian. Inilah pendapat para sahabat dan tabi’in. (Lihat Fathul Qadir, 5/483)

Jika ada yang mengatakan, “Penjelasan tadi kan hanya penafsiran sahabat, bagaimana mungkin bisa jadi hujjah (dalil)?”

Maka cukup kami katakan bahwa tafsiran sahabat terhadap suatu ayat bisa sebagai hujjah bahkan bisa dianggap sama dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam(derajat marfu’). Simaklah perkataan Ibnul Qayyim setelah menjelaskan penafsiran mengenai “lahwal hadits” sebagai berikut,
“Al Hakim Abu ‘Abdillah dalam kitab tafsirnya di Al Mustadrok mengatakan bahwa seharusnya setiap yang haus akan ilmu mengetahui bahwa tafsiran sahabat –di mana para sahabat lah yang menyaksikan turunnya wahyu- menurut Bukhari dan Muslim dianggap sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tempat lainnya beliau mengatakan bahwa menurutnya tafsiran sahabat tentang suatu ayat sama statusnya dengan hadits marfu’ (yang sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Lalu Ibnul Qayyim mengatakan, “Walaupun itu adalah tafsiran sahabat, tetap tafsiran mereka lebih didahulukan daripada tafsiran orang-orang sesudahnya. Alasannya, mereka adalah umat yang paling mengerti tentang maksud dari ayat yang diturunkan oleh Allah karena Al Qur’an turun di masa mereka hidup.”(Lihat Ighatsatul Lahfan, 1/240)

Jadi, jelaslah bahwa makna lahwal hadits dengan nyanyian patut kita terima karena ini adalah perkataan sahabat yang statusnya bisa sama dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Kedua] Orang-orang yang bernyanyi disebut “saamiduun

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ , وَتَضْحَكُونَ وَلا تَبْكُونَ , وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ , فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu saamiduun? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)” (QS. An Najm: 59-62)

Apa yang dimaksud saamiduun?

Menurut salah satu pendapat, makna saamiduun adalah bernyanyi dan ini berasal dari bahasa orang Yaman. Mereka biasa menyebut “ismud lanaa” dan maksudnya adalah: “Bernyanyilah untuk kami”. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan Ibnu ‘Abbas. (Lihat Zaadul Masiir, 5/448)
‘Ikrimah mengatakan, “Mereka biasa mendengarkan Al Qur’an, lalu mereka malah bernyanyi. Kemudian turunlah ayat ini (surat An Najm di atas).” (Ighatsatul Lahfan, /258)
Jadi, dalam dua ayat ini teranglah bahwa mendengarkan “nyanyian” adalah suatu yang dicela dalam Al Qur’an.

Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Mengenai Nyanyian

[Hadits Pertama]

Bukhari membawakan dalam Bab “Siapa yang menghalalkan khomr dengan selain namanya” sebuah riwayat dari Abu ‘Amir atau Abu Malik Al Asy’ari telah menceritakan bahwa dia tidak berdusta, lalu dia menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

???????????? ???? ???????? ????????? ?????????????? ??????? ???????????? ??????????? ?????????????? ? ??????????????? ????????? ????? ?????? ?????? ??????? ?????????? ??????????? ?????? ? ??????????? – ??????? ?????????? – ????????? ??????????? ??????? ????????? ????? . ??????????????? ??????? ???????? ????????? ? ?????????? ???????? ???????? ???????????? ????? ?????? ????????????
Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/ tegas). Jika dikatakan ‘menghalalkan musik‘, berarti musik itu haram.

Hadits di atas dishahihkan oleh banyak ulama, di antaranya adalah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Istiqomah (1/294) dan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/259). Begitu pula hal yang sama dikatakan oleh An Nawawi, Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Hajar dan Asy Syaukanirahimahumullah-.

Memang ada sebagian ulama semacam Ibnu Hazm dan orang-orang yang mengikuti pendapat beliau sesudahnya seperti Al Ghozali yang menyatakan cacatnya hadits di atas, sehingga mereka pun menghalalkan musik. Alasannya, mereka mengatakan bahwa sanad hadits ini munqothi’ (terputus) karena Al Bukhari tidak me-maushul-kan sanadnya (menyambungkan sanadnya). Untuk menyanggah hal ini, kami akan kemukakan 5 sanggahan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim:

Pertama, Al Bukhari betul bertemu dengan Hisyam bin ‘Ammar dan beliau betul mendengar langsung darinya. Jadi, jika Al Bukhari mengatakan bahwa Hisyam berkata, maka itu sama saja dengan perkataan Al Bukhari langsung dari Hisyam.

Kedua, jika Al Bukhari belum pernah mendengar hadits itu dari Hisyam, tentu Al Bukhari tidak akan mengatakan dengan lafazh tegas (jazm). Jika beliau mengatakan dengan lafazh jazm (tegas), maka sudah pasti beliau mendengarnya langsung dari Hisyam. Inilah yang paling mungkin, karena begitu banyak orang yang meriwayatkan dari Hisyam dan dia adalah guru yang sudah sangat masyhur. Sedangkan Al Bukhari adalah hamba yang sangat tidak mungkin melakukan tadlis (kecurangan dalam periwayatan).

Ketiga, Al Bukhari memasukkan hadits ini dalam kitabnya yang disebut dengan kitab shahih, yang tentu saja hal ini bisa dijadikan hujjah (dalil). Seandainya hadits tersebut tidaklah shahih menurut Al Bukhari, lalu mengapa beliau memasukkan hadits tersebut dalam kitab shahih[?]

Keempat, Al Bukhari membawakan hadits ini secara mu’allaq (di bagian awal sanad ada yang terputus). Namun di sini beliau menggunakan lafazh jazm (pasti, seperti dengan kata qoola yang artinya dia berkata) dan bukan tamridh (seperti dengan kata yurwa atauyudzkaru, yang artinya telah diriwayatkan atau telah disebutkan). Jadi, jika Al Bukhari mengatakan, “Qoola: qoola Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ...]”, maka itu sama saja beliau nengatakan hadits tersebut disandarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelima, seandainya berbagai alasan di atas kita buang, maka hadits ini tetaplah shahih dan bersambung karena dilihat dari jalur lainnya, sebagaimana akan dilihat pada hadits berikutnya. (Lihat Ighatsatul Lahfan, 1/259-260)

[Hadits Kedua]

Dari Abu Malik Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

????????????? ????? ???? ???????? ????????? ????????????? ???????? ???????? ???????? ????? ??????????? ?????????????? ????????????????? ???????? ??????? ?????? ???????? ?????????? ???????? ??????????? ???????????????
Sungguh, akan ada orang-orang dari ummatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

[Hadits Ketiga]

Dari Nafi’ –bekas budak Ibnu ‘Umar-, beliau mengatakan,

?????? ?????? ????? ?????? ?????? ?????????? ????? ???????? ???????????? ??? ?????????? ???????? ??????????? ???? ?????????? ?????? ??????? ??? ??????? ?????????? ????????? ??????. ????? ????????? ?????? ?????? ???. ????? ???????? ???????? ????????? ???????????? ????? ?????????? ??????? ???????? ??????? ??????? -??? ???? ???? ????- ???????? ?????? ?????????? ????? ???????? ?????? ?????
Ibnu ‘Umar pernah mendengar suara seruling dari seorang pengembala, lalu beliau menyumbat kedua telinganya dengan kedua jarinya. Kemudian beliau pindah ke jalan yang lain. Lalu Ibnu ‘Umar berkata, “Wahai Nafi’, apakah kamu masih mendengar suara tadi?” Aku (Nafi’) berkata, “Iya, aku masih mendengarnya.”
Kemudian Ibnu ‘Umar terus berjalan, lalu aku berkata, “Aku tidak mendengarnya lagi.”
Barulah setelah itu Ibnu ‘Umar melepaskan tangannya dari telinganya dan kembali ke jalan itu lalu berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendengar suara seruling dari seorang pengembala. Beliau melakukannya seperti tadi.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dari dua hadits pertama dijelaskan mengenai keadaan umat Islam nanti yang akan menghalalkan musik,berarti sebenarnya musik itu haram kemudian ada yang menganggap halal. Begitu pula pada hadits ketiga yang menceritakan kisah Ibnu ‘Umar bersama Nafi’. Ibnu ‘Umar mencontohkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelakukan hal yang sama dengannya yaitu menjauhi dari mendengar musik, sehingga hal ini menunjukkan bahwa musik itu jelas-jelas terlarang.

Jika ada yang mengatakan bahwa sebenarnya yang dilakukan Ibnu ‘Umar tadi hanya menunjukkan bahwa itu adalah cara terbaik tatkala mendengar suara nyanyian atau alat musik, namun tidak berdosa. Maka cukup kami katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni (julukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah),“Demi Allah, bahkan mendengarkan nyanyian (atau alat musik) adalah bahaya yang mengerikan pada agama seseorang, tidak ada cara lain selain dengan menutup jalan agar tidak mendengarnya.” (Majmu’ Al Fatawa, 11/567)

Perkataan Para Ulama Salaf Mengenai Nyanyian (Musik)

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.”

Al Qasim bin Muhammad pernah ditanyakan tentang nyanyian lalu beliau menjawab, “Aku melarang nyanyian padamu dan aku membenci jika engkau mendengarnya.” Lalu orang yang bertanya tadi mengatakan, “Apakah nyanyian itu haram?” Al Qasim pun mengatakan,”Wahai anak saudaraku, jika Allah telah memisahkan yang benar dan yang keliru, lantas pada posisi mana Allah meletakkan ‘nyanyian’[?]”

‘Umar bin ‘Abdul Aziz pernah menulis surat kepada guru yang mengajarkan anaknya, isinya adalah: ”Hendaklah yang pertama kali diyakini oleh anak-anakku dari budi pekertimu adalah kebencianmu pada nyanyian. Karena nyanyian itu berasal dari setan dan ujung akhirnya adalah murka Allah. Aku mengetahui dari para ulama yang terpercaya bahwa mendengarkan nyanyian dan alat musik serta gandrung padanya hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. Demi Allah, menjaga diri dengan meninggalkan nyanyian sebenarnya lebih mudah bagi orang yang memiliki kecerdasan daripada bercokolnya kemunafikan dalam hati.”

Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.”

Adh Dhohak mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”

Yazid bin Al Walid mengatakan, “Wahai anakku, hati-hatilah kalian dari mendengar nyanyian karena nyanyian itu hanya akan mengobarkan hawa nafsu, menurunkan harga diri, bahkan nyanyian itu bisa menggantikan minuman keras yang bisa membuatmu mabuk kepayang. … Ketahuilah, nyanyian itu adalah pendorong seseorang untuk berbuat zina.” (Lihat Talbis Iblis, 289)

Empat Ulama Madzhab Mencela Nyanyian

Imam Abu Hanifah membenci nyanyian dan menganggap mendengarnya sebagai suatu perbuatan dosa. (Lihat Talbis Iblis, 282)

Imam Malik bin Anas pun melarang nyanyian dan melarang mendengarkannya. Sampai-sampai Imam Malik mengatakan, “Barangsiapa membeli budak lalu ternyata budak tersebut adalah seorang biduanita (penyanyi), maka hendaklah dia kembalikan budak tadi karena terdapat ‘aib.” (Talbis Iblis, 284)

Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.” (Talbis Iblis, 283)

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan aku pun tidak menyukainya.” (Talbis Iblis, 280)

Bila Sudah Tersibukkan dengan Nyanyian

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan pelajaran yang sangat berharga sekali, beliau mengatakan,
“Seorang hamba jika sebagian waktunya telah tersibukkan dengan amalan yang tidak disyari’atkan, maka pasti dia akan kurang bersemangat dalam melakukan hal-hal yang disyari’atkan dan bermanfaat. Hal ini jauh berbeda dengan orang yang mencurahkan usahanya untuk melakukan hal yang disyari’atkan. Pasti orang ini akan semakin cinta dan semakin mendapatkan manfaat dengan melakukan amalan tersebut, agama dan islamnya pun akan semakin sempurna.”

Lalu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Oleh karena itu, banyak sekali orang yang terbuai dengan nyanyian (atau syair-syair) yang tujuan semula adalah untuk menata hati. Maka pasti karena maksudnya, dia akan semakin berkurang semangatnya dalam menyimak Al Qur’an. Bahkan sampai-sampai dia pun membenci untuk mendengarnya.” (Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim, 1/543)

Jadi perkataan Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni (yang dijuluki Syaikhul Islam) memang betul-betul terjadi pada orang-orang yang sudah begitu gandrung dengan nyanyian, gitar dan bahkan dengan nyanyian “Islami” (yang disebut nasyid). Tujuan mereka mungkin adalah untuk menata hati. Namun sayang seribu sayang, jalan yang ditempuh adalah jalan yang keliru karena hati mestilah ditata dengan hal-hal yang masyru’(disyariatkan) dan bukan dengan hal-hal yang tidak masyru’ yang membuat kita sibuk dan lalai dari kalam Robbul ‘alamin yaitu Al Qur’an.

Tentang nasyid yang dikenal di kalangan sufiyah dan bait-bait sya’ir, Syaikhul Islam mengatakan,
“Oleh karena itu, kita dapati pada orang-orang yang kesehariannya dan santapannya tidak bisa lepas dari nyanyian, maka mereka pasti tidak akan begitu merindukan lantunan suara Al Qur’an. Mereka pun tidak begitu senang ketika mendengarnya. Mereka tidak akan merasakan kenikmatan tatkala mendengar Al Qur’an dibanding dengan mendengar bait-bait sya’ir (nasyid). Bahkan ketika mereka mendengar Al Qur’an, hatinya pun menjadi lalai, begitu pula dengan lisannya akan sering keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 11/567)

Sebagai penutup, kami hanya katakan bahwa pengganti nyanyian dan musik adalah dengan mendengarkan Al Qur’an karena inilah yang disyari’atkan dan inilah yang bisa menata dan menghidupkan hati. Jika seseorang meninggalkan musik dan nyanyian, pasti Allah akan memberi ganti dengan yang lebih baik.

??????? ???? ?????? ??????? ??????? ????? ??????? ?????? ????????? ??????? ???? ??? ???? ?????? ???? ??????
Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Semoga Allah membuka hati dan memberi hidayah bagi setiap orang yang membaca risalah ini.
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walhamdulillahi robbil ‘alamin.


Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal