بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Meniti Jalan Salaf

product

dzulqarnain.net

Detail | Pencari Ilmu

Tegar Di Atas Sunnah

product

Assunnah

Detail | My Way

Airmatakumengalir Blog

product

Dakwatuna

Detail | ilallaah

Kisah-kisah Dramatis para anggota LDII yang di tendang Karna di anggap membahayakan LDII part II

Mantan LDII: Sejak SMP, Shalat Jum’at Saya Sudah Terpisah Dari Yang Lain (1)


Belum lagi usai kasus NII, Indonesia kembali digegerkan lewat kasus perceraian Adam Amrullah Adam dengan Narendra Garini Anutama Natakusumah. Kasus ini bermula saat Adam memutuskan keluar dari LDII (Islam Jama’ah) karena sadar akan kesesatan Jama’ah yang eksis di tahun 70-an tersebut. Sang istri tidak menerima, Karena Adam sudah tergolong kafir.

Padahal jika melihat rekam sejak selama ini, jabatan Adam di LDII bukan main-main. Ia adalah seorang mantan petinggi kepemudaan di Lembaga Dakwah Islam Indonesia.

“Saya dulu Ketua Pemuda LDII Se Jakarta Timur dan pengurus Forum Mahasiswa Islam Jama’ah Sejabotabek.” Katanya kepada Eramuslim.com, Jum’at pagi, 27/05/2011.
“Dari kakek, nenek, sampai ibu dan ayah saya juga LDII. Keluarga besar kami LDII,” tambahnya.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai kiprah Adam di LDII hingga alasannya keluar dari LDII, berikut petikan wawancara wartawan Eramuslim.com, Muhammad Pizaro dengan Adam Amrullah, yang dilakukan Jum’at pagi, 27/05/2011, di sebuah tempat di bilangan Jakarta Selatan. Selamat Membaca..

Bisa Anda Ceritakan Awal Anda Terfikir Berhenti Dari LDII?

Kalau dimulai dari ragunya sebenarnya saya dari kecil sudah ragu, yaitu sejak SD. Dulu di TV ada berita tentang pahlawan bernama Sultan Hasanuddin. Disitu diceritakan Sultan Hasanuddin berperang dan meninggal karena tertembak. Saya lalu bertanya ke orangtua, “Pak, beliau ini pahlawan dan orang Islam apakah dia masuk surga?” Lalu ayah saya jawab dengan ringan, “tidak!”. Lalu saya tanya lagi, “Kenapa Tidak?” Ayah saya bilang, “Karena dia (Sultan Hasanuddin, red.) bukan jama’ah kita.

Kenapa saya tanya begitu? Karena memang di LDII, orang yang diluar jamaah tidak bisa masuk surga. Saya tidak bisa berfikir. Padahal seharusnya Sultan Hasanuddin sudah berperang sampai mati akan mendapat pahala besar. Cuma itulah di Islam Jama’ah jika bukan jama’ahnya maka orang itu kafir.

Semua Keluarga Anda LDII?

Dari kakek dan nenek, baik pihak ibu dan pihak bapak itu semuanya Islam Jama’ah. Sampai anak-anak-cucunya, hingga cicit itu Islam Jama’ah. Mereka menyebutnya awalun mukminin, karena menurut mereka orang sebelum mereka bukan orang beriman. Itu kan bathil sekali, Walisongo itu belum dianggap Islam oleh mereka dan masih dianggap jahiliyah sebelum datangnya Nurhasan (Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir, pendiri Islam Jama’ah di Indonesia, red.).

Memiliki Keluarga Yang Taat LDII, kok Anda Sendiri Memilih keluar?

Pertama saya ini orangnya suka memperhatikan. Dan saya melihat, mereka memang semangat mengaji, tapi untuk shalat, mereka shubuhnya telat. Dan itu banyak, tidak satu-dua orang. Saya mulai ragu kok begini, padahal katanya orang benar. Sedang teman-teman saya di luar Islam jamaah, kok sholatnya pada khusyuk sekali, sedangkan saya sendiri shalat sering terburu-buru. Lho, orang yang shalat khusyuk kaya begini kok dikafirkan oleh Islam Jama’ah.

Ternyata mereka punya dalil yang unik, yakni ‘siapa saja yang beramal di dalam jamaah, kalau dia benar Allah akan terima, kalau salah, Allah akan maafkan.’ Makanya orang di luar Islam Jama’ah itu hina.

Saya pas kuliah pun mulai berani berdakwah, karena niatnya menyelamatkan teman-teman saya untuk tidak masuk neraka. Saya bawa berbagai kitab kuning, At Tirmidzi dan lain sebagainya.

Tapi pas Kuliah Tidak Ada Yang Memberitahu Anda Bahwa LDII itu Sesat?

Oh.. ada. Saya tantang debat, kalah dia. Karena saya hafalan dalilnya banyak saat itu. Sampai ada satu orang yang masuk LDII, dan sekarang tidak mau keluar. Astaghfirullah (Tertawa sambil geleng-geleng kepala). Di tempat saya kerja juga aneh, karena saya tidak pernah shalat berjamaah bersama mereka.

Jadi Memang Anda Harus Bara’ Dengan Orang Non Islam Jama’ah, Termasuk Dari Perkara Shalat?

Iya memang tidak boleh.

Tidak Sah?

Memang tidak sah dan tidak akan diterima. Bahkan saat saya SMP jika Shalat Jum’at, saya selalu dijemput orangtua. Kita shalat sendiri di mesjid Islam Jama’ah.

Oh Ada Ya?

Oh banyak sekali di Jakarta.

Lalu Jika Ada Orang Yang di Luar Islam Jama’ah Ingin Shalat Disana?

Kalau ada tamu-tamu atau tetangga yang tidak tahu tentang Islam Jama’ah biasanya berani. Tapi kalau mereka tahu itu milik Islam Jama’ah mereka tidak akan berani. Jika dia bukan Islam Jama’ah biasanya habis itu dipel. Karena bagi Islam Jama’ah, mereka (non Islam Jama’ah, red.), dinilai tidak bisa bersuci sebagus mereka. Jadi mereka itu sebenarnya bagus, tapi lebay. Bahasa agamanya ghuluw. Orang-orang jadi tidak tenang karena sedikit-dikit najis. Sampai ada saudara saya yang menderita gila karena takut dirinya najis. Saudara saya beneran gila sampai sekarang ini. Jadi akidah ini (LDII, red.) sudah banyak memakan korban.

Tahun Berapa Anda Memutuskan Keluar?

Setelah menyaksikan kebenaran-kebenaran. Saat itu saya ikut ESQ tahun 2007, siapa tahu dapat channel dan saya ingin tahu. Melihat begitu banyak orang sayang kepada Allah dan RasulNya, saya kembali berfikir kenapa mereka dicap kafir. Tapi saya tidak mengerti kala itu, karena ilmu saya belum sampai. Jadi terkesan, dalam pandangan Islam Jama’ah, kok mau berislam susah sekali. Kita harus baiat, imamnya mengumpat lagi. Anda saja tidak tahu kan dimana imamnya?

Jadi Baiat Itu Bagian Dari Rukun Islam Jama’ah?

Itu pengali. Jika shaum, zakat, shalat anda beres, rukun iman pun beres, kalau tidak baiat sama saja dikali nol. Ngeri kan? Itu rumus yang saya bikin sendiri. Bahasa mereka kalau Islam tidak jamaah sama saja mencret. Tidak lama setelah itu saya lihat banyak guru-guru dari Islam Jama’ah yang keluar. Ini kan menarik, kok ulama yang mengerti bahwa keluar dari Islam Jama’ah menjadi murtad dan kafir, kenapa malah memutuskan keluar.

Lalu pada tahun 2008, saya banyak berdiskusi dengan teman-teman dari PKS. Saya lihat tampang mereka baik-baik, sholatnya tenang, mereka juga membaca Qur’an, masak orang seperti ini kafir sih? Akhirnya saya mulai berkenalan, tetapi saya masih belum berani shalat bareng mereka. Kalau ada kajian saya suka nguping sedikit.

Akhirnya saya mulai berani bertanya tentang Islam. tentang hadis bahwa Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di dalam neraka, kecuali satu millah. Kebetulan saat itu ada ikhwan dari Ahlussunah dijelaskan, “Akhi memang saat ini kita terpecah menjadi banyak aliran, cuma jama’ah yang tauhidnya beres, itu berhak masuk surga.” Wah waktu itu saya gembiranya subhanallah. Jangan-jangan ini jawaban yang benar yang selama ini saya cari.

Memang saat di LDII, anda tidak boleh bertanya ke jama’ah atau Ustadz lain?

Tidak boleh. Apa-apa tidak boleh. Di Islam Jama’ah itu terlalu memposisikan Imamnya ketinggian. Jadi seakan-akan jika melanggar ucapan Imam itu seperti terkena karma dan kualat. Padahal banyak kader yang keluar setelah mendapat pencerahan bahwa LDII itu sesat.

Tapi faktanya oleh imam selalu diputar balikkan. Karena ketika tahu ada jama’ah yang keluar, Imamnya langsung ngomong kepada jama’ah, “Lihat tuh mereka jadi ahli neraka, karena tidak taat pada imamnya. Disuruh jangan baca buku (dari jama’ah lain), malah baca buku, akhirnya keluar.”

Saya selalu berusaha mencari perbandingan dengan NU, Muhammadiyyah, PERSIS, Ahlus Sunnah, dan semuanya, mereka ternyata sepakat bahwa ushul itu tauhid. Lha Islam Jama’ah kok beda sendiri? Lalu saya berfikir apa yang membedakan, apakah ada definisi lain tentang baiat? Akhirnya setelah saya ikut banyak pengajian (diluar Islam Jama’ah), saya sadar seluruh nabi mengajarkan tauhid, mengesakan Allah dan mengenyampingkan Tuhan-tuhan yang lain. Dan ternyata menuruti kata Imam, walau itu salah harus diikuti.Itu kan rusak tauhidnya, karena dia memposisikan imam lebih tinggi dari Allah.
Bahkan jika Allah dan Rasul bilang halal, imamnya bilang haram, maka bisa jadi haram.

Contohnya?

Contohnya apa? Banyak. Jika orangtua meninggal. Orangtuanya Islam Jama’ah, anaknya tidak, tapi anaknya beragama Islam, dapat waris gak? Secara umum dapat waris kan? Tapi dalam Islam Jama’ah, orang kafir tidak boleh dapat waris.

Lalu masalah menikah, ada orang NU boleh tidak nikah dengan Muhammadiyyah? Orang Islam Jama’ah bilang haram (jika Islam Jama’ah menikah dengan jama’ah lain, red.) Betapa syariat ini hancur jika manusia menggantikan posisi Allah tentang halal-haram. Makanya, setiap mengaji saya menangis, betapa saya bodoh sekali selama ini.

Apakah Anda Sempat bertanya ke Ustadz-ustadz di LDII tentang Keganjilan ini?
Jelas. Sebagian dari mereka ternyata sudah ada yang sudah tahu bahwa selain kita ini (non Islam Jama’ah, red.) masih beragama Islam. Tapi fakta ini ditutup-tutupi. Padahal ini penting. Ilmu punya, tapi tidak disampaikan, ini kan aneh? Dan saya sempat dilarang mengaji di luar Islam Jama’ah, lalu disidang oleh keluarga besar karena doktrinnya selain dari Islam Jama’ah itu kafir dan tidak bisa masuk surga.

Dan itu selalu didengung-dengungkan setiap anda mengaji?

Iya. Barangsiapa yang melaksanakan Qur’an, Hadis, dan baiat wajib masuk surga, barangsiapa yang tidak bersungguh-sungguh dan tidak berbaiat wajib masuk neraka. Akhirnya saya tidak kuat mengaji. Saya cuma menghadiri pengajian seminggu sekali, bahkan sebulan sekali. Padahal dulu di keluarga, saya yang paling aktif mengajak keluarga ke pengajian. (pz/bersambung)

Comments
15 Comments

15 Response to "Kisah-kisah Dramatis para anggota LDII yang di tendang Karna di anggap membahayakan LDII part II"

Anonim mengatakan...

cerita anda sangat janggal dan seakan-akan dibuat-buat........1835 Accoupd

abu mufidah mengatakan...

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi akhy untuk menggapai Islam yang Haq...

hamim martin mengatakan...

y punya niat jelek
sudah keliatan

Angger Shidqiy mengatakan...

jika kita pintar kita akan berdiri di tengah... menjadi yang netral... mengambil apa yang baik dari semua golongan...
dan yang pasti... tujuan Sholat kita menyembah Allah SWT... bukan yang lain..

yoga.hadi mengatakan...

ada yang marah tuh hehehe

Anonim mengatakan...

iya,, ambil yang baiknya..
ada aqiqohan melok, ada bakar-bakar daging qurban melok,,
ada infak ga usah melok,,
gitu aja kok repot...

Anonim mengatakan...

kalau benar benar di resapi wawancara ini, nara sumber sangat berhati hati dalam menjawab karena dia harus membungkus kebohongan dengan kebohongan.

dud-dee Amoudi mengatakan...

Ahlussunnah dr pks ini yg menarik. Ahlussunnah yg dimaksud itu wahabi ya? :D

Anonim mengatakan...

WAHABI+SAUD pernah membuat MAKAR terhadap KHALIFAH USTMAN, karena IDEOLOGI SALAFI-WAHABI menyakini bahwa MEMBERONTAK TERHADAP PEMIMPIN itu BOLEH, dan WAHABI juga BERKONSEP BAIAT ITU tidak PERLU cukup setia DAN tidak MEMBERONTAK saja sudah cukup (padahal dia SENDIRI MEMBERONTAK)....

PADA JAMANNYA WAHABI DI FATWA SESAT (baca sejarah bro...)

Apakah Islam tidak perlu ada Pemimpin?:
“Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Menetapilah kamu (Hudaifah bin Yaman) pada jamaah muslimin dan imam mereka (artinya: carilah Islam yang berbentuk jama’ah dan yang mempunyai imam sebagai pemimpinya), aku (Hudaifah bin Yaman), berkata: “(Bagaimana) jika tidak ada jama’ah dan imam mereka? Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Uzlah-lah (Pisahilah) segala bentuk firqoh-firqoh (ada 72 firqoh Islam), sekalipun kamu hanya makan akar / umbi pohon sehingga maut menjemput kamu sementara kamu atas keadaan demikian”. (HR. Bukhori, Kitabul Fitan).

Apa pemimpin dalam Islam tidak perlu di BAEAT:
“Barangsiapa melepas tangan dari taat akan bertemu dengan Allah pada hari kiyamat dengan tidak punya alasan. Dan barangsiapa mati sedang tidak ada ikatan bai’at pada lehernya maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh : II/136)

Dari Ibnu abbas ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, sesungguhnya siapa yang meninggalkan jamaah barang satu jengkal saja lalu ia mati maka kematiannya berada dalam kejahiliyaan”.(HR.Muslim 3/1477 No.1849)

Apa MATI JAHILIYAH BERARTI MASUK SURGA:
Yang dimaksud “seperti mati Jahiliyah” adalah kematian dalam kesesatan, perpecahan dan tidak mempunyai imam yang dibaiat dan ditaati. (Hamisy Shahih Muslim II/136)

Apa MATI "DALAM KESESATAN" itu BERARTI MASUK SURGA:

Apa PEMIMPIN yang di Baiat hanya yang memiliki DAULAH KEKUASAAN?:
“Sekalipun kamu dipimpin oleh seorang budak Habsyi yang rumpung hidungnya, wajib kamu mendengar dan mentaatinya selama ia memimpin kamu dengan Kitabullah.” (HR.Ibnu Majah dari Ummul Hushain dalam bab Tha’atul Imam: II/201, Muslim, Shahih Muslim: II/130, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi: IV/181 No.1706. Lafadz Ibnu Majah)

TERNYATA BUDAK BISA DIBAIAT.... APAKAH SEORANG BUDAK ITU MEMILIKI DAULAH KEKUASAAN?


Anonim mengatakan...

Ada BANYAK JAMAAH dengan BAIAT, HARUS PILIH YANG MANA?:
“Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Menetapilah kamu (Hudaifah bin Yaman) pada jamaah muslimin dan imam mereka (artinya: carilah Islam yang berbentuk jama’ah dan yang mempunyai imam sebagai pemimpinya), aku (Hudaifah bin Yaman), berkata: “(Bagaimana) jika tidak ada jama’ah dan imam mereka? Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Uzlah-lah (Pisahilah) segala bentuk firqoh-firqoh (ada 72 firqoh Islam), sekalipun kamu hanya makan akar / umbi pohon sehingga maut menjemput kamu sementara kamu atas keadaan demikian”. (HR. Bukhori, Kitabul Fitan).

“Dahulu bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap meninggal seorang Nabi diganti oleh Nabi lainnya, sesungguhnya setelahku ini tidak ada Nabi dan akan ada setelahku beberapa khalifah bahkan akan bertambah banyak, sahabat bertanya: ”Apa yang tuan perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: ”Tepatilah bai’atmu pada yang pertama (artinya baiat yang pertama dilakukan pada saat itu), maka untuk yang pertama dan berikan pada mereka haknya. Maka sesungguhnya Allah akan menanya mereka tentang hal apa yang diamanatkan dalam kepemimpinannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/204. Lafadz Muslim)

SEBERAPA PENTING BAIAT:
1. Dari Ibnu abbas ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, sesungguhnya siapa yang meninggalkan jamaah barang satu jengkal saja lalu ia mati maka kematiannya berada dalam kejahiliyaan”.(HR.Muslim 3/1477 No.1849)

2. Dari sahabat nabi Abu hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda: “Barang siapa yang mentaati aku sungguh ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang taat pada pemimpin sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang durhaka pada pemimpin sungguh ia telah durhaka padaku”. (HR.Muslim 3/1466 No.1835)

3. “Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada baiat, maka sungguh dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya”[Dikeluarkan oleh Muslim dari Ibnu Umar]

Anonim mengatakan...

WAHAI KAMPRET SALAPRET-WAHABRET dan PARA PENDUSTA AGAMA YANG LAIN......

SEMUA BANTAHAN YANG DIPAKAI ADALAH:
1. PENDAPAT ULAMA
2. FATWA (PENDAPAT) ULAMA
3. PENDAPAT SI FULAN
4. MENURUT SI FULAN
5. DAN LAIN LAIN ...YANG INTI NYA ADALAH PENDAPAT

FATWA/PENDAPAT TIDAK BOLEH BERDASARKAN AKAL.....BILA IYA... BERSIAP BERTEMPAT DUDUK DINERAKA...

WAHAI BAJINGAN TENGIK KEPARAT LAKNAK JAHANNAM....MOHON DIBACA


TIDAK BOLEH PAKAI RO'YU:
“… datanglah kepadaku dengan kitab sebelum ini atau atsar/labet/isnad dari ilmu jika kamu sekelian orang-orang yang benar” (Surah Al-Ahqaaf :4)

(al‑Turmuzi berkata): Sufyan bin Waki’ menceritakan kepada kami, (Sufyan berkata): Suwaid bin `Amr al-­Kalbi menceritakan kepada kami, (Suwaid berkata): Abu `Awa>nah menceritakan kepada kami dari `Abd al A`la> dari Sa`id bin Jubair dari Ibn `Abbas dari Nabi Saw, beliau bersabda; takutlah kalian (hati‑hati dalam memegangi) hadis‑hadis dariku kecuali yang benar‑benar telah aku ajarkan kepada kalian, barangsiapa berbohong atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari api neraka, siapa yang mengatakan sesuatu tentang al‑Qur’an dengan ra’yu nya (PENDAPATNYA) maka hendaklah ia menempati tempat duduknya dari api neraka

Anonim mengatakan...

Anda ngomongin diri/kelompok anda sendiri(ldii)anda mengkaji Qur'an Hadist berdasarkan pendapat/pemahaman nurhasan, coba sebutkan ulama ldii itu siapa 1 saja? tolong cari siapa gurunya nurhasan! cari disini harus ada bukti kongkrit ibarat sekolah harus ada ijazahnya. Kalau mengaku bersanat ya tunjukkan sanatnya yang resmi yang di tandatangani gurunya. Harus ada ijazah misal belajar di darul hadist Arab saudi atau tanyakan langsung pada murid2 gurunya yang masih ada, betul gak dulu nurhasan beguru pada syeikh Umar Hamdan.

Anonim mengatakan...

“Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Menetapilah kamu (Hudaifah bin Yaman) pada jamaah muslimin dan imam mereka, aku (Hudaifah bin Yaman), berkata: “(Bagaimana) jika tidak ada jama’ah dan imam mereka? Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Uzlah-lah(Pisahilah) segala bentuk firqoh-firqoh (ada 72 firqoh Islam), sekalipun kamu hanya makan akar / umbi pohon sehingga maut menjemput kamu sementara kamu atas keadaan demikian”. (HR. Bukhori, Kitabul Fitan).
--------------------------------------------------------------
ISLAM HARUS PUNYA PEMIMPIN itu betul, PEMIMPIN HARUS MENGATUR BERDASAR KITABULLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH itu betul, PEMIMPIN HARUS BERBAI'AT itu betul, BAI'AT HARUS IKRAR DAN JABAT TANGAN itu betul, PEMIMPIN YANG BENAR HARUS ADA KETHOATAN dan itu juga betul...karena semua itu ada sunnah/perintahnya dan semua itu WAJIB KITA LAKSANAKAN ketika kita menjumpai/berada di dalam jamaah muslimin dengan imam mereka(negara islam dengan imam/amirul mukminin/kholifah yang syar'i/sah) untuk saat ini minimal seperti Arab Saudi (jika disana ada yang mendirikan keamiran yang baru/belakang sudah pasti akan dihukum pancung "menetapi dalil bunuhlah imam yang belakang").
Pertanyaanya: Bagaimana dengan INDONESIA? Negara/daulah Indonesia kokoh berdiri, Mayoritas penduduknya muslim, rukun islam tegak di Indonesia, pemimpinnya muslim dan menjalankan sholat, tapi belum menjalankan hukum islam. Menurut Fatwa para ulama haromain yang tentu berdasarkan Sunatulloh dan sunnah Rosululloh serta demi kemaslahatan umat muslim maka pemimpin di Indonesia adalam sebagai Amirul mukminin dan kita wajib thoat selama tidak perintah maksiat dan kita harus bersabar.
Bagaimana kalau kita merasa lebih pandai/lebih alim/lebih kaffah dari para ulama haromain(seperti LDII) yang menganggap keamiran di Indonesia tidak sah/thogut? Maka jawabannya ke hadist hudaifah di atas UZLAHLAH(ini perintahnya Rosululloh) jangan malah mendirikan jamaah/firqoh sendiri.
Bagaimana jika keadaannya seperti Indonesia tapi pemimpinya wanita atau laki laki tapi tidak muslim? Maka jawabannya sama kembali ke hadist hudaifah di atas UZLAHLAH dan sabarlah.
Bagaimana jika mayoritas penduduk non muslim pemimpin non muslim tentu hukumnya pasti gak hukum islam? Maka jawabannya sama ke hadist hudaifah di atas UZLAHLAH dengan kesabaran, walaupun makan akar tanaman( mungkin pemimpinnya dzolim melarang penduduknya memeluk agama Islam) maka harus menyendiri/bersembunyi-sembunyi walau harus makan akar2an hinggga maut menjemput.
Jadi kesimpulan jamaah/bai’at/Thoat dalam Islam itu wajib selama kita menjumpai/berada dalam aljamaah muslimin dengan amirul mukminin yang sah. Dan tidak ada 1 pun dalil yang memerintahkan untuk membuat wadah jamaah sendiri/firqoh2. Mudah2an kita diberi kepahaman amiin

Altair An-Nur mengatakan...

PAKAI PENDAPAT=WAJIB NERAKA
Rasululloh bersabda:" Barangsiapa berkata suatu perkataan yang tidak pernah aku katakan maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka" (HR Bukhori: 106)

MATI TANPA BAIAT=MATI JAHILIAH
(kalau memang mati jahiliah itu tak apa apa dan MASUK SURGA, lantas GUNANYA ADA NABI YANG MEMBERI KESELAMATAN PADA KEJAHILIAHAN ITU APA YA???????????
“Barangsiapa melepas tangan dari taat akan bertemu dengan Allah pada hari kiyamat dengan tidak punya alasan. Dan barangsiapa mati sedang tidak ada ikatan bai’at pada lehernya maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh : II/136)

Dari Ibnu abbas ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari pengaturnya (Imam), maka hendaklah ia bersabar, sesungguhnya siapa yang meninggalkan jamaah barang satu jengkal saja lalu ia mati maka kematiannya berada dalam kejahiliyaan”.(HR.Muslim 3/1477 No.1849)

Altair An-Nur mengatakan...

HAHAHAHAHA...BUKTI KONKRIT????
UNTUK APA???....SUPAYA ENTE YAKIN???
ITU URUSAN ENTE YANG MAU MATI JAHILIYAH.....BUKAN URUSAN ANA....KOPLAK BENER

Wahai Rasullulloh, dahulu kami berada pada masa jahiliyyah dan keburukan lalu Alloh mendatangkan kebaikan ini kepada kami, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?'. Beliau menjawab:'Ya". Aku bertanya lagi:"Apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan?". Beliau menjawab"Ya, akan tetapi didalamnya ada "dukhn" (kotorannya". Aku bertanya lagi:"Apa kotorannya itu?". Beliau menjawab:Yaitu suatu kaum yang memimpin tanpa mengikuti petunjukku, kamu mengenalnya tapi sekaligus kamu ingkari". Aku kembali bertanya:"Apakah setelah kebaikan (yang ada kotorannya itu) akan timbul lagi keburukan?". Beliau menjawab:"Ya, yaitu para penyeru yang mengajak ke pintu JAHANNAM.SIapa yang memenuhi seruan mereka maka akan dilemparkan kedalamnya". Aku kembali bertanya:"Wahai Rasululloh, berikan sifat-sifat (ciri-ciri) mereka kepada kami". Beliau menjelaskan:"Mereka itu berasal dari kulit-kulit kalian dan berbicara dengan bahasa kalian. Aku katakan:"Apa yang engkau perintahkan kepada kami bila kami menemui (zaman) keburukan itu?. Beliau menjawab:"Carilah jamaah muslimin dengan imam mereka (carilah jamaah islam yang memiliki imam yang berbaiat)". Aku kembali bertanya:"Jika saat itu tidak ada Jamaah Islam dengan Imam mereka (saat itu tidak ada Jamaah Muslim yang memiliki Imam yang dibaiat)?". Beliau menjawab:"Kamu tinggalkan seluruh firqoh (kelompok Jamaah Islam yang tidak memiliki Imam yang dibaiat) sekalipun kamu harus memakan akar pohon hingga maut menjemputmu dan kamu tetap berada didalam keadaan yang demikian itu". (HR Bukhori 3338)