بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Meniti Jalan Salaf

product

dzulqarnain.net

Detail | Pencari Ilmu

Tegar Di Atas Sunnah

product

Assunnah

Detail | My Way

Airmatakumengalir Blog

product

Dakwatuna

Detail | ilallaah

Kami merindukan bisa dialog dengan petinggi LDII

FORUM Ruju’ Ilal Haq (FRIH) sebagai kumpulan mantan pengikut Islam Jama’ah/Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) siap menantang dialog petinggi LDII.

“Sekjen kemenag mengatakan siap memfasilitasi dialog antara FRIH dengan LDII, kami akan kejar itu,” kata Adam Amrullah kepada Islampos.com, Selasa (16/10/2012)
Mantan Ketua Organisasi Remaja LDII ini mengaku memiliki bukti kuat bahwa ajaran LDII masih sesat dan belum berubah.
“Kami memiliki dokumen bahwa mereka masih menjalankan ajaran Islam Jama’ah dan kami sudah menyerahkannya ke Kementerian Agama,” tandas pria yang memilih keluar dari LDII tahun 2008 ini.
Dokumen dimaksud adalah semua bukti ajaran LDII yang masih mengkafirkan muslim di luar golongannya. Padahal LDII dalam berbagai kesempatan selalu menolak tuduhan itu.
“Biarkan mereka menjelaskan itu,” tegasnya.
Sebelumnya, Sekjen Kementerian Agama, Bahrul Hayat menyatakan terimakasih kepada LPPI dan FRIH yang telah memberi masukan tentang LDII yang sesungguhnya. Ia mengatakan Kemenag sudah mengetahui hal itu. Bahrul berjanji memfasilitasi dialog antara LPPI, FRIH dengan LDII. (Sim/islampos).

sumber http://nahimunkar.com/17532/mantan-pengikut-ldii-tantang-dialog-pimpinan-ldii/

Semoga bisa tercapai
Ya Allah

Taqiyah itu sunnah bukan perbuatan syiah

 judul di atas sungguh membuat mata saya melotot,demi mempertahankan aqidah bathil 354 maka mereka berani berkata bahwa "Taqiyah itu sunnah bukan perbuatan syiah" berikut ulasan tulisan mereka dalam salah satu blog mereka.

sungguh telah tersesat orang yang berkata : siapapun yang melakukan TAQIYAH , maka dia adalah syiah.
padahal TAQIYAH adalah sunnah para shahabat dan kemudahan dari Allah.

Allah Berfiman didalam QS Ali Imron ayat 28 :

إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً 


artinya : kecuali karena menjaga diri dari sesuatu yang ditakutkan dari mereka 


imam bukhary meriwayatkan dari Abu darda : sesungguhnya kami benar-benar tersenyum dihadapan banyak qoum , sedangkan hati kami melaknat mereka ( musyrikin )


As-Sauri mengatakan Ibni abbas berkata :
ليس التقية بالعمل انما التقية باللسان
Taqiyah bukan dengan amal perbuatan tetapi dengan lisan 

Imam Bukhary berkata al-hasan pernah berkata  ;
انما التقية الى يوم القيمة
Taqiyah itu terus berlangsung sampai hari qiyamat 

( Tafsir Ibni katsir



dan inilah bantahan kami terhadap jokam LDII yang senang bertaqiyah
PERBEDAAN ANTARA TAQIYAH SYAR’I DENGAN TAQIYAH JAMA’AH354/ JOKAM

TAQIYAH ( MENAMPAKKAN KEYAKINAN YANG BERBEDA DENGAN ISI HATI KARENA SIASAT)

Taqiyah syar’I datang dari kitabillah dan sunnah Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dan sesuai dengan batasan dan kaidah syar’i
Sementara taqiyah ala jokam memiliki ciri dan sifat dengan taqiyah ala syi’ah imamyah
Asal yang menunjukkan taqiyah adalah firman Allah ta’ala
قوله - تعالى -: لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ * آل عمران: 28

janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, KECUALI KARENA (SIASAT) MEMELIHARA DIRI DARI SESUATU YANG DITAKUTI DARI MEREKA. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).

Imam Al-baghowi berkata: makna dari ayat ini adalah bahwa Allah ta’ala melarang orang-orang iman untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin/menjilat mereka (mencari muka), /sebagai teman akrab, kecuali apabila orang-orang kafir tersebut adalah orang-oramg yang berkuasa dengan nyata, atau bilamana seorang iman berada di tengah-tengah kaum kafir dan dia khawatir terhadap tindakan mereka. Maka dia melakukan taktik dengan menutupi menggunakan lisannya tetapi hatinya tetap tuma’ninah dalam keimanan, hal tersebut dia lakukan untuk melindungi dirinya . (taqiyah itu dilakukan ) bukan untuk menghalalkan darah yang diharamkan, atau untuk menghalalkan harta yang diharamkan dan atau memenangkan orang-orang kafir ditengah-tengah kaum muslimin

Dan taqiyah tidaklah boleh dilakukan kecuali karena khawatir dibunuh dan bersihnya niatan( tafsir al-baghowy 2/26).

SEKARANG MARI KITA LIHAT PERBEDAAN ANTARA TAQIYAH SYAR’I DENGAN TAQIYAH ALA JOKAM/354

PERTAMA:
Taqiyah syar’I bukan merupakan ushul tetapi dia adalah masalah furu’ ( cabang ) oleh karenanya tidaklah mengapa bila seorang muslim tidak menggunakannya
Taqiyah ala jokam : mereka jadikan taqiyah ini sebagai ushul dalam agama, dan menetapkannya di dalam aqidah mereka ( ini mengadopsi taqiyah ala syi’ah yang menyebutkan bahwa tidak ada agama dan tidak ada keimanan bagi orang yang tidak bertaqiyah)
KEDUA:
Taqiyah syar’I diterapkan kepada orang KAFIR, bukan kepada sesama muslim
Hal ini Nampak jelas pada firman Allah: janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, KECUALI KARENA (SIASAT) MEMELIHARA DIRI DARI SESUATU YANG DITAKUTI DARI MEREKA. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu). Ali imrom ayat 28
Ibnu jarir berkata : taqiyah yang diamaksud dalam ayat ini adalah taqiyah dari ORANG – ORANG KAFIR BUKAN KEPADA SELAIN MEREKA ( tafsir at-thobary 6/316
Said bin jubair berkata: tidak ada taqiyah di dalam agama islam, adapun taqiyah itu diterapkan kepada kafir harby " (tafsir al-baghowi 2/26)
Berkata imam ar-rozy : taqiyah di lakukan mana kala seorang laki-laki berada di tengah-tengah kaum kafir, semntara ia menghawatirkan akan diri dan hartanya maka dia mensiasati mereka dengan lisannya, yang demikian itu dia lakukan agar dia tidak menampakkan permusuhan dengan ucapannya, bahkan juga diperbolehkan baginya untuk mengucapkan perkataan yang remang-remang agar disenangi, akan tetapi dengan syarat dia menyembunyikan apa yang dia selisihi, dan dia mengingkari pada setiap apa yang diucapkannya. Bahwasanya taqiyah itu pengaruhnya pada hal-hal yang tampak bukan di dalam masalah keadaan hati ( tafsir ar-rozy 170/4)
Adapun taqiyah ala jokam mereka terapkan kepada kaum muslimin ( sebabnya apa? Sebabnya adalah karena mereka menempatkan kaum muslimin sebagai orang kafir di mata madzhab mereka, karena kaum muslimin tidak beriman kepada imam-imam yang mereka bai’at)
KE TIGA :
Taqiyah Syar’I adalah rukhshoh (keringanan) bukan “penetapan” (‘azimah)
Taqiyah adalah rukhshoh (keringanan) yang Allah berikan kepada umat ini pada sebagian perkara-perkara yang terdapat pengecualian dan bersifat darurat, dan tidaklah berdosa bagi orang yang tidak mengambil rukhshoh/kemurahan ini dan memilih untuk tetap pada keimanannya baik ucapan maupun hatinya di dalam keadaan darurat, bahkan para ulama mengatakan hal ini lebih utama ( memilih azimah dan meninggalkan taqiyah)
Ibnu bathal berkata : mereka telah sebpakat bahwa barang siapa yang benci atas kekufuran, kemudian dia memilih untuk berperang, maka sesungguhnya ia memperoleh pahala yang besar disisi Allah
Fathul bary 317/12
Imam ar-rozy berkata : seandainya dia menjelaskan perkataan dengan keimanan dan kebenaran, disamping diperbolehkannya bertaqiyah, maka itu lebih baik ( tafsir ar-rozy 4/170)
Para sahabat abu hanifah berkata: taqiyah adalah kemurahan dari Allah ta’ala manun tidak memilihnya adalah sebuah keutamaan, seandainya dia benci pada kekafiran dan dia tidak melakukan taqiyah sehingga dia dibunuh, maka dia lebih utama disbanding dia bertaqiyah, oleh karenanya setiap perkara yang terdapat kecintaan beragama, kemudian dia mendahulukannya sehingga dia dibunuh, itu lebih utama dibandingkan dia mengambil kemurahan ( tafsir bahrul muhith li abi hayan 3/191)
Dan juga perhatikanlah ketika masa-masa ujian yang menimpa imam ahmad bin hanbal di dalam permasalahan “ al-qur`an adalah mahluq” dia ditanya : bilamana sebuah pedang dihunuskan kepadamu, apa engkau akan mengabulkan mereka ? imam ahmad menjawab : tidak, bila seorang `alim menjawab dengan TAQIYAH, maka ORANG BODOH TETAP AKAN BODOH, maka kapan akan dijelaskannya sebuah kebenaran??? ( zaadul masir oleh ibnul jauzy 1/372)
Adapun taqiyah ala Jokam , maka taqiyah bagi mereka adalah sebuah ketetapan ( yang telah di syari’atkan oleh amir mereka yang dikemas dengan nama fathonah, bithonah, budi luhur (FBBL)) dan telah menjadi kewajiban yang bila dilanggar akan dianggap berdosa karena melanggar perintah amirnya.

 


Transkrip Dari Dialog Yang Kami Lakukan Dengan Syaikh Yahya Bin Utsman Yang Menguak Kedustaan Kholil Bustomi




Saudaraku....sebelum membaca  tulisan ini,ikhlaskan hati anda untuk mencari kebenaran Bukan PEMBENARAN....

Saudaraku....kami tau ini adalah hal yang pahit untuk di terima,tapi ketahuilah! islam ini di bangun di atas landasan yang ikhlas dan ittiba'. kemana lagi langkah kaki akan kalian ayunkan,padahal wejangan kebenaran dan kebatilan telah tersingkap begitu jelas...
.
Saudaraku....Aku mencintai kalian karna Allah,dasar kalian adalah baik,tapi di cemari oleh  penggagas yang ingin kehidupan dunia di balut dengan kedustaan yang sangat tebal. tapi alhamdulillah selimut kedustaan telah tersingkap hingga kalian bisa lihat dengan ilmiah,siapa yang berada di atas petunjuk dan siapa yang tidak.

Dari situs : firanda.com


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركانه
الحمد لله والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وآله وصحبه أجمعين، وبعد.
Kami para mahasiswa Indonesia program pasca sarjana di Universitas Islam Madinah (Islamic University of Madina / الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة):
1. Firanda Andirja bin 'Abidin (mahasiswa jurusan 'aqidah tingkat doktoral)
2. Musyaffa' Haji Rodhi Nur Hadi ( mahasiswa jurusan ushul fikh tingkat magister )
3. Sanusin Muhammad Yusuf ( mahasiswa jurusan tarbiyah tingkat magister )
4. Muhammad Haikal Basyrohil (mahasiswa jurusan ilmu hadits tingkat magister )
5. Ruslan Dzuardi ( mahasiswa jurusan ushul fikh tingkat magister )
6. Nuruddin Muhammad Fattah ( mahasiswa jurusan aqidah tingkat magister universitas Ummal Quro Mekah)
Kami menyatakan bawhasanya :

Kami telah berkumpul bersama Fadhilah Syaikh Yahya bin 'Utsman pengajar di Masjidil Haroom di kota Mekah Al-Mukaroomah (المدرس في المسجد الحرام بمكة المكرمة) pada hari sabtu sore menjelang magrib pada tanggal 1/5/1433 hijriyah bertepatan dengan tanggal 24/3/12012 masehi di Masjidil Haram di kota Mekah Al-Mukarramah. Kami telah meminta fatwa kepada beliau tentang beberapa permasalahan yang berkaitan dengan sebagian saudara kami yang bernisbah kepada sebuah jama'ah yang dinamakan dengan "Islam Jama'ah".

Alhamdulillah kami telah merekam tanya jawab kami dengan As-Syaikh Yahya bin 'Utsman hafidzohullah. Berikut ini transkrip tanya jawab tersebut disertai terjemahannya :
تقول السائلةُ : الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد
فإني المدعوة بـ: فُلاَنَة (Ar….i), منذ 18 سنة قد دخلتُ في حركة الدعوة الإسلامية الموسومة بـ "إسلام جماعة" بإندونيسيا التي أَسَّسَها الشيخ نور حسن عبيدة سنة 1941 م, وهو أمير الجماعة. وقد ادَّعى أنه درس بمكة لمدة 10 سنوات في معهد دار الحديث المكي, وتَتَلْمَذَ على الشيخ عمر حمدان رحمه الله, وقد أخذ الإجازةَ منه.
وبعد وفاة المؤسِّس, يأتي بعده ولدُه عبدُ العزيز سلطان أميرًا أو إمامًا لهذه الجماعة. وأرسل صِهْرَه المدعو بـ خَلِيْل بِسْطَامِي إلى مكة للدراسة على مشايخ الحرمين، منهم: فضيلتُكم الشيخ المكرم يحيى بن عثمان حفظكم الله. وبعد معايشتي لهذه الجماعة سنين طويلةً, قد لاحظتُ في هذه الجماعة أمورًا جَعَلَتْنِي أَتَسَاءَلُ دائِمًا عن  حقيقتها, وهي:
penanya berkata:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد
Saya bernama Er xxxx . Saya telah masuk ke dalam gerakan dakwah islamiyah yang dikenal dengan nama "Islam Jama'ah" di Indonesia sejak 18 tahun yang lalu, yang didirikan oleh Syaikh Nurhasan ubaidah pada tahun 1941 M. Dan dia adalah amir jama'ah ini, dia mengaku telah belajar di Mekah selama 10 tahun di Ma'had Darul Hadits Mekah, dan telah menjadi murid dari syaikh Umar Hamdan rahimahullah serta telah mendapatkan ijazah darinya.
Setelah meninggalnya sang pendiri, maka kemudian berikutnya anaknya Abdul Aziz Sulton menjabat sebagai amir atau imam jama'ah ini. Dan dia mengutus keluarganya yang bernama Kholil Busthomi ke kota Mekah untuk belajar kepada para masyayikh haramain, diantaranya adalah anda As-Syaikh Al-mukarram Yahya bin 'Utsman hafidhokumullah.
 Dan setelah bertahun tahun lamanya aku hidup pada jama'ah ini, maka aku perhatikan bahwa di dalam jama'ah ada beberapa perkara yang membuatku selalu bertanya-tanya tentang kebenarannya, perkara-perkara tersebut yaitu:
أولاً: تَنْبَنِي هذه الجماعة على تنظيم سري بمبايعة سرية على إمام سري في دولة إندونيسيا, مع أن الحكومة الإندونيسية قائمة. هل هذا العمل صحيح موافق للكتاب والسنة؟.
Pertama: jama'ah ini dibangun diatas organisasi rahasia, dengan bai'at rahasia kepada imam rahasia di negara Indonesia, sementara pemerintah Indonesia berdiri tegak. Apakah perbuatan ini benar sesuai dengan al-kitab dan as-sunnah?
قال فضيلة الشيخ حفظ الله:  هذا غير صحيح, هذا غير صحيح لأن الخروج على الإمام من الكبائر, الرسول عليه الصلاة والسلام حذَّر من الخروج على الإمام, يقول النبي ج أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي, فإنه سيكون أمور تنكرونها. فالخروج على الإمام, الإمام المسلم, هذا لا يجوز, لأنه فتنةٌ وفسادٌ
Fadhillatus syaikh Yahya bin 'Utsman hafidhahullah menjawab: "Ini tidak benar, ini tidak benar karena keluar dari seorang imam/pemimpin termasuk dosa besar. Rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam telah memperingatkan untuk tidak khuruj (keluar/membelot) terhadap seorang imam, beliau shollallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta ta'at meskipun yang menjadi pemimpinmu (yang menguasaimu-pen) adalah seorang budak habsy. maka bahwasanya akan ada berbagai perkara yang kalian akan mengingkarinya" , maka khuruj terhadap seorang imam, imam yang muslim, ini tidak boleh, karena khuruj tersebut adalah fitnah dan kerusakan."
ثانيًا: هل إذا خرجتُ أَنَا وفارقتُ هذه الجماعة وتركتُ البيعة ولم أُقِرَّ بإمامِها, هل أَصِيْرُ مُرْتَدَّةً خارجةً عن الإسلام وأكون من أهل النار؟
قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا غير صحيح, هذا غير صحيح, لأن بيعة الإمام الأول هو صحيح.
الإمام الأول هو أمير إندونيسيا، رئيس إندونيسا؟
قال فضيلة الشيخ حفظ الله : نعم، لا يجوز الخروج على الإمام المسلِم
Kedua: apakah bila aku keluar memisahi jama'ah ini dan aku juga meninggalkan bai'at ini serta aku tidak lagi mengakui keimamannya, apakah aku menjadi orang yang murtad keluar dari islam dan aku termasuk penghuni neraka?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini tidak benar ini tidak benar, karena baiat imam yang pertama itulah yang benar"
apakah imam yang pertama dia adalah amir indonesia, presiden indonesia?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "iya tidak boleh keluar dari serang imam yag muslim"
ثالثا: ومما أشكل عليَّ، أنه إذا أذنب أو أخطأ أحد المنتسبين إلى هذه الجماعة, حيث خالف نِظامًا من أنظمة الجماعة, يجب عليه أن يتوب إلى الله بتوبة نصوحة ويكتب توبته في ورقةٍ يُقَدِّمُها إلى الأمير, ثم أوجب الأمير عليه كفارةً مناسبةً يجب تنفيذها لقبول توبته. وهذه الكفارة مثل: الصدقة أو صلاة التسبيح أو صوم يوم الإثنين والخميس أو الاستغفار ألف مرة
ketiga: diantara yang menjadi problema bagiku, bahwa  bila salah seorang anggota jama'ah ini, sekiranya dia melanggar peraturan dari beberapa peraturan jama'ah, maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha serta menulis taubatnya pada selembar kertas dan memberikannya kepada amir kemudian amir mewajibkan kafarah yang sesuai kepadanya yang wajib untuk ditunaikan agar taubatnya diterima, misalnya: shodaqoh atau sholat tashbih atau puasa hari senin dan kamis atau membaca istighfar seribu kali.
قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا ما ورد, وإنما باب التوبة مفتوح, يستغفر الله, فيغفر الله سبحانه وتعالى. هذا ما ورد وغير صحيح
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini tidak ada dasarnya, bahwasanya pintu taubat terbuka, dia meminta ampunan kepada Allah, maka Allah subhana wata'ala akan mengampuninya, ini tidak ada dasarnya dan tidak benar"
رابعًا: قد ادعى مؤسس الجماعة (الشيخ نور حسن عبيدة) أنه أَخَذَ العلْمَ الشَّرْعِيَّ بطريقة "المنقول", ويقصد بذلك أنه أخذ العلوم الدينية بإسناد متصل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على أيدي مشايخ مكة, وبالتالي ألزم علينا أن لا نأخذ العلم إلا من أساتذتنا في هذه الجماعة, حيث قد تَلَقَّوْا العلم من المؤسس بطريقة المنقول. ولذا حرَّم علينا قراءة الكتب الإسلامية والسماع عن أحدٍ –مهما بلغ علمُه- إذا كان من خارج الجماعة.
Keempat: pendiri jama'ah ini yaitu syaikh Nurhasan Ubaidah mengaku telah mendapatkan ilmu syar'i dengan metode manqul, maksudnya adalah bahwa dia telah mendapatkan ilmu agama dengan isnad yang bersambung sampai kepada rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam dari tangan-tangan masyayikh Mekah, oleh karenanya dia melazimkan kepada kami untuk tidak mengambil ilmu kecuali dari ustadz-ustadz kami di jama'ah ini, karena para ustadz kami telah bertalaqqi (mengambil ilmu) dari sang pendiri (Nur Hasan Ubaidah) dengan metode manqul, karenanya haram bagi kami membaca kitab-kitab islam serta mendengar dari seseorang –betapapun tinggi ilmunya - jika dia dari luar jama'ah ini
قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا أيضا غير صحيح, فالعلم يؤخذ من كل من عنده علم من الكتاب والسنة والعلم الصحيح, هذا يؤخذ من كل مسلم, ليس لجماعة مخصوصة.
Fadhilatu as-Syaikh hafidhahullah berkata : "Ini juga tidak benar, ilmu itu diambil dari setiap orang yang memiliki ilmu dari al-qur'an dan as-sunnah serta ilmu yang benar, ilmu ini diambil dari setiap muslim, bukan oleh jama'ah tertentu saja"
إذا كان ليس له إسناد متصل إلى مؤلفي كتب الحديث؟
Bila dia tidak memiliki isnad yang bersambung kepada penulis kitab hadits?
قال فضيلة الشيخ حفظ الله: إذا كان علمُه موافقاً للكتاب والسنة نأخذه.
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Bila ilmunya sesuai dengan al-qur'an dan as-sunnah maka kita ambil"
خامسا: نحن نعيش في دولة إندونيسيا, وحاكمها لا يحكم بما أنزل الله, وهذا الحاكم قد انتُخِب بطريقة الانتخابات الديمقراطية المعروفة. فهل يجب علينا كَرَعِيَّةٍ أن نطيعه فيما وافق حكم الله؟ وهل هذا الحاكم يعتبر وَلِيًّا لأمر المسلمين بإندونيسيا؟
Kelima: kami hidup di negara Indonesia, sementara penguasanya tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, dan penguasa ini telah dipilih dengan sistem pemilihan umum demokrasi yang telah dikenal, apakah wajib bagi kami sebagai rakyat untuk mentaatinya selama sesuai dengan hukum Allah? dan apakah penguasa seperti ini dianggap sebagai waliyu al-amri muslim di indonesia?
قال فضيلة الشيخ حفظ الله: ما زال المسلمون بايعوه, فالسمع والطاعة, لأن الخروج عليه يُسَبِّبُ فتنة, والفتنة ممنوعة, فالواجب يُنصحون باللين والأدب, والله الهادي وهو أرحم الراحمين.
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Selama kaum muslimin membaiatnya maka hendaknya mendengar dan ta'at, karena khuruj (membelot) kepadanya akan menyebabkan timbulnya fitnah, dan fitnah itu terlarang. Maka yang wajib adalah mereka (para penguasa) dinasihati dengan cara lemah lembut dan beretika. Dan Allah-lah Yang memberi petunjuk dan Dialah Yang Maha Penyayang
Penanya,
Tertanda :
Penanya
----------------------------------
Berikut ini pertanyaan yang kami –para mahasiswa program pasca sarjana- sampaikan kepada Syaikh Yahya bin 'Utsman hafidzohullah. Adapun transkrip pertanyaan dan jawaban antara kami dan Syaikh adalah sebagai berikut:
فضيلتكم هناك فتاوى تنسب إليكم تؤيد مذهبهم !
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : لا، لا !!
Syaikh yang mulia, ini ada fatwa yang dinisbatkan kepada anda yang mendukung madzhab mereka !!
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Tidak, tidak !!
نفيد فضيلتكم, بأنه قد وقعتْ في أيدينا أوراقٌ فيها أسئلة وُجِّهَتْ إليكم, من قِبَلِ المدعو بِـ خليل بسطامي مع أجوبتكم عنها. وقد تُرجِمَتْ هذه الأسئلة وأجوبتها إلى اللغة الإندونيسية.
وبعد قراءة هذه الأوراق بِتَمَعُّنٍ, لاحظنا نحن -طلاب الدراسات العليا بالجامعة الإسلامية- عدمَ الأمانة في ترجمة جوابكم, حيث حُمِّل إلى ما لا يحتمل وفق عقيدة السائل المدعو بـ خليل بسطامي. وإليكم تفاصيل ذلك:
Kami memberitahukan kepada Fadilatus Syaikh bahwasanya kami telah mendapatkan lembaran yang isinya terdapat pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh seorang yang bernama Kholil Busthomi kepada anda, dan juga terdapat jawaban anda tentangnya. Tanya jawab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Setelah membacanya dengan teliti maka kami (mahasiswa di jami'ah islam madinah) menemukan ketidak amanahan di dalam menterjemahkan jawaban anda, yang mana jawaban anda dibawakan kepada bukan tempatnya untuk menyesuaikan pada aqidah si penanya yang bernama Kholil Busthomi.
Berikut ini kami sampaikan kepada anda rinciannya:
أولا: ترجم جوابكم في معنى قوله عليه الصلاة والسلام: ((فمات ميتة جاهلية)) تَرْجَمَه بالترجمة التالية: "أي مات كموت أهل الجاهلية حيث دخل النار".
مع أن فضيلتكم قد قلتم في جوابكم فمات ميتة جاهلية يعني: أنه مثل أهل الجاهلية, لأنهم كانوا فوضى لا إمام لهم.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم, نعم, ترجمته خطأ,
حيث جزم بدخول النار؟.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم
Pertama: Ia menterjemahan jawaban anda tentang makna sabda Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam (maka dia mati seagaimana kematian jahiliyah) diterjemahkan: "yakni seperti matinya ahli jahiliyah yang mana dia masuk neraka" Padahal yang mulia syaikh anda telah berkata pada jawaban anda, "maka dia mati seperti mati jahiliyah, maksudnya bahwa dia seperti ahli jahiliyah karena mereka tercerai berai karena mereka tidak memiliki imam".
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ya ya terjemahannya salah"
Kesalahan terjemahannya yiatu ditetapkan masuk kedalam neraka?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Iya, iya"
ثانيا: استدل بقولكم في الجواب: "بلادكم إمامكم, وهؤلاء أهل مصر بلادهم إمامهم في بلادهم" على جواز تكوين الإمارة في بلادنا إندونيسيا مع أن الحكومة الإندونيسية قائمة. ونحن نشك أن هذا الجواب من قولكم لأن في الكلام ركاكة.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : هذا غير صحيح, هذا غير صحيح.
أي : لا يجوز إقامة الإمارة ودولة إندونيسيا قائمة؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم
Kedua : Ia berdalil dengan jawaban anda: "negaramu imammu, mereka itu penduduk Mesir dengan Negara mereka imam mereka di Negara mereka"  atas bolehnya membentuk keamiran/keimaman di Negara kita Indonesia padahal pemerintah Indonesia telah tegak. Sebenarnya kami meragukan bahwa jawaban ini dari ucapan anda, karena ungkapan bahasa Arabnya tidak teratur.
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini tidak benar, ini tidak benar"
Maksudnya, tidak diperbolehkan mendirikan keimaman sementara Negara Indonesia telah berdiri?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Iya, iya"
ثالثا: ادعى خليل أنه سألكم بالسؤال التالي: (لكن في بلادنا يا شيخ ننصب الإمام بالسر لأن أكثرهم أهل البدعة, كما قد فعل رسول الله عليه الصلاة والسلام في ليلة العقبة في بيعة الصحابة, يعني بالسر من أعين الكفار)
وادعى –خليل- أنكم أجبتم بالجواب التالي: (لابد إمام المسلمين, يعني المسلمون يبايعون إماما, الله يوفقنا وإياكم لما يحب ويرضى).
ثم تَرْجَمَ جوابكم هذا بالترجمة التالية: لا بأس بنصب الإمام سرا, لأن المسلمين لا بد أن يبايعوا إماما, وإن كان بطريقة سرية.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : هذا خطأ, ما قلتُ أنا هذا, الله المستعان.
Ketiga : Dan kholil mengaku bahwa dia telah bertanya kepada anda sebagai berikut: (akan tetapi di negara kami ya syaikh kami mendirikan imam dengan rahasia karena kebanyakan mereka adalah ahli bid'ah, sebagai mana yang telah dilakukan oleh rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam di malam aqabah saat membaiat sahabat yakni dengan cara rahasia dari pengawasan orang-orang kafir)
Dan kholil juga mengaku bahwa anda menjawabnya dengan jawaban berikut : (yaitu teks arab jawaban syaikh sbb لابد إمام المسلمين, يعني المسلمون يبايعون إماما, الله يوفقنا وإياكم لما يحب ويرضى (yang terjemahannya sbb : "Harus ada imam muslimin yakni kaum muslimin berbaiat kepada seorang imam, semoga Allah menetapkan kami dan kalian pada apa-apa yang Dia cintai dan ridhoi")
Kemudian jawaban anda di atas diterjemahkan sebagai berikut: "Tidak mengapa mengangkat seorang imam dengan rahasia, karena kaum muslimin harus membaiat seorang imam meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi".
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini salah, aku tidak pernah mengatakan ini, Allahu al-musta'an"
رابعًا: نقل الفتوى منكم, أنكم لم تُجِزْ تلقي العلم الشرعي, من شيخ ليس له إسناد متصل إلى مؤلف كتب الحديث.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : لا, لا, ما قلته, إذا كان يدعو إلى الكتاب والسنة يقبل منه أياًّ كان
وإن كان ليس له إسناد؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم
Keempat: Ia menukil/mengutip fatwa dari anda, bahwasanya anda tidak memperbolehkan mengambil ilmu syar'i dari seorang guru/syaikh yang tidak memiliki isnad yang bersambung kepada penulis hadits
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Tidak, tidak, aku tidak penah mengatakannya, jika dia mendakwahkan kepada al-kitab dan as-sunnah maka diterima siapapun dia"
Meskipun dia tidak memiliki isnad?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Iya, iya"
خامسًا: قال خليل في سؤاله: "ونحن في أرض الكفار, لا نستطيع أن نقطع يد السارق وجلد الزاني". فضيلتكم هل صحيح, أن أرض إندونيسيا أرض الكفار؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : لا ، لا, هذا غير صحيح, المسلمون يصلون ويصومون, الله يهدينا ويهديهم, لا حول ولا قوة إلا بالله, الله يهديهم, الله يهديهم.
Kelima: di dalam pertanyaannya, kholil bekata: " Dan kami berada di Negara kuffar, kami tidak mampu untuk memotong tangan pencuri dan menyebat penzina". Yang mulia, apakah ini benar, bahwa Negara Indonesia adalah Negara kuffar?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Tidak, tidak, ini tidak benar, (mereka) adalah orang-orang muslim, mereka masih sholat dan berpuasa, semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan mereka, la haula walaa quwwata illa billah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka"
هذه الفتاوى يا فضيلة الشيخ, هل حصل بينه وبينكم سؤال وجواب؟ هذا تقريبا منذ سنوات ماضية؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : هذا غير صحيح, أنا ما عندي إلا درسنا في الحرم
Fatwa ini, Wahai syaikh yang mulia, apakah pernah terjadi soal jawab antara anda dengan Kholil? Ini terjadi kira-kita beberapa tahun yang lalu?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini tidak benar, tidak ada bagiku kecuali hanya mengajar di al-haram saja".
ما نصيحتكم لأصحاب هذه الجماعة، لأنهم يحبونكم ؟:
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : الواجب علينا اتباع القرآن الكريم, واتباع الرسول ج, واتباع السلف الصالح, الصحابة رضي الله عنهم, والتابعون رحمهم الله, وأتباع التابعين ومن سلك طريقهم, هذا هو الإسلام, وهذا هو الذي أمرنا الله به.
Apa nashihat anda untuk pengikut jama'ah ini, karena mereka mencintai anda?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Wajib bagi kita mengikuti al-qur'an al-karim dan mengikuti rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam dan juga mengikuti as-salaf as-sholih, yaitu para sahabat rodhiallohu 'anhum, para tabi'im rohimahumullah, dan tabi'i at-tabi'in serta orang-orang yang meniti jalan mereka, inilah islam, dan inilah yang dengannya kita diperintahkan oleh Allah"
فضيلة الشيخ، فهل تنصحون أتباعَ هذه الجماعة أن يخرجوا من هذه الجماعة؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : عليهم أن يرجعوا إلى الحق, إلى الكتاب والسنة, التفرُّق مذموم
ويتركون هذه الجماعة؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم، الله يهدينا ويهديهم
آمين آمين،
Fadhilatus Syaikh, apakah engkau menashihatkan kepada para pengikut jama'ah ini untuk meninggalkan jama'ahnya?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Wajib bagi mereka untuk kembali pada al-haq, kepada kitabillah dan sunnah, perpecahan itu tercela"
Yaitu hendaknya mereka meninggalkan jama'ah ini?
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Iya, iya semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan mereka"
Amin, amin
ونستأذن منكم أن ننشر هذا الجواب نصيحةً لهم وللمسلمين نظراً لأن أتباعهم ملايين ونرجو خيراً لهم
Dan kami mohon izin kepada anda untuk menyebarkan jawaban ini sebagai nashihat kepada mereka dan kepada kaum muslimin, mengingat pengikut mereka jutaan dan kami mengharapkan kebaikan kepada mereka.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : الواجب علينا اتباع القرآن الكريم, واتباع الرسول ج, واتباع الصحابة رضي الله عنهم, والتابعون رحمهم الله, وأتباع التابعين, ونجتنب الطرق المخالفة المنحرفة.
Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata :  "Wajib bagi kita mengikuti al-qur'an al-karim dan mengikuti rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam dan juga mengikuti as-salaf as-sholih, yaitu para sahabat rodhiallohu 'anhum, para tabi'im rohimahumullah, dan tabi'i at-tabi'in. Dan wajib bagi kita untuk menjauhi jalan-jalan yang menyelisih dan menyimpang".

Demikian transkrip dari rekaman tanya jawab antara mahasiswa Universitas Islam Madinah dengan As-Syaikh Yahya bin 'Utsman hafidzohullah.

WAWANCARA DENGAN KH. AHMAD SUBROTO

WAWANCARA DENGAN KH. AHMAD SUBROTO
(Murid Nur Hasan Ubaidah Generasi Awal 1947-1 967)

=== Wawancara penulis laksanakan di pcsantren yang beliau pimpin, PP Al-Fatah, Banjar Sari Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin 24 Januari 2000 M. Sebulan kemudian, KH. Ahmad Subroto berpulang ke
Rahmatullah pada Hari Jum'at 19 Dzul Qa'dah 1420 HI 25 Fcbruari 2000 M. =====

BAGAIMANA ANDA DULU BISA TERTARIK DAN MASUK KE DARUL HADITS YANG

KEMUDIAN ALIRAN ITU BERGANTI-GANTI NAMA MENJADI ISLAM JAMA'AH, LALU
LEMKARI, DAN TERAKHIR BERNAMA LDII ITU?

Saya dulunya tertarik aliran Darul Hadits karena yang dikaji Al-Quran dan Hadits murni, tidak dicampuri, dan tegas memberantas khurafat dan sebagainya. Betul-betul mengajarkan Al-Quran dan Hadits.

Asalnya ngaji-ngaji biasa. Yang tak sesuai dengan Al-Quran dan Hadits berarti tidak benar. Dengan begitu, maka saya tertarik.

BAGAIMANA CARA MENGAJI ITU?


Caranya, diasramakan satu bulan, membaca Al-Quran dengan maknanya komplit. Lalu Hadits Shahih Al-Bukhari dikaji satu bulan, dan seterusnya.


Adakah gejala-gejala penyimpangannya?


Waktu itu sering disampaikan, ngaji itu secara manqul (ilmu agama yang sah itu hanya yang dari amir) . Waktu itu saya tidak berfikir panjang.

Saya mengaji waktu itu mulai tahun 1947-1948. Gurunya, Nur Hasan Ubaidah. Pada waktu itu tidak kelihatan menyeleweng.

APAKAH SUDAH ADA AMIR ATAU SEMACAMNYA?


Waktu itu belum terbentuk amir ataupun jama'ah, hanya dinamakan Pengajian Darul Hadits. Belum ada tarik-tarikan (duit), masih murni.


PROSES SELANJUTNYA BAGAIMANA?


Setelah lama kelamaan, terus bisa berhubungan dengan Jakarta. Ada anggota Jami'atul Muslimin yang dipimpin Wali Al-Fatah, yang anggota itu ikut pengajiannya Nur Hasan Ubaidah. Yaitu H. Ali Rowi dari Sukotirto Jombang, Jawa Timur. Lantas H. Ali Rowi ini mempertemukan antara Wali Al-Fatah dan H. Nur Hasan Ubaidah. LALU KEDUANYA MENGADAKAN IKRAR BERSAMA. UBAIDAH SEBAGAI GURU BESAR, SEDANG WALI AL- FATAH SEBAGAI PEMIMPIN JAMA'AH. YANG MENGADAKAN BAI'AT ITU WALI AL-FATAH.


APAKAH H. NUR HASAN UBAIDAH SUDAH MENGAJARKAN BAI'AT, JAMA'AH, DAN SEBAGAINYA?


Waktu saya ikut pengajian itu belum ada dalil-dalil yang dikemukakan tentang jama'ah seperti sekarang ini. Waktu itu Wali Al-Fatah lah yang menyebarkan dalil-dalil tentang jama'ah, dengan sistem penyebaran brosur-brosur, kemudian dikembangkan, disosialisasikan dan diserukan di jama'ah-jama'ah. Maka dengan demikian itu, tampak lebih bersemangat. Setelah H. Nur Hasan berhubungan dengan Wali Al-Fatah dan mendapatkan masukan dari Wali Al-Fatah itulah kemudian pengajian yang semula namanya Darul Hadits itu diubah menjadi Islam Jama'ah.


DUA TOKOH ITU TADIKAN MENGADAKAN IKRAR. APAKAH KEMUDIAN PELAKSANAANNYA MEREKA BERDUA MENJADI SATU JAMA'AH?


Tidak. H. Nur Hasan Ubaidah berpisah dari Wali Al-Fatah. Hingga, keluarga Darul Hadits memisahkan diri tapi teori jama'ah yang dari Wali Al-Fatah itu dikembangkan, hanya saja tidak atas nama Wali Al-Fatah.


SETELAH PAKAI SISTEM CANGKOKAN DARI WALI AL-FATAH ITU BAGAIMANA PERKEM BANGANNYA?


Setelah memakai dalil-dalil tentang jama'ah itu dirasakan enak, maka perkembangannya lebih pesat, mendalam, tetapi lebih kejam.


LEBIH KEJAM BAGAIMANA?


H. Nur Hasan Ubaidah menganggap, siapa saja yang tidak berbai'at kepadanya, lalu mati, maka matinya dianggap kafir.


Apa dalil yang dijadikan alasan untuk mengkafirkan orang yang tidak

berbai'at padanya itu?

Dalil yang dikemukakan, ia sebut hadits, walaupun itu hanya qaul

shahabat, Umar, yaitu,

"Tidak ada lslam bila tanpa jama'ah, tidak ada jama'ah tanpa

keamiran, tidak ada keamiran tanpa ketaatan. "

Yang dipakai kata-kata Umar itu.

Jadi yang dipakai hujjah bukan hujjah yang sebenarnya, karena
bukan hadits shahih, hanya qaul shahabatyang tingkatannya mauquf (tidak
sampai pada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam). Tetapi khabarnya hujjah
seperti itu justru untuk mengkafirkan orang?

Ya, itu untuk mengkafirkan orang. Ini bahayanya. Menganggap orang

Islam (selain golongan mereka) kafir kabeh (semua). Inilah kebatilannya.

TERUS, SIKAP ANDA BAGAIMANA?


Saya keluar dari Islam Jama'ah. Karena kelompok itu sudah menganggap bahwa orang selain Islam Jama'ah itu kafir, itu kan sudah berbahaya. Sudah jelas batil. Saya lihat Bapak M. Natsir (ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) itu dihargai oleh Islam secara internasional.

Lalu, katanya, Nur Hasan ini dari Makkah (belajarnya) tapi kok mengatakan,
siapa yang tidak bai'at kepadanya dianggap kafir, Dan kalau mengaji tidak
manqul dianggap ilmunya tidak sah. Maka saya berkeinginan sekali mau
menta'qidkan (meneliti) untuk menanyakan masalah ini ke Makkah. Maka saya mau naik haji, namun pendaftaran sudah tutup saat itu. Malahan kemudian diketahui oleh Nur Hasan Ubaidah bahwa saya akan ke Makkah, maka saya ditangkap, karena saya dianggap tidak mempercayai amir. Lalu saya diisukan macam-macam, sampai dikatakan, saya sudah meninggal. Maka saya keluar dari Islam jama'ah. Saat itu tahun 1967.

BAGAIMANA ANDA BISA MEMUTUSKAN DIRI UNTUK KELUAR DARI DARUL HADITS/LSLARNJA MA'AH ITU?


Setelah saya menghadapi goncangan seperti tersebut, saya rneyakini bahwa ajaran Nur Hasan Ubaidah atau aliran Darul Hadits/Islam jamaah itu tidak benar. Terutama setelah Persis (Persatuan lslam) yaitu Kiai Jured Mahfudh khabarnya berkirim surat ke Perguruan Islam Darul Hadits di Makkah, dijawab langsung oleh Imam Masjid Haram Makkah,

Syaikh Umar Hamdan Abu Syahmi (klik disini untuk melihat murid-murid syaikh Umar Hamdan), bahwa Nur Hasan Ubaidah itu tidak pernah ada dalam daftar murid di Darul Hadits Makkah.

SETELAH ANDA MANTAP KELUAR DARI ALIRAN DARUL HADITS/LSLAM JAMA'AH

PIMPINAN NUR HASAN UBAIDAH ITU, LALU APA YANG ANDA PERBUAT?

Setelah saya keluar dari aliran itu, saya mendirikan pondok dan
  berda'wah serta menanggulangi bahaya aliran yang didirikan H. NurHasan Ubaidah itu, dengan memberi penjelasan-penjelasan ke Jakarta.
Yang keluar itu termasuk Pak Bambang Irawan Hafiluddin, Debby Nasution, Amir Murod, dan tokoh-tokoh lain. Dan yang di Jawa Timurbanyak yang keluar dari aliran Darul Hadits/Islam Jama'ah itu.

BAGAIMANA SIKAP ORANG-ORANG ALIRAN TERSEBUT TERHADAP ANDA DAN

TEMAN-TEMAN YANG KELUAR?

Yang keluar itu dianggap halal darahnya, tapi tidak terang-terangan.
Apakah sikap menganggap halal darahnya dun sebagainya itu masihdisandang pula oleh LDII, nama baru dari lslam Jama'ah?

Sekarang ini, Islam Jama'ah yang kini bernama LDII tampaknya
mereka lunak, tetapi mungkin itu taqiyyah (menampakkan hal yang
berbeda dengan keyakinannya). Yang jelas, mereka itu masih tetap jago
fitnah.

CONTOHNYA YANG KONGKRET APA?


Saya diisukan, bahwa saya (Ahmad Subroto) sudah balik lagi ke
aliran mereka. Bahkan sampai difitnah, bahwa saya (Ahmad Subroto) sudah meninggal dunia. Padahal jelas saya masih hidup. Fitnah itu disebar-sebarkan di kalangan mereka.

MENURUT PANDANGAN ANDA, KENAPA H. NUR HASAN UBAIDAH SEBEGITU

MENGHALALKAN ANEKA CARA DALAM MENGEMBANGKAN ALIRANNYA?

Dia itu memang senang untuk jadi orang kaya. Kalau alasannya

memang untuk pembelaan agama, tetapi praktiknya, semua kekayaan
(yang dihimpun dari para jama'ahnya) itu atas nama pribadi semua.
Akhirnya, seluruh kekayaan dari jama'ah itu menjadi milik ahli waris Nur
Hasan Ubaidah. Itukan bisa macam-macam. Karena, semua barang yang
ada di Amir, itu semua tidak boleh ditanya-tanyakan lagi.

Dari segi ajarannya, Ubaidah memberlakukan teori manqul (ilmu

agama yang sah itu hanya yang dari amir). Manqul itu katanya dari
Makkah, tetapi orang yang belajar langsung dari Darul Hadits di Makkah
ternyata tidak seperti teori ubaidah itu.

Dengan diberlakukan manqul itu, maka tidak mengabsahkan keislaman orang lain. Itulah bahayanya. Ubaidah mengajari, tidak manqul

berarti tidak sah. Tetapi ketika diurus orang, dari mana kata manqul itu,
jawabnya dari hadits,

"Barangsiapa berkata mengenai kitab Allah dengan pendapatnyal

tanpa ilmu, maka dia salah walau benar. "

Dari hadits itu Nur Hasan menganggap bahwa yang benar itu yang

manqul. Padahal di hadits-hadits tidak ada manqul seperti yang dia '
maksud itu.
Meskipun ajaran manqul ini ditegaskan untuk kelompoknya,
bahkan dijadikan landasan untuk menganggap bahwa selain yang manqul
itu tidak sah, namun Nur Hasan Ubaidah tidak mengaku demikian ketika
ditanya oleh Kiai Abdul Manan atas prakarsa Departemen Agama.

KENAPA TIDAK MENGAKU?


Karena mereka tidak takut dosa. Dan mereka menganggap, orang

selain jama'ahnya itu kalau hartanya dimaling /dicuri, jiwanya difitnah dan
sebagainya itu tidak dosa. Jadi sikap mereka itu seperti orang-orang
Yahudi terhadap orang Ghayim (non Yahudi), hartanya halal dijarah.

KENAPA SAMPAI SEBEGITU? APAKAH MEREKA JUGA PUNYA LANDASAN?


Sikap mereka itu seperti sikap orang Yahudi yang dijelaskan dalam

Al-Quran,
"Yang demi kian itu karena mereka mengatakan, 'Tidak ada dosa bagi
kami terhadap orang-orang ummi (maksudnya orang Arab). '" (Ali
Imran: 75)

Lalu mereka/Islam jama'ah atau LDII menerapkan kepada selain golongannya seperti sikap Yahudi itu, ditambah dengan dalih ayat Al- Quran,


"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk

kamu. " (Al-Baqarah: 29)

"Untuk kamu" , itu mereka artikan untuk orang Islam Jama'ah yang kini namanya LDII. Maka bagi mereka, orang yang bukan LDII itu hartanya boleh diambil. Jadi, mencuri, memfitnah dan sebagainya terhadap orang yang bukan jama'ah mereka itu dianggap tidak berdosa.


TADI DISEBUTKAN, BANYAK UANG YANG DIKUMPULKAN DARI JAMA'AH.

KALAU BEGITU, ANDA SEBAGAI MUBALLIGH ISLAM JAMAAH YA BANYAK UANG?

Pemegang uang itu Amir. Hingga muballigh tidak pernah pegang uang. Tetapi ketika keluar dari Islam Jama'ah lalu diisukan (difitnah)

menghabiskan duit. Lebih dari itu, seperti saya sebutkan tadi, saya difitnah
bahwa saya telah mati.

Demikian wawancara penulis dengan KH. Ahmad Subroto. yang

tidak lama kemudian (sebulan kemudian) beliau wafat.
nurhasan ubaidah pendiri sekte islam jamaah

WAWANCARA DENGAN MANTAN ALIRAN SESAT ISLAM JAMA'AH/LDII




H. Nasifan Abdur Rahman Syakir,
Alumni Gontor 1956"
( H. Nasifan kini menjadi imam masjid Baitul Jamil di Mariyar Indah Gang 10 Surabaya. Wawancara
dilaksanakan olch H. Hartono Ahmad Jaiz dari LPPI, di MasjidBaitul Jamil Surabaya, Scnin 17 Syawwal
1420 HI24 Januari 2000 M.)

"Berpuluh Kali Saya Dipaksa Menyelam di Genangan Air Tinja'"

Syaikh Al-'Amudi di Darul Ifta' Saudi Mengatakan,

NUR HASAN UBAIDAH ITU "DAJJAL"

Pertanyaan: Sebagai alumni pesantren modern Gontor Ponorogo
Jawa Timur, bagaimana ceritanya, kok bisa mencebur ke aliran Darul
Hadits alias Islam Jama'ah, yang kemudian dilarang oleh pemerintah, dan
kini berganti nama dengan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) itu?

Jawaban: Ceritanya panjang. Setelah saya dari Pesantren Gontor, saya cari pengalaman ala kadarnya, di Muhammadiyah sejak 1956. Saya sampai ke Bangka, ke Amuntai, ke Balik Papan, dan Samarinda. Yang lama di Balik Papan, memimpin sekolah SMP Muhammadiyah, sambil berda'wah, dan akhirnya tahun 1962 saya pulang ke Jawa Timur yakni Pare, Kediri.

Saya pulang itu karena ada pengumuman di surat kabar, ada bea siswa ke Cambridge. Syarat-syaratnya semua saya punya, terutama bahasa Inggeris, karena saya guru bahasa Inggeris
.
Saya pamit kepada orangtua untuk tes di Jakarta. Tapi saat itu baru , berselang beberapa hari lurah desa meninggal, maka saya disuruh oleh orang tua agar mencalonkan diri untuk jadi lurah. Calonnya sampai 14 orang, saat itu zaman PKI (Partai Komunis Indonesia), yang menang PKI. Pencalonan lurah itu tahun 1962.

Tahun 1963 saya ke Lampung, karena di Pare tidak ada harapan.
Saya akan mendirikan proyek pertanian. Saya beli beberapa hektar tanah
dan dua rumah. Lalu mengambil orang-orang kampung untuk menggarap
tanah. Saat itu PKI gencar-gencarnya beraksi, hingga saya khutbah saja
disoroti.

Di Lampung, saya dikenal banyak harta. Padi saya berton-ton. Saya beli sarung banyak untuk hadiah orang-orang dan sebagainya. Akhirnya saya dirampok, tetapi hanya harta yang tampak. Ternyata tas yang ada duitnya untuk bekal2 tahun tak dirampok. Namun akhirnya saya
dirampok lagi, kena tas yang ada simpanan duit itu, jadi habislah harta
saya. Maka saya tak punya kekuatan, dan saya menyerah, tidak mampu
lagi membiayai 6-8 orang tenaga kerja saya.
Setelah itu saya pulang lagi ke Jawa Timur, berdagang beras di
Kertosono. Orang tua saya orang mampu. Tetapi dagangan saya makin
surut, karena berton-ton beras dijual ke Blitar tetapi banyak yang dilarikan
orang, tidak kembali: dan saya tidak tahu alamat mereka. Banyak orang
yang utang satu kuintal, setengah kuintal dan sebagainya, sampai
sekarang mereka tidak menyaur.
Dalam keadaan bangkrut itu lalu saya bertemu dengan kawan, Imam
Ahmad, dia menyindir saya, "Bercapai-capai mengejar harta hanya untuk
mengecat tai, tidak ingat kepada Allah, padahal sebentar lagi akan mati."
Saya jawab, saya sudah mengingat Allah.

Kata kawan saya itu, yaitu Imam Ahmad adik Pak Cholil Sukotirto
teman sekelas di Gontor, bahwa pengamalan agama saya keliru semua.
Lalu saya dibawa ke gurunya, yaitu H. Nurhasan Ubaidah di Gading Mangu Perak Jombang. Di sana saya wawancara dengan H. Nurhasan Ubaidah pendiri aliran Darul HaditsIIslam Jama'ah itu.

Saya pengalaman, sudah mengembara ke mana-mana. Tapi saya kagum, semua pertanyaan saya dijawab dengan dalil Al-Qur'an dan Hadits, dan dalilnya benar. "Tepat itu," perasaan saya. Belum pernah saya temui ulama-ulama yang jelas seperti itu. Akhirnya saya mengaji, dan akibatnya saya lupa usahaldagang. Dalam dua bulan saya sudah tamat Al-Quran dengan terjemahnya. Terjemah Al-Quran dua bulan selesai. Karena saya mengaji itu siang malam. Yang mengajar ngaji Al-Quran terjemah itu Kholil, Imam Ahmad, dan Mas'udi. Sedang H. Nur
Hasan hanya menerangkan sedikit-sedikit. Lalu saya mengaji tentang
shalat.

Kemudian saya ke Lampung untuk menjual tanah yang saya tinggalkan. sebelumnya, dan saya menikah.
Di Lampung saya bertabligh (menyiarkan ajaran Darul HaditsIIslam Jama'ah) dan jual tanah, karena masih ada hektaran tanah milik saya.
Uang dari jual tanah hektaran itu yang 10 persen diinfaqkan untuk Darul Hadits (Nur Hasan Ubaidah), dan 10 persen untuk beli perhiasan isteri.
Sampai 1,5 tahun di Lampung, isteri mengandung 7 bulan. Lalu kami
pulang tahun 1971.
Ketika saya pulang tidak boleh pulang ke rumah, karena hams lapor
ke (pengajian Nur Hasan). Lalu saya dilatih, saya rasakan latihan itu
sampai di luar peri kemanusiaan.

Tanya: Latihan yang di luar peri kemanusiaan itu ujudnya apa?

Jawab: Contohnya, saya bersama 40 orang disuruh mengambil
tanah kotor di comberan, parit. Kami disuruh "nggogohi" (memasukkan
tangan ke dalam air untuk mengambil sesuatu) berupa tanah. Lalu saya
dan Nur Hasyim (alumni IAIN Yogyakarta) disuruh merangkak (seperti
kerbau) sejauh 300 meter, dan dilihat orang banyak yang lalu lalang ke
pasar bagai tontonan, dipaksa merangkak seperti kerbau dari pasar ke
masjid di Kertosono. Kami diperlakukan seperti kerbau, diberi aba-aba
seperti kerbau untuk membajak: "her.. . her.. giak.. giak." Jadi saya berdua
itu digiring seperti kerbau. Yang menggiring itu namanya Muslimin, atas
perintah H. Nur Hasan Ubaidah.

Tanya: Perlakuan yangsangat tidak manusiawi itu maksudnya untuk
apa?
Jawab: Katanya untuk tes ketaatan kepada amir.

Tanya: Meskipun demikian, tentunya ada sebab-sebabnya. Dan
apakah adapenyiksaan atau kezhaliman mereka yang lebih dari itu?
Jawab: Perlakuan di luar perikemanusiaan itu diterapkan hanya
karena kesalahan yang sangat sepele. Misalnya, karena salah ketika
mengikuti aba-aba dalam berbaris. Diberi aba "balik kanan grak", tapi
saya keliru hadap kanan. Lalu diharuskan bertobat. Nah di sinilah
penyiksaan yang sangat di luar batas peri kemanusiaan, yaitu caranya,
saya dan Nur Hasyim diperintahkan oleh Muslimin untuk mencebur ke
lubang (genangan) yang penuh dengan tai' (tinja') dan air. Kami berdua
harus berendam dan menyelam di dalam lobang genangan air tinja' itu.
Seluruh tubuh sampai kepala diharuskan merendamkan diri ke dalam air
tinja'. Nur Hasyim gelagepan, dan tinja'nya masuk ke mulut dan tertelan.
"Baru kali ini seumur hidup saya, saya merasakan rasanya tai," kata Nur
Hasyim (mendiang) .
Lalu saya tanyakan, apa rasanya?
"Sepet," katanya.
Perintah kejam hams berendam dan menyelam di air tai itu sampai
berpuluh-puluh kali, bukan hanya sekali.
Saya sudah sangat bosan, jengkel, dan jera (kapok) karena aneka
siksaan yang sangat menyakiti dan memalukan itu, dan saya ingin sekali
tidak taat. Tetapi ada Nur Hasyim yang disuruh untuk mendampingi saya,
saat itu Nur Hasan Ubaidah muridnya ada 40 orang.
Tanya: Mungkin ada yang lebih tidak manusiawi lagi. Lebih dari itu?
Jawab: Ya, contohnya saya dijadikan guru ngaji. Di antara murid
saya itu adalah orang yang namanya Muslimin orang Kediri yang sering
mengharuskan saya taat padanya di luar perikemanusiaan itu tadi. Ketika
saya mengajar ngaji dan saya tampak mengantuk, maka saya dihukum
oleh murid yang bernama Muslimin itu tadi. Jadi, saya sebagai guru, justru
dihukum oleh murid dengan diharuskan masuk ke lubang yang penuh
dengan tai dan air itu, saya diharuskan berendam, hingga sekujur tubuh
penuh tai.
Di samping itu, hukuman lain dikenakan pula terhadap saya. Begitu
saya mengajar tampak mengantuk, langsung didenda, hams mengeluarkan
infaq, masih diharuskan pula masuk ke dalam genangan tai oleh
Muslimin tadi. Perintah dan denda itu berkali-kali, sampai uang saya habis.

Tanya: Mungkin dalam pergaulan juga ada pemaksaan?
Jawab: Waktu saya pulang dari Lampung lalu ke tempat Islam
Jama'ah di kertoiosno itu pakaian saya baru-baru semua. Tetapi pakaian
saya itu dipakai oleh Muslimin sampai lecek, kumal. Muslimin berani
seperti itu karena diserahi oleh H. Nur Hasan Ubaidah sebagai amir
pelaksana.
Ketidakmanusiawian lainnya, saya kan pengantin baru. Tetapi saya
dipisahkan dengan isteri saya. Saya di kompleks Islam Jama'ah di
Kertosono, sedang isteri saya di kompleks Islam Jama'ah di Kediri.
Setelah saya tidak punya uang, anehnya, saya dibolehkan pulang.
Isteri saya pun tidak tahan dengan aneka perlakuan yang tidak
manusiawi semacam itu. Maka isteri saya pulang dengan lompat pagar,
karena lingkungannya dijaga ketat. Jadi, isteri saya dalam keadaan
mengandung, menderita di lingkungan Islam Jama'ah di Kediri itu, maka
ia lompat pagar, lari keluar.
Kami walaupun sudah keluar -Saya boleh pulang karena duit
sudah habis itu tadi- tetapi kami masih ikut berjamaah, hanya saja tidak
mau infaq. Saya juga tidak mau ke NU (Nahdlatul Ulama') atau
Muhammadiyah.

Tanya: Perkembangan selanjutnya?
Jawab: Lalu saya mencari kerja, dapat pekerjaan di Surabaya.
Setelah itu saya terus ke Balik Papan, Kalimantan Timur. Saya mendirikan
kursus Bahasa Inggeris. Saya walaupun sudah punya penghasilan cukup,
tetap tidak mau infaq. Di Balik Papan ketemu Muslimin lagi. Muslimin
menagih saya: "Mana infaqnya?"
Saya jawab, "Saya yang wajib diinfaqi."
Saya pulang-pergi Jatim-Kaltim selama 4 tahun. Penghasilan pun
lumayan, saya bisa membeli kendaraan, dan membikin rumah. Lalu saya
pulang ke Jawa Timur. Uang saya saat itu saya perkirakan untuk 4 tahun
tidak habis. Tahu-tahu, dalam jangka setengah tahun sudah habis. Karena
banyak orang datang.

Tanya: Upaya selanjutnya?
Jawab: Setelah itu saya cari pekerjaan, mengajar di Sidoarjo Jatim,
bertempat di Pak Broto (Ahmad Subroto, mantan Islam Jama'ah juga)
tahun 1978-1980, lalu di Lembaga Al-Islam di Krian Jatim. Kalau malam
hari, saya memberikan kursus Bahasa Inggeris di Surabaya.

Tanya: Bagaimana keadaan anda berkaitan dengan aliran DH/IJ itu
tadi?
Jawab: Hati saya remuk. Saya keluar dari Islam Jama'ah yang saat
itu berubah nama jadi Lemkari (Lembaga Karyawan Dakwah Indonesia).
Saya keluar karena tidak tahan. Hati saya remuk. Agama saya ini apa, pikir
saya. Saya rindu kebenaran. Lalu saya membaca hadits. Ada hadits yang
isinya: Bagaimanapun hancurnya dunia ini tetapi Makkah dan Madinah
masih ada orang yang memurnikan Islam.
Lalu saya bertekad untuk ke sana (Makkah dan Madinah). Saya
berdo'a terus. Saya merasa, harta saya tidak cukup untuk bekal ke sana.
Maka saya hams bekerja ke luar negeri, ternyata saya diterima di Australia,.
jadi pelayan jual alat-alat dapur. Saya shalat tahajjud, tak sampai 40 hari,
ada orang yang mencari interpreter (penerjemah) dari Jakarta untuk
dikirim ke Arab Saudi. Itu tahun 1980. Ada 300 orang yang mendaftarkan
diri. Hasil tesnya, tinggal16 orang yang diuji lagi selama 4 hari 4 malam.
Kemudian ada 7 orang yang lulus. Saya agak jatuh dalam hal Bahasa
Arab, karena sudah lama tidak saya pakai. Namun saya lulus, dan diterima
di perusahaan. Saya kemudian kerja, namun niatnya cari ilmu, hingga gaji
saya paling kecil.
Saya di Arab Saudi mengaji ke Syaikh di Darul Ifta', yaitu Syaikh
Muhammad Abdur Rahman Al-Amudi di Masjid Haratun Nashr. Di Darul
Ifta' itu semuanya hafidhlhafal Al-Quran. Saya diwawancarai, dan
kemudian diberi guru yaitu Syaikh Muhammad Abdur Rahman Al-
'Amudi. Dalam dua tahun itu saya mengaji Kitab Al-Bukhari, selesai.
Sedang kitab-kitab lainnya, saya dipercayakan, artinya sudah dipercaya
bisa. Dan saya diberi ijazah.
Isi ijazah itu: Orang yang bernama (Nasifan Abdur Rahman Syakir),
umursekian, sudah mengaji disaya (Syaikh MuhammadAbdurRahman
Al- Amudi) selamasekian bulan, lalu sudah memahami hukum agama dan
bisa mengajar di seluruh dunia.
Saya puas. Karena sudah tercapai cita-cita saya. Bahkan ada
pembahasan yang hampir Syaikh itu tak mau mengajarkannya, yaitu
Kitab Imaroh (bab pemerintahan), tetapi karena saya depe-depe
(mendekati dengan sedekat-dekatnya) maka beliau mau mengajari. Lalu
beliau berpesan: 'jika dapat, maka kekuasaan ini gerakkanlah dari Timur.
Mungkin kebenaran ini bisa muncul dari sebelah timur," kata guru saya
itu.
Saya mengaji 2 tahun siang malam. Sampai saya puas. Ketika
kontrak kerja habis, saya pulang. Namun masih selalu disurati oleh Sufyan
Rais dari perusahaan di Saudi, agar saya kembali ke Arab Saudi, sebab
saya akan dihargai (dengan gaji tinggi).
Sejak 1982 saya di rumah, di Jawa Timur.
Tanya: Bagaimana tanggapan Syaikh itu terhadap Islam Jama'ah
yang kini bernama LDll itu?
Jawab: Setelah saya jelaskan kepada Ustadz Al-'Amudi tentang
ajaran-ajaran H. Nur Hasan Ubaidah, yang namanya dulu Darul
Hadits, kemudian Islam Jama'ah, kemudian Lemkari, dan kini bernama
LDII itu lalu beliau berkata: "Itu Dajjal".
Syaikh Al-'Amudi mengatakan H. Nur Hasan itu Dajjal, setelah saya
jelaskan, di antaranya saya katakan, H. Nur Hasan Ubaidah mengajarkan
Al-Qur'an dengan mengaku sanadnya (pertalian periwayatan) sampai ke
dia dari pangkalnya yang dia sebut dari Lauh Mahfudh. Di samping itu H.
Nur Hasan menarik uang dari jama'ah, dengan kata lain memeras, dan dia
suka sekali menipu. Contohnya, suatu ketika dia mengatakan akan
rnendirikan pabrik tenun, lalu tiap orang dari jama'ahnya ditarik
RplO.OOO,- yang nilainya seharga satu lembu. Yang ditarik uang seharga
satu lembu itu banyak orang. Katanya, nanti kalau sudah jadi pabriknya,
maka mereka yang ditarik duit itu dianggap ada sahamnya. Tetapi
hasilnya? Tidak ada. Kalau ditanyakan tentang uang yang telah ditarik itu,
lalu yang tanya dibalikkan, "Kamu ini taat atau tidak kepada Amir?"
Mendengar keterangan saya itu maka guru saya, Ustadz Al- 'Amudi
langsung mengecam H. Nur Hasan Ubaidah sebagai Dajjal.
Ucapan guru saya itu kemudian saya sampaikan di kampung Mager
Sari Tulung Agung Jawa Timur; bahwa Nur Hasan Ubaidah itu Dajjal.
Maka saya didemonstrasi oleh orang-orang Darul Hadits, mereka menulisi
rumah saya dengan tulisan: "Abu Lahab" dan sebagainya.

Tanya: Apakah Anda menelusuri bagaimana sebenarnya Nur Hasan
itu belajarnya di Makkah?
Jawab: Saya menelusuri ke lembaga Darul Hadits di Makkah dan
saya telusuri pula di Riyadh, namun ternyata di sana dinyatakan tidak ada
murid dari Indonesia yang namanya Nur Hasan Ubaidah itu. Saya cari
Syaikh Shiroth guru Al-Quran, dan Umar Hamdan guru hadits itu, di sana
dinyatakan tidak ada murid dari Indonesia yang namanya Nur Hasan
Ubaidah itu.

Tanya: Bentuk-bentuk kezhaliman dan kelicikan lain lagi,
contohnya?
Jawab: Sebenarnya saya menyadari, kewajiban ummat Islam itu
terus menerus mencari ilmu. Tetapi saya di situ (di tempat pendidikan H.
Nur Hasan) betul-betul dirugikan. Ketika saya punya uang, saya mau kerja
dihambat, dikatakan bahwa saya lebih berharga daripada bupati (pejabat
negara, kepala daerah tingkat dualkabupaten). Tetapi begitu saya tak
punya uang, maka dikatakan pada saya: "Kenapa anda punya anak-isteri
kok tidak kerja?"
Saya jawab: "Habis manis sepah dibuang." Maksud saya, dulu
. ketika saya masih banyak uang, benar-benar saya dibutuhkan di sini,
karena hams setor tiap bulan 10 % dari kekayaan saya. Tetapi begitu saya
tidak punya uang, maka tak diperlukan lagi, karena sudah tidak dapat
menyetorkan apa-apa.
Anehnya, ucapan saya "Habis manis sepah dibuang" itu malah
dijawab oleh H. Nur Hasan: "Untuk apa? Sudah tinggal sepah (ampas),
apakah mau di-leg (ditelan)?" Benar-benar licik, memang.

Tanya: Semua perlakuan itu menurut penilaian anda?
Jawab: Yang jelas, keluarganya hidup sangat mewah. Tetapi orangorang
yang jadi jama'ahnya diperas. Benar-benar pandai menipu,
berbohong, dan memeras orang lain. -
Demikianlah wawancara penulis dengan H. Nasifan.


sumber : http://www.facebook.com/groups/hijrah354/permalink/488639971170574/