بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Meniti Jalan Salaf

product

dzulqarnain.net

Detail | Pencari Ilmu

Tegar Di Atas Sunnah

product

Assunnah

Detail | My Way

Airmatakumengalir Blog

product

Dakwatuna

Detail | ilallaah

WAWANCARA DENGAN MANTAN ALIRAN SESAT ISLAM JAMA'AH/LDII




H. Nasifan Abdur Rahman Syakir,
Alumni Gontor 1956"
( H. Nasifan kini menjadi imam masjid Baitul Jamil di Mariyar Indah Gang 10 Surabaya. Wawancara
dilaksanakan olch H. Hartono Ahmad Jaiz dari LPPI, di MasjidBaitul Jamil Surabaya, Scnin 17 Syawwal
1420 HI24 Januari 2000 M.)

"Berpuluh Kali Saya Dipaksa Menyelam di Genangan Air Tinja'"

Syaikh Al-'Amudi di Darul Ifta' Saudi Mengatakan,

NUR HASAN UBAIDAH ITU "DAJJAL"

Pertanyaan: Sebagai alumni pesantren modern Gontor Ponorogo
Jawa Timur, bagaimana ceritanya, kok bisa mencebur ke aliran Darul
Hadits alias Islam Jama'ah, yang kemudian dilarang oleh pemerintah, dan
kini berganti nama dengan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) itu?

Jawaban: Ceritanya panjang. Setelah saya dari Pesantren Gontor, saya cari pengalaman ala kadarnya, di Muhammadiyah sejak 1956. Saya sampai ke Bangka, ke Amuntai, ke Balik Papan, dan Samarinda. Yang lama di Balik Papan, memimpin sekolah SMP Muhammadiyah, sambil berda'wah, dan akhirnya tahun 1962 saya pulang ke Jawa Timur yakni Pare, Kediri.

Saya pulang itu karena ada pengumuman di surat kabar, ada bea siswa ke Cambridge. Syarat-syaratnya semua saya punya, terutama bahasa Inggeris, karena saya guru bahasa Inggeris
.
Saya pamit kepada orangtua untuk tes di Jakarta. Tapi saat itu baru , berselang beberapa hari lurah desa meninggal, maka saya disuruh oleh orang tua agar mencalonkan diri untuk jadi lurah. Calonnya sampai 14 orang, saat itu zaman PKI (Partai Komunis Indonesia), yang menang PKI. Pencalonan lurah itu tahun 1962.

Tahun 1963 saya ke Lampung, karena di Pare tidak ada harapan.
Saya akan mendirikan proyek pertanian. Saya beli beberapa hektar tanah
dan dua rumah. Lalu mengambil orang-orang kampung untuk menggarap
tanah. Saat itu PKI gencar-gencarnya beraksi, hingga saya khutbah saja
disoroti.

Di Lampung, saya dikenal banyak harta. Padi saya berton-ton. Saya beli sarung banyak untuk hadiah orang-orang dan sebagainya. Akhirnya saya dirampok, tetapi hanya harta yang tampak. Ternyata tas yang ada duitnya untuk bekal2 tahun tak dirampok. Namun akhirnya saya
dirampok lagi, kena tas yang ada simpanan duit itu, jadi habislah harta
saya. Maka saya tak punya kekuatan, dan saya menyerah, tidak mampu
lagi membiayai 6-8 orang tenaga kerja saya.
Setelah itu saya pulang lagi ke Jawa Timur, berdagang beras di
Kertosono. Orang tua saya orang mampu. Tetapi dagangan saya makin
surut, karena berton-ton beras dijual ke Blitar tetapi banyak yang dilarikan
orang, tidak kembali: dan saya tidak tahu alamat mereka. Banyak orang
yang utang satu kuintal, setengah kuintal dan sebagainya, sampai
sekarang mereka tidak menyaur.
Dalam keadaan bangkrut itu lalu saya bertemu dengan kawan, Imam
Ahmad, dia menyindir saya, "Bercapai-capai mengejar harta hanya untuk
mengecat tai, tidak ingat kepada Allah, padahal sebentar lagi akan mati."
Saya jawab, saya sudah mengingat Allah.

Kata kawan saya itu, yaitu Imam Ahmad adik Pak Cholil Sukotirto
teman sekelas di Gontor, bahwa pengamalan agama saya keliru semua.
Lalu saya dibawa ke gurunya, yaitu H. Nurhasan Ubaidah di Gading Mangu Perak Jombang. Di sana saya wawancara dengan H. Nurhasan Ubaidah pendiri aliran Darul HaditsIIslam Jama'ah itu.

Saya pengalaman, sudah mengembara ke mana-mana. Tapi saya kagum, semua pertanyaan saya dijawab dengan dalil Al-Qur'an dan Hadits, dan dalilnya benar. "Tepat itu," perasaan saya. Belum pernah saya temui ulama-ulama yang jelas seperti itu. Akhirnya saya mengaji, dan akibatnya saya lupa usahaldagang. Dalam dua bulan saya sudah tamat Al-Quran dengan terjemahnya. Terjemah Al-Quran dua bulan selesai. Karena saya mengaji itu siang malam. Yang mengajar ngaji Al-Quran terjemah itu Kholil, Imam Ahmad, dan Mas'udi. Sedang H. Nur
Hasan hanya menerangkan sedikit-sedikit. Lalu saya mengaji tentang
shalat.

Kemudian saya ke Lampung untuk menjual tanah yang saya tinggalkan. sebelumnya, dan saya menikah.
Di Lampung saya bertabligh (menyiarkan ajaran Darul HaditsIIslam Jama'ah) dan jual tanah, karena masih ada hektaran tanah milik saya.
Uang dari jual tanah hektaran itu yang 10 persen diinfaqkan untuk Darul Hadits (Nur Hasan Ubaidah), dan 10 persen untuk beli perhiasan isteri.
Sampai 1,5 tahun di Lampung, isteri mengandung 7 bulan. Lalu kami
pulang tahun 1971.
Ketika saya pulang tidak boleh pulang ke rumah, karena hams lapor
ke (pengajian Nur Hasan). Lalu saya dilatih, saya rasakan latihan itu
sampai di luar peri kemanusiaan.

Tanya: Latihan yang di luar peri kemanusiaan itu ujudnya apa?

Jawab: Contohnya, saya bersama 40 orang disuruh mengambil
tanah kotor di comberan, parit. Kami disuruh "nggogohi" (memasukkan
tangan ke dalam air untuk mengambil sesuatu) berupa tanah. Lalu saya
dan Nur Hasyim (alumni IAIN Yogyakarta) disuruh merangkak (seperti
kerbau) sejauh 300 meter, dan dilihat orang banyak yang lalu lalang ke
pasar bagai tontonan, dipaksa merangkak seperti kerbau dari pasar ke
masjid di Kertosono. Kami diperlakukan seperti kerbau, diberi aba-aba
seperti kerbau untuk membajak: "her.. . her.. giak.. giak." Jadi saya berdua
itu digiring seperti kerbau. Yang menggiring itu namanya Muslimin, atas
perintah H. Nur Hasan Ubaidah.

Tanya: Perlakuan yangsangat tidak manusiawi itu maksudnya untuk
apa?
Jawab: Katanya untuk tes ketaatan kepada amir.

Tanya: Meskipun demikian, tentunya ada sebab-sebabnya. Dan
apakah adapenyiksaan atau kezhaliman mereka yang lebih dari itu?
Jawab: Perlakuan di luar perikemanusiaan itu diterapkan hanya
karena kesalahan yang sangat sepele. Misalnya, karena salah ketika
mengikuti aba-aba dalam berbaris. Diberi aba "balik kanan grak", tapi
saya keliru hadap kanan. Lalu diharuskan bertobat. Nah di sinilah
penyiksaan yang sangat di luar batas peri kemanusiaan, yaitu caranya,
saya dan Nur Hasyim diperintahkan oleh Muslimin untuk mencebur ke
lubang (genangan) yang penuh dengan tai' (tinja') dan air. Kami berdua
harus berendam dan menyelam di dalam lobang genangan air tinja' itu.
Seluruh tubuh sampai kepala diharuskan merendamkan diri ke dalam air
tinja'. Nur Hasyim gelagepan, dan tinja'nya masuk ke mulut dan tertelan.
"Baru kali ini seumur hidup saya, saya merasakan rasanya tai," kata Nur
Hasyim (mendiang) .
Lalu saya tanyakan, apa rasanya?
"Sepet," katanya.
Perintah kejam hams berendam dan menyelam di air tai itu sampai
berpuluh-puluh kali, bukan hanya sekali.
Saya sudah sangat bosan, jengkel, dan jera (kapok) karena aneka
siksaan yang sangat menyakiti dan memalukan itu, dan saya ingin sekali
tidak taat. Tetapi ada Nur Hasyim yang disuruh untuk mendampingi saya,
saat itu Nur Hasan Ubaidah muridnya ada 40 orang.
Tanya: Mungkin ada yang lebih tidak manusiawi lagi. Lebih dari itu?
Jawab: Ya, contohnya saya dijadikan guru ngaji. Di antara murid
saya itu adalah orang yang namanya Muslimin orang Kediri yang sering
mengharuskan saya taat padanya di luar perikemanusiaan itu tadi. Ketika
saya mengajar ngaji dan saya tampak mengantuk, maka saya dihukum
oleh murid yang bernama Muslimin itu tadi. Jadi, saya sebagai guru, justru
dihukum oleh murid dengan diharuskan masuk ke lubang yang penuh
dengan tai dan air itu, saya diharuskan berendam, hingga sekujur tubuh
penuh tai.
Di samping itu, hukuman lain dikenakan pula terhadap saya. Begitu
saya mengajar tampak mengantuk, langsung didenda, hams mengeluarkan
infaq, masih diharuskan pula masuk ke dalam genangan tai oleh
Muslimin tadi. Perintah dan denda itu berkali-kali, sampai uang saya habis.

Tanya: Mungkin dalam pergaulan juga ada pemaksaan?
Jawab: Waktu saya pulang dari Lampung lalu ke tempat Islam
Jama'ah di kertoiosno itu pakaian saya baru-baru semua. Tetapi pakaian
saya itu dipakai oleh Muslimin sampai lecek, kumal. Muslimin berani
seperti itu karena diserahi oleh H. Nur Hasan Ubaidah sebagai amir
pelaksana.
Ketidakmanusiawian lainnya, saya kan pengantin baru. Tetapi saya
dipisahkan dengan isteri saya. Saya di kompleks Islam Jama'ah di
Kertosono, sedang isteri saya di kompleks Islam Jama'ah di Kediri.
Setelah saya tidak punya uang, anehnya, saya dibolehkan pulang.
Isteri saya pun tidak tahan dengan aneka perlakuan yang tidak
manusiawi semacam itu. Maka isteri saya pulang dengan lompat pagar,
karena lingkungannya dijaga ketat. Jadi, isteri saya dalam keadaan
mengandung, menderita di lingkungan Islam Jama'ah di Kediri itu, maka
ia lompat pagar, lari keluar.
Kami walaupun sudah keluar -Saya boleh pulang karena duit
sudah habis itu tadi- tetapi kami masih ikut berjamaah, hanya saja tidak
mau infaq. Saya juga tidak mau ke NU (Nahdlatul Ulama') atau
Muhammadiyah.

Tanya: Perkembangan selanjutnya?
Jawab: Lalu saya mencari kerja, dapat pekerjaan di Surabaya.
Setelah itu saya terus ke Balik Papan, Kalimantan Timur. Saya mendirikan
kursus Bahasa Inggeris. Saya walaupun sudah punya penghasilan cukup,
tetap tidak mau infaq. Di Balik Papan ketemu Muslimin lagi. Muslimin
menagih saya: "Mana infaqnya?"
Saya jawab, "Saya yang wajib diinfaqi."
Saya pulang-pergi Jatim-Kaltim selama 4 tahun. Penghasilan pun
lumayan, saya bisa membeli kendaraan, dan membikin rumah. Lalu saya
pulang ke Jawa Timur. Uang saya saat itu saya perkirakan untuk 4 tahun
tidak habis. Tahu-tahu, dalam jangka setengah tahun sudah habis. Karena
banyak orang datang.

Tanya: Upaya selanjutnya?
Jawab: Setelah itu saya cari pekerjaan, mengajar di Sidoarjo Jatim,
bertempat di Pak Broto (Ahmad Subroto, mantan Islam Jama'ah juga)
tahun 1978-1980, lalu di Lembaga Al-Islam di Krian Jatim. Kalau malam
hari, saya memberikan kursus Bahasa Inggeris di Surabaya.

Tanya: Bagaimana keadaan anda berkaitan dengan aliran DH/IJ itu
tadi?
Jawab: Hati saya remuk. Saya keluar dari Islam Jama'ah yang saat
itu berubah nama jadi Lemkari (Lembaga Karyawan Dakwah Indonesia).
Saya keluar karena tidak tahan. Hati saya remuk. Agama saya ini apa, pikir
saya. Saya rindu kebenaran. Lalu saya membaca hadits. Ada hadits yang
isinya: Bagaimanapun hancurnya dunia ini tetapi Makkah dan Madinah
masih ada orang yang memurnikan Islam.
Lalu saya bertekad untuk ke sana (Makkah dan Madinah). Saya
berdo'a terus. Saya merasa, harta saya tidak cukup untuk bekal ke sana.
Maka saya hams bekerja ke luar negeri, ternyata saya diterima di Australia,.
jadi pelayan jual alat-alat dapur. Saya shalat tahajjud, tak sampai 40 hari,
ada orang yang mencari interpreter (penerjemah) dari Jakarta untuk
dikirim ke Arab Saudi. Itu tahun 1980. Ada 300 orang yang mendaftarkan
diri. Hasil tesnya, tinggal16 orang yang diuji lagi selama 4 hari 4 malam.
Kemudian ada 7 orang yang lulus. Saya agak jatuh dalam hal Bahasa
Arab, karena sudah lama tidak saya pakai. Namun saya lulus, dan diterima
di perusahaan. Saya kemudian kerja, namun niatnya cari ilmu, hingga gaji
saya paling kecil.
Saya di Arab Saudi mengaji ke Syaikh di Darul Ifta', yaitu Syaikh
Muhammad Abdur Rahman Al-Amudi di Masjid Haratun Nashr. Di Darul
Ifta' itu semuanya hafidhlhafal Al-Quran. Saya diwawancarai, dan
kemudian diberi guru yaitu Syaikh Muhammad Abdur Rahman Al-
'Amudi. Dalam dua tahun itu saya mengaji Kitab Al-Bukhari, selesai.
Sedang kitab-kitab lainnya, saya dipercayakan, artinya sudah dipercaya
bisa. Dan saya diberi ijazah.
Isi ijazah itu: Orang yang bernama (Nasifan Abdur Rahman Syakir),
umursekian, sudah mengaji disaya (Syaikh MuhammadAbdurRahman
Al- Amudi) selamasekian bulan, lalu sudah memahami hukum agama dan
bisa mengajar di seluruh dunia.
Saya puas. Karena sudah tercapai cita-cita saya. Bahkan ada
pembahasan yang hampir Syaikh itu tak mau mengajarkannya, yaitu
Kitab Imaroh (bab pemerintahan), tetapi karena saya depe-depe
(mendekati dengan sedekat-dekatnya) maka beliau mau mengajari. Lalu
beliau berpesan: 'jika dapat, maka kekuasaan ini gerakkanlah dari Timur.
Mungkin kebenaran ini bisa muncul dari sebelah timur," kata guru saya
itu.
Saya mengaji 2 tahun siang malam. Sampai saya puas. Ketika
kontrak kerja habis, saya pulang. Namun masih selalu disurati oleh Sufyan
Rais dari perusahaan di Saudi, agar saya kembali ke Arab Saudi, sebab
saya akan dihargai (dengan gaji tinggi).
Sejak 1982 saya di rumah, di Jawa Timur.
Tanya: Bagaimana tanggapan Syaikh itu terhadap Islam Jama'ah
yang kini bernama LDll itu?
Jawab: Setelah saya jelaskan kepada Ustadz Al-'Amudi tentang
ajaran-ajaran H. Nur Hasan Ubaidah, yang namanya dulu Darul
Hadits, kemudian Islam Jama'ah, kemudian Lemkari, dan kini bernama
LDII itu lalu beliau berkata: "Itu Dajjal".
Syaikh Al-'Amudi mengatakan H. Nur Hasan itu Dajjal, setelah saya
jelaskan, di antaranya saya katakan, H. Nur Hasan Ubaidah mengajarkan
Al-Qur'an dengan mengaku sanadnya (pertalian periwayatan) sampai ke
dia dari pangkalnya yang dia sebut dari Lauh Mahfudh. Di samping itu H.
Nur Hasan menarik uang dari jama'ah, dengan kata lain memeras, dan dia
suka sekali menipu. Contohnya, suatu ketika dia mengatakan akan
rnendirikan pabrik tenun, lalu tiap orang dari jama'ahnya ditarik
RplO.OOO,- yang nilainya seharga satu lembu. Yang ditarik uang seharga
satu lembu itu banyak orang. Katanya, nanti kalau sudah jadi pabriknya,
maka mereka yang ditarik duit itu dianggap ada sahamnya. Tetapi
hasilnya? Tidak ada. Kalau ditanyakan tentang uang yang telah ditarik itu,
lalu yang tanya dibalikkan, "Kamu ini taat atau tidak kepada Amir?"
Mendengar keterangan saya itu maka guru saya, Ustadz Al- 'Amudi
langsung mengecam H. Nur Hasan Ubaidah sebagai Dajjal.
Ucapan guru saya itu kemudian saya sampaikan di kampung Mager
Sari Tulung Agung Jawa Timur; bahwa Nur Hasan Ubaidah itu Dajjal.
Maka saya didemonstrasi oleh orang-orang Darul Hadits, mereka menulisi
rumah saya dengan tulisan: "Abu Lahab" dan sebagainya.

Tanya: Apakah Anda menelusuri bagaimana sebenarnya Nur Hasan
itu belajarnya di Makkah?
Jawab: Saya menelusuri ke lembaga Darul Hadits di Makkah dan
saya telusuri pula di Riyadh, namun ternyata di sana dinyatakan tidak ada
murid dari Indonesia yang namanya Nur Hasan Ubaidah itu. Saya cari
Syaikh Shiroth guru Al-Quran, dan Umar Hamdan guru hadits itu, di sana
dinyatakan tidak ada murid dari Indonesia yang namanya Nur Hasan
Ubaidah itu.

Tanya: Bentuk-bentuk kezhaliman dan kelicikan lain lagi,
contohnya?
Jawab: Sebenarnya saya menyadari, kewajiban ummat Islam itu
terus menerus mencari ilmu. Tetapi saya di situ (di tempat pendidikan H.
Nur Hasan) betul-betul dirugikan. Ketika saya punya uang, saya mau kerja
dihambat, dikatakan bahwa saya lebih berharga daripada bupati (pejabat
negara, kepala daerah tingkat dualkabupaten). Tetapi begitu saya tak
punya uang, maka dikatakan pada saya: "Kenapa anda punya anak-isteri
kok tidak kerja?"
Saya jawab: "Habis manis sepah dibuang." Maksud saya, dulu
. ketika saya masih banyak uang, benar-benar saya dibutuhkan di sini,
karena hams setor tiap bulan 10 % dari kekayaan saya. Tetapi begitu saya
tidak punya uang, maka tak diperlukan lagi, karena sudah tidak dapat
menyetorkan apa-apa.
Anehnya, ucapan saya "Habis manis sepah dibuang" itu malah
dijawab oleh H. Nur Hasan: "Untuk apa? Sudah tinggal sepah (ampas),
apakah mau di-leg (ditelan)?" Benar-benar licik, memang.

Tanya: Semua perlakuan itu menurut penilaian anda?
Jawab: Yang jelas, keluarganya hidup sangat mewah. Tetapi orangorang
yang jadi jama'ahnya diperas. Benar-benar pandai menipu,
berbohong, dan memeras orang lain. -
Demikianlah wawancara penulis dengan H. Nasifan.


sumber : http://www.facebook.com/groups/hijrah354/permalink/488639971170574/

Comments
4 Comments

4 Response to "WAWANCARA DENGAN MANTAN ALIRAN SESAT ISLAM JAMA'AH/LDII"

nursiddiq mengatakan...

jangan ngaku-ngaku yang tidak-tidak, komentar anda itu sangat tendinsius dan hanya merusak kerukunan diantara umat.......

Anonim mengatakan...

nursiddid , anda membantah ? silahkan buktikan bantahan anda

Anonim mengatakan...

LDII IS THE BEST

Anonim mengatakan...

Sy LDII tp dianggap bukan LDII jg gpp sih, toh sy Islam,
Hny gara2 sy dkat dgn org beragama baik di luar LDII sy smpai dikecam,
Bukannya sesama Islam Tuhannya sama yaitu Allah, dan nabi nya Muhammad?
Kadang sy jg heran dg LDII ini,
Sy prnh ngaji muhammadiyah (krn tuntutan krja, sy rasa tdk hny sy) tdk sbegitu ketat spt kerbau,
Emg ap salah saya menikah dgn sesama org islam di luar LDII yg pnting tuhan Allah, nabi muhammad, kitab alqur'an hadits shohih; ulama, ustadz,
Mgkn org LDII bilang iman sy lemah gpp,
Urusan iman hny Allah yg menilai,